
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Kondisi Nurul semakin baik. Pendarahannya sudah teratasi. Sedangkan kondisi Rahman, masih sama saja. Ia masih belum sadarkan diri.
Setelah kedatangan Nita, Nita-lah yang menjaga Nurul di rumah sakit setiap hari. Bu Dira hanya di rumah sakit bila siang hari, saat malam ia akan pulang ke rumah. Itu juga atas permintaan Fatimah dan Ali, demi kesehatan Bu Dira sendiri.
Yudi dan kedua putrinya berada di rumah Bu Dira bersama Al, Riko dan Rindi. Sedang Fatimah dan Ali, bergantian menjaga Rahman.
Saat siang, Nurul selalu menemui Rahman di ICU. Ia tak banyak bicara. Ia hanya meletakkan kepalanya di atas lengan suaminya yang terbaring. Mengusap, dan menggenggam tangannya. Mulut dan hatinya tak henti berdo'a agar suaminya segera sadar.
Nurul tak bisa berlama-lama di samping Rahman. Ia lalu akan melihat Rahman dari ruang tunggu yang berada tepat di samping Rahman terbaring. Ruangan itu hanya dibatasi oleh dinding tembok dibagian bawah dan dinding kaca di bagian atas. Ia sering menghabiskan waktunya di sana sembari menunggu Rahman sadar bersama putrinya.
Bu Tari dan keluarganya juga sudah menjenguk Rahman dan Nurul. Bu Tari dan suaminya langsung meminta maaf pada Bu Dira. Bu Tari bahkan berlutut dihadapan Bu Dira dan Nurul.
"Maafkan aku Mbak! Aku tak tahu Akbar akan melakukan hal senekat itu." Ucap Bu Tari setelah ia duduk di samping Bu Dira.
"Sudahlah Mbak, ini memang ujian untuk kita. Semoga ada hikmah dibalik ini semua," jawab Bu Dira berusaha menenangkan Bu Tari.
"Maafin Akbar ya Rul, dia terbutakan oleh perasaannya!" Ucap Isty yang duduk di tepi tempat tidur Nurul.
"Iya Bu Isty, saya mengerti." Jawab Nurul.
"Mana anakmu Rul?" Tanya Isty penasaran.
"Itu Bu Isty, baru di gendong sama kakakku." Nurul menunjuk ke arah jendela dimana Nita tengah menggendong bayi Nurul. Isty pun mengikuti arah tangan Nurul.
"Cowok apa cewek Rul?" Isty mulai beranjak dari duduknya dan menghampiri Nita.
"Cewek Bu Isty."
"Boleh aku gendong?"
"Boleh Bu',," Isty pun langsung menggendong bayi kecil itu dan menimangnya.
"Cantik Rul, mirip Rahman wajahnya." Puji Isty.
"Iya nduk, mana anakmu?" Bu Tari pun penasaran dengan cucu baru sahabatnya itu.
"Ini Ma, cantik banget!" Isty antusias memanggil ibunya.
Bu Tari pun segera menghampiri Isty. Ia pun bergantian menggendong bayi perempuan itu. Bayi kecil itu tetap terlelap meski suara para orang dewasa cukup gaduh membicarakannya.
Bu Dira berusaha berlapang dada menerima semua ini. Demi kebaikan semuanya. Ia juga tak ingin hubungan dua keluarga itu hancur. Jadi ia memilih memaafkan semuanya. Dan berharap, hanya akan ada kebahagiaan setelah semua ini.
Siang itu, Nurul dan putrinya sudah diizinkan pulang. Tepat tiga hari setelah Nurul sadar. Dan saat mereka berkemas, mereka mendapat kabar bahwa Rahman telah siuman. Nurul bergegas menggendong putrinya dan keluar kamar.
Di luar kamar ada seorang pengawal yang telah menunggunya dengan sebuah kursi roda. Ia diperintahkan oleh Ali untuk selalu bersiaga jika Nurul ingin mengunjungi Rahman di ICU.
__ADS_1
"Saya jalan sendiri saja Pak!" Ucap Nurul tergesa-gesa.
"Tapi Bu', kami hanya menjalankan perintah!"
Akhirnya Nurul mengalah. "Tapi cepat ya Pak!"
"Baik Bu'."
Nurul pun segera duduk dan di dorong oleh pengawal itu. Pengawal itu berjalan lebih cepat seperti permintaan Nurul. Bu Dira dan Nita mengikuti dibelakangnya.
Ketika mereka sampai di ruang tunggu, Rahman sedang diperiksa kondisinya oleh dokter dan perawat. Dan saat dokter sudah memastika kondisi Rahman baik, keluarga diizinkan menjenguk, tapi tetap dibatasi. Bu Dira masuk lebih dulu.
"Akhirnya kamu sadar Man. Semua nungguin kamu." Ucap Bu Dira sambil mengusap pipi Rahman. Ia mencium kening putranya itu.
Rahman hanya tersenyum. Badannya terasa sakit dimana-mana. Ia ingin mengatakan banyak hal, tapi badannya masih lemas.
"Nu, Nurul?" Ucapan Rahman terbata-bata.
"Nurul tidak apa-apa. Dan anak kalian juga sudah lahir. Perempuan, cantik sekali." Ucap Bu Dira dengan senyum bahagia.
Rahman meneteskan air matanya. Ia bahagia mendengar putrinya telah lahir. Tapi ia juga merasa sedih, karena tak bisa menemani Nurul saat proses melahirkan.
"Itu putrimu!" Bu Dira menunjuk ke arah tembok kaca yang menjadi pembatas antara ruang ICU dengan ruang tunggu. Rahman perlahan menoleh ke arah tangan Bu Dira menunjuk.
Ada Ali, Fatimah, Nita dan Nurul tentunya sembari menggendong putrinya. Nurul tak dapat menahan air matanya ketika Rahman menoleh ke arahnya. Perasaannya berkecamuk. Bahagia karena Rahman akhirnya sadar, dan dapat melihat putrinya, begitupun sebaliknya. Tapi ia masih merasa bersalah pada Rahman. Ia merasa bahwa kondisi Rahman yang seperti itu disebabkan karena dirinya.
Nurul berlari keluar dari ruang tunggu dengan menggendong putrinya. Ali, Fatimah dan Nita membiarkannya. Bu Dira dan Rahman menunggu kedatangan Nurul di dalam.
Hingga beberapa saat, Nurul tak kunjung masuk, Bu Dira lantas keluar mencarinya. Ia langsung menuju ruang tunggu.
"Nurul mana?" Tiga orang disana saling pandang.
"Apa Nurul nggak di ruang ICU Bu'?" Sahut Nita.
"Nggak ada. Rahman udah nungguin itu dari tadi."
"Astaghfirullah." Ucap semua orang.
Mereka segera menghambur keluar ruangan. Mereka lalu mencarai Nurul dan berpapasan dengan salah satu pengawal Rahman.
"Lihat Nurul nggak Gas?" Tanya Bu Dira.
"Ibu tadi kelihatannya lari ke arah ruang rawatnya." Jawab Bagas.
"Biar saya yang bicara dengannya Bu'." Ucap Nita.
__ADS_1
Bu Dira, Fatimah dan Ali menyetujuinya. Mereka bertiga lalu kembali ke ruang tunggu ICU menemani Rahman. Sedang Nita langsung berlari menuju ruang rawat Nurul.
"Kamu kenapa balik kesini nduk? Itu ditungguin suamimu!" Ucap Nita saat melihat Nurul sedang duduk di samping box bayinya.
"Kamu kenapa nangis? Rahman sudah sadar. Kamu nggak ingin ketemu dia?" Tanya Nita ketika ia telah berjongkok didepan Nurul.
Nurul masih diam. Tubuhnya bergetar karena menangis. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Nita. Nita akhirnya memeluk adiknya yang sedang menangis tersedu-sedu. Menenangkannya.
Setelah beberapa saat, tangis Nurul mulai mereda. Nita melepaskan pelukannya. "Kamu kenapa?
Nurul hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau nggak papa, kenapa balik kesini? Rahman pengen ketemu kamu sama putri kalian."
Nurul masih tetap diam. "Apa ada yang sakit? Perutmu sakit?"
Nurul menggelengkan kembali. "Lalu?"
"Sudah Rul! Temui Rahman sekarang, biar bayimu aku yang jaga di sini. Sana, pergilah!" Pinta Nita.
"Tapi Mbak,,"
"Nggak ada tapi-tapian! Cepat sana!"
Nita segera menarik tubuh Nurul untuk berdiri. dia menuntun Nurul keluar ruangan. "Udah sana!"
Nurul pun akhirnya menuruti Nita. Sungguh ia juga ingin menemui Rahman. Mendengar suaranya. Memeluknya dan mendekapnya erat.
Tapi ia teringat bahwa apa yang menimpa Rahman adalah karena dirinya. Semua itu membuatnya takut menemui Rahman. Bukan takut untuk dimarahi atau dicaci, hanya saja karena rasa bersalahnya, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Rahman.
Nurul akhirnya sampai di ruang ICU. Ia lalu masuk dan mengenakan pakaian khusus. Ia menghampiri Rahman yang masih terbaring lemas dengan mata terpejam. Ia menoleh le arah ruang tunggu, tak ada siapapun di sana.
Ali dan Fatimah sedang mengurusi administrasi kepulangan Nurul dan bayinya. Sedang Bu Dira kembali ke ruang rawat Nurul.
Perlahan Nurul hendak menyentuh tangan Rahman. Tapi Rahman lebih dulu membuka matanya. Rahman merasa ada yang mendekatinya, jadi ia membuka matanya. Dan ternyata, istrinya ada disampingnya.
"Dek,," Panggil Rahman lirih sambil tersenyum.
"Iya Mas." Nurul tak banyak bicara. Ia hanya membalas senyuman Rahman.
Rahman sangat ingin memeluk tubuh istrinya itu. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan.
"Maaf Mas," ucap Nurul dengan air mata yang berlinang. Ia tiba-tiba berbalik dan berjalan meninggalkan Rahman. Rahman terkejut dengan sikap Nurul.
"Kamu kenapa pergi sayang? Aku merindukanmu." Rahman bergumam dalam hatinya. Tak terasa, air mata Rahman menetes di pipinya menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
"Apa kamu tak merindukanku? Apa kau begitu kecewa padaku hingga tak menginginkanku lagi? Maafkan aku sayang!"
__ADS_1
Rahman dan Nurul sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Rahman yang kondisinya masih lemas, belum bisa banyak bicara. Sehingga ia belum bisa mengungkapkan perasaannya. Sedang Nurul, ia terlalu merasa bersalah karena telah melukai Rahman hingga kondisinya seperti itu. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Rahman.
Bagaimanakah Rahman dan Nurul akan menyelesaikan salah faham mereka? Akankah ini menghadirkan masalah baru dalam rumah tangga mereka?