Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Jebakan


__ADS_3

Di sebuah rumah kecil yang sedikit terpencil dari rumah-rumah tetangga. Ada seorang wanita cantik yang sedang menikmati waktu sorenya dengan bermain ponsel. Ponsel keluaran terbaru dengan segudang kecanggihan yang baru saja ia beli.


Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ia segera membuka pesan itu dan membacanya.


Rahman


Kita bertemu di resto favorit kita dulu. Jam tujuh malam. Aku sudah pesankan tempat khusus. Aku tunggu!


Dia tersenyum bahagia mendapat pesan itu. Sampai-sampai ia berjingkrak kegirangan.


"Yes! One step closer baby! Dia mau menemuiku, pasti mau membicarakan masalah tanggung jawabnya. Hhahaha,, sebentar lagi aku pasti akan jadi Nyonya Rahman Abdullah lagi. Dan setiap bulan aku akan dapat jatah bulanan yang pasti lebih besar dari yang dulu. Uuuhhh, makin nggak sabar," gumamnya ketika dia sudah duduk kembali.


Dinda Larasati. Dia berhasil memasang perangkapnya untuk Rahman. Dia sebenarnya hanya mengincar harta kekayaan Rahman. Setelah pernikahan keduanya hancur karena penghianatannya, dan putranya yang harus ia relakan bersama sang suami, ia tak lagi memiliki uang untuk mencukupi kehidupannya, lebih tepatnya gaya hidup. Ia hanya bekerja di sebuah laundry yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan hariannya.


Malam harinya, sebelum pukul tujuh Dinda sudah sampai di restoran yang menjadi favoritnya dan Rahman dahulu. Ia mengedarkan pandangannya, tapi tak menemukan Rahman di sana. Ia lalu berjalan ke arah kasir dan menanyakan reservasi atas nama Rahman. Ia pun diantar oleh seorang pelayan menuju tempat reservasi.


"Hai Din!" sapa Burhan.


"Kenapa kalian di sini?" tanya Dinda bingung setelah ia memasuki sebuah ruangan di restoran tersebut. "Rahman mana?"


"Sebentar lagi juga datang! Baru pamitan sama Nurul mungkin," jawab Shodiq asal.


"Duduk dulu dan pesanlah! Kita makan dulu sambil nunggu Rahman datang! Aku dan Shodiq sudah pesan tadi," pinta Burhan yang melihat Dinda sedikit panik.


Dinda pun lantas duduk di salah satu kursi dan memesan makanan dan minuman. Ia sedikit khawatir karena ada Burhan dan Shodiq di sana.


"Hebat kamu Din, bisa sampai hamil anaknya Rahman! Rahman berarti sudah benar-benar sembuh," ucap Burhan mencoba mencairkan suasana.


"Iya Din. Aku nggak nyangka Rahman bakal balik sama kamu." imbuh Shodiq.


"Nurul gimana? Emang dia mau Rahman nikah lagi?" tanya Dinda penasaran.


"Dia tahu agama. Dia tahu, Rahman harus bertanggung jawab pada bayimu. Dan dia juga tahu, poligami diperbolehkan dalam islam. Jadi dia menerima kenyataan ini," Burhan menjelaskan panjang lebar.


Dinda tersenyum bahagia. "Syukurlah kalau begitu,"


Tak lama pesanan mereka datang. "Ayo makan dulu! Rahman pasti datang sebentar lagi!" ajak Burhan.


Mereka pun lantas menikmati pesanan masing-masing dengan deselingi obrolan. Tiba-tiba Dinda menguap beberapa kali.


"Kamu ngantuk Din?" tanya Shodiq sembari menelungkupkan sendok dan garpunya.


"Iya nih! Ngantuk banget tiba-tiba, hoooaaammm," jawab Dinda yang kemudian menengguk habis minumannya.


"Good job Din! Habiskanlah minumanmu! Supaya tidurmu sangat nyenyak!" gumam Burhan dengan seringainya.


Tak lama Dinda pun tertidur di kursinya. Kepala dan tangannya bersandar pada meja. Burhan Dan Shodiq langsung beranjak dari kursinya.


"Ayo gendong!" ucap Burhan.


"Kamu duluan! Aku nanti aja gantian," sahut Shodiq.


"Sialan kamu Diq!" umpat Burhan.


"Udah cepetan! Keburu dia sadar!" ujar Shodiq sedikit memaksa.


Burhan pun lantas memakaikan masker ke wajah Dinda dan langsung membopong Dinda keluar resto. Banyak pelanggan resto yang melihatnya, tapi mereka tak mempedulikannya. Mereka lantas membawa Dinda masuk mobil dan membawanya ke suatu tempat.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit mereka berkendara. Hingga akhirnya mereka sampai dipelataran rumah sakit Restu Bunda. Shodiq lantas membopong tubuh Dinda keluar mobil dan memasuki rumah sakit. Ia segera membawa Dinda ke sebuah ruangan praktek dokter. Mereka lantas masuk ke ruangan itu dan disambut oleh seorang dokter perempuan yang tak lain adalah Arum.


Shodiq lantas metakkan tubuh Dinda di atas ranjang periksa. Arum langsung melihat siapa wanita yang dibawa oleh mereka berdua. Burhan memang telah membuat janji temu dengan Arum sehari sebelumnya. Jadi Arum pun sudah siap menunggu kedatangannya.


"Dinda? Ngapain kalian bawa dia kesini?" tanya Arum kebingungan.


"Periksa dia! Apakah dia benar-benar hamil atau tidak?" pinta Burhan tanpa basa-basi.


"Hamil? Kalian bercanda?" ejek Arum sedikit tertawa.


"Maksud kamu?" tanya Shodiq penuh kebingungan.


"Dia itu sudah tidak punya rahim, bagaimana mungkin dia hamil?"


"Apa?" sahut dua laki-laki yang ada di ruangan itu.


"Dia menjalani operasi pengangkatan rahim. Sebentar,," Arum lantas berjalan menuju mejanya dan mulai berkutat dengan komputernya.


"Dua tahun yang lalu, dia menjalani pengangkatan rahim. Di sini juga operasinya. Karena kanker rahim yang dideritanya sudah stadium lanjut," jelas Arum.


"Sialan! Ngrepotin orang aja!" umpat Burhan.


"Emang kenapa dia?" tanya Arum.


"Dia ngaku hamil anaknya Rahman," sahut Burhan.


"Hhaha, ngayal dia!" ejek Arum.


"Udah, sekarang periksa aja dan pastikan dia nggak hamil!" pinta Burhan.


"Oke, oke Pak Asisten!" jawab Arum patuh.


"Nih buktinya!" Arum menyerahkan selembar foto USG dari Dinda.


"Oke! Thank's." jawab Burhan sambil menerima foto itu.


"Aku kira kamu tadi buat janji temu buat Nurul. Gimana kabarnya?" tanya Arum.


"Dia nggak baik. Kata Rahman, tadi sore dia dibawa ke rumah sakit," jawab Shodiq sembari memainkan ponselnya.


"Kenapa dia? Dan nggak ada laporan ke aku kalau dia masuk rumah sakit." Sahut Arum.


"Dia di Jogja. Ibunya dua hari yang lalu meninggal. Dan tadi sore katanya ketubannya merembes," jelas Shodiq.


"Innalillahi. Kasihan dia! Apa dia tahu masalah ini?"


"Awalnya mau dirahasiain sama Rahman. Ternyata Dinda udah kirim bukti langsung ke Nurul."


"Semoga kondisinya nggak memburuk," sahut Arum.


"Iya, Aamiin. Udah Rum, nanti dia keburu bangun!" putus Burhan.


"Yaudah sana! Aku juga mau pulang," jawab Arum.


"Makasih ya Rum," ucap Shodiq.


"Iya." Jawab Arum singkat.

__ADS_1


Burhan pun segera mengangkat kembali tubuh Dinda. Membawanya keluar rumah sakit dan kembali ke restoran.


Setelah sampai di restoran, mereka kembali ke ruangan yang tadi mereka pesan. Dan kembali memposisikan Dinda tertidur bersandar pada meja.


Satu jam kemudian, Dinda mulai bangun. Shodiq sedang asik memainkan ponselnya.


"Kamu lama banget tidur Din," ucap Shodiq tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Apa? Aku ketiduran ya?" ucap Dinda bingung.


"Iya. Lama banget lagi," jawab Shodiq bersungut-sungut.


"Rahman mana?"


"Udah pulang lagi. Nungguin kamu bangun lama banget," ketus Shodiq.


"Burhan mana?"


"Dia juga udah pulang sama Rahman. Nana tadi telfon, jadi dia langsung pulang,"


"Aaaahhh, kenapa aku ketiduran sih?" gerutu Dinda.


"Iya gimana sih kamu? Rahman aja udah berusaha meluangkan waktunya buat ketemu kamu. Bahkan dia harus ngerayu Nurul supaya mau nungguin dia sebelum berangkat ke Jogja. Kamu? Malah tidur nggak bangun-bangun."


"Kalian nggak bangunin aku?"


"Udah dibangunin dari tadi berkali-kali. Kamunya aja yang ngebo tidurnya."


"Terus Rahman bilang apa?"


"Dia kesel lah pastinya sama kamu."


"Dia nggak bilang mau ketemu lagi kapan?"


"Enggak. Mungkin nanti setelah pulang dari Jogja. Dia berangkat ke Jogja sama Nurul sekarang."


"Aaaahhh, sial!"


"Udah Din, aku juga mau pulang. Rika udah telpon mulu dari tadi."


"Anterin pulang ya Diq!"


"Apaan? Ogah!"


"Pulang sendiri bisa kan? Pakai taksi online. Nggak usah manja!"


"Kamu nggak kasihan sama aku yang lagi hamil?"


"Sialan kamu Din! Mau enaknya aja! Hamil sama sapi dulu sana baru aku anterin pulang!" batin Shodiq. "Aku pesenin taksi online aja."


Shodiq pun lantas memesankan taksi online untuk Dinda. Mereka kemudian keluar dari ruangan dan membayar tagihannya. Saat mereka keluar, taksi yang dipesan Shodiq sudah datang.


"Thank's ya Diq!" ucap Dinda sembari melambaikan tangannya ke arah Shodiq.


"Oke!" Jawab Shodiq singkat.


Taksi yang ditumpangi Dinda pun mulai melaju. Shodiq pun bergegas ke mobilnya untuk pulang. Perasaannya sedikit lega, karena Dinda ternyata telah berbohong tentang kehamilannya. Kini hanya tinggal menunggu hasil analisis foto dan video dari orang yang telah diminta Burhan untuk menyelidikinya.

__ADS_1


"Aku harus mencari orang yang membuat surat hasil tes kehamilan palsu itu!" gumam Shodiq sembari berkendara.


Di atas langit masih ada langit. Dan sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, pasti baunya akan tercium juga. Mungkin bagi Dinda rencananya menjebak Rahman mulai ada hasilnya. Tapi dia tidak tahu, dia pun telah dijebak oleh kedua sahabat Rahman.


__ADS_2