
"Han, kamu handle urusan kantor dulu! Aku akan antar ibu pulang dulu. Dan tolong kirim semua laporan ke emailku! Aku akan keluar kota besok." Ucap seorang lelaki dengan suara khasnya.
"Iya, iya." Jawab Burhan sang asisten pribadi.
"Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu."
"Oke! Bu', saya permisi!" Sambil sedikit membungkukkan badannya, dia meninggalkan ruangan sang atasan.
"Kamu mau kemana Man??" Sahut seorang perempuan, tak lain adalah Bu Indira.
"Rahman mau ke Jogja Bu', diminta tolong Pak Jefry nemenin dia menyelesaikan urusannya." Jawab Rahman seraya mendekati sang ibunda yang duduk di sofa ruang kerjanya.
"Penyelidikan atau urusan pribadi nak??" Sambung sang Bu Indira.
"Dua-duanya Bu'. Secepatnya Rahman pulang Bu', maksimal 2 hari. Lagipula, Fatimah kan pulang nanti, jadi Ibu' nggak sendirian dirumah." Sambil merangkul bahu sang ibunda.
"Makanya Man, kamu tu cepet nikah lagi. Biar kalau kamu ada urusan keluar kota, Ibu' gak sendirian di rumah. Kalaupun enggak, dia bisa nemenin kamu kalau urusan luar kota, Ibu' juga tenang kamu ada yang ngurusin." Ucap Bu Indira. Yang seketika itupun mendapat sebuah ide.
"Udah Bu', nggak usah mulai lagi. Kita kan udah pernah bahas masalah ini." Seraya melepaskan rangkulannya.
"Ini sudah 7 tahun Man, kamu masih ingat kan janjimu,,??" Rahman terdiam sesaat. Mengingat janji yang pernah ia ucapkan pada sang ibu.
"Iya Bu', Rahman masih ingat. Ayok Bu' Rahman antar pulang!" Rahman berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya mengambil tas dan jasnya.
"Kamu mau ngalihin topik Man. Hem,,??" Bu Indira langsung berdiri.
"Ibu kasih waktu 1 bulan buat kamu ngenalin ke Ibu calon istri kamu. Lebih dari itu, kamu harus setuju sama pilihan ibu. Gak ada tawar menawar dan penolakan lagi."
"Iya Bu'." Jawab Rahman dengan pasrah. Mereka lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan senyum cerah Bu Indira.
Rahman Abdullah. Seorang pengusaha muda yang sukses membesarkan usaha yang dirintis kedua orangtuanya. Tubuhnya yang tegap dengan paras yang tampan, sifat yang ramah dan tegas serta profesionalitas tinggi membuat para kolega dan karyawannya sangat menghormatinya. Tak sedikit pula yang dengan terang-terangan mendekatinya secara pribadi. Iya, karena dia seorang 'Duren Sawit' (Duda keRen Sarang duWit). Kurang lebih, begitulah para karyawan perempuan di kantornya menyebutnya.
Di usianya yang ke 34 tahun, Rahman telah menyandang status duda selama 7 tahun. Sudah banyak wanita yang dikenalkan oleh ibunya atau beberapa koleganya yang secara terang-terangan mengenalkan putri mereka agar bisa menjadi istri sang duda tampan itu. Tapi sampai saat ini, belum ada yang bisa meluluhkan hati sang duda yang mungkin telah mengeras karna luka masa lalunya.
Akankah Rahman bisa menemukan wanita itu dalam waktu 1 bulan,,?? Ataukah dia harus pasrah menerima wanita pilihan sang ibunda untuk menjadi pendampingnya,,?? (tanyakanlah pada author saja,, jangan tanya pada rumput yang bergoyang 🤭)
...****************...
Di dalam mobil.
"Man, berhenti di minimarket dulu ya. Ibu' mau beli camilan buat Riko sama Rindi."
__ADS_1
"Iya Bu'." Jawab Rahman sambil menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
"Rahman tunggu di mobil ya Bu'." yang dijawab dengan anggukan bu Indira. Bu Indira langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki minimarket.
"Selamat siang, selamat berbelanja!" Sapa 2 orang wanita yang berada di meja kasir disertai senyuman manis mereka. Yang juga dijawab dengan anggukan oleh Bu Indira. Dia langsung mengambil keranjang belanja yang tersedia dan berjalan menuju rak yang berisi beragam camilan. Mengambil beberapa snack dan memenuhi keranjang belanjanya. Bu Indira masih mondar-mandir mencari sesuatu.
"Dil, itu ibunya dibantuin nyari apa!" Ucap salah seorang karyawan.
"Mbak Nurul aja deh yang nyamperin, itu kasirnya biar Dila yang nglanjutin." Rengek Dila yang memang lebih suka mager di meja kasir. Akhirnya Nurul pun menggelengkan kepala sambil meninggalkan meja kasir.
"Permisi Bu', ada yang bisa saya bantu bu'?" Sapa Nurul dengan lembut, tak lupa senyum manis di bibirnya yang tertutupi oleh masker.
"Oh iya mbak, saya cari plester luka. Apakah ada mbak?" Jawab Bu Indira yang langsung menoleh ke arah Nurul yang berdiri disampingnya.
"Ada bu'. Mari sebelah sini!" Sambil sedikit membungkukkan badan dan mengadahkan tangan kanannya ke arah rak bagian obat-obatan. Nurul langsung mengambilkan 1 kotak plester luka dan menyerahkannya pada Bu Indira.
"Masih ada lagi bu' yang lain??"
"Sudah mbak,," Jawab Bu Indira.
"Kalau sudah, bisa langsung ke kasir Ibu'!" Saran Nurul, yang langsung disambut dengan anggukan dan senyum dari bibir Bu Indira.
Karna keadaan minimarket yang sedang sepi, Bu Indira hanya sendirian mengantri di kasir. Entah mengapa, dia tertarik dengan salah satu karyawan itu. Dia berusaha mengetahui nama karyawan itu dari tanda pengenal yang tergantung di dada mereka.
"Iya bu'. Ada yang lain yang bisa saya bantu?" Jawab sang empunya nama.
"Maaf mbak, itu ada sesuatu nempel di maskernya." Jawab Bu Indira.
Nurul yang terkejut, tanpa berfikir panjang langsung melepas maskernya dan mengeceknya. Dia amati dengan teliti masker yang ia kenakan tadi, tapi tak ada apapun di sana.
"Maaf mbak Nurul, saya hanya bercanda. Saya hanya ingin melihat wajah dan senyum Mbak Nurul yang tertutup masker." Kata Bu Indira yang disertai uluran tangan yang ingin menyalami Nurul sebagai ucapan permintaan maaf karna berbohong.
Nurul terkejut dengan ucapan bu Indira. Tak terkecuali Dila yang sedang sibuk dengan mesin kasir menghitung belanjaan bu Indira. Dila seketika menatap Bu Indira dengan tatapan tajam. Sedangkan Nurul hanya menghela nafas pelan dan menatap tangan kanan Bu Indira yang terulur kearahnya. Suasana hening dalam sekejap. Hingga sebuah uluran tangan mencairkan suasana. Nurul menjabat dan mencium tangan bu Indira.
"Iya bu', tidak apa-apa." Disertai dengan senyuman manis dengan ketulusan didalamnya. Bu Indira yang mendapat perlakuan itu sangat terkejut.
"Terima kasih Mbak Nurul." Jawab Bu Indira.
"Wanita yang sederhana dan lembut. Apakah dia bisa meluluhkan hati Rahman??" Gumam Bu Indira dalam hatinya.
"Totalnya Rp 124.000 Bu'!" Suara Dila menengahi.
__ADS_1
Bu Indira mengambil 3 lembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah lalu menyerahkannya pada Dila.
"Ini mbak!"
Nurul yang juga telah selesai memasukkan belanjaan Bu Indira ke kantong plastik, lalu menyerahkannya ke Bu Indira. Dila pun langsung menyerahkan uang kembaliannya.
"Kembalinya Rp 26.000 ya Bu'. Terima kasih telah berbelanja."
Bu Indira menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih. Sebelum keluar, dia mendekat ke arah Nurul. Mencoba meraih tangan Nurul dan sedikit mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Terima kasih ya *N*duk, maaf untuk yang tadi."
Nurul menggenggam tangan Bu Indira dengan kedua tangannya dan tersenyum,
"Iya Bu', sama-sama."
"Kaulah wanita yang kucari Nduk." Gumam Bu Indira dalam hati.
"Yasudah, saya permisi! Terima kasih Mbak Nurul dan Mbak Dila. Oh iya, nama saya Indira." Ucap bu Indira sambil tersenyum.
"Iya Bu Indira, terima kasih." Langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Nurul dan Dila bersamaan.
Setelah Bu Indira meninggalkan toko, Nurul dan Dila saling pandang. Pandangan yang penuh arti.
"Ibu tadi kesambet apa ya Mbak?" Tanya Dila.
"Huss,, kamu itu Dil. Kalau bicara itu jangan sembarangan. Kan tadi ibunya udah bilang, pengen lihat wajahku tanpa tertutup masker." Sahut Nurul dengan tegas.
"Kayaknya ibu tadi naksir Mbak sama kamu. Hhahaha,," Akhirnya pecahlah tawa mereka berdua.
"Ibu tadi kayaknya baru pertama belanja di sini. Semoga gak ada yang aneh-aneh." Do'a Nurul dalam hatinya.
Ada sedikit kekhawatiran dalam hati Nurul setelah pertemuan pertama dengan Bu Indira. Karena memang, Nurul adalah tipe orang yang cukup tertutup tentang kehidupannya. Ketika keluar rumah,dia akan selalu mengenakan masker (bukan karna ada virus covid-19 ya gaeess). Bukan karena dia buronan apalagi DPO polisi. Tapi karena dia jadi buronan para pria. Tak hanya yang masih perjaka, bahkan duda dan laki-laki yang ingin menambah istri. Adakah seseorang yang bisa membuat Nurul membuka hatinya kembali,,?? Setelah apa yang terjadi dimasa lalunya.
......................
Haii readers semua 😊😊 salam kenal yaa.
Maaf kalau ceritanya kurang menarik dan banyak typo bertebaran,,othor ini masih amatir. Ini novel pertamaku. 😁😁 #mohon dimaklumi yaa readers semua 🙏🙏
Dan mohon dukungannya,semoga othor bisa menyajikan cerita yang menarik dan memuaskan bagi readers semua,kemampuan othor bisa berkembang lebih baik,dan cerita novel othor bisa tamat dengan lancar sukses. Aamiin. 😘😘
__ADS_1
Terima kasih readers semua 😘😘