Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Akad


__ADS_3

Takdir. Tak ada yang tahu kecuali Sang Maha Pencipta. Kita sebagai manusia hanya perlu mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Yang dapat berupa ujian kebaikan atau kepahitan.


Hari-hari telah kembali berlalu. Hingga sore ini,Nurul tengah bersiap kembali ke Jogja bersama Al untuk acara yang akan berlangsung dua hari lagi. Akad nikah. Nurul sebelumnya telah meminta izin kepada sang atasan, untuk izin libur selama dua hari. Isti sebenarnya memberikan izin libur Nurul lima hari, tapi Nurul menolak. Ia tidak enak hati dengan teman-temannya jika ia harus libur terlalu lama. Karena mengingat jumlah karyawan yang terbatas. Isti pun akhirnya menerima permintaan izin Nurul, tapi tetap memberinya kelonggaran, mengingat izin liburnya kali ini untuk menikah.


Tak banyak tetangga yang tahu jika Nurul akan menikah. Hanya Tika, tetangga sebelah rumah Nurul. Yang juga ibu dari Dila. Beliau yang selama ini mengerti keadaan Nurul.


Setelah berkendara dengan motornya, Nurul tiba di Jogja ketika malam mulai larut. Ia lalu beristirahat. Bersiap untuk hari esok.


Dua hari berlalu. Pagi ini Nurul tengah dirias oleh seorang pemilik salon yang disewa bu Lastri. Ia dirias di rumah tetangganya yang rumahnya lebih dekat dengan masjid. Ia juga telah mengenakan gamis berwarna putih. Gamis yang dikirimkan oleh bu Dira malam sebelumnya. Gamis yang telah bu Dira pesankan khusus untuk Nurul. Sederhana namun sangat elegan. Gamis berbahan sutra dikombinasikan dengan kain brukat sebagai rompi panjang dengan tali di pinggang. Tak lupa sebuah jilbab besar yang menutup bagian dada hingga ke perut dan sebuah tiara yang perias sematkan di kepalanya sebagai pelengkap penampilannya. Juga sebuah rangkaian bunga melati terjuntai panjang di leher sebelah kanannya. Semua itu terlihat sangat pas ketika Nurul kenakan.


Jam menunjukkan pukul 09.45 pagi. Ada lima mobil terlihat berdatangan dan memarkirkannya di sekitar rumah bu Lastri. Para penumpang mulai terlihat turun. Tampak seorang pria dengan setelan kemeja berwarna putih dan tuxedo berwarna hitam. Yang tampak begitu gagah dan tampan. Semua kerabat bu Lastri dan beberapa tetangga yang dimintai tolong oleh bu Lastri mulai menyalami para tamu. Menyambutnya penuh suka cita.


"Wah, besannya mbak Lastri orang kaya ya sepertinya!" ucap salah satu tetangga.


"Iya yaa, beruntung banget Nurul punya suami mampu begitu. Ganteng lagi," sahut orang didekatnya.


Itulah beberapa obrolan tetangga bu Lastri yang memang baru mengetahui calon besannya. Mereka cukup terkejut melihat calon besan tetangganya itu. Mengingat mantan suami Nurul yang hanya juga orang biasa jauh berbeda dari calon suaminya yang sekarang.


Tak lama dua mobil juga terparkir di sana. Satu mobil berisi keluarga mantan mertua Nurul dan satu mobil lainnya berisi keluarga dari mendiang ayah Nurul. Ya, Nurul adalah anak yatim sejak empat tahun lalu. Setelah bercerai dengan ibunya lima belas tahun lalu karena satu hal, sang ayah akhirnya sering sakit. Dan ketika mendengar Nurul bercerai dengan suaminya, kondisinya memburuk hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Ujian berat bagi Nurul kala itu. Tapi semua dapat Nurul lewati dengan peehatian dari semua keluarganya.


Semua disambut hangat. Hingga penghulu pun datang. Ia segera menuju ke tempat akad nikah yang telah ditetapkan. Di Masjid Nurul Huda,masjid di kampung bu Lastri. Mempelai pria dan semua tamu pun mengikuti penghulu menuju masjid. Tak banyak yang tahu, terlebih para tamu, bahwa Nurul sebenarnya sudah berada di dalam masjid sejak tadi bersama Nita, kakaknya. Sesuai permintaan bu Dira, Nurul tidak akan bertemu dengan Rahman jika acara ijab qobul belum selesai dilaksanakan. Bu Dira takut, jika Rahman bertemu dengan Nurul sebelum ijab qobul selesai, maka fokus putranya akan beralih pada calon menantunya itu dan acara ijab qobulnya akan gagal, kan repot. (Bener-bener ya bu Dira itu, ada-ada aja akalnya 🤫🤭).


Semua bersiap. Semua duduk dilantai beralaskan sajadah yang memang biasa untuk sholat. Para tamu bersiap dengan kamera dan perasaan masing-masing. Penghulu pun telah bersiap menjabat tangan Rahman sebagai wali hakim karena keluarga telah menyerahkannya kepada pihak dari KUA. Rahman sebenarnya sangat gugup. Meskipun ini bukan pengalaman pertama baginya, tapi tetap saja ini adalah hal yang sakral. Sedang disalah satu ruangan yang tertutup rapat di dalam masjid, tangan Nurul mulai berkeringat dingin. Perasaannya benar-benar gugup. Nita berusaha menenangkannya.


"Mana mempelai wanitanya?" tanya sang penghulu.


"Nanti saja pak memepelai wanitanya. Biar ijab qobulnya selesai dulu," jawab bu Dira yang berada di samping Rahman. Penghulu pun menganggukkan kepalanya.


"Awas Man, jangan sampai ngulang. Malu tu sama kucing," ejek Burhan yang berada tak jauh dari Rahman.


"Iya man. Kalau sampai ngulang, aku kirim kamu ke pedalaman Papua buat honey moon!" sambung Shodiq yang ikut antusias menggoda sahabatnya itu. Rahman hanya diam tak manggubris ocehan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Anda siap mas Rahman?" tanya penghulu.


"In shaa Allah pak, saya siap!" jawab Rahman tegas.


"Saudara Rahman Abdullah bin Khairil Abdullah," ucap penghulu tegas seraya menggoyangkan tangannya yang menjabat tangan Rahman.


"Saya," Rahman menjawab mantap.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Nurul Almira binti Sudarmadi dengan maskawin seperangkat alat sholat beserta mushaf dan seperangkat perhiasan berlian, dibayar tunai!" ijab pun terucap oleh penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nurul Almira binti Sudarmadi dengan maskawin tersebut tunai," Rahman menjawab qobul-nya dengan lancar.


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.


"SAAHH!" semua orang mengucapkan satu kata secara bersamaan. Penghulu pun lantas membacakan do'a bagi mempelai dan semua yang hadir pun meng-amiininya. Air mata pun telah mengalir deras dari mata kedua perempuan paruh baya yang kini telah resmi menjadi besan itudan beberapa tamu. Rahman pun lega telah melakukan yang terbaik hingga semua berjalan lancar. Tak terasa air mata pun mengalir di pipinya. Tak berbeda dengan dua orang perempuan yang tengah bersembunyi. Mereka pun menangis haru dan bahagia karena ijab qobul berjalan lancar. Nita mencoba menenangkang adiknya. Mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.


"Udah nangisnya! Masak iya ketemu suamimu jelek nanti?" Nita menggoda Nurul.


Tok,, tok,, tok


"Ayo nduk!" terdengar suara dari luar ruangan.


"Iya tante!" sahut Nita. "Udah nangisnya! Ayo keluar! Udah ditungguin itu. Ini maskernya!" Nita menyerahkan sebuah masker yang tadi sempat dilepaskan ketika didalam ruangan. Nurul pun lantas menerima dan memakainya. Mereka lalu keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam masjid. Nita perlahan menuntun Nurul. Semua mata tertuju pada kedua wanita yang tengah berjalan menuju meja kecil tempat ijab qobul tadi berlangsung. Nurul menundukkan pandangannya. Ia lalu duduk di samping Rahman yang sedari tadi telah menantinya.


Rahman sempat melihat mata Nurul yang tak tertutup masker. "Kenapa mata itu tetap meneduhkan,,meskipun sedikit merah karena menangis sepertinya?" gumam Rahman dalam hatinya.


"Silahkan Mas Rahman dan Mbak Nurul, dicek dan ditandatangani dulu buku nikahnya!" ucap penghulu.


Rahman dan Nurul pun lantas menyelesaikan penandatanganan berkas yang diberikan penghulu. "Nah ini milik mas Rahman dan ini milik mbak Nurul!" penghulu menyerahkan buku nikah milik Rahman dan Nurul. "Sekarang mbak Nurul bisa bersalaman dan cium tangannya mas Rahman! Udah halal mbak," ucap penghulu.


"Dibuka dulu nduk maskernya!" ucap bu Dira. Kedua mempelai itu masih diam memaku. Tak ada yang bergerak sedikit pun. Hingga Ali menghampiri sang kakak dan menggeser sedikit tubuhnya menghadap Nurul. Dan Nurul yang juga telah digeser oleh Fatimah menghadap ke Rahman. (Adik yang pengertian yaaa,,😁)

__ADS_1


"Mas, itu maskernya mbak Nurul dibuka! Kalau mbak Nurul sendiri yang buka, kesusahan nanti. Kalau pengaitnya nyangkut di tiaranya, kan repot," bisik Ali ditelinga Rahman. Semua orang menunggu apa yang akan terjadi.


"Wah, pengantinnya sama-sama pemalu!" celetuk seorang tamu.


Rahman pun memberanikan dirinya. "Boleh aku buka maskermu?" tanya Rahman. Nurul hanya mengangguk. Nurul lebih menundukkan kepalanya. Perlahan Rahman meraih pengait masker yang berada di belakang kepala. Hingga pelan-pelan masker itu lepas dari wajah Nurul. Nurul sedikit mengangkat kepalanya. Rahman dapat melihat wajah itu. Wajah dengan riasan natural nan flawless, membuat wajah itu terlihat begitu cantik. Rahman terpaku melihat wajah Nurul. "Masya Allah, sungguh indah cipataan-Mu." ucap Rahman lirih yang dapat didengar oleh Nurul. Nurul terkejut mendengar ucapan Rahman. Hingga ia mengangkat kepalanya dan menatap Rahman. Rahman tersenyum. Nurul tersipu malu.


Semua mata tertuju pada mempelai wanita yang telah dilepaskan maskernya. Semua memujinya bahkan para kerabat dan tetangga bu Lastri. Nurul yang mereka kenal adalah wanita sederhana dan tak suka berdandan. Tapi ini sungguh sangat berbeda. Meskipun hanya dengan riasan natural, Nurul terlihat sangat cantik.


"Mbak, ayo jabat tangannya mas Rahman terus dicium," ucap Fatimah dengan jahilnya. Nurul menoleh pada Fatimah. "Udah halal mbak, hhihi," goda Fatimah.


Rahman telah mengulurkan tangan kanannya. Nurul masih berusaha mengatur perasaannya. Tangannya gemetar dan berkeringat. Meskipun ia pernah menjadi istri seseorang, tapi telah begitu lama ia tidak pernah bersentuhan dengan yang bukan mahramnya lagi. Nurul mengusap-usapkan tangan kanannya pada gamis yang ia kenakan. Ia coba mengulurkan tangan kanannya dan menyambut tangan suaminya. Ia kumpulkan semua keberaniannya, hingga kedua tangan itu mulai bertemu satu sama lain. Jantung mereka berpacu hebat. Aliran darah seolah mengalir begitu cepat dalam tubuh mereka. Suasana hening mereka rasakan. Hanya suara detak jantung masing-masing yang mereka dengar. Perlahan Nurul mulai menarik tangan Rahman dan mencium punggung tangannya. Tubuh Nurul melemas seketika. Ia hampir tumbang ketika terasa seperti ada aliran listrik yang masuk ke tubuhnya. Ia bersangga pada tangan kirinya.


"Kamu nggak papa?" tanya Rahman yang melihat keadaan Nurul. Nurul mengangguk pelan dengan tangan kanan yang masih saling menjabat. Rahman perlahan mencium pucuk kepala Nurul dan tak lupa membacakan do'a untuknya. Nurul sungguh berusaha tetap tersadar. Karena semua ini tak pernah Nurul bayangkan akan terjadi.


Nurul mulai mengangkat kepalanya. Karena beberapa orang mulai bertepuk tangan dan bersorak. Bu Dira lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Ia lalu membukanya. Sepasang cincn bertahtakan batu safir berwarna biru ada didalamnya. Rahman lalu memgambil salah satu cincin itu dan memasangkan di jari manis Nurul. Nurul terkejut melihat cincinnya. Ia segera tersadar setelah bu Dira mengulurkan kotak kecil itu padanya. Ia pun segera mengambil cincin di dalam kotak itu dan memasangkannya pada jari Rahman. Para hadirin lebih ramai dan antusias lagi bertepuk tangan. Sesi foto-foto pun dimulai. Semua sangat antusias berfoto dengan kedua mempelai.


Setelah cukup lama, sesi foto-foto pun dimulai. Hingga para tamu telah kembali ke rumah bu Lastri. Hanya tinggal kedua mempelai beserta bu Lastri dan bu Dira.


"Bu', Rahman mau sholat dulu sama Nurul. Ibu' bisa pulang dulu ke rumah," ucap Rahman pada kedua ibunya itu. Nurul? Dia jelas terkejut dengan ucapan Rahman.


"Yaudah, kami balik dulu ya! Jangan lama-lama, kasihan tamunya!" pesan bu Dira. Rahman mengangguk. Bu Dira dan bu Lastri pun meninggalkan sepasang pengantin baru itu di masjid.


"Kita sholat sunah dulu ya. Kamu sudah wudhu?" tanya Rahman pada Nurul.


"Sudah tadi mas! Nurul belum batal dari tadi." jawab Nurul malu.


"Yasudah, aku wudhu sebentar." Rahman pun melepaskan tuxedonya. Dan menggulung lengan kemejanya. Ia segera mencari tempat wudhu bagi pria. Setelah selesai, mereka pun lalu melaksanakan sholat sunah. Selesai sholat, "Boleh aku mencium keningmu?" tanya Rahman ketika Nurul baru saja mencium tangan Rahman.


Nurul mengangkat wajahnya. Menatap pria dihadapannya. "Dia sekarang suamiku," batin Nurul. Ia lalu mengangguk. Rahman perlahan mulai mendekati Nuril dan mencium keningnya. Tak lupa tangannya menengadah seraya berdo'a pada Sang Kuasa.


Romantis? Dengan pasangan halal, apa salahnya? Rahman sebenarnya memiliki pengetahuan agama yang bagus. Sejak kecil ia sudah dibekali pengetahuan agama oleh kedua orang tuanya. Bahkan tak jarang ada beberapa tawaran untuk mengisi pengajian di masjid komplek rumahnya. Tapi karena kesibukan pekerjaannya, Rahman jarang bisa menerima tawaran itu.

__ADS_1


__ADS_2