
" Mbak Nurul,,bentar deh!! Diem kayak gitu,,jangan gerak sedikit pun! Diem!!" perintah Azka pada Nurul saat Nurul tengah menambah stok display di tempatnya bekerja. Ia melihat sesuatu yang lain pada Nurul.
" Kenapa Ka,,??" tanya Nurul bingung. " Pegel ini Ka lama-lama tanganku,," sungut Nurul.
Azka langsung mendekati Nurul dan memperhatikan tangan kirinya yang tengah memegang botol air mineral dan akan meletakkannya di dalam lemari pendingin. " Astaghfirullah,,Azka langsung sadar!!" gumam Nurul setelah melihat tingkah Azka.
" Mbak Nurul kemarin pulang ke Jogja ngapain hayooo,,?? Lamaran yaaaa,,??" Azka sangat bersemangat menggoda temannya itu. " ALHAMDULILLAH YA ALLAH,," Azka berteriak sangat keras hingga membuat Nurul terkejut dengan tingkahnya.
" Aku aja belum jawab dia udah bersyukur duluan,,bener-bener ini anak yaaa!!" Nurul menggelengkan kepalanya karena tingkah Azka. Nurul masih belum menjawab apapun pada Azka.
" Iya kan mbak Nurul,,hayoo ngakuu!! Itu yang di jari manisnya mbak Nurul adalah jawabannya. Iya kan,,?? Aku bener kan,,??"
Nurul mendengus kesal lalu melanjutkan pekejaannya dan tidak menghiraukan Azka yang sangat penasaran dengan jawabannya. " Ayo Ka ini diselesaikan dulu,,keburu waktunya buka toko nanti!!" ajak Nurul.
" Iya mbak! Tapi kan sambil ngobrol bisa mbak? Iya kan mbak bener yang aku bilang tadi,,??" Azka masih sangat penasaran dengan jawaban Nurul.
" Kalau iya kenapa,,dan kalau enggak kenapa??" jawab Nurul asal.
" Ah mbak Nurul gitu,,? Di antara kita kan nggak ada rahasia-rahasiaan mbak?" Azka sedikit merajuk.
Nurul menoleh pada Azka dengan mengerutkan dahinya dan menatap bingung padanya. " Sejak kapan Ka kita nggak ada rahasia-rahasiaan,,?? hhaha,,ada-ada saja kamu ini kalau ngerayu rahasia,,"
" Hhehe,,ya kan biar mbak Nurul ngaku!" Azka cengengesan. " Oh iya mbak,,waktu itu juga Azka pernah lihat,,Al digendong sama laki-laki turun dari mobil malam-malam! Waktu itu aku pulang kerja,kalau nggak salah dua minggu yang lalu,,nggak begitu jelas juga wajahnya. Tapi yang pasti bukan sopir taksi online. Iya kan,,?? Siapa hayooo,,?? Calon ayahnya Al ya,,?? Udah ngaku aja mbaaakk,,!!"
Nurul sedikit mengingat-ingat apa yang dikatakan Azka. " Azka lihat juga waktu itu,,!!" gumam Nurul ketika mengingat apa yang dimaksud Azka. " Kamu nggak cerita ke siapa-siapa kan Ka,,??"
" Ya tergantung mbak Nurul mau jujur atau enggak masalah cincin itu,,!!" Azka masih mencoba mencari tahu jawaban rasa penasarannya.
" Tapi kamu janji,,jangan bilang siapapun yaa!! Bahkan ke orang tuamu juga atau pacarmu apalagi Dila sama Riki. Oke??"
" In shaa Allah mbak. Tapi kalau Dila sama Riki,,pasti nanti juga kepo mbak kalau lihat yang dijarimu itu." tunjuk Azka.
" Biar aja mereka kepo! hhihi,," mereka pun tertawa kecil.
" Jadi gimana mbak? Bener kan yang Azka bilang tadi,,??"
" Iya Kaa,,bener. Alhamdulillah kemarin ada yg mengkhitbahku." jawab Nurul.
" Orang mana mbak?? Masih perjaka atau duda? Atau masih punya istri,,??"
__ADS_1
" Kamu ini yaa,,kalau tanya aneh-aneh aja!"
" Beneran mbak Azka tanyanya. Kan aku penasaran!"
" Dia orang sini,,duda. Udah ah,,yuk buka toko! Udah waktunya buka ini. Itu keranjang biar aku yang beresin,,kamu yang buka tokonya!" perintah Nurul untuk mengalihkan perhatian Azka.
" Siap mbak Nurul!!" Azka pun bersiap untuk membuka toko.
Tak lama setelah membuka toko beberapa pelanggan mulai berdatangan. Nurul bersyukur dalam hatinya. Karena dengan begitu,pembahasan tentang siapa calon suaminya akan berakhir sejenak. Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sekitar pukul sepuluh pagi,sebuah city car berwarna hitam terparkir di depan toko. Nurul dan Azka hafal betul siapa pemilik mobil itu. Listyani Maheswari,sang pemilik toko. Dia biasa dipanggil bu Isti oleh karyawannya. Dia adalah anak pertama dari pengusaha terkenal di kota ini,Aditya Mahendra. Keluarganya telah menjadi salah satu pebisnis handal di kota ini. Dan telah memiliki anak cabang di kota-kota besar dalam beberapa bidang bisnis. Dia datang bersama adik laki-lakinya,Akbar Mahendra.
" Pagi bu Isti,,mas Akbar!"
" Pagi bu Isti,,mas Akbar!" sapa kedua karyawan itu secara bersamaan.
" Iya pagi!" jawab Isti singkat sedang Akbar hanya menganggukkan kepalanya. " Nurul,bisa ikut saya sebentar!" lanjut Isti.
" Iya bu'!" jawab Nurul patuh. " Bentar ya Ka,,"
" Sebentar ya Az,,kamu jaga sendiri dulu!"
Nurul,Isti dan Akbar pun masuk ke bagian belakang toko. Mereka lantas memasuki kantor kecil yang ada di toko itu. " Rul,kamu duduk situ ya!" pinta Isti pada Nurul sambil menunjuk sebuah kursi di depan meja. Nurul dan Isti pun saling berhadapan terhalang meja.
" Ada apa ya bu Isti,,?? Ada yang bisa saya bantu bu'?" tanya Nurul.
" Iya ada,," nada bicara Isti berubah halus dan tenang.
" Bar,kamu duduk sini!" Isti pun berdiri dan meminta Akbar untuk duduk di kursi yang ditempatinya tadi. Karena memang hanya ada dua kursi di ruangan itu. Akbar pun menurutinya. " Dah,,cepetan bilang! Kan kemarin udah dikasih tahu sama mas Aldi." ucap Isti yang kini bersandar pada meja.
" Iya mbak,,sabar!" jawab Akbar. " Nurul,,"
" Iya mas Akbar,,ada apa ya,,?? Ada yang bisa saya bantu,,??" tanya Nurul bingung.
" Eeehhmm,,begini Rul. Selama ini kan,,,aku mau bilang,,,kamu,,eemmhh,,,Mbak bantuin,,!!" Akbar menoleh ke arah Isti disampingnya.
" Astaghfirullah Bar,,!!" Isty hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya. Tapi ia paham apa yang dirasakan adiknya itu.
" Begini Rul,,aku rasa kamu juga tahu sikap Akbar padamu sedikit berbeda dari pada dengan yang lain. Iya Rul,,Akbar tertarik padamu,dia menaruh hati padamu,," Isti akhirnya angkat bicara. Nurul hanya terdiam. Nurul sebenarnya menyadari sikap Akbar selama ini,hanya saja memang dia tidak menaruh perhatian lebih padanya. Dia juga sudah sering menolak perhatian dari Akbar,tapi memang Akbar tidak menyerah hanya dengan penolakan kecil dari perhatian yang ia berikan pada Nurul.
__ADS_1
" Langsung saja ya Rul,,aku sendiri nggak pinter ngomong yang kayak orang-orang tua gitu,,hhehe" Isti terkekeh sebentar berusaha mencairkan suasana. " Akbar pengen ta'aruf,,kamu mau nggak ta'aruf sama Akbar?"
Deg. Nurul membeku mendengar ucapan sang atasan. Ia tidak pernah berfikir jika Akbar akan bermaksud serius dengan perasaannya. Ia tertunduk. Memandang tangannya yang saling berpegangan. Dia menatap benda yang melingkar di jari manisnya lalu tersenyum. " Terima kasih ya Allah,,Engkau memberikan kebaikan dari sisi-Mu." gumam Nurul dalam hati sembari mengusap benda indah itu.
Nurul mengangkat kepalanya. " Bu Isti,,mas Akbar! Sungguh bu Isti dan mas Akbar sudah sangat baik pada Nurul selama ini,dan Nurul tak akan pernah bisa membalas kebaikan Ibu' dan Mas. Hanya Allah yang bisa membalasnya. Saya sangat berteeima kasih atas kebaikan ibu' dan mas,,tapi saya sungguh meminta maaf pada Ibu' dan Mas,,saya tidak bisa menerima ajakan ta'aruf mas Akbar."
Isti dan Akbar terkejut mendengar perkataan Nurul. " Tapi kenapa Rul,,??" tanya Akbar dengan nada kecewa. " Apa aku tak pantas menjadi pendampingmu? Aku menerimamu apa adanya,,aku juga akan menerima putramu pastinya."
" Bukan itu mas alasannya." jawab Nurul pelan.
" Lalu apa Rul,,?? Atau kamu tidak yakin aku bisa menjadi pendamping yang baik untukmu?"
" Bukan begitu maksud saya mas Akbar."
" Lalu kenapa Rul? Selama ini setahuku kamu juga tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun."
" Mas Akbar laki-laki yang baik pasti akan mendapat perempuan yang baik pula,,," Nurul menghentikan perkataannya sejenak untuk memikirkan kalimat yang tepat untuk dikatakan. " Mas Akbar,,mas Akbar juga tahu,selama ini saya selalu menolak perhatian dari mas Akbar. Bukan saya besar kepala,tapi saya tahu ada maksud lain dari perhatian yang mas Akbar berikan kepada saya. Saya menolaknya selama ini,karena saya tidak ingin mas Akbar salah faham dengan saya,,karena saya tidak bisa membalas perasaan mas Akbar. Saya tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang mas Akbar rasakan pada saya." Nurul masih berusaha menutupi bahwa dia telah bertunangan.
" Perasaan bisa tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu ketika kita bersama nanti!" Akbar masih mencoba meyakinkan Nurul. Matanya mulai berkaca-kaca,Isti perlahan mengusap punggung adiknya.
" Maaf mas,,tapi saya benar-benar tidak bisa menerima tawaran mas Akbar untuk berta'aruf."
" Apa kamu sudah berta'aruf dengan orang lain Rul,,?" tanya Isti. Nurul hanya menggeleng. " Lalu??"
" Maaf bu Isti,,mas Akbar... Saya sudah bertunangan,,dan In shaa Allah akan menikah dalam waktu dekat."
Deg. Kedua kakak beradik itu terkejut mendengar ucapan Nurul. Hilang sudah harapan Akbar yang begitu besar untuk mempersunting janda beranak satu itu.
" Kamu bohong kan Rul,,?? Kamu cuma mau menolakku dengan alasan itu kan,,?? Aku tidak akan percaya begitu saja." ucap Akbar dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipinya.
" Jika memang mas Akbar tidak percaya,mas bisa bertanya pada ibu saya di Jogja. Memang baru kemarin saya bertunangan,jadi belum banyak yang tahu. Bahkan baru Azka yang mengetahuinya pagi ini karena satu shift dengan saya."
" TIDAK,,TIDAK RUL. KAMU HARUS MENERIMAKU!" Akbar berteriak membuat Nurul dan Isti terhenyak. Isti langsung memeluk Akbar mencoba menenangkan sang adik.
" Rul,,kamu bisa kembali bekerja!" perintah Isti.
" Baik bu',,saya permisi. Maaf bu Isti,mas Akbar." Nurul lalu keluar dari ruangan itu dan kembali menghampiri Azka dan melanjutkan pekerjaannya.
Isti masih berusaha menenangkan Akbar. Dia sangat tahu bagaimana perjuangan sang adik yang akhirnya mendapat restu dari sang ibu untuk berta'aruf dengan Nurul. Sudah sejak dua tahun terakhir Akbar mendekati Nurul. Selama itu pula ia berusaha meminta restu pada sang ibu. Tapi setelah mendapat restu,ternyata ia sudah terlambat. Sang pujaan hati telah dipinang oleh orang lain dan bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya. Semua yang terjadi pasti akan terjadi. Dan pasti ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap yang terjadi.
__ADS_1