
Langit begitu gelap. Malam itu tiada bintang dan rembulan yang menemani. Hanya awan mendung yang siap menumpahkan tetesan hujan menemani sang langit malam.
Seperti hati Nurul yang terasa mendung. Ia merasa bingung akan sikap dingin Rahman padanya. "Apa salahku ya Allah? Kenapa mas Rahman begitu dingin dan bahkan seolah menghindariku? Aku harus bicara dengannya, apapun resikonya,," gumam Nurul ketika malam telah mulai larut. Bu Dira dan Al pun telah beristirahat di kamarnya.
Rahman masih berada di ruang kerjanya. Setiap malam ia akan berada di ruang kerjanya hingga larut. Ia akan kembali ke kamarnya setelah Nurul tertidur dan keluar kamar sebelum Nurul terbangun. Iya, Rahman berusaha menghindari Nurul. Ia masih memikirkan hal yang telah ia lakukan pada Nurul malam itu. Ia merasa bersalah padanya. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya dan meminta maaf pada istrinya sendiri.
Tok, tok, tok,
"Siapa yang belum tidur? Apa ibu?" gumam Rahman di dalam ruang kerjanya. "Masuk!" sahut Rahman.
Pintu pun terbuka. Nurul masuk membawa sebuah nampan berisi satu gelas minuman dan camilan. "Nurul?" Rahman terkejut melihat istrinya yang datang.
"Kamu belum tidur?" ketus Rahman. Nurul menghentikan langkahnya mendengar nada bicara Rahman.
"Maaf mas, ada yang ingin Nurul bicarakan dengan mas Rahman. Apa mas Rahman ada waktu?"
"Letakkan nampannya di meja. Dan katakanlah apa yang ingin kamu bicarakan!"
Nurul segera meletakkan nampannya di meja dekat sofa yang ada diruang kerja Rahman. "Maaf mas, Nurul ingin bertanya sesuatu. Apa mas Rahman marah dengan Nurul?"
Rahman yang tadi masih sibuk dengan laptopnya, seketika menghentikan semuanya. Ia berdiri dan berjalan ke arah rak buku di ruangannya. Ia seperti mencari sesuatu. Ia sedikit melirik pada istrinya.
"Maaf mas, apa mas Rahman sengaja menghindari Nurul? Apa kesalahan Nurul begitu besar mas hingga mas Rahman begitu marah dan menghindari Nurul?" mata Nurul mulai berkaca-kaca. Ia menahannya agar air mata itu tidak jatuh. Istri mana yang akan tahan jika didiamkan oleh suaminya bahkan sang suami berusaha menghindarinya.
"Maaf mas Rahman, sebenarnya Nurul sendiri tidak tahu apa kesalahan Nurul pada mas Rahman. Jika karena kejadian malam itu yang karena Nurul diluar kendali, Nurul minta maaf mas. Atau karena Nurul yang tak menceritakan tentang mas Akbar sejak awal, Nurul juga minta maaf mas. Nurul memang bukan istri yang baik untuk mas Rahman, Nurul mohon maafkan Nurul mas," Nurul jatuh bersimpuh di depan meja kerja Rahman. Air matanya telah meluncur jatuh meski telah ditahannya.
Nurul merasakan kepalanya berdenyut sangat kencang. Badannya yang memang tengah tidak dalam keadaan sehat, membuatnya merasa lebih lemah. "Aku tak boleh pingsan lagi, hiks, hiks," gumam Nurul dalam hati.
Rahman tak bergeming. Ia masih berdiri di depan rak bukunya. "Istirahatlah!".
Nurul perlahan berdiri dengan berpegangan pada meja kerja Rahman. "Nurul permisi mas," pamit Nurul yang berjalan keluar dari ruangan Rahman dan menutup pintunya.
Perlahan ia berjalan menuju kamarnya. Berpegangan pada tembok dan pegangan tangga. Ketika ia sampai di kamar, ia langsung mencari obat sakit kepalanya dan segera meminumnya. Setelah itu ia bergegas untuk istirahat, karena sungguh badannya sudah sangat tidak nyaman.
Sedang di ruang kerjanya, Rahman memikirkan sikapnya terhadap Nurul. Ia duduk di sofa dan menatap nampan yang tadi Nurul bawa. "Apa aku terlalu keras padanya? Memang sikapku salah, hanya saja aku tak tahu bagaimana mengatakan perasaan bersalahku ini." Rahman menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Aku akan mengatakannya saja, bagaimanapun nanti hasilnya, biar Allah yang menentukan. Oh sungguh, aku rindu kopi buatannya," Rahman langsung menyeruput kopi yang dibuat Nurul.
Tak lama kemudian Rahman memutuskan pergi ke kamarnya. Ia perlahan membuka pintu kamarnya. Nurul terlihat telah tertidur di sofa seperti biasanya. Rahman berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Eemm,, heehh,, hemh,," Nurul mengigau. Tidurnya terlihat tidaklah tenang.
"Apa dia bermimpi buruk?" Rahman mengusap kepala Nurul perlahan. "Kenapa kepalanya terasa panas?"
Rahman memegang kening Nurul. "Astagfirullah, panas sekali! Dia demam,".
Nurul mendengar sayup-sayup suara Rahman. Ia membuka matanya. "Mas Rahman? Apa istirahat mas Rahman terganggu karena Nurul? Maaf mas, Nurul akan pindah kamar agar mas Rahman bisa nyaman beristirahat," Nurul segera bangun dari tidurnya dan hendak pergi. Ia menghentikan sejenak aktivitasnya. Merasakan kepalanya yang berdenyut dan pandangan yang berputar.
"Kamu demam, tidurlah di ranjang!" ucap Rahman.
"Eh,, nggak papa mas, Nurul akan pindah kamar saja! Nurul pasti akan mengganggu istirahat mas Rahman nanti," ucap Nurul sembari sedikit membereskan selimutnya lalu berdiri. Tubuhnya sedikit oleng karena kepalanya masih berdenyut kencang. Tubuhnya terhempas kembali ke sofa.
"Jangan membantahku! Tidurlah di ranjang dulu, aku belum ingin istirahat! Atau kita ke dokter dulu periksa, mau?"
"Nggak usah mas, Nurul nggak papa kok mas. Tadi juga udah minum obat. Nurul tidur di sini saja," Nurul langsung merebahkan kembali badannya karena kepalanya sungguh terasa begitu berat.
Rahman tak lagi mendebatnya. Ia membiarkan Nurul tertidur. Ia duduk di kursi sebelah sofa. Memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik istrinya yang telah tertidur dan masih mengigau.
Setelah memastikan Nurul terlelap, ia meletakkan ponselnya. Ia menyibakkan selimut yang Nurul kenakan. Perlahan ia mengangkat tubuh istrinya untuk memindahkannya ke ranjang. Nurul sedikit menggeliat dalam gendongan Rahman. Rahman tersenyum melihat istrinya.
"Kayak anak kecil aja kamu dek," Rahman mengecup kening Nurul. Perlahan Rahman meletakkan Nurul di ranjang. Ia menyelimuti tubuh Nurul. "Maaf dek jika sikapku menyakit**imu. Kenapa tubuhmu terlihat lebih kurus? Apa begitu menyiksanya sikapku padamu?"
Hingga pagi mulai menjelang. Perlahan Nurul mulai membuka matanya. Dia merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Ia melihat sesuatu tepat di depan wajahnya. "Mas Rahman?". Nurul mengedipkan matanya berkali-kali. Nurul sedikit menggeliat, tapi tangan Rahman mendekapnya lebih erat. Rahman pun membuka matanya. Pandangan mereka bertemu.
"Kamu sudah bangun? Apa badanmu masih demam?" tanya Rahman dengan suara seraknya. Rahman segera memegang kening Nurul. "Alhamdulillah sudah mendingan. Nanti kalau masih demam lagi, kita ke dokter ya!"
Nurul terkejut mendapat perlakuan Rahman. Ia hanya menatap bingung wajah suaminya. "Kamu kenapa? Pusing? Atau ada yang sakit?" Rahman mulai panik karena tak ada respon dari Nurul.
"Kita ke dokter ya, periksa?" ucap Rahman.
"Eh, enggak usah mas. Nurul nggak papa kok mas, udah mendingan," jawab Nurul masih lemas.
"Yakin?" Nurul hanya mengangguk. "Yasudah, sholat dulu ya, bisa bangun nggak?"
"Bisa kok mas," jawab Nurul. Rahman membantu Nurul untuk bangun dan berwudhu. Rahman pun pergi ke masjid bersama Al, sedang Nurul sholat di kamarnya.
Pagi hari, Rahman bersiap membantu Al untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa ia mengantar Al kesekolah. Setelah itu, ia pun berangkat bekerja. Tak lupa ia berpesan pada sang ibu bahwa Nurul sedang tidak enak badan dan memintanya untuk mengabari jika sesuatu terjadi pada Nurul.
Hingga makan siang, Nurul masih di dalam kamar. Sarapannya pun tadi diantar ke kamarnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bu'," ucap Rahman.
"Wa'alaikumussalam, tumben Man," jawab bu Dira.
"Ada berkas ketinggalan bu',"
"Ooohh, yang ketinggalan berkasmu apa istrimu?"
"Ibu' ada-ada saja," Rahman berlari meninggalkan ibunya. Ia menaiki tangga menuju kamarnya. Bu Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya.
Ia membuka pintu kamarnya. Terlihat Nurul tengah tertidur di ranjangnya. Rahman masuk ke kamarnya. Nurul merasa ada yang masuk ke kamar, ia pun terbangun. Ia melihat Rahman sudah duduk di sampingnya.
"Gimana keadaanmu? Masih demam nggak?" tanya Rahman.
"Eh, mas Rahman udah pulang," Nurul segera bangkit dari tidurnya. "Nurul sudah mendingan kok mas. Mas Rahman butuh sesuatu?"
"Makan siang,"
"Hah? Makan siang? Oh mas Rahman mau makan siang, biar Nurul siapkan mas," Nurul pun bersiap untuk turun.
"Kamu udah makan?"
"Belum mas,"
"Yaudah, yuk makan!"
"Hah?"
"Kamu mau makan di kamar atau di bawah aja?"
"Eh, di bawah aja mas. Kasihan ibu' nanti makan sendiri,"
"Kamu nggak pusing?"
"Nggak papa mas,"
"Yaudah yuk turun, makan!" Mereka pun turun bersama untuk makan siang.
Perlahan tapi pasti, perasaan diantara mereka mulai tumbuh. Berjalan seiring waktu dan berkembang menjadi lebih indah. Akankah mereka saling menyadari hadirnya perasaan itu?
__ADS_1