
Pukul delapan pagi. Rahman baru saja kembali ke kamarnya ketika pintu kamarnya di ketuk. Ia baru saja menemui manajer resort untuk meminta layanan khusus. Ia meminta pegawai resort yang ke kamarnya, semua harus perempuan. Ia tak ingin Nurul merasa risih ketika ada laki-laki asing memasuki kamar mereka.
Rahman membuka pintu. "Ibu'?"
Bu Dira sengaja datang pagi ini. Ia datang bersama Hilya menggantikan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah yang Rahman minta datang setiap pagi bersama Hilya untuk mengunjungi Nurul. Karena Fatimah yang diminta Rahman menjadi pengasuh Hilya sementara.
"Kamu ini Man, dipanggil dari tadi nggak dengar?" gerutu Bu Dira.
"Kapan Bu'?" tanya Rahman bingung.
"Kamu dari depan kan? Di panggil dari tadi nggak dengar-dengar. Keburu ngapain sih?"
"Maaf Bu', Rahman nggak dengar. Masuk Bu'!" Rahman mempersilahkan Bu Dira masuk.
"Sini sayang, Hilya sama Ayah!" Rahman mengulurkan tangannya untuk menggendong Hilya sambil tersenyum. Hilya pun tersenyum melihat ayahnya.
"Nurul mana Man?" tanya Bu Dira sambil melangkahkan kakinya masuk kamar.
"Eh, astaghfirullah! Nurul masih tidur." Gumam Rahman dalam hati.
Bu Dira tersenyum kecil ketika melihat Nurul masih tidur dengan badan yang tertutup selimut sebatas dadanya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan tidur begitu lelap.
"Astaghfirullah Man. Kamu apain Nurul semalam sampai jam segini belum bangun?" Bu Dira berkacak pinggang menatap Rahman.
"Nggak diapa-apain Bu'." Jawab Rahman asal.
"Berapa ronde hah?" Bu Dira berpura pura marah. "Nurul itu nggak pernah bangun sampai sesiang ini. Kamu ini ya! Kasihan dia Man!"
"Ibu' kayak nggak pernah muda aja!" Rahman berusaha membela diri.
Rahman kemudian duduk disebelah Nurul yang masih terlelap. Ia membangunkan Nurul perlahan. Sedikit menggoyangkan tubuhnya. "Sayang, bangunlah!"
"Eemm, bentar lagi Mas! Nurul masih capek Mas." Sahut Nurul dengan mata masih terpejam dan suara seraknya.
Pluk, pluk, pluk. Pipi Nurul ditepuk sesuatu yang tak asing baginya. Seperti tangan anak kecil. Nurul perlahan membuka matanya. Ia melihat putrinya sedang dipangku oleh Rahman. Ia mengucek matanya beberapa kali.
"Hilya? Kamu disini sayang?" Nurul segera bangun dan mengambil Hilya dari pangkuan Rahman. Ia berusaha menahan selimutnya agar tak melorot dari dadanya.
"Kamu sama siapa sayang kesini?" tanya Nurul sembari menciumi wajah Hilya berkali-kali.
"Pagi nduk!" sapa Bu Dira yang sudah duduk di sofa menunggu Nurul bangun.
Nurul menoleh ke arah sumber suara. "Ibu'? Ibu' kapan datang? Astaghfirullah,,"
Nurul kembali menyerahkan Hilya ke Rahman. "Mas awas! Ini selimutnya mau Nurul pakai dulu!" Nurul menarik selimut yang diduduki Rahman sekuat tenaga.
Nurul segera menarik selimutnya dan melilitkan ke tubuhnya. Ia langsung berlari ke kamar mandi sembari menahan malu karena keadaannya yang masih bangun tidur dan tak mengenakan apapun.
"Mas Rahman kenapa nggak bilang kalau ibu datang?" teriak Nurul kesal dari kamar mandi. "Mas, tolong bajuku! Tapi jangan yang di almari!"
Rahman pun membiarkan Hilya bermain di atas tempat tidur. Ia lalu mengambilkan baju untuk Nurul dan menyerahkannya. Bu Dira hanya tersenyum melihat tingkah suami istri itu.
"Terima kasih Ya Allah, Kau hadirkan kasih sayang dan cinta yang besar diantara mereka. Cinta mereka telah Kau uji begitu hebat, tapi mereka berhasil bertahan. Semoga, keluarga ini akan menjadi keluarga di dunia dan akhirat. Tuntunlah kami selalu dijalan-Mu Ya Allah. Aamiin." Do'a Bu Dira dalam hati.
Tak lama, Nurul sudah selesai membersihkan diri. Ia kembali mngenakan gamis ungunya tadi pagi. Ia belum mengenakan jilbab karena rambutnya yang basah. Ia langsung mengangkat Hilya yang sedang asik bermain di tempat tidur.
"Kamu kangen Bunda nggak Sayang?" tanya Nurul pada Hilya yang wajahnya sedang diciumi Nurul.
Hilya tertawa karena ulah ibunya. Nurul segera menghampiri Bu Dira. Ia menyalami dan mencium tangannya. Lalu duduk di sebelahnya sambil memangku Hilya.
Nurul mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Kelopak bunga masih berserakan di mana-mana. Ia mencari sesuatu.
"Lingerieku pada kemana? Tadi kayaknya belum aku beresin. Apa udah diberesin Mas Rahman? Alhamdulillah deh kalau udah. Kan malu kalau ibu sampai lihat baju kurang bahan kayak gitu!" gumam Nurul dalam hati.
__ADS_1
"Maaf Bu', kamarnya masih berantakan, hhihi." Ucap Nurul malu-malu.
"Nggak papa. Kalian belum sarapan?" sahut Bu Dira.
"Belum Bu'. Nunggu Nurul bangun." Jawab Rahman.
"Hilya sudah sarapan belum?" tanya Nurul sambil memainkan tangan putrinya.
"Sudah tadi nduk sama Fatimah." Jawab Bu Dira.
"Oh iya Bu', kata Mas Rahman Hilya ada pengasuh sementara. Orangnya gimana Bu'?" tanya Nurul penasaran.
"Pengasuh? Maksud kamu Fatimah?" sahut Bu Dira dengan wajah bingung.
"Fatimah?"
"Iya. Fatimah bilang, dia diminta Rahman buat jaga Hilya selama kalian disini." Jawab Bu Dira sambil melirik Rahman.
"Pengasuhnya Fatimah Mas?" tanya Nurul dengan wajah tak percaya.
"Iya." Jawab Rahman singkat sambil merapikan tempat tidurnya yang berantakan.
"Astaghfirullah. Aku kira pengasuh dari yayasan atau penyalur." Nurul menepuk keras keningnya.
"Fatimah kamu rayu apa Man?" tanya Bu Dira yang sangat paham sifat anak perempuannya.
"Perawatan ke salon sama Nurul kemarin Bu'." Jawab Rahman.
Bu Dira hanya menjawab dengan ber-oh ria. "Baju di almarimu kenapa nduk? Tadi kamu bilang nggak mau baju di almari." tanya Bu Dira.
"Eh, itu Bu',," Nurul gelagapan menjawab pertanyaan Bu Dira. "Bajunya, bajunya, bajunyaaaa,, kurang bahan."
"Kurang bahan?" Bu Dira tak faham maksud ucapan Nurul.
"Gamisku disembunyiin semua sama Mas Rahman Bu'." Adu Nurul kesal.
Bu Dira menatap sepasang suami istri itu bergantian sembari tertawa. "Nakal ya kamu Man."
"Iya Bu', nakal banget." Sahut Nurul bangga dibela Bu Dira.
"Yang dinakalin juga mau kok Bu'." Sahut Rahman santai.
Oh yes. Rahman berhasil membuat pipi Nurul merona. Nurul jadi salah tingkah. Ia berpura-pura tak menghiraukan ucapan Rahman. Ia memilih menyusui Hilya yang terlihat bahagia karena bertemu dengannya.
Obrolan tiga orang itupun berlanjut. Nurul dan Rahman juga memakan sarapan yang sudah dipesan tadi. Hingga pukul sepuluh, Bu Dira pamit kembali ke vila. Ia menyelipkan sesuatu di saku gamis Nurul sebelum pergi.
"Buat nanti malam ya nduk!" bisik Bu Dira.
"Apa ini Bu'?" tanya Nurul bingung.
"Nanti Ibu kasih tau lewat pesan." Bu Dira tersenyum tulus pada Nurul.
Bu Dira lantas kembali ke vila bersama Hilya. Rahman dan Nurul mengantar hingga pintu depan resort. Nurul mengajak Rahman berkeliling resort. Rahman pun dengan senang hati menurutinya.
Selepas sholat dzuhur, Rahman mengajak Nurul naik kapal yang ia sewa. Ia ingin mengajak Nurul menikmati pemandangan bawah laut dan beberapa spot wisata. Nurul khawatir akan mabuk laut. Tapi Rahman berhasil meyakinkannya.
Dan kekhawatiran Nurul pun hilang ketika ia menikmati suasana laut lepas diatas kapal. Nurul tak henti-hentinya mengagungkan nama Allah atas nikmat yang Allah berikan. Alam yang indah terbentang luas dihadapannya. Dan yang pasti, seorang laki-laki yang telah menjadi suaminya kini dan sedang memanjakannya.
Sore pun menjelang. Rahman dan Nurul pun telah kembali ke kamar dari perjalanannya di atas laut. Bahkan mereka baru saja menyelesaikan pergulatan panas (lagi) di kamarnya. Pasangan halal maaahh, bebas mau ngapain aja.
Lalu menjelang senja, Nurul mengajak Rahman berjalan-jalan kembali di pantai. Ia ingin menikmati suasana matahari tenggelam di pantai. Meski kamar mereka menghadap ke laut di depan dan pantai di belakang, Nurul ingin sembari berjalan dan mengobrol menikmati sorenya.
"Kita duduk sini ya Sayang, sambil ngobrol!" ajak Rahman.
__ADS_1
"Iya Mas." Nurul menuruti permintaan Rahman.
Mereka lalu duduk diatas hamparan pasir putih. Menikmati semilir angin pantai yang berhembus. Suara deburan ombak dan hiruk pikuk pengunjung lain pun menjadi pelengkap suasana.
"Apa kamu bahagia Sayang?" tanya Rahman saat Nurul menyandarkan kepala di bahu kanannya.
"Sangat Mas. Apa Mas bahagia?" Nurul balik bertanya ketika tangan kanan Rahman merengkuh tubuhnya.
"Tidak."
"Mas tidak bahagia?" Nurul mendongakkan kepalanya menghadap Rahman.
"Iya, aku tidak bahagia. Tapi aku sangat, sangat bahagia. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya Sayang." Jawab Rahman setelah mengecup kening Nurul.
Sebuah senyuman pun hadir di wajah Nurul. "Terima kasih Mas."
Rahman menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang."
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakanlah!"
"Tapi kumohon Mas Rahman tak marah padaku jika aku bertanya. Aku hanya ingin tahu saja, tak lebih dari itu." Fikiran Rahman sudah melayang jauh. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan Nurul.
"Kenapa aku harus marah? Aku percaya padamu." Ucap Rahman sambil mengusap lengan Nurul.
"Apa kau ingin bertanya tentang keadaan Akbar?" Ucap Rahman dengan tatapan lurus memandang laut.
Nurul seketika menegakkan tubuhnya. Ia terkejut Rahman tahu apa yang ingin ia tanyakan. Ia menatap wajah Rahman dengan seksama. "Mas,,"
Rahman menoleh kearah Nurul. Tersenyum hangat dan menarik kembali tubuh Nurul agar bersandar padanya.
"Maaf Mas,," ucap Nurul lirih sembari memeluk erat tubuh Rahman.
"Aku tak marah Sayang. Berkat Akbar, cinta kita semakin kuat. Dan karena dia, kita saling tahu, betapa besar rasa cinta kita satu sama lain."
Nurul hanya menganggukkan kepalanya. "Akbar masih dipenjara. Dia menolak untuk dibebaskan dengan bantuan keluarganya atau sekedar mengurangi masa tahanannya. Ia memilih menjalani hukuman sepenuhnya. Aku juga belum lama mengunjunginya."
"Maafkan aku Mas,," ucap Nurul dengan nada sedih.
"Berhentilah minta maaf. Atau kau ingin 'kumakan' disini sekarang?" ucap Rahman dengan senyuman nakal.
Nurul segera menggeleng cepat. Rahman tertawa karena sikap Nurul. Mereka lantas terdiam beberapa saat.
"Sayang,," panggil Rahman mesra.
"Heemm,," sahut Nurul dengan posisi memeluk pinggang Rahman.
"Kamu ingat pertemuan pertama kita?"
"Tentu Mas. Aku tak akan lupa waktu itu. Mungkin, sejak saat itu aku sudah jatuh hati padamu."
"Benarkah?"
"Iya. Bahkan bayangan wajahmu selalu menghantuiku setiap hari setelah pertemuan kita di depan rumah waktu itu."
"Itu bukan pertemuan pertama kita Sayang. Itu pertemuan kita yang kedua."
"Kedua?" Nurul melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya.
"Iya. Itu yang kedua. Aku bertemu denganmu pertama kali di Jogja. Tepat di hari ulang tahun Al yang ke delapan."
"Di Jogja Mas?" Nurul masih kebingungan.
__ADS_1
"Iya di Jogja." Fikiran Rahman mulai melayang jauh, mengingat pertemuan pertamanya dengan Nurul. Wanita yang berhasil meluluhkan dinding es besar yang telah Rahman buat sebagai pelindung hatinya. Hanya karena sebuah senyuman. Sebuah senyuman, yang bahkan senyuman itu bukanlah untuk Rahman.