
Flashback On
"Menikahlah dengan Bayu nduk!" pinta Bu Lastri.
"Mas Bayu Bu'?" ucap Nurul terkejut.
"Iya. Bukankah kalian saling menyayangi?"
"Nurul menyayangi Mas Bayu seperti kakak bagi Nurul Bu',"
"Perlahan rasa sayangmu akan berubah menjadi cinta pada suamimu nanti,"
"Tapi Bu',,"
"Dia orang yang baik nduk."
Nurul tak menjawab ucapan Bu Lastri. Dia tahu Bayu orang yang baik. Selama ini, Nurul dan Bayu memang sudah dekat. Bagi Nurul, Bayu sudah seperti kakak baginya. Dia selalu berbagi cerita padanya.
Tapi ternyata, kedekatan mereka berbeda arti bagi Bayu. Bayu menaruh perasaan pada Nurul. Perasaan sayang terhadap seorang wanita seutuhnya. Hingga akhirnya, Bayu meminangnya langsung pada Bu Lastri. Dan Bu Lastri langsung menerimanya.
Nurul akhirnya menerima keputusan Bu Lastri. Ia menikahi Bayu atas permintaan Bu Lastri. Perlahan ia berusaha menumbuhkan rasa sayangnya kepada Bayu. Bukan hanya sebagai kakak, tapi sebagai seorang pria yang telah menjadi suaminya.
Nurul menerima semua keadaan Bayu. Dengan keadaan ekonomi yang bisa dikatakan pas-pasan, Nurul berusaha mengatur uangnya sebaik mungkin. Semua karena, Bayu baru saja memulai usaha kecilnya. Nurul tidak diizinkan bekerja oleh Bayu setelah menikah. Ia hanya menurutinya, sebagai bentuk kepatuhannya pada suami.
Empat bulan setelah pernikahan, mereka telah dipercaya oleh Allah untuk memiliki keturunan. Nurul telah hamil empat minggu. Nurul menerima kehamilannya dengan bahagia. Meskipun kehidupannya cukup berat, tapi ia menerimanya.
Usaha yang dirintis Bayu mulai menunjukkan kemajuan. Keuangan keluarga kecil itu mulai membaik. Tapi, disanalah ujian itu dimulai. Bayu menunjukkan gelagat mencurigakan. Nurul yang tengah hamil, berusaha berfikir positif agar tidak mempengaruhi janinnya.
Hingga saat usia kehamilan Nurul memasuki bulan ke lima, dia menemukan sesuatu yang mengejutkan. Waktu itu sebuah panggilan masuk ke ponsel Bayu, sedangkan Bayu sedang di kamar mandi. Nurul mencoba mencari ponsel itu, dan berniat menjawab telfonnya. Nama yang tak akan Nurul lupakan terpampang jelas di layar ponsel Bayu. Adekku Sayang.
Nurul mengurungkan niatnya menjawab telfon itu. Badannya lemas seketika. "Apa Mas Bayu selingkuh? Apa salahku?" gumam Nurul dalam derai air mata yang telah membasahi pipinya.
Setelah dering ponsel berhenti, ia memberanikan diri mencari tahu siapa si penelfon. Ia membuka beberapa riwayat pesan dan panggilan. Sungguh banyak riwayat panggilan mereka. Dan beberapa pesan mesra masih tersimpan rapi dalam ponselnya. Ia melihat sebuah foto dalam informasi kontaknya. Foto yang tak asing baginya.
"Ini kan fotonya Ika? Apa Mas Bayu kembali berpacaran dengan Ika?" bibirnya bergetar menahan isak tangis.
"Kenapa Yang?" suara Bayu memecah lamunan Nurul.
"Tadi ada yang telfon Mas, tapi tak sempat aku jawab," Nurul menyerahkan ponsel Bayu.
Nurul masih sesenggukan. Ia berharap Bayu akan bertanya padanya, kenapa ia menangis. Tapi ternyata tidak. Bayu lebih memilih menelfon si penelfon tadi. Nurul akhirnya pergi ke kamarnya. Dia tumpahkan tangisnya di sana. Sendiri.
"Ya Allah, ampuni hamba yang telah lancang. Semoga apa yang hamba fikirkan tidaklah benar. Jika itu benar, tegurlah Mas Bayu, tapi jika itu salah, berikan limpahan keberkahan dalam keluarga kami. Aamiin." Do'a Nurul dalam hati.
Allah menunjukkan kuasa-Nya. Entah itu ujian atau jawaban atas do'a Nurul. Tiga bulan setelah kejadian itu, usaha Bayu mulai berantakan. Ia mulai kesulitan dalam mencari nafkah. Penghasilannya berkurang drastis.
__ADS_1
"Mas, sholat dulu! Jangan lupa bersyukur Mas!" ucap Nurul ketika adzan telah berkumandang.
"Apa yang disyukuri Yang? Orderan sepi banget!" jawab Bayu sembari memainkan ponselnya.
"Apapun itu kan harus disyukuri Mas! Supaya Allah menambah rezekinya," sambung Nurul.
"Kamu sholat dulu sana!"
Nurul segera meninggalkan Bayu untuk melaksanakan sholat. Sholat selalu menjadi sarana baginya untuk mengadu. Hanya pada-Nya ia dapat mengadu.
Nurul teringat selalu nasehat ibu dan kakanya. "Jika nanti kamu menikah, apapun masalahmu, jangan sampai orang lain tahu. Simpanlah untukmu sendiri!". Dan itu yang kini Nurul lakukan.
Dua bulan berselang, usaha Bayu semakin gagal. Ia bahkan kehabisan modal usaha. Dan itu bertepatan dengan Nurul melahirkan. Setelah melahirkan, Nurul sementara tinggal di rumah Bu Lastri. Sembari belajar mengurus Al yang masih bayi.
Ada banyak hal yang dilakukan Bayu di rumahnya sendiri selama Nurul tinggal di rumah Bu Lastri. Ia tidak lagi meneruskan usahanya bahkan kini terlilit hutang. Ia bahkan tidak bekerja. Ada beberapa tawaran pekerjaan untuknya, tapi karena sifatnya yang pemilih, tak ada satu pun yang ia terima. Untuk mencukupi kehidupan keluarga kecilnya, diam-diam ia menjual semua perhiasan Nurul, bahkan mahar dan cincin pernikahan mereka.
Al telah berusia dua bulan. Nurul kembali ke rumah suaminya. Ia mencari semua perhiasannya. Terlebih, cincin pernikahannya. Ia ingin mengenakannya kembali. Karena sempat tidak muat di jarinya karena badannya yang gemuk saat hamil.
"Mas, perhiasanku di mana? Kenapa tak ada satupun?"
"Aku jual."
"Apa? Kenapa Mas nggak bilang ke Nurul waktu mau jual? Bahkan mahar yang Mas berikan juga Mas jual?"
"Iya. Lain kali akan kubelikan lagi untukmu!"
"Aku butuh,"
"Buat apa Mas? Buat jajan sama Ika?" seketika Bayu berdiri dan pergi meninggalkan Nurul.
Nurul menangis semakin kencang. Ia tak dapat menahannya lagi. Nurul selama ini berusaha diam. Ia tak ingin kehamilannya terganggu. Ia sebenarnya tahu, bahwa suaminya kembali menjalin hubungan dengan Ika, mantan kekasihnya.
"Semoga Mas Bayu segera sadar, Aamiin."
Sepenggal do'a yang tak lelah Nurul panjatkan. Ia tak ingin rumah tangganya hancur. Ia bertahan sekuat mungkin agar rumah tangganya tetap utuh. Meski dengan hati yang penuh luka.
Kita bisa meminta apapun pada Sang Kuasa, tapi kita tak pernah tahu, kapan do'a itu terkabul. Sama seperti Nurul, ia selalu berdo'a agar Bayu bisa sadar. Tapi Allah belum mengabulkannya.
Nurul yang baru saja melahirkan, harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Karena Bayu masih belum mendapatkan pekerjaan. Nurul bekerja seadanya di rumah. Ia bekerja sembari mengurusi Al kecil yang masih bayi.
"Mas, tolong belikan minyak kayu putih untuk Al, ini uangnya!" Nurul memberikan satu lembar uang dua puluh ribu pada Bayu.
"Beli sendiri!" ketus Bayu.
"Mas, Nurul hanya minta tolong hal sederhana, kenapa Mas menolak? Apa ponselmu lebih berharga daripada anakmu?"
__ADS_1
"Diam kamu!"
"Aku selama ini diam Mas dengan semua tingkahmu. Aku menerima kondisimu yang hidup pas-pasan. Tapi apa, kamu bahkan berselingkuh ketika aku sedang hamil? Dan sekarang apa? Bahkan kamu tak pernah memberiku nafkah Mas, padahal kamu mampu untuk mencari nafkah. Aku Mas, aku! Aku yang mencari nafkah untuk keluarga. Aku juga yang mengurusi rumah tangga! Sedangkan kamu, apa yang kamu lakukan? Banyak tawaran kerjaan Mas, apa salahnya bekerja serabutan, yang penting kamu bisa menafkahi keluargamu. Tapi kamu menolak semua itu Mas. Hingga aku harus melakukan semuanya sendiri. Apa itu kurang Mas bagimu? Aku hanya meminta tolong sedikit padamu, tapi kamu bahkan mengacuhkanku dan lebih mementingkan ponselmu."
Bayu tak menjawab kemaraham Nurul. Ia memilih pergi dari rumah meninggalkan Nurul yang telah menangis meraung-raung meratapi nasibnya. Al yang telah berusia dua tahun, melihat ibunya menangis tak karuan, ia pun ikut menangis. Nurul segera berusaha berhenti menangis karena Al. Ia memeluk erat Al kecil yang menangis.
"Baiklah Mas, jika ini yang kamu inginkan. Cukup sampai di sini aku menjadi istri yang baik untukmu. Maafkan aku bu', aku tak bisa bertahan. Maafkan Bunda ya Al, Bunda akan menjadi orang jahat mulai sekarang. Semoga dengan perubahan sikapku, kamu akan sadar dan berubah menjadi baik kembali." gumam Nurul dalam hati.
Dan benar, mulai saat itu hilang sudah Nurul yang patuh pada suaminya. Ia berubah menjadi istri yang tak pernah peduli pada suaminya. Bahkan ia menolak Bayu, ketika Bayu meminta nafkah batin padanya. Nurul pun berkali-kali meminta untuk Bayu ceraikan.
Dan disanalah Bayu mulai berubah. Sikapnya mulai lembut kembali. Ia juga tak lagi menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Ia mulai bekerja kembali, apapun, yang penting bisa menafkahi keluarganya. Ia juga mulai kembali ke jalan Allah, mulai rajin beribadah.
Tapi itu terlambat. Nurul telah menutup hatinya untuk Bayu. Meski ia tahu, Bayu telah berubah. Hingga saat usia Al menginjak tiga tahun, ia memberanikan diri mengatakan kepada orang tua dan mertuanya bahwa ia ingin bercerai dengan Bayu.
Mereka sempat menolak dan berusaha membujuk Nurul untuk mengurungkan niatnya, tapi di tolak oleh Nurul. Ia bersikukuh ingin bercerai dengan Bayu. Luka hatinya terlalu dalam. Hingga sangat mustahil untuk terobati.
"Aku memaafkanmu Mas, tapi untuk menjalin rumah tangga kembali, aku tidak bisa!" ucap Nurul tegas dan bahkan tanpa air mata. Air matanya seolah mengering karena telah tumpah selama ini karena sikap Bayu. Semua luka itu Nurul simpan sendiri hingga ia sangat tertekan.
Akhirnya, Bayu menerima permintaan Nurul untuk bercerai. Ia menjatuhkan talak pada Nurul dan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.
Berita itu sampai ke telinga sang ayah. Sang ayah tiba-tiba terkena serangan jantung hingga menghembuskan nafas terakhirnya. Nurul sangat terpukul. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi penyebab kematian sang ayah.
Itulah saat terburuk dalam hidup Nurul. Ia seperti orang gila yang tak memiliki keyakinan dan semangat hidup. Bu Lastri dan Nita menemani dan menenangkan Nurul. Perlahan kondisi Nurul membaik. Dan setelah sidang peeceraiannya selesai, Nurul memilih merantau untuk mencari kehidupan baru.
Flasback Off
Tubuh Nurul bergetar hebat. Ia tak dapat menahan air matanya. Ia masih ingat betapa sakit perasaannya waktu itu. Rahman memeluk erat tubuh Nurul.
"Maaf Dek, aku tak tahu seberat itu hidupmu," ucap Rahman sambil mengusap punggung Nurul perlahan. Ia membiarkan Nurul menumpahkan air matanya.
Perlahan isakan itu mulai mereda. Rahman melepaskan pelukannya. Ia mengusap sisa air mata di wajah Nurul. Wajah yang sangat sembab.
"Maaf Mas, baju Mas Rahman jadi basah," ucap Nurul yang masih sesenggukan.
"Iya, gara-gara kamu. Ayo tanggung jawab! Gantiin bajunya!" Rahman mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan.
"Mas ditempat umum!" cegah Nurul.
"Hhihi, kenapa? Kamu nggak rela ya tubuhku dilihat banyak orang?" goda Rahman. Nurul mengerutkan dahinya.
"Apa sih Mas?" Nurul memukul lengan Rahman. "Emang Mas nggak malu apa buka baju di tempat umum?"
"Malu sih! Hhihi,"
"Hhuuuwww," Nurul tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tersenyumlah! Jangan menangis lagi, yaa?" Rahman mengusap pipi Nurul.
Tanpa mereka sadari, ada banyak pasang mata yang melihat adegan itu. Dan ada sepasang mata yang menatap penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya kuat. Menahan api cemburu yang telah menyusup ke tubuhnya. "Aku yang harusnya disana!" gumam orang itu.