Istri Bayaran

Istri Bayaran
My parents are weird


__ADS_3

Jesslyn melotot tidak terima merubah ekspresinya menjadi serius, dia merasa kalau dirinya tidak lama sama seperti hari-hari biasanya tidak pernah lelet tapi malah dikatain tidak disiplin. "Maaf Ya Bapak Arga yang terhormat, saya tidak disiplin dari mananya ya? saya datang tepat waktu kan sama seperti biasanya saya akan kembali bekerja pukul 14.00 dan sekarang masih 14.05 jadi memang sudah peraturan seperti ini Pak" jelas Jesslyn panjang.


Arga menggangguk mengerti, dia saja yang merasa Jesslyn lama. "Ah baik saya mengerti" ucap Arga.


Hening sejenak Arga terdiam memikirkan sesuatu Jesslyn dengan sabar menunggunya.


"Njir dikira gak capek apa berdiri terus kayak gini" batin Jesslyn yang dari tadi hanya berdiri di depan meja Arga padahal didekatnya ada kursi. Apa dia langsung duduk begitu saja agaknya kurang sopan karena dia tidak dipersilahkan duduk.


"Jadi sekarang saya harus bagaimana Pak? ada pekerjaan tambahan?" tanya Jesslyn karena dia sudah merasa lelah berdiri terus.


Arga menatap ke arah Rayan yang sedang tidur di sofa yang membelakangi Jesslyn. Alisnya Arga terangkat mengisyaratkan, Jesslyn mengikuti arah pandang Arga dia menolehkan kepalanya ke arah Rayan.


Arga membuka suara lagi, "Jadi paham kan harus bagaimana?" tanya Arga.


Jesslyn memaksakan senyum ke arah Arga dia mulai kesal sekarang masih tidak peka kalau Jesslyn ingin duduk. "Ah tapi anaknya masih tidur Pak" jawab Jesslyn.


"Ya bangunin lah apa susahnya" jawab Arga enteng, Jesslyn menarik nafas dalam-dalam mencoba menahan emosinya.


"Ya gak gitu juga Pak kalau dibangunin kasihan Rayan kemarin kurang tidur dan sekarang dia malah tidur di sini" jelas Jesslyn keibuan, Arga mengembangkan senyumnya.


"Kan saya sudah bilang anda hanya gengsi tapi aslinya sangat peduli" ucap Arga.


Jesslyn menatap tidak suka ke arah Arga, "Iya lah Pak saya peduli dia kan anak saya lah gimana sih Bapak Arga ini" Jesslyn agak meninggikan suaranya. "Sekarang saya harus kembali kerja yang tadi masih belum selesai, permisi" pamit Jesslyn.


Arga menahan Jesslyn yang ingin pergi keluar. "Boleh silahkan selesaikan pekerjaannya anda karena itu tanggung jawab anda tapi kerjakan saja di sini" jelas Arga kepada Jesslyn.


Jesslyn mengangguk mengerti, "Kalau di sini memang saya di bolehin duduk?" tanya Jesslyn menyindir Arga.


Yang disindir baru sadar dari tadi dia lupa menyuruh istrinya duduk. "Sure why not" jawab Arga.


Setelah itu Jesslyn segera meninggalkan ruangan Arga dan akan kembali lagi ke situ setelah mengambil berkas-berkas yang belum dia kerjakan dan laptop yang dia anggurkan.


Teman sebelahnya menatap Jesslyn tidak suka, merasa diperhatikan dia menoleh ke arah temannya. "Ada apa? perlu bantuan" tanya Jesslyn langsung.

__ADS_1


Temannya gelagapan saat ketauan memperhatikan Jesslyn. "Emm boleh nanya gak?" tanyanya.


Jesslyn tersenyum, "Tentu boleh kenapa?" jawab Jesslyn.


"Kamu di sini niat kerja gak sih kok dari tadi gak di tempat kamu dan sekarang kamu mau pergi lagi" pertanyaan yang membuat Jesslyn tersenyum.


"Oh soal tadi saya dipanggil sama Pak Arga soalnya saya gak fokus kerja dan sekarang saya mau menemani anak saya" jelas Jesslyn.


Temannya Jesslyn tertawa mengejek, "Mangkanya Jess yang niat kalo kerja jangan seenaknya saja" Jawabnya meledek Jesslyn.


Dari arah lain sahabat Jesslyn datang menemui mereka berdua. Agatha sahabat Jesslyn dari dulu, mereka bersahabat dari kuliah dulu sampai sekarang.


Agatha datang berdehem, "Em maaf ya sebelumnya emang kamu udah se profesional apa sih kok ngatain Jesslyn seperti itu" ucapnya.


"Ya kan emang benar gitu dia gak profesional" balasnya.


Hp Jesslyn berbunyi dan ternyata Arga yang menelfonnya dia kelamaan sepertinya Jesslyn mendiamkan telfonnya yang terus bergetar.


Wajar saja kalau sahabatnya merasa tidak terima kalau sahabatnya diejek seperti itu.


Arga datang menghampiri mereka bertiga yang tampak sedang tidak bekerja. Tidak ada yang berani menegur Jesslyn karena mereka tau dia istrinya bosnya.


"Apa kalian akan terus seperti ini? kerja bukan ngerumpi kayak gini ini jam kerja tolong profesional" ucap Arga dengan tatapan tajam dan suara dinginnya.


Arga menggandeng tangan Jesslyn untuk ikut dengannya. Pegawai baru tadi terkejut melihatnya, "What gila sih Jesslyn gak ada otak" ucapnya yang didengar Agatha yang kebetulan masih di situ.


"Maksud kamu apa bilang begitu?" tanya Agatha untung saja dia masih bisa menahan emosinya.


"Eh Pak Arga ganteng ya" jawabnya yang membuat Agatha menatap tajam ke arahnya.


"Iya saya tau memang dia tampan, tapi kenapa anda bilang Jesslyn gak ada otak??" tanya Agatha lagi.


"Ohh itu iya lah masa dia pergi sama Pak Arga dia bilang mau nemenin anaknya tapi malah gitu" jelasnya.

__ADS_1


Agatha menatap malas ke arahnya, "Terserah" balas Agatha yang kemudian kembali ke mejanya.


Arga menggandeng tangan Jesslyn agak kasar menurutnya. Jesslyn hanya pasrah saja sifat suaminya emang aneh, bisa berubah begitu saja.


Melepaskan gandengan tangannya pun kasar. Jesslyn jadi bisa menyimpulkan bahwa dia sedang marah.


Jesslyn mengelus tangan kirinya, "Kok mas jadi kasar gini sih" ucap Jesslyn dibelakang Arga.


Reflek Arga menoleh ke arah Jesslyn, "Maaf hanya terbawa emosi" ucapnya memegang tangan Jesslyn yang merah. Arga mengelus lembut tangan Jesslyn lalu menciumnya lembut. Jesslyn memasang wajah melasnya Arga jadi tidak tega.


"Ah bagaimana kalau jam tangannya di ganti biar gak sakit lagi" tawar Arga masih mengelus tangan Jesslyn. Emang kayaknya ini obat paling ampuh untuk membuat Jesslyn merasa lebih baik.


"Em mungkin saja tapi kalau ditambah tas branded keluaran terbaru langsung sembuh" ucap Jesslyn enteng Arga menatap pasrah.


Arga tersenyum membelai lembut pipi Jesslyn. "Oh gitu boleh saja" balas Arga.


Reflek Jesslyn memeluk Arga dengan semangat gak jadi marah. Arga yang belum siap dipeluk terlonjak kaget.


Membalas pelukan istrinya kemudian berbisik, "Belinya pakek uang gaji kamu ya" ucap Arga sambil mengelus rambut Jesslyn.


Otomatis Jesslyn melepaskan pelukannya Arga menahannya. Jesslyn mendongak ke arah Arga.


"Ya udah gak jadi beli kalau gitu, lepasin" ucap Jesslyn melotot ke arahnya.


Arga tersenyum mencuri satu kecupan di bibir Jesslyn, "Haha just kidding aku beliin kok" ucap Arga.


Jesslyn mengeratkan pelukannya, "I'll buy it later Beb?" tanya Jesslyn.


Kalau ada maunya pasti akan bersikap manis biasanya juga suka marah-marah.


"Nanti? boleh saja tapi—" Arga menggantung ucapannya.


"Hah Apa?" tanya Jesslyn to the point.

__ADS_1


__ADS_2