Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Tasyakuran part 1


__ADS_3

Lantunan sholawat begitu merdu terdengar. Menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Keriuhan beberapa orang pun mulai terdengar. Pagi yang biasanya begitu tenang, sangat berbeda hari ini.


Beberapa orang telah sibuk berlalu lalang di kediaman bu Dira. Hari ini akan diadakan acara tasyakuran pernikahan Rahman. Bukan acara pesta atau resepsi besar seperti pada umumnya. Bu Dira mengadakan pengajian di rumahnya. Mengundang tetangga, sanak saudara dan teman dekat saja.


Tak lupa, anak-anak di panti asuhan yang telah didirikan Rahman bersama dua sahabatnya, Burhan dan Shodiq. Rumah besar itu telah disulap menjadi sebuah aula besar. Dengan halaman yang juga telah dijadikan tempat menyajikan makanan bagi para tamu.


Saudara dari bu Dira dan almarhum suaminya telah datang. Burhan dan Shodiq beserta keluarga kecilnya juga telah datang.


"Nurul mana Man?" tanya Rika.


"Masih di kamar sama Fatimah," jawab Rahman. Rika dan Nana pun lantas pergi ke kamar Nurul.


"Assalamu'alaikum," ucap Nana ketika sampai di depan kamar Nurul.


"Wa'alaikumussalam," jawab Nurul dan Fatimah bersamaan. Rika dan Nana pun lantas masuk ke dalam kamar.


"Kamu belum siap Rul?" tanya Rika ketika melihat Nurul masih belum selesai bersiap.


"Belum mbak Rika, hhihi" jawab Nurul cengengesan.


"Mbak Nurul habis muntah-muntah mbak Ka, jadi nunggu mbak Nurul baikan dulu," jelas Fatimah.


Rika dan Nana saling pandang. "Nggak usah mikir kejauhan mbak!" tegas Nurul. "Asam lambung Nurul emang sering naik mbak, apalagi beberapa hari ini Nurul masuk angin," Rika dan Nana hanya tertawa kecil.


"Kamu pucat banget Rul, makan lagi yaa! Biar aku ambilin," ucap Nana.


"Nggak usah mbak Na, kelamaan," jawab Nurul singkat.


"Sini biar aku aja yang bantu rias!" ucap Rika.


"Kok Nurul ngrepotin mulu ya, hhihi,"


"Makanya, besok belajar dandan sendiri ya! Biar Rahman makin jatuh cinta sama kamu, hhaha" goda Rika.


"Mbak Rika mah, ada-ada saja, hhaha," semua mulai hanyut dalam obrolan dan candaan sembari merias wajah Nurul.


Tak lama mereka telah selesai. Keempat wanita itu pun turun dan menemui para tamu. Sudah banyak tamu yang datang, beberapa tetangga pun berkenalan dengan Nurul yang memang belum pernah bertemu dengannya.


"Mbak, itu ibu Jogja datang," ucap Fatimah.


Nurul pun langsung mengedarkan pandangannya. Mencari sosok perempuan yang sangat ia rindukan. Ia melihat seorang perempuan paruh baya mengenakan gamis berwarna biru tua tengah berjalan bersama beberapa orang lain. Bu Lastri datang bersama anak, menantu dan cucunya. Beserta beberapa saudaranya.

__ADS_1


"Ibu'," Nurul berlari ke arah bu Lastri. Ia langsung memeluk tubuh ibunya itu. Air mata Nurul mulai mengalir di pipinya. "Nurul rindu bu',"


"Ibu' juga kangen nduk! Kamu sehat kan?" sahut bu Lastri.


"Sehat bu'. Ibu' sehat kan?"


"Sehat nduk!" jawab bu Lastri.


"Kamu kurusan Rul,?" tanya Nita


"Enggak kok mbak, efek bajunya mungkin," jawab Nurul singkat yang langsung meggandeng lengan kakaknya.


"Mari bu Lastri, gimana kabarnya bu'?" sapa bu Dira.


"Alhamdulillah bu Dira. Bu Dira bagaimana kabarnya?" sahut bu Lastri.


"Alhamdulillah bu'. Gimana bu Lastri, jauh atau tidak rumah saya?"


"Lumayan bu', hhihi." mereka tertawa bersama. "Gimana bu', apa Nurul dan Al merepotkan bu Dira?"


"Tidak bu Lastri, tidak sama sekali. Saya kan malah jadi ada temannya di rumah,"


"Nurul itu meskipun sudah punya Al, tapi tetap manja kadang bu'. Mohon dimaklumi!"


Bu Dira pun mengantar bu Lastri ke dalam. Bergabung dengan para tamu lain. Tak lupa Al juga telah bergelayut manja dengan sang nenek. Ia sejenak meninggalkan permainannya dengan teman-teman barunya. Siapa lagi kalau bukan anak-anak dari Burhan dan Shodiq.


Keluarga dari almarhum ayah Nurul pun juga telah datang. Mereka terkagum melihat rumah mertua Nurul yang amat besar. "Mertuanya Nurul beneran orang kaya yaa. Ini rumah apa istana?" gumam salah satu tante Nurul.


Nurul yang baru saja mengantar ibunya masuk pun menghampiri keluarga dari almarhum ayahnya. Sejenak melepas rindu dan tertawa bersama.


Bahkan keluarga dari mantan suami Nurul pun datang atas undangan bu Dira. Rahman menyambut mereka karena Nurul tengah menemani keluarga ayahnya di dalam. Rahman mempersilakan mereka masuk yang lantas disambut pula oleh Nurul.


Beberapa sahabat bu Dira pun telah datang, tak terkecuali bu Tari bersama keluarganya. Isti dan teman-teman Nurul dari tempatnya bekerja dulu juga telah datang. Nurul benar-benar bahagia mereka semua hadir.


Ustadz uang diminta mengisi acara pun telah hadir. Acara segera dimulai. Pembawa acara yang tak lain adalah Burhan dan Shodiq, benar-benar meramaikan suasana. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh putra dari Rahman dan Nurul. Al Fatih.


Iya, Al memang telah belajar bertilawah sejak memasuki jenjang SD. Ia memiliki guru mengaji yang khusus mengajarinya mengaji dan bertilawah. Setelah Nurul menikah dengan Rahman, Al melanjutkan belajarnya bersama Rahman. Hingga akhirnya, Rahman meminta Al untuk bertilawah dalam acara tasyakuran ini. Para tamu terkejut mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakan Al. Semua memuji kepiawaian Al dalam bertilawah.


Hingga acara inti pengajian pun dimulai. Ustad yang diminta Rahman untuk memberikan tausiyah pun mulai berceramah.


"Sebelum saya bertausiyah, saya mau kenalan sama yang tadi baca Al-Qur'an. Mana anaknya tadi?" tanya ustadz kepada para jamaah. Al yang duduk disebelah Rahman pun lantas berdiri dan menghampiri ustadz yang tengah berdiri di depan.

__ADS_1


"Namanya tadi siapa le?" tanya ustadz.


"Al Fatih," jawab Al.


"Rumahmu dimana? Mana orang tuamu, aku mau kenalan,"


"Ini rumahnya pak, dia anaknya Rahman pak," jawab Burhan dengan lantang.


"Lhoh? Jadi kamu anaknya pak Rahman?" ucap ustadz bingung sembari menoleh ke arah Rahman.


"Iya pak ustadz," jawab Al.


"Sekarang mana istrinya pak Rahman?" ucap ustadz. "Maaf ya pak Rahman, saya belum tahu istrinya yang mana, hhihi. Siapa tahu mau jadi istri ketiga saya,"


"Hhuuuuuu,," sorakan para tamu memenuhi ruangan.


"Ayo yang mana istrinya pak Rahman? Ibumu yang mana le?" tanya ustadz kepada Al. Al pun menunjuk ke arah Nurul yang tengah duduk disamping bu Lastri.


"Ayo bu Rahman, tolong berdiri sebentar!" Nurul pun dengan malu-malu berdiri dari tempatnya duduk. "Wooo, lha wong cantik begitu. Bu Rahman gimana, mau nggak jadi istri ketiga saya?" celetuk sang ustadz.


"Awas lho pak ustadz, nanti malah dua istrinya bapak yang kecantol sama Rahman lho pak," celetuk Burhan.


"Wooo, jangan pak MC! Butuh perjuangan biar bisa dapetin mereka,!"


"Hhahaha,," hadirin tertawa mendengar ucapan sang ustadz.


"Tapi bu Rahman hebat, bisa mendidik anaknya dengan sangat baik. Jarang lho ada anak di usia ini bisa bertilawah sebaik tadi. Pak Rahman benar-benar pintar mencari pendamping hidup. Selamat ya pak Rahman dan bu Rahman. Dan kamu le, lanjutkan terus ngajimu dan jadi anak sholeh ya! Duduklah!"


"Aamiin." jawab Al singkat yang lalu duduk kembali di sebelah Rahman.


"Baiklah mari kita mulai saja ya acara makan bersamanya,," ucap ustadz yang langsung disambut tawa oleh para tamu.


Semua hanyut dalam tausiyah yang diberikan oleh sang ustadz yang diselingi candaan-candaan kecil. Acara pun jadi tidak terasa membosankan.


Disisi lain, Nurul sangat cemas. Badannya mulai terasa tidak enak. Ia mulai mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya nampak pucat. Perutnya terasa sakit. "Ya Allah, bertahan, jangan sampai kenapa-napa," gumam Nurul.


"Bu', Nurul ke toilet dulu ya!" pamit Nurul.


"Kamu nggak papa nduk?" tanya bu Lastri yang melihat putrinya sedikit pucat.


"Nggak papa bu', mau pipis dulu," bohong Nurul.

__ADS_1


Nurul pun segera meninggalkan tempat duduknya. Ia berjalan ke arah dapur untuk mencari minum hangat. Setelah itu ia ke toilet untuk menenangkan diri sejenak. "Kuat ya Allah, kuat! Aku ini juga kenapa lagi, baru ada acara juga, kenapa malah badanku nggak enak gini?" Nurul mulai cemas.


__ADS_2