
"Acaranya di selenggarakan minggu depan, kau bisa datang untuk menemui istri dan anak mu, apa kau mau?" tanua Dokter Zek melalui telpon seluler.
"Aku rasa dia membenci ku," jawab Yojin dengan suara yang putus asa.
"Awalnya mungkin dia membenci mu, tapi setelah dia mengetahui keadaan yang sebenarnya dia akan memahami mu, percayalah," jelas Dokter Zek.
Yojin terdiam memikirkan ucapan dari Dokter Zek, dalam hati nya ingin sekali dia memeluk istri dan anaknya, tapi dia tidak mau jika nyawa istri dan anaknya terancam.
Sambungan telpon itu terputus, Yojin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari gedung M untuk menenangkan pikirannya.
Terdiam duduk menatap hamparan rumput di belakang gedung M, "cinta memang butuh pengorbanan, tapi terkadang cinta juga bisa membunuh kita," mendengar seseorang mengatakan hal itu Yojin tersenyum.
"Kau mampu mengenal cinta? Jika itu benar, kau pria yang hebat," sahut Yojin masih menatap rumpu hijau itu.
"Pahami lah wanita mu kau akan merasakan cinta yang sesungguhnya, karena cinta itu bukan dari uang atau bayaran, cinta itu datangnya dari ketertarikan," sahut Riko yang berdiri di sebelah Yojin.
"Tetapi banyak orang menjual cinta karena uang, apa itu bisa di sebut ketertarikan seseorang karena ingin memiliki cinta itu dan membelinya, apa itu benar?" sahut Yojin.
"Sepertinya kau mengira cinta itu bisa di dapat dengan kau membayarnya? Begitu kah tuan?" tanya Riko menepuk punggung Yojin dan mengatakan, "lawan kekhawatiran mu tuan, datanglah ke acara itu dan temui istri dan anak mu."
Yojin langsung menatap Riko yang tersenyum seperti memberi isyarat untuk Yojin bangkit melawan kekhawatiran nya.
Yojin dan Riko pun kembali masuk ke dalam gedung M itu, mereka melihat asisten Han sedang menatap layar komputer, "kau mencari apa?" Riko mendekati asisten Han, Yojin yang melihat di atas meja mini bar itu ada makanan langsung memakan satu persatu.
"Siapa yang menggoreng sosis ini?" tanya Yojin sambil mengunyah makanannya, Riko yang menoleh ke arah Yojin langsung menjawab, " aku masak memang untuk makan kalian, makan lah."
Tepat 2 tahun setelah kejadian yang menimpa Moly, akhirnya Olive akan di bebaskan dari hukumannya, sidang pembebasannya akan segera di laksanakan minggu depan. Dengan rasa bahagia akhirnya Olive akan keluar dari tempat terkutuk itu.
"Sebentar lagi aku akan bebas," gumam Olive dalam hati.
__ADS_1
"Ku dengar kau akan terbebas, apa itu benar?" tanya salah satu nara pidana itu, Olive menganggukan kepalanya.
"Apa kalian ingin bebas juga?" tanya Olive menatap 3 wanita yang sama-sama memakai baju nara pidana.
"Memangnya kau ini siapa? Mau membebaskan kita," kata salah satu nara pidana yang bernama Yosi.
Olive hanya tersenyum licik menatap 3 wanita itu yang bernama Yosi, Cindy, dan Ine, Cindy yang merasa ada yang aneh dengan tawaran Olive langsung bertanya, "imbalan apa yang kau inginkan?" Olive langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Cindy.
■■■
Di rumah kayu.
Dokter Zek menghubungi Moly melalui Vidio Call, mereka berbincang hangat memperlihat kan Bayi Eji yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan tampan seperti ayahnya.
"Eji kau sedang makan apa?" tanya Dokter dek melaluo Vidio Call, Eji melihat ada suara memanggilnya merasa bingung tidak ada siapa-siapa selain mamanya.
"Kenapa dia sangat menggemaskan? Eji tunggu Om Zeki ke sana ya, "ucap Dokter Zek melalui Vidio Call.
"Siap Om Zeki, Eji tunggu ya," jawab Moly mewakili Eji.
"Moly, minggu depan aku ingin mengajak mu bersama Eji," ucap Dokter Zek.
"Kemana?" sahut Moly menatap Dokter Zek.
Dokter Zek akhirnya menjelaskan kemana ia akan mengajak Moly pergi, tapi dirinya meminta Moly untuk merubah penampilannya agak berbeda dari sebelumnya.
"Kenapa aku harus merubah penampilan ku?" tanya Moly merasa heran dengan permintaan Dokter Zek.
Merasa tidak enak dengan Moly, takut menyinggung perasaannya. Dokter Zek mengatakan jika Moly harus membuka lembaran baru atas ke sembuhanannya melewati depresi post partum, Moly yang mendengar tutur kata dari Dokter Zek mengatakan setuju.
__ADS_1
"Bunga, apa di daerah sini ada salon?" tanya Moly mendekati Bunga.
"Salon? Aku tidak melihat ada kehidupan lain Nyonya di sini, hanya ada kita," jawab Bunga.
"Lalu aku harus bagaimana?" ucap Moly merasa bingung.
"Memangnya Nyonya mau kemana? Kenapa mencari salon?" tanya Bunga.
"Sudah ku bilang, jangan memanggil Nyonya! Panggil saja aku dengan sebukan mba atau nama ku," jelas Moly mendapat anggukan dari Bunga.
Moly pun menceritakan kepada Bunga jika dirinya akan pergi dengan Dokter Zek untuk menghadiri undangan peresmian Hotel baru di pusat kota, Moly mengatakan ingin tampil beda di acara itu agar tidak ada yang mengenalinya.
"Mbak Moly, aku dulu pernah bekerja di salon Elson," kata Bunga membuat Moly terkejut, "benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi? Berarti kamu bisa merubah penampilam rambut ku?, aku ingin sedikit di warnai," jelas Moly mengurai tambutnya yang sangat panjang.
Bunga yang melihat kondisi rambut Moly yang tidak terawat merasa ingin merubah saat ini juga. Bunga langsung mencari model rambut yang cocok untuk wajah Moly, Bunga menunjukan beberapa foto kepada Moly.
Moly merasa bingung harus memilih model yang seperti apa, akhirnya Moly menyerahkan semuanya kepada Bunga, mana yang terbaik menurutnya. Setelah itu Bunga memberitahu Moly untuk memilih warna rambut yang tidak terlalu terang, Moly pun langsung setuju.
Mereka berdua terlihat sangat sibuk melihat-lihat majalah di internet dari model rambut, model warna rambut, pakaian, sepatu, tas, makeup dan masih banya lagi. Mereka tertawa bersama membayangkan jika Moly menggunakan pakaian pantai yang sangat seksi, tawa itu bergema di ruang tengah membuat Eji terbangun dari bangunnya dan menangis karena kegat mendengar tawa mamanya sendiri.
Moly yang mendengar Eji menangis, langsung mendekati Eji dan menggendongnya. Moly meminta maaf kepada anaknya dan menidurkan nya lagi sambil berjalan ke sana ke mari.
Dokter Zek terdiam mengingat senyuman Moly yang begitu manis, seketika ingatan itu terbuyarkan oleh pasien yang datang untuk berkonsultasi dengan Dokter Zek.
"Mengganggu saja," guman Dokter Zek di dalam hati, terpaksa menebar senyum di bibirnya saat pasiennya duduk.
Dengan ramah dokter menyambut pasien itu dan langsung menanyakan keluhan pada pasien.
BERSAMBUNG.
__ADS_1