Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Jalan-jalan


__ADS_3

Brak,, Rika mendobrak pintu ruang rapat. Semua orang yang berada di ruang rapat menoleh ke arah pintu. "Man, Nurul jatuh di toilet!" teriak Rika sambil terengah-engah.


Rahman segera berlari meninggalkan ruang rapat. Rika kembali menutup pintu. Sang kolega kebingungan. "Maaf pak, itu tadi istri saya!" ucap Shodiq.


"Lalu Pak Rahman?"


"Oh itu, Nurul itu istrinya Pak Rahman. Ia sedang hamil dan belum lama keluar dari rumah sakit," jelas Shodiq.


"Pak Rahman sudah menikah?" tanya kolega bisnis Rahman yang bernama Adrian Mahadirga.


"Sudah, sekitar dua bulan yang lalu," jawab Burhan.


"Memang tidak ada resepsi Pak, hanya tasyakuran kecil di rumah," imbuh Shodiq. Mereka lalu melanjutkan rapat tanpa Rahman.


Sedang di toilet, Rahman segera menghampiri Nurul yang tengah bersandar pada tembok di samping pintu. "Kamu nggak papa dek?" tanya Rahman panik.


"Ada yang sakit? Nggak pendarahan lagi kan?" Rahman sangat khawatir.


Nurul hanya menggelengkan kepalanya. Nurul berusaha berdiri dengan berpegangan pada Rahman. Rahman mencegahnya. Ia lantas mengangkat tubuh Nurul dengan kedua tangannya.


"Mas ini di kantor! Nurul juga masih bisa jalan sendiri mas," ucap Nurul ketika hendak keluar dari toilet dengan digendong Rahman.


"Udah, kamu nurut aja! Ini kantorku, jadi terserah aku mau apa!" tegas Rahman.


Rahman segera membawa Nurul ke ruangannya. "Maafkan mas dek! Maaf, mas nggak bisa jaga kamu," ucap Rahman setelah mereka sampai di ruangannya.


"Nggak papa mas! Nurul yang nggak hati-hati," ucap Nurul sembari mengelus pipi suaminya.


"Man, bisa kita bicara sebentar!" ucap Rika yang membuka pintu ruangan Rahman. "Aku pinjem Rahman bentar ya adek kecil,, hhihi,"


"Iya mbak Ka," jawab Nurul dengan suara lirih. Rika segera menutup pintu dan kembali ke ruangan suaminya.


"Sebentar yaa!" pamit Rahman. Tak lupa ia memesankan minuman hangat dibagian pantry untuk Nurul. Rahman segera menuju ruangan dua sahabatnya itu.


"Kamu gimana sih Man? Nurul itu belum ada sebulan keluar dari rumah sakit, gimana bisa dia sampai jatuh di toilet kayak tadi? Kamu gimana jadi suaminya hah?" marah Rika.


"Udah beb, jangan marah-marah gitu sama Rahman!" Shodiq berusaha menenangkan istrinya.


"Udah sana, belain terus itu sahabat kalian!" teriak Rika. "Kamu pernah enggak Man ajak Nurul jalan-jalan?"


"Belum pernah, iya kan?" ucap Burhan dan Shodiq bersamaan.


"Diem kalian! Kenapa ikut-ikutan sih?" ketus Rahman.


Rika menghela nafas panjang. "Kamu ini ya Man, iiihhhhh," gemas Rika hingga menghentak-hentakkan kakinya.


"Kamu mau masa lalu kamu terulang lagi? Kamu sibuk kerja sampai nggak ada waktu buat istri kamu," tegas Rika.


"Meski Nurul itu nggak kayak Dinda, dia juga punya perasaan Man. Dia juga perempuan yang butuh perhatian, seorang istri yang butuh perhatian suami. Apa dia harus sakit dulu baru kamu perhatian sama dia?"


Rahman terdiam mendengar ucapan Rika. "Sekarang terserah kamu mau gimana. Aku lihat, Nurul itu tulus sayang sama kamu. Dia udah mulai jatuh cinta sama kamu. Kamu gimana? Jangan hanya karena dia hamil anak kamu, kamu cuma sayang sama calon anak kamu dan cuma kasihan aja sama Nurul. Kamu kejam kalau kayak gitu!" tegas Rika.


"Udah beb!" ucap Shodiq.


"Aku pulang dulu beb! Mesti jemput Rezki. Dan kamu Man, fikirin ucapanku tadi! Meski aku belum lama kenal sama Nurul, tapi dia wanita baik Man. Jangan mainin dia!" Rika lalu pamit pada tiga orang sahabat itu.


"Udah sana Man, kasihan Nurul!" ucap Burhan sambil menepuk bahu Rahman.


Rahman segera kembali ke ruangannya. "Maaf ya lama," ucap Rahman saat memasuki ruangan.


"Iya mas. Mbak Rika?" jawab Nurul.


"Rika udah pulang barusan. Kamu udah makan?"


"Belum mas,"


"Kenapa belum makan? Ah udahlah, ayo makan! Kamu bawa bekal apa?"

__ADS_1


"Nggak tahu mas, ibu' tadi yang nyiapin," Rahman segera mengeluarkan bekal makan siang yang dibawa Nurul. Mereka lalu makan siang bersama.


"Kamu masih pusing nggak dek?" tanya Rahman setelah selesai makan.


"Enggak mas. Oh iya mas, tadi ibu' bilang, Nurul disuruh pulang sama mas Rahman."


"Kita jalan-jalan dulu ya!"


"Hah? Mas kan masih kerja?"


"Kamu lupa aku bosnya," Rahman menaikkan satu alisnya menggoda Nurul.


Nurul hanya tersenyum kecil melihat tingkah Rahman. Rahman mengambil ponselnya lalu menelfon seseorang. "Aku keluar dulu, urusan kantor kalian handle ya," ucap Rahman pada lawan bicaranya ditelfon.


Rahman segera membereskan mejanya sedang Nurul membereskan tempat bekal makannya. "Yuk jalan!" ajak Rahman. Mereka pun berjalan beriringan keluar kantor. Banyak mata yang memperhatikan mereka.


"Kenapa mereka nglihatin kita begitu mas?" tanya Nurul bingung.


"Udah biarin aja," jawab Rahman.


"Mau kemana mas?" tanya Nurul.


"Eemmhh, kamu pengen jalan-jalan kemana?"


"Kalau ke masjid agung boleh mas? Pengen sholat disana,"


Rahman melirik arlojinya. "Boleh. Nanti bisa sholat ashar di sana."


"Eh, tapi Nurul lupa nggak bawa mukena. Nggak papa lah, nanti pakai mukena yang ada di masjid saja," gumam Nurul.


"Kamu tunggu di sini dulu, aku ambil mobil sebentar," Rahman meninggalkan Nurul di depan kantor.


Tak lama Rahman sudah datang dengan mobilnya menjemput Nurul. Rahman segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor.


Tak jauh dari kantornya, Rahman menepikan mobilnya di sebuah butik. "Kamu tunggu sebentar ya!"


"Apa ini mas?" Nurul membukanya. Rahman melajukan kembali mobilnya.


"Kan Nurul masih ada mukena mas di rumah,"


"Katanya mau sholat di masjid agung,"


"Kan di masjid juga ada mukena mas,"


"Udah, nanti dipakai sholat yaa," Rahman mengusap kepala Nurul.


"Terima kasih mas," ucap Nurul sambil tersenyum.


Lima belas menit mereka telah sampai di Masjid Agung Kota. Bertepatan dengan kumandang adzan ashar yang terdengar jelas dari pengeras suara masjid. Rahman dan Nurul segera keluar dari mobil dan menuju tempat wudhu masing-masing. Lantas melakukan sholat jamaah di masjid itu.


Selesai sholat Nurul mencari keberadaan Rahman di depan masjid. Banyak orang berlalu lalang. Nampak beberapa bis pariwisata besar berjajar rapi di area parkiran masjid.


Nurul menangkap sosok dua orang wanita yang ia kenal. Ia lantas menghampiri mereka.


"Mbak Iis? Mbak Mia?" sapa Nurul.


Dua orang wanita itu pun menoleh. "Dek Nurul?" ucap dua wanita itu bersamaan.


Mereka bertiga lantas berpelukan melepas rindu. Mereka adalah teman Nurul dari Jogja. Teman sejak Nurul masih menyandang status gadis. Setelah Nurul menikah dengan Bayu mereka jarang bertemu. Apalagi setelah Nurul merantau dengan Al, mereka tak pernah bertemu sekalipun.


Hari ini sungguh membahagiakan bagi Nurul, dapat bertemu dengan teman lamanya. Mereka langsung hanyut dalam obrolan yang sangat mengasyikkan. Duduk santai di area serambi Masjid Agung Kota menikmati suasana sore.


"Dek?" suara seorang lelaki yang sangat familiar bagi Nurul.


"Eh, Mas sudah selesai? Mau pulang sekarang?" tanya Nurul pada Rahman yang berdiri di sampingnya.


"Terserah kamu," jawab Rahman. "Mereka?"

__ADS_1


"Oh kenalin Mas, ini Mbak Iis dan Mbak Mia, teman Nurul dari Jogja. Dan itu Mas Faiza dan Mas Yuda, suaminya," mereka saling menganggukkan kepala.


"Ini suamiku Mbak, Mas Rahman," Nurul memperkenalkan Rahman.


Semua terkejut mendengar ucapan Nurul. Karena mereka tidak tahu jika Nurul telah berpisah dari Bayu. Dan bahkan kini telah menikah lagi.


"Apa teman-temanmu masih lama?" tanya Rahman.


"Mbak masih lama kan disini? Belum keburu pulang kan?"


"Sampai jam setengah lima Dek," jawab Iis.


"Kalau begitu, aku pergi sebentar yaa! Nanti aku kembali lagi kesini!" ucap Rahman.


"Iya mas, hati-hati!" pesan Nurul. Rahman pun berpamitan pada teman-teman Nurul.


"Ganteng banget dek suamimu, gagah lagi," ucap Iis.


"Mbak inget, ada Mas Faiza itu disana," goda Nurul.


"Hhaha, dikit Dek," tiga wanita itu lantas tertawa bersama.


"Kamu udah cerai Dek sama Bayu?" tanya Mia.


"Udah Mbak, empat tahun yang lalu,"


"Terus anak kamu?"


"Ikut aku Mbak. Setelah bercerai aku langsung merantau ke sini sama dia,"


"Bayu?"


"Mas Bayu udah nikah lagi dua tahun yang lalu,"


"Kamu kapan nikah Dek?"


"Baru dua bulan yang lalu Mbak, hhihi," Nurul cekikikan.


"Oalah, pengantin baru! Gimana ketemunya dek sam orang ganteng banget gitu?" tanya Iis.


Nurul pun lantas menceritakan kisahnya bagaimana bisa berkenalan dengan Rahman. Hingga akhirnya mereka bisa menikah. Tapi Nurul tidak mengatakan jika suaminya itu seorang pebisnis handal di kota.


"Wah, kayak cerita novel Dek! Dibikin buku bagus itu ceritanya," celetuk Iis.


"Mbak Iis tu ada-ada aja, hhaha," semua kembali hanyut dalam obrolan yang sangat seru. Saling berbagi cerita.


Nurul melihat mobil Rahman mulai memasuki area parkir masjid. Ia keluar dengan menenteng sesuatu.


"Mas, ini ada sedikit oleh-oleh buat keluarga di rumah," Rahman menyerahkan satu per satu paper bag yang tadi ia bawa ke Faiza dan Yuda.


"Lhoh, kok repot-repot mas!" ucap Faiza.


"Enggak kok mas. Atau mari mampir ke rumah saya, nggak begitu jauh dari sini!" tawar Rahman.


"Lain kali mas, in shaa Allah. Ini ikut rombongan soalnya, jadi nggak bisa main," jawab Yuda.


"Iya Mas. Lain kali kalau berkunjung ke sini lagi, silahkan mampir ke rumah Nurul Mbak, Mas," ucap Rahman.


"Iya mas, terima kasih." jawab dua pasang suami istri itu bersamaan.


Nurul bahagia melihat sikap Rahman. Ia sungguh terharu dengan sikapnya hari ini. "Entah kesambet apa mas Rahman hari ini," gumam Nurul dalam hati.


Rahman pun ikut mengobrol bersama dua suami dari teman Nurul. Hingga ada instruksi untuk rombongan Iis untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun saling berpamitan.


Nurul mengantar kedua teman lamanya itu hingga ke bis yang mereka tumpangi. Mereka seakan enggan untuk berpisah. Hingga mereka naik ke bis yang siap berangkat.


"Kamu tunggu di sini ya Dek, Mas ambil mobil dulu!" pinta Rahman. Nurul hanya mengangguk.

__ADS_1


Tak lama Rahman telah datang dengan mobilnya. Nurul melambaikan tangannya ke arah temannya yang telah berada di dalam bis. Ia lalu masuk ke mobil Rahman. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan area parkir masjid. Membawa sepasang suami istri itu kembali ke rumah.


__ADS_2