
Pagi yang cerah. Mentari bersinar begitu terang hari ini. Tak ada awan yang membayangi sinarnya. Memberikan semangat untuk menyambut hari baru untuk semua.
"Bunda, Al berangkat yaa!" Al berpamitan pada sang ibu yang telah berada di depan pintu sembari menyalami dan mencium tangannya.
"Iya sayang, semangat terus ya belajarnya di sekolah baru!" jawab Nurul yang langsung mencium kening Al.
"Al tunggu di mobil dulu ya!" pinta Rahman.
"Iya Yah!" Al segera berlari dan masuk ke mobil Rahman.
"Aku berangkat sekalian ya Dek, ada rapat pagi," pamit Rahman.
"Iya Mas, hati-hati!" jawab Nurul. Ia menyalami tangan Rahman dan menciumnya. Belum sempat Nurul melepaskan tangannya, Rahman langsung menarik dagu Nurul dan mendaratkan kecupan di bibirnya.
"Mas, ada Al," tegur Nurul.
"Dia di mobil," Rahman lantas mengecup kening Nurul lalu berjalan menuju mobilnya. Nurul tersenyum mendapat kejutan dari Rahman pagi itu. Rahman dan Al pun berangkat.
Nurul berbalik badan hendak kembali ke rumah. Ia terkejut ada Bu Dira tengah berdiri sambil tersenyum lebar menatapnya.
"Ibu'?"
"Nggak papa sayang, nggak usah gugup begitu. Ibu dulu juga pernah muda, jadi tahu bagaimana rasanya,"
Nurul tersenyum malu. Pipinya mulai merona. Bu Dira lantas menggandengnya masuk ke rumah. Mereka mengobrol di halaman belakang.
"Ibu nanti mau ke rumah Budhe Sri, kamu di rumah saja ya!"
"Apa ada acara di rumah Budhe Sri Bu'?"
"Iya. Shifa mau dilamar orang. Budhe mau berunding sama Ibu', tentang acara dan lainnya," jelas Bu Dira.
"Oohh, iya Bu'."
"Kamu pokonya jangan kecapekan yaa!"
Nurul hanya mengangguk. "Ibu berangkat jam berapa nanti?"
"Jam sepuluh, nunggu Pak Harto nganter bu Alfi periksa dulu,"
"Bu Alfi sakit apa Bu'?"
"Katanya beberapa hari nggak enak badan,"
"Iya Bu'. Salam buat Budhe Sri dan Mbak Shifa bu'!"
"In shaa Allah nanti ibu sampaikan."
Mereka larut dalam obrolan santai. Hingga akhirnya Bu Dira berangkat ke rumah kakaknya. Nurul merasa jenuh. Ia berjalan-jalan di rumah. Ia melihat pintu gudang yang belum pernah ia masuki.
"Ada apa ya di gudang?" Nurul membuka pintunya.
Ia mencari saklar lampu karena suasana gelap. Ia meraba dinding di sebelah pintu dan menemukannya. Ruangan pun jadi terang. Ia berjalan melihat sekitar.
"Ada ring basket? Ada bolanya juga, tapi kempes! hhuuwww," Nurul menghela nafas panjang. Ia memang menyukai olahraga itu sejak SMP.
"Ini album foto kan? Kenapa di taruh di sini?" Nurul bergumam sendiri. Ia sedikit meniup debu yang ada di atas album dan lantas membuka album itu perlahan.
Matanya membelalak. "Ini foto pernikahan Mas Rahman dan Mbak Dinda?" gumam Nurul. Ia melihat satu persatu foto dalam album itu.
Sedang di kantor, Rahman baru saja selesai rapat dengan koleganya. Ia sibuk memeriksa laporan dari anak cabangnya. Ponselnya berdering.
Mbok Tum is calling...
"Assalamu'alaikum, kenapa Mbok?"
"Wa'alaikumussalam Mas. Itu Mas, Mbak Nurul,"
"Nurul kenapa Mbok?" Rahman mulai panik.
"Mbak Nurul masuk gudang, nemuin album foto pernikahan Mas Rahman dan Mbak Dinda,"
__ADS_1
"Ibu' kemana Mbok?"
"Ibu' ke rumah Budhe Sri, baru saja berangkat Mas," suara Mbok Tum sangat panik.
"Sial!"
Tut, tut, tut. Rahman langsung mematikan ponselnya. Ia memasukkan laptopnya dan menyambar jasnya yang tergantung di kursi. Ia bergegas meninggalkan kantor.
"Woi Man, mau kemana kamu? Ini butuh tanda tanganmu!" teriak Burhan.
"Pulang, urgent!" jawab Rahman sambil berlari meninggalkan Burhan yang terpaku di depan ruangannya. Burhan hanya menggelengkan kepala.
Rahman melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Dia khawatir Nurul akan salah paham. "Baru juga saling berbagi, terus romantisan, masak mau diem-dieman lagi? Sial! Kenapa juga fotonya masih ada dan ditemuin Nurul? Aaarrgghhh,," Nurul memukul setirnya kesal.
Nurul yang tengah asyik melihat album foto, mendengar Mbok Tum yang menelfon Rahman. "Ada-ada aja Mbok Tum itu, pakai telfon Mas Rahman segala. Hhihi," gumam Nurul sendirian.
Mbok Tum mengawasi Nurul dari pintu gudang. Takut terjadi sesuatu padanya. Nurul masih begitu asyik melihat foto dalam album itu. Ada dua album besar dan beberapa foto yang masih terbingkai rapi di sana.
Hingga tiba-tiba, ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Tangannya memeluk dan mengusap perutnya perlahan. Kepalanya bersandar pada ceruk lehernya. Nurul menoleh pada orang dibelakangnya.
"Mas Rahman? Mas sudah pulang?"
"Sudah. Kamu ngapain di sini?"
"Ini lihat foto lamamu,"
"Ngapain lihat fotonya, lihat aslinya aja! Nih di sini,," Rahman memutar tubuh Nurul hingga mereka berhadapan.
"Mas kenapa pulang? Ada yang ketinggalan?"
"Enggak. Aku kangen kamu,"
"Iiihh, gombal!"
"Beneran!"
"Mas pulang karena ditelfon sama Mbok Tum kan? Karena Nurul nemu album pernikahan Mas Rahman dan Mbak Dinda, hhihi,"
"Tahu dong Mas! Orang Mbok Tum telfonnya di depan pintu, kan Nurul jadi denger dari sini, hhihi. Kenapa? Mas Nggak percaya sama Nurul?"
"Aku hanya takut kamu salah faham."
"Aku percaya sama kamu Mas," Nurul mengalungkan tangannya ke leher Rahman.
Rahman tersenyum. "Thank you!"
"You're welcome," Nurul berjinjit dan mengecup bibir Rahman.
Rahman terkejut bibirnya dikecup oleh Nurul. Tangannya mulai memegang tengkuk Nurul dan menariknya. Hingga bibir mereka saling bertautan. Saling memainkan lidah dan mengecap satu sama lain. Nurul semakin menarik tengkuk Rahman dan semakin memperdalam ciumannya.
Rahman menghentikan ciumannya setelah beberapa saat. "Keluar yuk, jangan di sini! Kamu juga pasti capek berdiri," Rahman kembali mengecup bibir Nurul.
Nurul mengangguk dan tersenyum. Rahman merangkul bahunya. "Mas, itu bola basketnya masih bisa dipakai nggak ya?"
"Kenapa? Kamu emang bisa main basket?"
"Bisa donk! Nurul dulu pernah ikut di tim basket sekolah waktu SMP dan SMA, jangan salah," sombong Nurul.
"Oh ya?"
"Nggak percaya yaudah!" Nurul memonyongkan bibirnya.
Rahman yang melihat itu langsung mengecupnya kembali. "Gemes Dek lihat bibir kamu kayak gitu, hhaha. Pengen makan lagi!"
Rahman tiba-tiba tersenyum nakal. Ia mengangkat tinggi tubuh Nurul. Menggendongnya pada salah satu sisi tubuhnya hingga Nurul harus berpegangan pada bahu Rahman agar tidak terjatuh.
"Iya, besok aku beliin bola basket baru ya!"
"Mas turunin! Nanti Mas capek gendong Nurul kayak gini," rengek Nurul.
"Kalau capek, kamu yang pijitin," Rahman masih tetap menggendong Nurul sembari berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Kita olahraga yuk Dek?"
"Siang-siang gini? Tadi pagi kurang apa Mas olahraganya? Lagian, emang Mas nggak balik ke kantor?"
"Aku mau olahraga sama kamu!" Rahman menurunkan Nurul tepat di depan pintu kamar.
"Yaudah, Nurul temenin! Mas Rahman ganti baju dulu aja!" sahut Nurul sembari membuka pintu kamarnya.
Mereka pun masuk ke kamar. Rahman mengunci pintu kamarnya. "Kok dikunci Mas? Katanya mau olahraga? Kan alat olahraganya di ruang sebelah Mas,"
"Olahraganya di sini aja, sama kamu!" Rahman memainkan sebelah alisnya. Nurul kebingungan melihat ekspresi Rahman.
Ia lalu berjalan menuju jendela. Menutup jendela dan gordennya. Ruang kamar pun menjadi gelap. "Kok ditutup semua sih Mas?" Nurul segera mendekati saklar lampu untuk mencari penerangan.
Saat lampu menyala, Rahman telah berada tepat dibelakang Nurul. Ia mengungkung Nurul di belakang pintu. "Aku mau minta tanggung jawabmu Dek!" ucap Rahman sembari menatap lekat wajah istrinya.
"Tanggung jawab apa Mas?"
"Kamu udah bangunin yang di bawah sana!" Rahman menggerakkan bola matanya ke bawah, memberikan kode pada Nurul untuk melihat ke bawah.
Nurul pun memandang ke bawah. Ada sesuatu yang menonjol di balik celana yang Rahman kenakan. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Mas Rahman mesum!"
"Mesum sama istri sendiri, boleh dong!" bisik Rahman mesra.
Nurul pun akhirnya paham maksud Rahman sedari tadi. Ia perlahan menurunkan tangannya. "Boleh aku minta hakku sekarang sayang?" ucap Rahman lirih.
Nurul menatap wajah Rahman. Ia lalu mengangguk malu. Rahman segera menarik dagu Nurul dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir Nurul. Nurul pun lantas mengalungkan tangannya ke leher Rahman. Ciuman itu kembali terjadi. Rahman meraih saklar lampu dan mematikannya.
Lama mereka bermain di sana. Perlahan Rahman menuntun Nurul menuju ke ranjangnya. Ia mulai melepaskan hijab yang Nurul kenakan. Kemudian ia melepaskan pakaian yang Nurul kenakan. Hingga tersisa pakaian dalam yang menutupi bagian intim milik Nurul.
Rahman pun mulai melepaskan pakaiannya. Perlahan Rahman mengangkat tubuh Nurul dan meletakkannya di ranjang. Hingga siang itu, menjadi siang yang bergairah bagi mereka. Mereka pertama kali melakukan penyatuan dan pelepasan dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat. Dan atas keikhlasan masing-masing. (Udah sah sih, jadi kapan aja boleh dong 😁🤭)
Akhirnya, setelah penyatuan yang panas dan bergairah, Nurul terlelap karena kelelahan. Rahman pun sejenak beristirahat lalu segera membersihkan diri dan membiarkan Nurul istirahat terlebih dahulu. Ia menutupi tubuh polos Nurul dengan selimutnya.
Hingga pukul dua siang, Bu Dira kembali ke rumah. Ia melihat mobil Rahman terparkir di garasi. Ia bergegas masuk ke rumah. "Rahman sama Nurul mana Mbok? Nurul nggak papa kan?" tanya Bu Dira panik.
"Mas Rahman dan Mbak Nurul di kamar bu'," jawab Mbok Tum. Mbok Tum lantas menceritakan apa yang terjadi hingga Rahman pulang dari kantor.
Bu Dira segera berjalan menuju kamar Rahman. Ia memanggil Rahman di depan kamarnya. Rahman pun membuka pintunya.
"Nurul mana Man?" Bu Dira berusaha mencari keberadaan menantunya itu. Ia berjinjit dan mengedarkan pandangannya ke dalam kamar. Rahman berusaha menutupi pandangan ibunya. Tapi terlambat, Bu Dira melihat sesuatu yang tak biasa di dalam kamar. Ia tersenyum bahagia.
"Nurul sedang tidur Bu'," jawab Rahman dengan berdiri tegak di tengah pintu.
"Yasudah, Ibu turun dulu,!" Bu Dira yang langsung paham dengan sikap Rahman lalu berbalik badan dan tersenyum lebar.
Ia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang barusan dilihatnya. Nurul yang tengah tertidur lelap tanpa hijabnya. Bahu dan lengannya terekspos sempurna tanpa pakaian yang menutupi, hanya bagian dada ke bawah yang tertutup selimut.
Sedang di dalam kamar, Rahman segera membangunkan Nurul. Ia merebahkan tubuhnya di samping Nurul, dan memiringkan tubuhnya menghadap Nurul. "Dek, bangun!" Rahman mengusap-usap pipi Nurul.
Nurul masih terlelap. "Sayang, bangunlah! Sudah hampir waktu ashar!" Rahman menghujani seluruh wajah Nurul dengan kecupan.
Nurul mulai menggeliat. Ia mulai membuka mata lalu mengerjapkan matanya. "Mas?"
"Bangunlah, sudah hampir waktu ashar! Barusan juga kamu dicari Ibu'," ucap Rahman.
"Ibu'? Ibu sudah pulang?" Rahman mengangguk.
Bukannya bangun, Nurul malah meringkuk di dada Rahman. Ia membenamkan wajahnya di dada suaminya. Ia lupa, bahwa ia tidak mengenakan pakaian apapun di bawah selimutnya.
"Kamu mau tanggung jawab lagi Dek kalau yang di bawah bangun lagi?" Nurul diam dan berfikir.
"Tanggung jawab?" . Nurul kebingungan. Ia kemudian sadar karena ucapan Rahman. Ia melirik tubuhnya yang tertutup selimut dan segera menarik selimutnya menutupi wajahnya.
"Kenapa pakai ditutupin, aku udah lihat semua juga," bisik Rahman ditelinga Nurul. Nurul memukul dada Rahman mesra.
"Thank you baby!" Rahman mencium rambut Nurul dan membelainya.
"Mandilah! Aku akan menjemput Al ke sekolah, sebentar lagi dia pulang," perintah Rahman. Nurul mengangguk kecil.
Nurul lantas bangun dan menggulung selimut ke tubuhnya dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Ia lantas membersihkan diri. Rahman pun bergegas turun dan bersiap menjemput Al sekolah.
__ADS_1