
"Al,," panggil bu Dira. "Ayo ikut Oma! Oma tunjukin kamar kamu, udah Oma siapin dari kemarin."
"Dimana Oma kamar Al?" tanya Al antusias.
"Di atas sayang, sebelahnya kamar Bunda. Yuukk,,!" Al menoleh pada sang ibu.
"Iya, ikut Oma aja! Bunda temenin yaa! Bunda juga mau lihat kamar Al," jawab Nurul sembari mengambil tas kecilnya.
"Riko ikut yaaa budhee,,??" tanya Riko yang mencegat langkah Nurul.
"Boleehh! Rindi mau ikut nggak cantik?" jawab Nurul.
"Iya ayo ikut semua! Nanti habis itu mandi yaa,,Okey gaes?" sahut Fatimah semangat.
"SIAP!" jawab ketiga anak kecil yang semakin terlihat kedekatannya secara bersamaan.
Semua orang pun beranjak dari duduknya. Mengikuti langkah bu Dira menaiki anak tangga di rumahnya menuju lantai dua.
"Oma! Kalau kamar Al di bawah aja boleh nggak Oma?" tanya Al ketika mereka sampai di lantai dua.
"Aaalll,," sahut Nurul dengan nada sedikit marah.
"Nggak papa nduk, jangan dimarahi!" Bu Dira menenangkan Nurul. "Al kan belum lihat kamarnya, kenapa udah mau pindah di bawah?" tanya bu Dira sambil berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan untuk Al.
"Al pasti capek naik turun tangga kalau di atas Oma. Kalau di bawah kan nggak perlu naik turun tangga. Boleh Oma?" jawab Al jujur.
"Hhaha, kamu ini ada-ada saja Al," jawab bu Dira sambil tertawa. "Tapi, kalau kamar Al di bawah, kamarnya jauh ya dari kamar Bunda yang di atas. Ini kamar Bunda, itu kamar Al! Gimana?" Bu Dira menunjukkan pintu kamar milik Nurul dan Al.
__ADS_1
"Iya Oma, nggak papa! Al kan juga harus belajar lebih mandiri lagi!"
"Kamarnya sebelahan sama Oma mau? Kamar di sebelah kamar Oma itu kosong."
"Iya Oma nggak papa, kan jadi Al bisa nemenin Oma,"
"Yaudah, boleh! Besok biar ayah sama pak Slamet yang mindahin barang-barang kamu ke kamar bawah. Sementara ini, kamu tidurnya di kamar ini dulu ya!" jawab Al menengahi.
"Siap Yah! Makasih Ayah, Oma," jawab Al bahagia.
Bu Dira pun lantas membuka pintu kamar milik Al. Setelah pintu terbuka dan lampu kamar dinyalakan, namapak sebuah kamar berukuran besar. Lengkap dengan tempat tidur queen size yang telah dipasangi sprei dan dinding yang juga telah dihias bertema anak laki-laki. Bu Dira pun membuka almari besar diruangan itu. "Nah, ini Oma sudah belikan beberapa baju buat kamu pakai, kalau kamu nggak suka, besok kita beli lagi yaa,," bu Dira menunjukkan semua isi dalam almari.
Nurul terkejut melihat itu semua. "Bu',, inii,,"
"Nggak papa nduk, ibu sengaja nyiapin ini buat Al. Buat kamu juga udah ibu siapin ada di kamar kamu," jawab Bu Dira.
"Tapi bu', ini terlalu banyak bu',," tolak Nurul hati-hati.
"Iya bu', terima kasih!" jawab Nurul. Bu Dira tersenyum melihat sikap Nurul.
"Okey, okey! It's bath time guys! Dilanjutkan nanti lagi okey selepas maghrib," seru Fatimah kepada tiga anak kecil itu. Semua pun menuruti ucapan Fatimah. Riko dan Rindi mengikuti sang ibu untuk mandi.
"Kamu juga mandilah nduk! Biar ibu temani Al di sini. Kamarmu di sebelah!" perintah bu Dira.
"Iya bu',," Nurul pun meninggalkan bu Dira yang sedang duduk di kasur di kamar Al.
Ia berjalan menuju kamar sebelah. Perlahan memutar gagang pintu kamar. Ketika pintu terbuka, lampu kamar telah menyala. Matanya membelalak sempurna. Kamarnya bahkan lebih besar dari kamar putranya tadi. Ia masuk ke kamar itu dan menutup pintunya perlahan. Ia menyapu setiap sudut kamar itu. "Kayak kamarnya laki-laki ini nuansanya?" gumam Nurul pelan.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Kamar besar itu dipenuhi warna monochrome hitam dan putih. Dengan sebuah tempat tidur super king size di tengah kamar dan sebuah tv layar datar di sebrang ranjang. Ada dua buah rak buku besar yang telah terisi penuh di dekat jendela. Tak lupa sebuah sofa panjang berwarna hitam dan kursi santai di depan jendela kaca yang tertutup tirai putih. Ada sebuah bufet kecil di sebelah pintu masuk. Dan sebuah pintu yang menarik perhatian Nurul. Ia pun membuka pintu itu. "Mungkin ini kamar mandinya?"
Mata Nurul kembali terbuka lebar. Sebuah walk-in closet cukup besar dengan beberapa almari berpintu kaca dan rak-rak yang telah terisi. Pakaian-pakaian pria dan wanita terpampang jelas dalam almari itu. Ada pula beberapa sepatu dan sandal pria dan wanita tertata rapi dalam rak. Yang juga ada beberapa tas tangan wanita bermerk terkenal. "Kenapa ada pakaian pria di sini ya?" Nurul tengah sibuk mengamati pakaian pria yang ada di almari.
Ceklek,,
Sebuah pintu di belakang tempat Nurul berdiri terbuka. Karena saking takjubnya dengan isi kamar itu, Nurul tidak menyadari ada suara gemericik air dari ruangan kecil disebelahnya. Nurul pun membalikkan badannya ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Aaaaaaa,," Nurul berteriak cukup kencang. Ia langsung berjongkok sambil menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Ia melihat Rahman hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian perut bawahnya hingga ke lutut. Dengan tubuh yang masih basah seusai mandi. Tubuhnya yang kekar benar-benar sempat terekspos oleh penglihatan Nurul. "Maaf mas, Nurul salah masuk kamar," Nurul segera berdiri dan beranjak hendak meninggalkan kamar itu.
"Stop!" ucap Rahman singkat membuat Nurul seketika menghentikan langkahnya tepat di pintu walk-in closet. "Kamu tunggu di kamar sebentar! Kamu tidak salah kamar, ini kamar kita!" Nurul langsung menutup pintu itu dan segera duduk di ranjang. Mencoba mengatur nafasnya. Rahman pun segera memakai pakaiannya. "Kenapa aku lupa ada penghuni baru di kamarku? Semoga Nurul tak berfikiran macam-macam tentangku! Tapii, biar sajalah dia berfikiran macam-macam, sudah halal mah bebas, hhaha"
Deg. "Kamar kita? Astaghfirullah, kenapa aku lupa aku sudab menikah? Dan pantas saja kamar ini bernuansa laki-laki dan tadi ada beberapa pakaian laki-laki di almari." Nurul bergumam dalam hati
Nurul kembali mengedarkan pandangannya. Ia melihat sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru dengan sebuah amplop kecil di atasnya. Ia mengambilnya karena penasaran. Untuk mbak Nurul, tulisan yang tertera di atas amplop. Nurul pun membuka dan membaca isi surat dalam amplop.
"Makasih ya mbak mau jadi kakak iparku. Dan ini ada hadiah kecil dariku! Jadi istri yang baik ya mbak buat Mas Rahman.. Fatimah." isi surat itu. Nurul pun memasukkan kembali suratnya dan membuka kotak itu. Dia bingung melihat isi dalam kotak itu.
"Ini apa ya?" dia meletakkan kotak itu di ranjang tepat di sampingnya. Ia mengambil barang dalam kotak itu dan mengangkatnya. Sret. Sebuah lingerie seksi berwarna hitam menggantung sempurna di hadapan Nurul.
Sreekk.. Pintu walk-in closet pun terbuka. Nurul menoleh ke arah pintu terbuka. Rahman dan Nurul saling bertatapan. Tatapan terkejut satu sama lain. Nurul lantas menarik baju itu dan bergegas menyimpannya kembali ke dalam kotak dalam keadaan tak beraturan. Nurul benar-benar malu karena Rahman melihatnya memegang sebuah lingerie.
"Mandilah! Handuknya ada di almari! Dan Al akan ku ajak ke masjid." ucap Rahman.
"Iya mas," Nurul segera beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
"Apa aku tadi tidak salah lihat? Dia memegang lingerie? hhaha.." batin Rahman. "Apa ini?" Rahman menemukan amplop kecil yang tak sengaja Nurul jatuhkan ketika terburu-buru memasukkan hadiah dari Fatimah. Rahman membuka dan membacanya.
__ADS_1
"Jadi itu tadi hadiah dari Fatimah! Aku kira miliknya sendiri,, hhihi" Rahman cekikikan sendiri. Akhirnya dia meletakkan amplop itu di nakas samping tempat tidurnya. Dan ia pun lantas pergi ke masjid bersama yang lain.
Perjalanan rumah tangga Rahman dan Nurul baru saja dimulai. Dalam sebuah perjalanan pasti tidaklah selalu mulus jalan yang dilalui. Kadang ada kerikil-kerikil kecil atau bahkan lubang besar di tengah jalan. Yang mau tak mau harus dihadapi dan tak bisa hanya dihindari. 'Kerikil' apakah yang menanti rumah tangga mereka? Atau 'lubang besar' apa yang harus mereka hadapi? Akankah ikatan pernikahan ini bertahan hingga ke surga-Nya kelak? Biarkan waktu yang menjawab.