Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Romantis


__ADS_3

Rahman dan Nurul menapaki jalan memasuki area digelarnya resepsi pernikahan salah satu teman SMA Rahman. Sayup-sayup terdengar alunan musik romantis menelusup ke telinga. Nurul sedikit gugup.


"Mas,," ucap Nurul perlahan sambil menatap Rahman. Tingginya kini sejajar dengan Rahman, karena wedges yang ia kenakan.


"Tenang saja, nggak usah gugup. Bersikaplah biasa! Kamu istriku sekarang!" Rahman berusaha menenangkan Nurul. Ia tahu Nurul tengah gugup saat ini.


Rahman melepaskan pelukannya. "Ayo, pegangan di lenganku!"


Nurul pun menyambutnya. Ia segera menggamit erat lengan Rahman. "Jangan terlalu erat pegangnya, sakit Dek."


"Maaf Mas, maaf," Nurul semakin gugup. Rahman mengusap tangan Nurul dengan lembut.


Suasana pernikahan sangat terasa ketika mereka sampai di dalam gedung. Dekorasi pernikahan yang serba berwarna putih sangat mendominasi. Pasangan pengantin pun terlihat serasi dan mengagumkan dengan balutan pakaian berwarna senada. Para tamu undangan sibuk dengan perbincangan masing-masing.


Rahman segera mengajak Nurul ke panggung pelaminan. Ia segera menyapa sang mempelai pria yang merupakan temannya semasa SMA.


"Haidar! Selamat atas pernikahanmu. Akhirnya kamu melepas status dudamu," ucap Rahman yang langsung memeluk sang pengantin pria.


"Makasih Man. Kamu kapan Man? Nggak pengen apa?" goda Haidar.


"Aku? Aku sudah melepasnya lebih dulu dibanding kamu, hhaha,"


"Nggak percaya aku. Mana buktinya?"


Rahman segera merangkul Nurul. "Ini istriku,"


"Ah nggak mungkin! Nggak ada berita sama sekali Man. Nggak ada kabar juga di grup atau sosmed. Mana mungkin, seorang Rahman Abdullah menikah tanpa diketahui publik sama sekali," bantah Haidar.


"Memang tak ada resepsi seperti ini, hanya tasyakuran kecil di rumah," jelas Rahman. Nurul hanya diam menatap dua orang yang sedang berdebat.


"Aku nggak percaya Man. Sebentar!" Haidar meminta MC membawakan mic ke panggung pelaminan. Musik pun diperkecil volumnya.


"Hadirin sekalian, mohon perhatian sebentar!" semua mengalihkan perhatian kepada mempelai pria. "Saya ingin bertanya, apakah ada yang tahu jika teman kita Rahman Abdullah, salah satu pebisnis handal dari kota D**** telah melepas status dudanya?" ucap Haidar menggunakan mic ditangannya. Semua orang menatap ke arah Rahman dan Nurul.


Nurul terkejut mendengar ucapan Haidar. Dia mulai berkeringat dingin. Tubuhnya gemetar. Dia tidak pernah suka jika menjadi pusat perhatian. Apalagi posisinya kini sangat mudah dilihat oleh semua orang.


"Aku tahu," jawab empat orang secara bersamaan. Shodiq, Rika, Burhan dan Nana.


"Benarkah? Apakah ada buktinya? Foto pernikahan mungkin?"


Rahman segera menepuk bahu Haidar. Menyerahkan ponselnya dan menunjukkan video ijab qobul pernikahannya. Tangan kirinya memegang erat tangan Nurul yang gemetar.


"Benar ternyata," gumam Haidar. "Maaf Man meragukanmu," ucap Haidar sembari mengembalikan ponsel Rahman. Hadirin kembali ke aktivitas masing-masing.


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Rahman sembari memeluk erat Nurul. Berjaga jika ia sampai jatuh.


"Terima kasih Man. Selamat juga atas pernikahan kalian," ucap Haidar. "Kita foto dulu Man!"


Nurul menatap Rahman dengan sedih. "Maaf Dar, istriku tidak suka difoto, maaf,"


"Baiklah, tak apa." Haidar merasa bersalah pada Rahman dan Nurul.


Rahman dan Nurul segera meninggalkan panggung pelaminan. Rahman menuntun Nurul menuju deretan kursi kosong. Ia mendudukan Nurul di salah satu kursi.


"Aku ambilkan minum dulu ya! Kamu duduk di sini sebentar!" Nurul hanya mengangguk pelan. Badannya masih gemetar.


Rahman bergegas mengambilkan minum. Tak lama ia kembali dengan dua gelas air minum. Ia segera memberikannya pada Nurul. Nurul perlahan mulai tenang.


"Maaf ya Dek! Aku nggak tahu bakal seperti ini," ucap Rahman yang setengah berjongkok dihadapan Nurul. Nurul mengangguk pelan.


"Kamu nggak papa Rul?" tanya Rika.

__ADS_1


"Nggak papa Mbak Ka," Nurul sedikit memaksakan senyumnya.


"Udah gila Haidar itu!" umpat Rika.


"Udah Mbak Ka," ucap Nana menenangkan.


Mereka pun kembali menikmati pesta. Tapi tidak Nurul. Dia masih duduk diam tak banyak bicara. Bahkan tak menkmati hidangan apapun. Menjadi pusat perhatian merupakan hal yang Nurul takuti. Ia tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga ia akan sangat gugup ketika menjadi pusat perhatian.


"Pulang yuk Dek!" ajak Rahman yang telah duduk di samping Nurul.


"Tapi Mas Rahman saja belum menyapa teman-teman Mas?"


"Lain kali bisa. Sekarang pulang yuk!"


"Maaf Mas, Nurul merepotkan," Nurul menunduk sedih.


"Iya, kamu ini merepotkan!" Rahman menarik dagu Nurul. "Merepotkan, karena terlalu cantik malam ini,"


Nurul hanya diam menatap Rahman. Menatap lekat wajah suaminya. Rahman pun memandangi wajah Nurul yang menawan. Ia melihat bibir kecil Nurul yang berwarna nude malam ini. Rahman mulai memiringkan kepalanya dan mendorongnya kedepan.


"Mas, ditempat umum!" ucapan Nurul menyadarkan Rahman. Rahman tersenyum dan menegakkan kembali kepalanya.


"Udah yuk pulang!" Rahman berdiri dan menggandeng tangan Nurul.


"Tapi, Mbak Rika sama Mbak Nana?"


"Udah biarin. Nanti mereka juga pulang sendiri,"


Rahman dan Nurul pun keluar dari area resepsi. "Kamu tunggu di sini sebentar, aku ambil mobil! Kasihan kamu jalan jauh pakai sepatu kayak gitu,". Nurul mengangguk patuh.


Nurul duduk di sebuah kursi kayu di dekat pos satpam. Tak lama Rahman datang dengan mobilnya. Nurul segera naik dan mereka pun meninggalkan gedung acara.


"Mau jalan-jalan?" tanya Rahman.


"Kamu lapar? Kenapa nggak bilang?" Rahman tersenyum melirik Nurul. "Bentar ya sayang, kita cari tempat makan dulu!" tangan kiri Rahman mengusap perut Nurul.


Jantung Nurul berdegup kencang tatkala tangan Rahman mengusap perutnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Kegugupan kembali melanda. Ia bahkan kesulitan menelan salivanya.


"Mau makan apa?"


"Eemmhh, bakso sama es krim," Rahman mengerutkan keningnya. Menoleh ke arah Nurul dengan penuh tanya.


"Oke! Kita beli bakso dulu ya!" Rahman segera mencari sebuah warung bakso yang masih buka. Ia menghentikan mobilnya disebuah warung bakso yang masih terlihat ramai pada jam yang hampir menunjukkan pukul sembilan malam.


"Kamu tunggu sebentar, aku ambilkan ganti sandal di bagasi!" Rahman segera keluar dari mobil. Ia menuju bagasi belakang mobil. Mengambil sepasang sandal jepit miliknya yang selalu ia siapkan jika sedang bepergian.


Rahman lalu membukakan pintu mobil untuk Nurul. "Sini kakimu!" Rahman sedikit membungkuk dan menarik kaki Nurul. Ia melepaskan wedges yang Nurul kenakan dan menggantinya dengan sandal jepitnya.


"Lebih nyaman kan?" tanya Rahman setelah selesai menggantikan sandal Nurul. Nurul tersenyum.


Mereka lantas masuk ke warung dan memesan bakso. Tak lupa mereka juga memesan untuk dibawa pulang. Untuk Mbok Tum dan Pak Slamet.


Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. "Kamu tunggu di mobil ya Dek, aku beli es krim dulu di minimarket!"


Nurul menuruti permintaan Rahman. Rahman pun lantas berlari kecil ke arah minimarket di sebrang jalan. Tak butuh waktu lama, Rahman sudah kembali dengan tas plastik berisi dua kotak besar es krim.


"Banyak banget Mas?"


"Kan aku juga mau. Kamu bisa habisin segitu banyak sendiri?"


"Ah,, hhihi. Bisa kayaknya Mas,"

__ADS_1


"Yaudah, nanti aku minta dari kamu aja dikit," Rahman menaik turunkan alisnya nakal. Nurul menatap Rahman bingung.


Mereka langsung pulang. Ketika sampai rumah, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rahman menuju dapur untuk memberikan bakso yang ia beli untuk Mbok Tum dan Pak Slamet.


"Mbok, ini ada bakso buat Mbok tum sama Pak Slamet. Yang satu tolong disimpan ya Mbok, jaga-jaga kalau nanti Nurul lapar malam-malam,"


Nurul menuju ruang keluarga membawa es krimnya. Ia tak sabar ingin segera memakannya. Rahman pun telah kembali dari dapur. Ia membawa satu buah sendok kecil di tangannya. Ia lantas menyerahkannya pada Nurul.


"Mas Rahman nggak jadi minta?" tanya Nurul sambil menerima sendok.


"Jadi dong! Suapin!" Rahman merajuk.


Nurul tersenyum. Ia lantas membuka sekotak es krim. Menyendokkan penuh dan menyuapkan ke mulutnya sendiri. Ia memeletkan lidahnya menggoda Rahman.


"Mas Rahman nggak boleh minta!"


Rahman lantas merebut es krim di tangan Nurul. Dan menyembunyikan yang lainnya. Nurul hanya memegang sendoknya saja.


"Aahh Mas, sini es krimnya!" pinta Nurul manja.


"Mas juga mau!"


"Iya iya. Sini Mas, Nurul suapi!"


"No! Mas yang suapin!"


Nurul akhirnya mengalah, lalu menyerahkan sendok di tangannya. Mereka menghabiskan satu kotak bersama. Lalu membuka kotak yang kedua hingga tersisa sedikit.


"Belepotan Dek mulutmu," Rahman membersihkan sisa es krim di ujung bibir Nurul dengan tangannya.


Rahman memegang dagu Nurul cukup lama. Menatap bibir yang baru saja ia usap. Nurul terpaku. Ia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang.


Rahman mulai memajukan kepalanya mendekati wajah Nurul. Menatap intens bibir kecil itu. Hingga jaraknya hanya tinggal beberapa senti dari bibir Nurul. Tiba-tiba Nurul memalingkan wajahnya.


"Nurul ganti baju dulu Mas," Nurul beranjak dari sofa.


Rahman ikut berdiri. Ia menahan tangan Nurul ketika Nurul hendak menaiki tangga. Menarik dan membalikkan tubuh Nurul hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Cukup lama mereka berpelukan. Rahman mulai melepaskannya perlahan. Ia berjalan kedepan memaksa Nurul memundurkan langkahnya. Ia mengungkung Nurul di tembok dekat tangga.


"Kamu sangat cantik sayang!" bisik Rahman ditelinga Nurul.


Nurul membelalakkan matanya. Bisikan Rahman membuat bulu di tubuhnya meremang sempurna. Jantungnya berdetak lebih kencang. Darahnya mendesir tak karuan.


Rahman menatap manik mata Nurul. Tangan kanannya meraih tengkuk Nurul. Dan tanpa mereka sadari, kedua bibir itu telah saling bertaut. Nurul yang tadi menolak, kini menyambut hangat permainan sang suami. Ia membiarkan suaminya memainkan lidahnya di dalam mulutnya. Saling mengecap dan dan bermain lidah.


Rahman semakin memperdalam permainannya. Ia semakin erat memeluk tubuh istrinya. Nurul yang terhanyut, ia memegangi kemeja suaminya. Meremasnya begitu kuat. Lama mereka berciuman. Saling mengecap dan bermain lidah satu sama lain. Hingga akhirnya, Nurul memundurkan kepalanya dan melepaskan ciumannya.


"Nurul capek Mas berdiri," Rahman tersenyum lalu mengecup bibir istrinya yang kini memerah karena ulahnya.


Rahman sedikit membungkuk, lalu membopong tubuh Nurul. Membawanya menapaki tangga menuju kamar mereka.


"Mas, malu ada Mbok Tum sama Pak Slamet," ucap Nurul sembari memukul pelan dada Rahman.


"Biarin! Kalau pengen, kan mereka bisa sendiri. Kamu lupa, Mbok Tum kan istrinya Pak Slamet?" jawab Rahman sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Perlahan, Rahman mendudukkan Nurul di kasurnya. Rahman berjongkok didepannya. "Istirahatlah! Aku tak ingin kamu kelelahan." ucap Rahman sambil mengecup kedua punggung tangan Nurul.


Nurul hanya mengangguk. Ia masih berusaha menguasai perasaannya setelah ciuman panjangnya tadi. Ia lantas berdiri dan berganti baju. Rahman pun melakukan hal yang sama setelah Nurul selesai.


Nurul merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Diikuti Rahman yang juga merebahkan tubuhnya di samping Nurul. Rahman membalikkan tubuh Nurul yang membelakanginya. Menariknya ke dalam pelukannya. Diciumnya kening istrinya cukup lama.

__ADS_1


"Thank you so much baby," ucap Rahman pelan sembari mengeratkan pelukannya.


Nurul mengangguk kecil dalam dekapan Rahman. Ia tersenyum bahagia. Ia tak pernah menyangka, Rahman akan memperlakukannya begitu istimewa hari ini. Meski sempat terjadi hal yang kurang menyenangkan tadi, tapi Rahman menebusnya dengan sangat indah.


__ADS_2