
Suara lantunan ayat suci menggema merdu diantara keriyuhan. Membawa suasana duka begitu terasa. Bendera putih nan berkibar di tepi jalan, menjadi tanda bahwa ada duka disana.
Rumah Bu Lastri pagi itu telah ramai oleh para tetangga. Setelah Nita pulang, ia mengabarkan pada keluarga dan ketua RT kabar tentang ibunya. Para tetangga pun mulai berdatangan.
Pukul delapan pagi, suara sirine mobil jenazah mengalihkan perhatian semua orang. Jenazah Bu Lastri telah sampai di rumah duka. Rahman dan Nurul pun telah ikut pulang dari rumah sakit.
Tangis kerabat dan beberapa tetangga pun mulai terdengar. Jenazah terlebih dahulu disholatkan di rumah duka. Beberapa orang bergantian menyolatkannya. Tak terkecuali Nita dan Nurul. Mereka berjamaah bersama Rahman dan para tetangga.
"Utiii!" suara Al terdengar sedih sembari berlari menuju rumah setelah mobil Bu Dira tiba.
Al langsung menghampiri jenazah Bu Lastri. Ia menangis di sampingnya. Nurul segera menghampiri putranya dan mengajaknya beralih dari sana. Al menangis di pelukan ibunya. Nurul pun tak henti-hentinya mengeluarkan air matanya.
Bu Dira dan Fatimah yang baru tiba pun langsung memeluk Nurul yang wajahnya sangat sembab. Rika dan Nana pun turut menghampiri Nurul dan memeluknya.
"Sabar ya Rul! Surga menantinya. Kamu harus ikhlas!" ucap Rika sembari mengusap lengan Nurul.
"Makasih Mbak Ka, Mbak Na,"
"Udah nangisnya! Ibu' pasti nggak mau lihat kamu kayak gini!" ucap Nana menyemangati.
Nurul mengangguk. Bu Dira dan lainnya lantas menyolatkan jenazah Bu Lastri. Setelah selesai, mereka menemani Nurul mengobrol untuk mengalihkan kesedihan Nurul.
Di sisi lain, Rahman beserta dua sahabatnya dan juga Ali, sedang merundingkan solusi untuk masalah Rahman. Ali yang sudah mengetahui masalah Rahman pun ikut membantu mencari solusi.
"Kamu ada saran Li?" tanya Burhan.
"Kita tanya Mbak Dinda langsung aja!" jawab Ali polos.
"Ya mana dia mau ngaku," ketus Shodiq.
"Kalau dari ceritamu kemarin Man, kamu berarti dijebak. Dan Dinda, nggak sendirian," imbuh Burhan.
"Emang Mas Rahman kenapa? Beneran tidur sama Mbak Dinda? Wah, kelewatan kamu Mas!"
"Jaga mulutmu Li!" Rahman kesal dengan ucapan Ali.
Burhan pun menceritakan apa yang diungkapkan Rahman kemarin waktu di kantor.
"Fix. Jebakan! Dan Mbak Dinda, nggak sendirian. Jangan, jangan,,"
Ali membisikkan sesuatu ke telinga Rahman.
"Mas Akbar." Bisik Ali sangat pelan ke telinga Rahman.
"Jangan ngaco kamu Li! Nggak mungkin dia kayak gitu!" bantah Rahman dengan sedikit kesal.
"Karena kamu dijebak, kita jebak balik aja Dinda," usul Shodiq.
"Gimana maksud kamu?" tanya Burhan semangat.
Mereka pun merencanakan sesuatu untuk Dinda. Rencana untuk mengungkap kebenaran foto dan video yang dikirimkan Dinda. Dan mencari dalang dibalik fitnah itu.
"Kamu disini dulu aja Man! Kasihan Nurul kalau kamu tinggal pulang," saran Burhan setelah mereka selesai menyusun rencana.
"Iya. Aku akan di sini beberapa hari. Tolong kalian urusin kantor dulu ya!" jawab Rahman.
"Iya tenang aja! Nanti kalau ada apa-apa kita kabari," jawab Shodiq sembari menepuk bahu Rahman. Mereka kembali larut dalam obrolan.
Pukul sebelas siang, jenazah Bu Lastri diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Semua kerabat mengantarnya ke pemakaman. Tangis keluarga Bu Lastri tak dapat dibendung. Nita dan Nurul saling berpelukan untuk menguatkan.
Setelah jenazah dimakamkan, para pelayat pun meninggalkan pemakaman. Hanya tertinggal Nurul dan Rahman.
"Ayo Dek pulang! Kamu harus ikhlas, biar Ibu' juga tenang,"
__ADS_1
"Ibu' Mas, Ibu', hiks, hiks," Nurul memeluk erat tubuh Rahman. Tangisnya belum reda.
"Aku gendong ya, pulang!"
Nurul menggelengkan kepalanya. "Bu', Nurul pulang dulu ya," ucap Nurul sembari mengusap nisan Bu Lastri.
Nurul perlahan bangkit dan berjalan pelan bersama Rahman. Sampai di rumah, masih banyak kerabat dan tetangga yang membantu. Bu Dira dan lainnya pun belum pulang.
Selepas sholat dzuhur, Bu Dira berpamitan pada Nita dan Nurul. Bu Dira meninggalkan Al sementara di Jogja. Nurul dan Al pun melepas kepulangan Bu Dira.
Malam harinya, para tetangga membacakan surah Yaasiin dan tahlil di rumah Nita. Nurul yang terlalu lelah, memilih beristirahat di kamar Bu Lastri bersama Al.
Setelah selesai acara dan para tetangga serta kerabat pulang, Nita dan keluarganya pun beristirahat. Rahman pun segera menyusul Nurul dan Al ke kamar. Ketika ia masuk, Nurul terbangun dari tidurnya.
"Sudah selesai Mas tahlilnya?" tanya Nurul dengan mata yang mengantuk.
"Sudah. Tidurlah lagi!" jawab Rahman sembari duduk di tepi ranjang.
Nurul menganggukkan kepalanya. Rahman pun lantas menggelar tikar yang ada di kamar itu. Dan lantas merebahkan tubuhnya di sana.
Tiba-tiba Nurul bangun dari tidurnya. Ia menyusul Rahman dan tiduran di atas tikar bersama Rahman.
"Tidurlah di atas sayang! Kamu sedang hamil, jangan tidur di sini!"
Bukannya bangun dan berdiri, Nurul langsung memeluk Rahman dan mulai memejamkan matanya.
"Tidur di atas sayang, di sini dingin! Tak baik buatmu dan bayimu." Nurul menggelengkan kepalanya di dada Rahman.
"Biarkan aku begini Mas! Memelukmu seutuhnya milikku! Sebelum aku harus membaginya dengan Mbak Dinda esok." gumam Nurul dalam hati. Matanya mulai panas. Tapi ia menahan agar air mata itu tak tumpah.
"Kita tidur di atas ya! Sepertinya masih muat ranjangnya untuk bertiga," Rahman mengusap kepala Nurul. "Tapi kamu jangan banyak gerak, nanti aku jatuh!"
Nurul lalu melepaskan pelukannya. Mereka pun tidur di ranjang kecil milik Bu Lastri bersama Al. Ya. Di ranjang berukuran 140x200cm, keluarga kecil itu tidur. Nurul kembali memeluk erat Rahman. Rahman pun dengan senang hati membalas pelukan istrinya itu. Hingga mereka terlelap bersama.
Dua hari setelah kepergian Bu Lastri, Bu Dira kembali ke Jogja untuk menjemput Al. Itu pun atas permintaan Rahman. Rahman tak ingin Al terlalu lama bolos sekolah. Jadi, ia meminta Bu Dira untuk menjemput Al ke Jogja. Ia masih harus menemani Nurul yang masih ingin di Jogja beberapa hari lagi.
Kantor Rahman sementara di urus oleh Shodiq dan Bu Dira. Burhan ditugaskan Bu Dira mengurusi masalah video dan foto bersama Ali.
Sore itu, setelah Al kembali ke D**** bersama Bu Dira, Nurul sedang tiduran di kamarnya. Badannya terasa lemas dan sedikit demam.
"Nduk, makanlah! Kamu dari kemarin belum makan," pinta Nita setelah masuk ke kamar Nurul.
"Udah Mbak! Nurul kemarin makan dadar gulung sama puding yang buat cemilan tamu,"
"Kamu belum makan nasi kan selama di Jogja? Makan cemilan juga cuma satu, mana kenyang nduk? Kasihan bayi kamu,"
"Eemmhh, Mbak! Ibu kalau beli tahu guling itu dimana? Jam segini masih buka?"
"Kamu mau? Kalau mau, biar di beliin Mas Yudi," tawar Nita yang langsung diangguki oleh Nurul.
"Yaudah, tunggu bentar! Biar dibeliin sama Mas Yudi," Nita segera pergi meninggalkan kamar Nurul untuk mencari suaminya.
Tiga puluh menit kemudian, Yudi sudah kembali dengan beberapa bungkus tahu guling. Nurul pun bergegas mengambil satu kantong plastik dan menentengnya keluar rumah.
"Lho Dek, mau kemana?" tanya Rahman setelah melihat Nurul keluar rumah.
"Mau ke makam!"
Rahman pun segera menyusulnya. "Man, makan dulu!" teriak Nita.
"Nanti aja Mbak," jawab Rahman sambil berlari kecil menyusul Nurul.
"Itu anak, kenapa masih ngeyel terus ya! Susah banget disuruh makan. Kasihan Rahman jadinya!" gumam Nita.
__ADS_1
"Udah Dek! Nanti coba dinasehatin pelan-pelan. Do'ain aja, Rahman sabar ngadepin Nurul!" jawab Yudi.
"Iya Mas, Aamiin." Jawab Nita sembari membuka plastik berisi tahu guling. Nita dan Yudi beserta dua putrinya pun segera menikmati tahu guling yang dibeli oleh Yudi.
Di makam, Nurul langsung duduk disebelah makam Bu Lastri. Ia meletakkan plastik yang ia bawa disebelahnya.
"Bu', tadi Mas Yudi beliin tahu guling kesukaan Ibu'. Makan yuk Bu' sama Nurul!" ucap Nurul sembari mengusap nisan Bu Lastri.
Rahman pun ikut berjongkok di dekat Nurul. Tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Ia lalu berdiri dan menjauh beberapa langkah dari Nurul setelah melihat nama si penelfon.
"Assalamu'alaikum. Gimana?" sapa Rahman.
"Kamu kirim pesan sekarang. Berikutnya, biar aku dan Burhan yang urus!"
"Oke! Thank's Diq!"
"Kita sahabat, sudah seharusnya begini." Sambungan telfon pun langsung terputus. Rahman segera mengetik sebuah pesan dan mengirimnya. Setelah itu ia mengantongi kembali ponselnya dan berbalik hendak kembali menghampiri Nurul.
"Dek!" Rahman berlari menghampiri Nurul yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di tanah. Ia memangku separuh tubuh Nurul.
"Sayang, bangunlah!" Rahman menepuk pelan pipi Nurul. Tak ada respon sama sekali. Rahman segera mengangkat tubuh Nurul.
"Apa ini? Kenapa basah?" Rahman mengurungkan niatnya mengangkat tubuh Nurul. Ia merasakn lengannya basah. Ia lantas meraba bagian belakang rok yang dikenakan Nurul.
"Nggak mungkin Nurul ngompol kan? Air ketuban?" Rahman seketika ingat nasehat Arum tentang kehamilan beberapa waktu lalu.
"Sial! Aku nggak bawa mobil," Rahman langsung mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
"Bagas! Bawa mobilku ke makam! Minta kunci ke Mbak Nita di meja kamar. Cepat!"
"Baik Pak!" jawab seorang laki-laki di sebrang telfon. Sambungan telfon pun langsung terputus.
Tak lama pengawal pribadi Rahman datang dengan mobil Rahman. Rahman segera mengangkat tubuh Nurul dan membawanya masuk ke mobil.
"Ke rumah sakit cepat!" perintah Rahman kepada pengawalnya. Ia mulai panik.
"Sayang bertahanlah!" Ucap Rahman sembari mengusap pipi istrinya yang tak sadarkan diri.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di salah satu rumah sakit terbesar dan terbaik di kota. Rahman segera membawa Nurul menuju IGD. Nurul segera mendapatkan perawatan dari dokter dan perawat. Rahman pun segera mengabari Nita jika Nurul telah masuk rumah sakit.
Nita dan Yudi pun bergegas menyusul Rahman ke rumah sakit. Mereka diantar oleh Eko, pengawal pribadi Rahman yang lain, sesuai permintaan Rahman.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Rahman setelah seorang dokter selesai menangani Nurul.
"Ketubannya tadi merembes, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Tapi lain kali, jangan sampai ini terjadi lagi! Akan sangat berbahaya bagi janinnya." jelas dokter perempuan paruh baya yang tadi menangani Nurul.
"Baik Dokter!" sahut Rahman. "Maaf Dokter, apakah istri saya bisa menjalani CT scan untuk kepalanya?"
"Apa ada masalah?"
"Dia sering sekali mengeluhkan sakit kepala yang sangat sakit. Dan beberapa hari yang lalu ia sakit kepala hingga pingsan. Setahu saya, dia pernah mengalami kecelakan dan kepalanya terbentur batu tanpa helm. Apa itu bisa berpengaruh?"
"Bisa saja. Atau mungkin dia sedang tertekan?"
"Dia baru saja kehilangan ibunya."
"Oh begitu. Bisa dilakukan CT scan. Besok kita lakukan pemeriksaan. Pasien silahkan didaftarkan rawat inap terlebih dahulu!"
"Baik Dokter. Terima kasih." Ucap Rahman yang langsung melihat kondisi Nurul. Dia masih belum sadar.
Tak lama Nita dan Yudi pun datang. Rahman lantas pergi untuk mengurus administrasi kamar untuk Nurul.
"*B*ertahanlah sayang! Untukku, Al dan anak kita," gumam Rahman sembari berjalan menuju meja administrasi.
__ADS_1
Rasa sayang dan cinta untuk Nurul telah bersemayam di dalam hati Rahman. Hati yang telah tertutup selama tujuh tahun karena sebuah penghianatan. Kini hati itu telah terbuka lebar untuk sebuah nama. Nurul Almira.