
Akhir pekan di Kota Semarang. Rahman dan Nurul benar-benar menikmati liburan singkatnya. Fatimah pun tak membiarkan kakak iparnya itu sendirian sama sekali. Ia khawatir, jika Nurul tak betah berada di rumahnya.
"Mbak, udah jadi tanya Mas Rahman?" tanya Fatimah ketika mereka duduk santai di balkon rumah Fatimah.
"Tanya apa Dek?" sahut Nurul.
Fatimah menepuk jidatnya keras. "Ya ampun Mbak, yang semalam masak udah lupa?"
"Semalam?" Nurul mencoba mengingat apa yang dimaksud Fatimah. "Oh itu,, belum Dek. Semalam Mas Rahman udah tidur duluan, jadi nggak sempet ngobrol"
"Kita introgasi sekarang aja gimana Mbak?"
"Ayok! Ajak Ali sekalian! Biar nanti dia nggak ketinggalan cerita." Usul Nurul.
"Oke Mbak!"
"Aku panggil Mas Rahman, kamu panggil Ali ya!"
"Sip! Kita ketemu lagi di sini!" Fatimah mengangkat ibu jarinya.
Dua wanita itupun lantas mencari suami mereka masing-masing. Mereka mencari keseluruh rumah. Ali dan Rahman ternyata sedang berenang bersama tiga kurcaci kecil di siang yang panas itu.
"Yaahh Mbak, lagi pada berenang." Ucap Fatimah sedikit kecewa ketika mereka sampai di samping kolam renang.
"Kita tunggu aja Dek, nanti kita tanyain kalau udah selesai!"
"Ikut berenang aja yuk Mbak!"
"Eh,, aku nggak bisa berenang Dek."
"Minta diajarin Mas Rahman itu lho Mbak! Mas Rahman kan jago berenang."
"Lain kali aja Dek!" tolak Nurul halus.
"Kalau nanti dia panik terus ada apa-apa sama kehamilannya, kamu mau tanggung jawab Dek? Hah?" suara Rahman mengagetkan dua wanita itu.
"Ya bukan gitu Mas maksudnya Fatimah! Kan kasihan kalau Mbak Nurul cuma lihat doang di sini."
"Nggak papa Dek! Aku udah biasa lihat Mas Rahman sama Al berenang di rumah," jawab Nurul mengusap lengan Fatimah.
"Udah yuk Dek ke kamar! Ada yang mau aku bilang ke kamu," ajak Rahman sembari menarik tangan kanan Nurul.
"Mas Rahman sudah berenangnya?" tanya Nurul sembari berdiri.
"Sudah! Besok lagi." Jawab Rahman. Rahman dan Nurul pun masuk ke rumah dan menuju kamarnya.
"Kok aku ditinggalin Mbak?" rengek Fatimah.
"Katanya mau berenang? Ya itu berenang sama Ali sama yang lain!" jawab Rahman sedikit berteriak karena telah berada di dalam rumah.
Setelah sampai di kamar, Rahman langsung mandi. Sedangkan Nurul memilih rebahan di sofa kamar sembari menunggu Rahman yang sedang mandi.
"Mas tadi mau bilang apa?" tanya Nurul pada Rahman setelah ia berpakaian selesai mandi.
Rahman berjalan mendekati Nurul dan berlutut di depannya. Nurul pun segera bangun dari rebahannya.
"I love you." Rahman menatap lembut wajah Nurul seksama.
Nurul hanya diam membalas tatapan Rahman. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Akhirnya senyum nan indah pun tercipta dari bibir Nurul. Pipinya mulai merona. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya sangat bahagia. Hanya karena sebuah kalimat sederhana.
"Maass,,"
__ADS_1
"Heemm?"
"Entah kebaikan apa yang pernah Nurul lakukan, hingga Allah memberikan suami sebaik dirimu untukku. Ayah yang baik sepertimu untuk Al. Kamu benar-benar menyayangi kami, menerima kami apa adanya dan selalu membimbing kami pada kebaikan. Bagimana aku bisa membalas semua itu?"
"Jadilah istri terbaikku di dunia dan akhirat. Dan percayalah selalu padaku." Rahman mengecup kening Nurul begitu lembut. Nurul pun memejamkan matanya. Menikmati momen nan bahagia itu.
"In shaa Allah Mas. Terima kasih." Nurul pun memeluk tubuh Rahman.
"Adek, baik-baik ya di dalam! Jangan nakal, oke!" Rahman melepaskan pelukannya dan mengusap perut Nurul. Sebuah gerakan dari dalam perut Nurul pun terjadi tepat dimana tangan Rahman sedang mengusap perut Nurul.
"Iya sayang, ini ayah!" Rahman pun mendaratkan kecupan lembut di perut Nurul. Rahman lantas duduk di samping Nurul dan merengkuh bahu Nurul dengan satu tangan. Menariknya ke dalam pelukannya.
"Mas,,"
"Yaa,,"
"Mas pengen punya anak laki-laki atau perempuan?" Nurul mengusap-usap perutnya karena gerakan sang bayi sangat kuat dan cukup lama.
"Kita sudah punya Al, aku ingin anak perempuan, biar cantik kayak kamu,"
Nurul menengadahkan pandangannya ke arah wajah Rahman. Ia langsung mengecup bibir Rahman. Mereka pun tersenyum.
"Tapi jika Allah memberikan anak laki-laki, aku pun tak keberatan. Yang penting, kau dan anak-anak kita, sehat dan baik-baik saja."
Nurul menganggukkan kepalanya di dada Rahman. "Maass,,"
"Kenapa sayangku?"
"Apa Mas tak pernah memiliki hasrat untuk bercumbu denganku?" Ucap Nurul sembari tangannya sibuk memainkan tali bajunya yang ada digamisnya. Ia sebenarnya sangat malu menanyakan hal itu, tapi itu pun cukup mengganggu fikirannya.
"Aku pria normal sayang untuk itu. Aku sering ingin melakukannya denganmu." Rahman mengusap kepala Nurul.
Rahman melepaskan pelukannya. Ia merubah posisi duduknya menghadap Nurul. Memegang kedua pipi istrinya itu.
"Bukan karena itu sayang. Jangan bersedih!" Rahman mengusap-usap pipi Nurul dengan ibu jarinya.
"Maaf karena aku melakukan yang pertama tanpa izinmu, karena kamu dalam pengaruh obat waktu itu. Aku sebenarnya ingin melakukannya saat kita memang sudah siap dan saling menerima. Tapi karena kamu dalam pengaruh obat waktu itu, aku pun tak ingin membahayakanmu saat itu." Rahman menjeda kalimatnya sambil tetap menatap wajah istrinya yang sedikit merona.
"Setelah itu kau sudah hamil dan mengalami pendarahan. Arum memberitahuku, untuk tidak mencumbumu sementara waktu hingga kandunganmu cukup kuat. Jadi aku menahannya, karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi. Apalagi setelah kemarin di Jogja. Dokter melarangku mencumbumu hingga kau melahirkan. Karena jika air ketubanmu merembes kembali, akan sangat berbahaya bagi anak kita. Dan aku tak ingin itu terjadi."
"Maaf Mas, ini semua karena Nurul," air mata itu mulai mengalir. "Maaf, Nurul tak bisa jadi istri yang baik untukmu."
"Kamu tidak salah apapun sayang! Ini ujian untuk kita." Rahman mengusap air mata yang membasahi pipi Nurul.
"Apa kau ingin melakukannya?" Rahman menggoda Nurul.
"Mas, ini di rumah Fatimah." tolak Nurul.
Tok, tok, tok. Terdengar ketikan di pintu kamar. Ketukan itu mengalihkan obrolan sepasang suami istri itu. Nurul bergegas membersihkan sisa air matanya. Rahman pun beranjak dari sofa dan membukakan pintu.
"Ayah, Bunda?" Ucap Al setelah melihat Rahman membuka pintu.
"Itu di dalam. Ayo masuk!" Al pun langsung menghampiri Nurul yang masih duduk di sofa. Ia langsung duduk di sampingnya. Dan Rahman pun mengikutinya.
"Bunda, adek udah gerak belum Bunda?" tanya Al polos.
"Udah sayang, dari tadi."
Al pun langsung mengelus perut besar ibunya. "Adek! Ini Mas lagi,, hhihi,"
Nurul dan Rahman tersenyum melihat tingkah Al. Al dan Rahman memang suka mengelus perut besar Nurul dan merasakan pergerakan dari janinnya.
__ADS_1
"Al,," panggil Rahman.
"Iya Yah,," Al mengalihkan pandangannya pada Rahman
"Al pengen punya adik laki-laki atau perempuan sayang?" tanya Rahman.
"Perempuan Yah, biar kayak Dek Rindi."
"Tapi nanti kalau Allah kasihnya laki-laki, Al tetep harus sayang sama adeknya ya!"
"Tentu Yah. Kalau nanti adek udah lahir, mau Al ajak ngaji, berenang, mainan, main basket, makan, bobok bareng, dan belajar bela diri."
"Kamu mau belajar bela diri sayang?" tanya Rahman.
"Mau Yah. Biar nanti bisa jagain Bunda kalau ada yang jahat lagi sama Bunda."
"Belajar sama Ayah mau?"
"Mas bisa bela diri?" tanya Nurul terkejut.
"Bisa. Dulu pernah belajar karate, pencak silat sama taekwondo. Dan lulus semua."
"Wah, Ayah hebat. Mau Yah belajar!" jawab Al semangat.
"Oke jagoan! Besok Ayah ajarkan dasarnya, lalu Ayah daftarkan ke tempat belajar bela diri."
"Terima kasih Ayah," Al langsung memeluk erat Rahman dan mencium pipinya.
"Tapi janji, harus tetap fokus sekolah dan hafalan Al-Qur'an-nya yaa!" Pinta Rahman.
"Siap Ayah!"
"Terima kasih Mas." Ucap Nurul sembari menatap wajah Rahman.
"Iyaaa,," jawab Rahman.
Obrolan pun berlanjut. Hingga sore harinya, Rahman, Nurul, Bu Dira dan Al pulang. Esok hari harus kembali beraktivitas seperti biasa.
Setelah kunjungan ke rumah Fatimah, Rahman dan Nurul mulai menyiapkan keperluan untuk calon anak mereka. Mereka membeli beberapa keperluan bayi.
Fatimah dan Bu Dira pun tak kalah antusias. Mereka memberikan beberapa hadiah untuk calon anak Rahman dan Nurul. Semua orang sangat menantikan kelahirannya.
Apa yang Allah takdirkan terjadi, pasti akan terjadi. Semua hanya masalah waktu. Kita tak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Dan ketika itu datang, siap ataupun tidak, kita harus tetap menerima dan menghadapinya.
...****************...
Asaalamu'alaikum..
Hai readers semua π€π€
Terima kasih untuk dukungannya dan telah setia membaca kisah Rahman dan Nurul sampai saat ini π
Oohh, othor sungguh terharu π₯Ίπ₯Ί ada yang mau membaca cerita othor yang amatir ini.
Oh iya readers, kisah Rahman dan Nurul udah hampir tamat yaa.. π
Othornya nggak suka kalau kisahnya kepanjangan π nanti takutnya malah jadi ngelantur kemana-mana othornya π (maklum masih amatir, daya imajinasinya pun terbatas π)
Terima kasih readers semua ππ
Wassalamu'alaikum..
__ADS_1