Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Permohonan


__ADS_3

Ceklek,,


"Assalamu'alaikum,," ucap seseorang yang masuk ke ruangan dimana Nurul tengah dirawat.


Semua yang berada diruangan lantas menoleh. "Wa'alaikumussalam,," jawab semua.


Rika, Nana, Shodiq dan Burhan masuk bergantian. Rika dan Nana langsung menghampiri Nurul yang tengah disuapi sepotong kue oleh Al.


"Mbak Rika, mbak Nana," sapa Nurul sumringah.


"Kamu kenapa Rul? Dari kemarin pagi kamu tu udah kelihatan nggak baik yaa kondisinya," tanya Rika.


"Nggak papa kok mbak Rika, makasih ya udah perhatian sama adek kecilnya ini,, hhihi," Nurul sedikit bercanda.


"Hei jagoan, kok nggak sekolah?" Rika bertanya pada Al.


"Enggak Tante, Al mau jagain Bunda! Biar Bunda nggak sakit lagi," jawab Al.


"Oke jagoan, tos sama tante sini!" Rika mengangkat tangan kanannya yang kemudian di sambut oleh Al.


"Kamu sama siapa kesini Al?" tanya Nana.


"Sama Oma,"


"Kamu apain Man istrimu? Kamu ajak ke surga dunia aja belum malah kamu bikin sakit gitu, hah?" goda Shodiq.


Rahman dan Nurul langsung menatap Shodiq.


"Iya Man, kamu apain dia? Nggak kasian tuh sama anak kamu?" imbuh Burhan.


"Diem kalian," ketus Rahman.


"Kamu kenapa Rul kok sampai dibawa ke rumah sakit?" Nurul masih diam.


"Bunda pingsan tante kemarin, berdarah juga, banyak lagi tante," jawab Al.


"Kamu jatuh? Mana yang luka?" Rika mengamati Nurul perlahan dari ujung kepala.


"Enggak kok mbak Rika," jawab Nurul.


"Assalamu'alaikum,, eh, ada tamu," ucap bu Dira yang baru saja memasuki ruangan.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua orang.


Semua tamu menyalami bu Dira dan Fatimah. "Dari mana bu'?" tanya Rika.


"Dari ketemu Arum Ka," jawab bu Dira singkat.


"Apa ada masalah sama rumah sakit bu'? Kenapa nggak ada laporan ke kantor?" ucap Burhan panik.


"Bukan masalah rumah sakit Han, masalah Nurul."


"Nurul?" Burhan, Shodiq, Rika dan Nana terkejut.


"Mumpung kalian disini, itu tolong Rahman kalian kasih pelajaran biar nggak ceroboh lagi dan membahayakan Nurul lain kali!" ucap bu Dira yang disambut kebingungan empat orang tamu.


"Udah bu', kan Rahman nggak bermaksud seperti itu," sanggah Rahman.


"Jadi kamu masuk rumah sakit gara-gara Rahman Rul?" Rika mulai geram.


"Enggak mbak, bukan karena mas Rahman. Nurul yang ceroboh dan nggak hati-hati,"


"Emang Bunda sakit karena ayah?" tanya Al bingung.


"Enggak sayang, Bunda sakit karena kelelahan kemarin. Bukan karena ayah," jelas Nurul.


"Terus kenapa kamu Rul? Al tadi juga bilang katanya kamu berdarah kemarin," tanya Nana.

__ADS_1


" Mbak Nurul kemarin kelelahan, sampai pingsan dan pendarahan," jawab Fatimah.


"Pendarahan?" ucap Nana dan Rika bersamaan.


"Mbak Nurul ternyata hamil mbak Ka, mbak Na."


"Hamil?" keempat tamu itu terkejut hebat. Semua menoleh ke arah Rahman.


"Kalian juga tidak tahu Han, Diq?" tanya bu Dira.


"Tahu apa bu'?" tanya Shodiq.


"Rahman ternyata sudah sembuh," jawab bu Dira dengan wajah bahagia.


"Hah?" semua menatap Rahman dengan tatapan penuh tanya.


Burhan dan Shodiq yang duduk di samping Rahman, langsung mengapitnya dengan tangan mereka. "Kamu kenapa nggak bilang hah?" ucap Burhan yang masih mengapitkan lengannya pada Rahman.


"Selamat ya Man, akhirnyaa,," ucap Shodiq sambil memeluk Rahman. Yang juga disambut oleh Burhan.


"Iya Man, selamat yaa,, aku ikut bahagia," imbuh Burhan.


"Kamu beneran hamil Rul,?" tanya Rika. Nurul hanya mengangguk.


"Ahahaha, selamat adik kecilku, hhihi," Rika dan Nana langsung memeluk Nurul dengan bahagia.


"Hei jagoan, kamu mau nggak punya adik?" tanya Nana.


"Mana adiknya tante?"


"Itu di perut Bunda," jawab Rika.


"Al mau punya adik Bunda? Kayak dek Bila-nya ayah Bayu?" tanya Al antusias. Nurul menganggukkan kepalanya.


"Al mau?" tanya Nurul.


"Mau Bundaaa,," Al langsung menghambur ke pelukan ibunya.


...****************...


Tiga hari berlalu. Siang ini Nurul telah diizinkan pulang oleh Arum, sang dokter. Dengan catatan, harus banyak beristirahat.


Dari rumah sakit, Rahman dan Nurul langsung menjemput Al ke sekolah. Mereka tiba di sekolah Al, tepat saat bel pulang sekolah berbunyi. Rahman keluar dari mobil untuk menjemput Al.


Nurul berada di dalam mobil mengamati putranya. Ada yang lain dengan Al. Ia terlihat sedih. Tak lama, Rahman dan Al kembali ke mobil. Nurul keluar dari mobil.


"Al kenapa sayang?" tanya Nurul. Al hanya diam.


"Mas, Nurul duduk dibelakang dengan Al," ucap Nurul. Rahman mengangguk paham.


Mereka lantas masuk ke mobil. Rahman perlahan melajukan mobilnya. Nurul masih membiarkan Al diam. Ia yakin, ada yang mengganggu fikiran Al.


"Bundaa,,"


"Iya sayang, ada apa? Ada masalah sama sekolah kamu?" Al menggelengkan kepalanya. "Lalu?"


"Bundaa,, apa ayah tiri itu jahat? Apalagi kalau Al nanti sudah punya adik?" tanya Al pelan.


Deg. Jantung Nurul berdetak cepat. Ia menoleh pada Rahman yang tengah menyetir. Rahman yang mendengar ucapan Al, melirik kedua ibu dan anak itu melalui kaca spion.


"Siapa yang bilang sayang?" tanya Nurul sambil merengkuh tubuh Al dalam pelukannya.


"Aldo dan Brian Bunda,"


"Apa kamu udah tanya sama mereka kenapa mereka bilang gitu?"


"Udah Bunda."

__ADS_1


"Kenapa katanya?"


"Mereka bilang, ibu mereka yang bilang begitu."


"Astaghfirullah,," Nurul mengelus kepala Al. "Sekarang Bunda tanya sama Al. Apa ayah Rahman jahat sama Al?"


Al menggelengkan kepalanya. "Apa ayah Rahman nggak sayang sama Al? Ayah Rahman aja hari ini langsung jemput Al dari rumah sakit, karena ayah kangen sama Al. Apa Al masih nggak percaya sama ayah Rahman?"


Al menangis dalam pelukan Nurul. "Maafin Al Bunda," ucap Al disela tangisnya.


"Sayang!" Nurul melepas pelukannya dan mengusap air mata Al. "Bukankah dulu Al pernah bilang sama Bunda, kalau Al mau om Rahman jadi ayahnya Al? Al nggak lupa kan?"


Al hanya menggelengkan kepala sembari masih sesenggukan. "Tidak semua ayah tiri itu jahat sayang. Buktinya ayah Rahman. Dia baik kan? Sayang sama Al sama Bunda. Kalau memang ayah Rahman jahat, dia pasti sudah jahat sama Al dari kemarin-kemarin, iya kan?" Nurul kembali memeluk Al yang masih menangis.


Nurul merasakan sesak di dadanya. Ia mulai memikirkan ucapan Al. "Mungkinkah mas Rahman tak akan menyayangi Al lagi setelah anak ini lahir? Dia sangat mengharapkan anak ini. Bagaimana dengan Al nanti? Haruskah ia kehilangan ayah untuk kedua kalinya? Jangan biarkan itu terjadi ya Allah," gumam Nurul dalam hati.


Kedua ibu dan anak itu tetap berpelukan hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di kediaman Rahman. Rahman turun terlebih dulu untuk mengambil koper di bagasi mobilnya.


"Al, minta maaf ya sama ayah!" perintah Nurul sebelum mereka turun.


"Iya Bunda. Al minta maaf ya Bunda," jawab Al sambil mengeratkan pelukannya.


Mereka pun turun. Nurul langsung disambut oleh bu Dira. Ia langsung diajak masuk ke rumah dan duduk mengobrol di ruang keluarga.


Sementara di samping garasi, Al menghampiri Rahman yang tengah mengambil koper di bagasi. "Kenapa belum masuk sayang?" tanya Rahman pada Al.


"Al minta maaf Yah! Al sudah berprasangka buruk sama ayah," ucap Al dengan wajah tertunduk.


Rahman mensejajarkan tingginya dengan Al. Ia memeluk anak laki-laki yang baru saja pulang sekolah itu. "Iya sayang. Ayah nggak marah sama Al. Ayah akan selalu sayang sama Al, meskipun nanti adik kecil sudah lahir."


Rahman dan Al saling berpelukan. Mereka saling merasakan kasih sayang satu sama lain. Lalu mereka pun masuk rumah dengan senyum bahagia dan perasaan lega masing-masing.


Rahman segera ke kamarnya yang diikuti oleh Nurul. Ia langsung menuju walk-in closet untuk berganti pakaian. Nurul menunggunya berdiri di dekat jendela yang ia buka lebar agar angin segar masuk ke kamarnya.


"Kamu nggak istirahat dek?" tanya Rahman yang telah berada disamping Nurul. Menikmati hembusan angin yang masuk ke kamarnya.


"Ada yang ingin Nurul sampaikan ke mas Rahman," jawab Nurul setelah memutar tubuhnya menghadap Rahman.


"Ada apa?" jawab Rahman yang juga memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Nurul.


"Maaf untuk yang Al bilang di mobil tadi mas,"


"Tak apa, namanya juga anak-anak."


"Apakah Nurul boleh mengajukan sebuah permohonan mas?"


"Katakanlah!"


"Nurul tahu, mas Rahman dan ibu' sangat mengharapkan anak yang ada dalam kandungan Nurul sekarang. Nurul juga tahu, permohonan Nurul ini sulit. Tapi,, Nurul hanya ingin memohon satu hal sama mas Rahman, tolong sayangi Al seperti mas menyayangi anak mas sendiri, bahkan setelah anak ini nanti lahir,"


"Kamu ini bicara apa?"


"Nurul tahu itu pasti sulit, tapi Nurul mohon padamu mas! Nurul rela mas Rahman akan membenci atau menelantarkan Nurul nanti, tapi tolong tetap sayangi Al seperti mas Rahman menyayangi anak mas sendiri," tubuh Nurul merosot hingga bersimpuh di depan Rahman.


"Nurul tidak ingin dia kehilangan sosok ayah untuk yang kedua kalinya, hiks, hiks," air mata Nurul mengalir deras membasahi gamis yang ia kenakan.


Di depan pintu kamar, ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Hatinya merasakan perih seperti yang Nurul rasakan. Bu Dira. Ia memahami apa yang Nurul lakukan. Seorang ibu pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan putranya. Itulah yang Nurul lakukan kini.


Bu Dira tak bisa melihat apa yang akan terjadi setelah itu. Ia memilih pergi dan mengurungkan niatnya mengajak Rahman dan Nurul makan siang. Ia membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalahnya.


Sedang di dalam kamar, Rahman langsung berjongkok dan membantu Nurul berdiri. "Kamu baru saja pulang dari rumah sakit, apakah mau menginap lagi di sana?" goda Rahman.


Nurul mengangkat wajahnya yang sembab dan menatap Rahman. "Ayo, duduk di sofa!" Rahman menuntun Nurul.


"Kamu ini bicara apa? Tentu aku akan selalu menyayangi Al seperti anakku sendiri, meskipun nanti si kecil sudah lahir," Rahman menggenggam tangan Nurul. "Al itu istimewa bagiku. Kenapa? Karena dia yang pertama kali memanggilku 'ayah'," ucap Rahman sembari mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Nurul terkejut mendengar jawaban Rahman. Raut mukanya sulit dibaca. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Rahman. "Terima kasih mas, terima kasih," Nurul balik menggenggam tangan Rahman dan mengecupnya beberapa kali.

__ADS_1


Rahman langsung memeluk istrinya itu dengan gemas. Ia tidak menyangka Nurul akan melakukan hal itu untuk Al. Dia semakin yakin, Nurul adalah pilihan yang tepat bagi hidupnya.


Nurul pun lega karena apa yang ia takutkan tidak terjadi. Ia merasa nyaman dalam pelukan Rahman. Ia mulai menikmati pelukan hangat suaminya itu. Ia juga semakin yakin, Rahman adalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.


__ADS_2