
Senja telah menjelang. Malam pun datang dengan berjuta bintang menghiasi langit. Tak lupa sang rembulan yang ikut tersenyum cerah dengan cahayanya. Membawa kesan bahagia di muka bumi. Hingga malam pun semakin larut.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan pun ikut berganti. Waktu berjalan begitu cepat. Dua bulan telah berlalu sejak pertemuan pertama Bu Indira dan Nurul di minimarket waktu itu. Bu Indira pun telah mencoba mendekati Nurul beberapa kali untuk mendapatkan banyak informasi pribadinya.
Bukan Bu Indira jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Butuh waktu lebih dari sebulan, hanya untuk mengetahui bahwa Nurul adalah seorang janda dan memiliki seorang putra. (padahal kan bisa tanya sama othornya Bu Ind,, nggak perlu lama-lama🤭😁). Dia pun sudah mempunyai rencana untuk mempertemukan Nurul dengan anak laki-lakinya, Rahman. Tapi selalu saja gagal, karena sudah dapat ditebak oleh Rahman.
"Lhoh Pak, kenapa berhenti?" Tanya Bu Indira pada sopir pribadinya karena tiba-tiba mobilnya berhenti sebelum sampai rumah.
"Maaf Bu', saya cek dulu mobilnya!" Yang langsung diangguki oleh Bu Indira. Dia pun ikut keluar dari mobil. Dan seketika dia menyadari satu hal.
"Itu kan tempat kerja calon mantuku?" Sebuah senyuman pun langsung tersungging di bibir wanita paruh baya itu.
"Maaf Bu', sepertinya ada masalah sama mesinnya. Saya coba telfon bengkelnya Pak Duri dulu!" Ucap Pak Harto, sopir pribadi Bu Indira.
Bu Indira hanya mengangguk.
"Pak Harto, saya tunggu di depan minimarket itu ya!" Tangan Bu Indira menunjuk sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari tempat mobilnya berhenti. Pak Harto pun hanya menjawab dengan anggukan karena sedang menelfon bengkel langganannya.
Bu Indira berjalan meninggalkan sopirnya dan menuju Iz mart. Ia melihat ada bangku kosong di depan minimarket itu, dia pun langsung duduk sambil mencari keberadaan seorang perempuan yang selama dua bulan terakhir menyita perhatiannya. Nurul. Tapi sayang, di dalam toko hanya terlihat dua orang karyawan laki-laki sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Mungkin dia sudah pulang." Gumam Bu Indira dalam hatinya.
"Maaf Bu', bengkelnya Pak Duri tutup hari ini. Karena sedang ada libur bersama katanya. Apa saya coba telfon Mas Rahman saja?" Tanya Pak Harto sedikit ngos-ngosan karena sedikit berlari untuk menghampiri sang majikan. Pak Harto sedikit panik karena hari mulai senja.
"Jangan Pak! Kasihan Rahman, baru ngurusin kerjaan ke Semarang sendirian." Jawab Bu Indira. Mereka pun terdiam dan berfikir sejenak.
Tiba-tiba ada seorang wanita menyapa dari samping mereka berdua.
"Bu Indira!" Sang empunya nama pun menoleh.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ketemu akhirnya!" Gumam Bu Indira dalam hatinya, karena dia hafal betul suara wanita itu.
"Iya!" Bu Indira pun menoleh, dan senyuman yang lebar pun hadir dari bibirnya.
"Mbak Nurul! Eh, sama siapa ini?" Tanya Bu Indira saat menoleh pada sosok disamping Nurul. Nurul pun lantas menyalami tangan dan mencium punggung tangan bu Indira.
Bu Indira dan Nurul mulai sedikit akrab. Karena memang Bu Indira sering datang ke minimarket hanya sekedar ingin bertemu atau ngobrol sebentar dengan Nurul. Niatnya pengen tahu lebih jauh kehidupan Nurul, tapi selalu saja nihil hasilnya. Nurul benar-benar menutup rapat kehidupannya. Orang-orang hanya tahu dia seorang janda dan memiliki seorang putra. Dan hanya itu pula yang diketahui oleh Bu Indira.
"Ini putra saya Bu'. Ayo *L*e, salim sama Nenek!" Perintah Nurul pada Al.
Bu Indira langsung mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan anak laki-laki itu.
"Namanya siapa Le?"
"Nama saya Fatih Nek!" Jawab Al sambil menjabat tangan Bu Indira lalu mencium punggung tangannya. Bu Indira pun tersenyum.
"Panggil Oma Dira ya!"Jawab Bu indira dengan senyum sangat bahagia.
"Ketemu juga sama jagoan kecilnya. Aku dapat ide."
"Bu Dira habis belanja?" Tanya Nurul basa-basi.
"Enggak *N*duk. Mobil Ibu' mogok itu disana. Tapi bengkel langganan Ibu' baru tutup. Deket sini ada bengkel mobil nggak ya Nduk?"
"Enggak ada Bu' kalau bengkel mobil. Adanya tukang tambal ban Bu' dibelakang toko."
__ADS_1
"Bu Dira pulang dulu saja ya pakai taksi online, biar mobil saya yang urusin, takutnya kemaleman kalau nunggu mobilnya beres." Kata Pak Harto.
"Tapi saya nggak biasa Pak naik taksi online. Takut." Bohong Bu Indira sambil mengedipkan matanya. Pak Harto pun kebingungan dengan jawaban sang majikan.
Ketika melihat gelagat sang sopir yang kebingungan, Bu Indira pun segera menyambung ucapannya.
"Nduk, Ibu' bisa minta tolong sebentar? Tapi kamu baru sibuk enggak Nduk?"
"Iya Bu', boleh. Al, kamu beli cemilan dulu di toko buat bekal! Bunda tunggu disini sambil ngobrol sama Oma." Perintah Nurul kepada Al, sembari memberinya uang. Yang langsung diterima oleh Al.
"Kamu mau kemana Nduk, kok beli bekal?" Tanya Bu Indira.
"Itu Bu', Al pengen jalan-jalan ke taman kota." Jawab Nurul singkat.
"Ibu' tadi mau minta tolong gimana Bu'?" Sambung Nurul.
"Ibu' mau minta tolong kamu buat nemenin Ibu' naik taksi online buat pulang. Anak Ibu' baru keluar kota. Pak Harto kan harus ngurusin mobil yang mogok. Tapi kayaknya kamu nggak bisa." Jawab Bu Indira dengan wajah sendu.
"Oh begitu. Kalau begitu, sekalian saja Bu' bareng Nurul. Nurul sudah pesen taksi online tadi. Ini baru nunggu taksinya datang." Jawab Nurul sambil menunjukkan senyum tulusnya.
"Tapi Pak Harto gimana Bu'? Apa nggak papa ditinggal?" Tanya Nurul bingung.
"Saya nggak papa Mbak. Yang penting Bu Indira sampai rumah nggak kemaleman. Takut kesehatannya terganggu Mbak. Tolong ya Mbak,temenin Bu Indira naik taksi online!" Jawab Pak Harto berusaha meyakinkan Nurul.
"Iya Pak." Jawab Nurul singkat, tak lupa senyum tulus yang terukir di bibir kecilnya.
"Makasih ya Nduk." Ucap Bu Indira.
"Bunda, ini kembaliannya." Ucap Al yang baru saja keluar dari minimarket. Pak Harto pun kembali ke tempat mobilnya yang mogok.
"Di kompleks Perumahan X Nduk." Jawab Bu Indira.
Nurul pun lantas menambahkan tujuan pada aplikasi taksi online yang dipesannya. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mereka pun masuk ke mobil setelah mengkonfirmasi bahwa itu adalah taksi pesanannya.
"Pak, ke kompleks Perumahan X dulu ya. Baru ke taman kota!" Ucap Nurul setelah masuk ke mobil dan menutup pintu.
"Baik Bu." Jawab singkat sang sopir.
"Kamu nggak ada kendaraan Nduk?" Tanya Bu Indira memulai percakapan.
"Ada motor Bu' di rumah. Tapi agak sedikit capek, jadi pesan taksi online saja waktu Al tadi minta jalan-jalan ke taman." Jawab Nurul.
"Nama lengkapmu siapa Le?" Tanya Bu Indira sambil mengelus kepala Al yang duduk diantara 2 wanita itu.
Al menoleh kearah sang ibu. Nurul pun mengangguk, karena tak enak hati oleh Bu Indira.
"Maulana Al Fatih Oma." Jawab Al.
"Ooohh, pantas saja dari tadi bundamu memanggilmu dengan sebutan 'Al'."
Obrolan pun berlanjut. Bu Indira banyak bertanya tentang Al.
Setelah empat puluh menit berkendara,mobil mulai memasuki kawasan kompleks perumahan elit di kota itu. Perhatian Nurul sedikit teralihkan oleh deretan rumah-rumah mewah.
"Apa rumah Bu Indira salah satu dari deretan rumah-rumah ini? Allahu Akbar. Aku salah besar."
__ADS_1
"Rumah yang itu pak, pagar rumahnya putih!" Ucap Bu Indira sambil menunjuk sebuah rumah tak jauh dari gerbang masuk kompleks.
Semua mata tertuju pada rumah yang berpagar putih. Tidaklah begitu mewah tampak dari luar,tapi tampak begitu elegan dengan taman depan rumah yang luas. Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang rumah itu. Bu Indira pun turun.
"Tunggu sebentar ya Pak!" Ucap Nurul pada sopir. Dan diangguki oleh sang sopir. Nurul dan Al lantas ikut turun.
"Ayo Nduk mampir dulu!" Ajak Bu Indira.
"Lain kali saja Bu', terima kasih. Ini langsung mau ke taman, Al nya sudah nggak sabar." Tolak Nurul dengan halus.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna putih berhenti di belakang mobil yang ditumpangi Nurul. Bu Indira dan Nurul menoleh kearah mobil yang berhenti. Senyuman bahagia tersungging di bibir Bu Indira.
"Tepat waktu." Gumam Bu Indira.
Pintu mobil pun terbuka. Keluarlah seorang pria tinggi nan gagah dengan berbalut kemeja berwarna navy dan celana kain berwarna hitam. Berjalan menghampiri tiga orang yang berdiri di depan pintu gerbang rumah.
"Kamu udah pulang Man?" Tanya Bu Indira kepada sang pria setelah sampai di sampingnya.
"Sudah Bu'. Masalah di Semarang sudah beres, jadi Rahman langsung pulang." Jawab Rahman yang langsung menyalami tangan Bu Indira dan mencium punggung tangannya.
"Kata pak Harto mobilnya mogok Bu', tapi Ibu' sudah pulang katanya dianterin sama seseorang pakai taksi online."
"Pak Harto itu yaa. Udah dibilang nggak usah ngabarin kamu, ternyata tetep aja nelpon kamu." Ucap Bu Indira sedikit kesal.
"Nggak papa Bu', kasihan Pak Harto juga kelamaan cari bengkel. Tadi udah Rahman panggilin montir bengkelnya Shodiq Bu'." Jawab Rahman menenangkan sang ibu.
"Oh iya Man, kenalin ini Nurul! Yang nganterin Ibu' pulang. Dan itu Al putranya." Tunjuk Bu Indira pada Nurul yang berdiri di dekatnya.
Rahman pun menoleh.
Deg. "Apa aku nggak salah lihat?" Dahi Rahman sedikit berkerut. Tak sengaja mata Rahman dan Nurul bertemu.
Nurul langsung tersadar.
"Astaghfirullah. Bantu hamba menjaga mata dan hati hamba ya Allah! Allahu akbar, maskerku tak lepas tadi." Gumam Nurul panik dalam hati.
"Nduk, ini Rahman, anakku." Ucap Bu Indira.
Rahman pun langsung mengulurkan tangannya hendak menyalami Nurul, tapi disambut oleh Nurul dengan tangan yang mengatup di depan dada. Tak lupa sebuah senyuman kecil di bibirnya. Rahman pun langsung menarik tangannya dan melakukan hal yang sama dengan Nurul.
"Ayo Al, salim sama Om!" Kata Nurul pada Al. Al pun langsung patuh dan menyalami Rahman dan mencium punggung tangannya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Bu Dira, Mas Rahman!" Pamit Nurul pada ibu dan anak itu.
"Yasudah Nduk! Karena kamu udah tahu rumah Ibu', kapan-kapan maen kesini ya!" Ucap Bu Indira ramah.
"In shaa Allah Bu'. Kami permisi Bu'! Assalamu'alaikum." Nurul langsung mengulurkan tangan untuk menyalami bu Indira. Tak lupa mengatupkan tangannya kembali ke arah Rahman. Al pun ikut menyalami mereka berdua.
Nurul dan Al pun masuk ke dalam mobil taksi yang masih setia menunggu. Perlahan mobil mulai memutar balik,lambaian tangan Bu Indira terlihat dari dalam mobil. Yang dibalas pula oleh Nurul.
"Bunda, Om Rahman tadi itu, Om yang pernah Al ceritain waktu itu. Waktu kita sholat di masjid yang besar itu lho bunda." Ucap Al antusias.
"Mirip saja mungkin Le." Jawab Nurul singkat. Karena jantungnya masih berdegup kencang sejak matanya bertemu pandang dengan mata Rahman.
Perjalanan pun berlanjut sampai tujuan. Al sangat menikmati jalan-jalannya malam itu. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Nurul dan Al pun memutuskan untuk pulang dengan hati yang lebih bahagia. Iya, bahagia itu sederhana. 😊
__ADS_1