Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Kabar Buruk


__ADS_3

"Dek! Dek!" Rahman memanggil Nurul yang telah beranjak keluar kamar meninggalkannya.


Nurul berjalan sempoyongan menahan sakit di hati dan kepalanya. Perlahan ia menuruni tangga. Berpegang erat pada tralis tangga dan sesekali meremasnya untuk menahan sakit kepalanya. Rahman menyusulnya di belakang.


"Bunda!" Al berlari menghampiri Nurul ketika Nurul sampai tepat di anak tangga terakhir. Ia memeluk erat tubuh Nurul.


"Pulang! Kita pulang ke Jogja sayang!" ucap Nurul terbata-bata.


"Nduk,, kita bicarakan dulu!" rayu Bu Dira.


"Ibu', Ibu',"


"Iya nduk, kita bicara dulu," Bu Dira memegang tangan Nurul.


"Ibu' jatuh di kamar mandi, dan sekarang di rumah sakit, hiks, hiks,"


"Astaghfirullah. Tenang dulu nduk! Duduklah dulu!"


"Bu', tolong panggilkan Pak Harto! Nurul tolong antarkan pulang ke Jogja dengan Al!"


"Pulang denganku Dek!" Rahman memegang lengan Nurul.


"Lepasin Mas! Mas nggak usah repot-repot antar Nurul. Mas urusi saja tanggung jawab Mas ke Mbak Dinda!" Nurul menghempaskan tangan Rahman.


Nurul berjalan menjauh dari Rahman. Rahman mengikuti di belakangnya.


"Aahhh!" Nurul berteriak dan memegangi kepalanya dengan dua tangan. Nurul berhenti karena kepalanya sangat sakit. Ia mencari pegangan disekitarnya, tapi ia tak bisa menjangkaunya.


Bruk. Tubuh Nurul ambruk tepat di tangan Rahman yang mengikutinya di belakang. Ia tak sadarkan diri. Rahman segera mengangkat tubuh Nurul dan meletakkannya di sofa.


"Bunda!" panggil Al.


"Nurul!" panggil Bu Dira.


Bu Dira berlari ke kamarnya mengambil minyak angin. Al mulai menangis karena sang ibu yang tak sadarkan diri.


"Mbok Tum, tolong ambilkan minum hangat!" pinta Bu Dira setengah berlari ke ruang keluarga.


"Bundaa! Hiks, hiks."


"Apa Bunda selalu pingsan setelah emosinya lepas kendali?" tanya Rahman sembari mengusap-usap tangan Nurul. Al mengangguk.


"Ini Man!" Bu Dira menyerahkan botol minyak angin yang ia ambil di kamarnya.


Rahman segera mendekatkan botol itu ke hidung Nurul. Rahman menepuk-nepuk pelan pipi Nurul. Mbok Tum datang membawakan air hangat untuk Nurul.


"Mbok, tolong kemasi beberapa bajuku dan Nurul. Kami akan ke Jogja nanti setelah Nurul sadar," pinta Rahman.


"Baik Mas!" Ia segera menuju kamar Rahman. Mbok Tum terkejut dengan kamar Rahman yang berantakan. Tapi ia bergegas melakukan permintaan Rahman.


"Al! Al di rumah dulu ya sama Oma! Nanti Ayah sama Bunda ke Jogja dulu, Al besok kalau libur sekolah nyusul ke Jogjanya ya!"


"Tapi Yah,"


"Nanti Ayah kabari tentang keadaan Uti ya," Rahman memeluk Al. Al akhirnya menuruti perintah Rahman.


Tak lama kemudian Nurul mulai sadar. Tangannya seketika terangkat untuk memegang kepalanya. Matanya masih terpejam. Keningnya berkerut dalam. Perlahan ia mulai membuka matanya.


"Dek! Kepalamu masih sakit?" tanya Rahman.


"Bundaa!" Al memeluk tubuh ibunya yang masih lemas.


"Nggak papa sayang," Nurul mengusap punggung Al.


"Minum dulu nduk!" Bu Dira menyerahkan gelas berisi air ke Rahman.


Nurul berusaha bangun. Al dan Rahman membantunya. Rahman lalu menyuapkan air hangat ke Nurul.


"Kita pulang ya Al!" ucap Nurul setelah selesai minum.


Al menoleh ke Rahman. "Al biar di rumah dulu, aku temani kamu pulang ke Jogja," sahut Rahman.

__ADS_1


Nurul hanya diam. Air matanya mengalir kembali. Ia kembali teringat masalah yang tengah dihadapinya. Bu Dira duduk disamping Nurul.


"Nduk, semua masalah pasti ada solusinya," ucap Bu Dira sembari memeluk Nurul. Mencoba menenangkan hatinya. "Sabarlah! Kamu punya Allah Yang Maha Besar."


Nurul masih terisak dalam pelukan Bu Dira. Mbok Tum pun datang dengan membawa satu koper besar milik Rahman. "Sudah Mas," ucap Mbok Tum.


"Pergilah dengan Rahman! Ibu akan lebih tenang jika kamu pergi dengan suamimu."


Nurul menganggukkan kepalanya. Ia masih memeluk erat Bu Dira. Air matanya belum berhenti mengalir.


Perlahan tangis Nurul mulai mereda. Ia lantas bersiap untuk berangkat ke Jogja bersama Rahman.


"Jangan kecapekan ya nduk! Tetap jaga kondisimu! Masalah Dinda, nanti kita bicarakan setelah ibu kamu sehat ya!" pesan Bu Lastri pada Nurul ketika Nurul berpamitan.


Nurul hanya mengangguk. Ia menjadi lebih diam. Kepalanya yang masih berdenyut, membuatnya enggan banyak bicara.


"Al, jangan nakal ya sama Oma! Jangan lupa do'akan Uti biar cepat sehat ya!" Nurul memeluk erat tubuh putranya itu.


"Iya Bunda," jawab Al sambil mengangguk di pelukan Nurul.


"Bu', kami berangkat dulu," pamit Rahman.


"Hati-hati Man! Sabarlah dengan Nurul!"


"Iya Bu'."


Rahman dan Nurul pun lantas berangkat ke Jogja. Selama diperjalanan, tak banyak percakapan diantara mereka. Nurul masih enggan berbicara pada suaminya. Ia memilih tidur karena sakit kepalanya yang belum hilang.


Lepas tengah malam Rahman dan Nurul sampai di Jogja. Mereka langsung menuju rumah sakit di mana Bu Lastri dirawat. Mereka sempat dilarang masuk karena jam besuk telah habis, tapi setelah perundingan panjang dengan pihak rumah sakit, mereka diizinkan masuk. Bu Lastri dirawat di ruang ICU. Ia masih belum sadarkan diri.


Di ruang tunggu, ada Nita seorang diri. Nurul lantas menghambur ke pelukan kakaknya. Menumpahkan tangisnya kembali. Ia sejenak melihat keadaan ibunya yang terhalang kaca dengan ruang tunggu.


Ada selang infus dan beberapa kabel yang terhubung ke tubuh Bu Lastri. Selang oksigen juga terpasang sebagai alat bantu pernafasannya. Perban putih pun terlilit di kepalanya. Matanya terpejam.


"Kamu jangan nangis terus, kasihan bayimu!" ucap Nita sembari mengusap punggung Nurul pelan.


"Ibu' gimana Mbak? Kenapa belum sadar?" tanya Nurul ditengah isakannya.


"Kata dokter, karena benturannya mungkin cukup keras jadi dia belum sadar. Nggak papa, kita berdo'a saja supaya ibu cepat sadar dan pulih," Nita berusaha menguatkan dirinya untuk Nurul.


"Nggak! Nurul mau di sini nemenin ibu."


"Kasihan Rahman Dek! Dia kecapekan gitu wajahnya!" Nita melirik Rahman yang nampak kelelahan.


"Ya Mas Rahman kalau mau pulang biar pulang aja. Nurul mau di sini!"


"Dek! Kamu ini,, jangan kayak gitu sama suamimu!"


Nurul hanya diam tak menjawab. Dia memilih merebahkan tubuhnya di atas tikar plastik yang dibawa Nita dari rumah.


"Yasudah, istirahatlah!" Nita beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Rahman yang berada di luar ruang tunggu.


"Man!" panggil Nita sembari mendudukkan dirinya di kursi sebelah Rahman.


"Ibu' gimana Mbak?"


"Ibu' tadi terpeleset di kamar mandi. Kata dokter, kepalanya terbentur cukup keras, jadi sampai sekarang belum sadar. Kamu pulanglah, istirahat di rumah! Ajaklah Nurul pulang, kasihan dia sedang hamil!"


"Nurul nggak mau pulang Mbak. Tadi sudah aku saranin buat pulang dulu, baru besok pagi kesini, tapi dia ngotot mau nunggu ibu di sini."


"Dia memang kadang ngeyel banget kalau dibilangin,"


"Mbak, apa Nurul kepalanya pernah terbentur sesuatu?"


"Kenapa memangnya? Apa dia masih sering sakit kepala atau pingsan?"


"Iya Mbak,"


"Waktu SMA Nurul pernah jatuh dari motor, dan dia waktu itu nggak pakai helm. Karena kami waktu itu belum punya motor, dia berangkat sekolah sama Nia, tetangga sebelah rumah. Karena pakai hijab, dia bonceng dengan kaki jadi satu. Mereka jatuh di depan gerbang sekolah, kepala belakang Nurul jatuh tepat di atas batu."


"Apa Nurul terluka parah?"

__ADS_1


"Luka luar nggak ada, hanya saja, selama sehari semalam kepalanya sakit. Bahkan untuk bangun saja dia nggak kuat, karena kepalanya sakit. Dia nggak mau periksa ke rumah sakit. Setelah itu pun, dia sering sakit kepala bahkan pernah sampai pingsan."


Rahman mulai cemas karena cerita Nita. "Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi padanya," gumam Rahmna dalam hatinya.


"Apa dia tertekan? Kalian ada masalah?" tanya Nita yang memang paham kondisi sang adik. Rahman tersenyum kecil.


"Masalah dalam rumah tangga itu biasa. Yang penting selesaikan semua dengan kepala dingin. Maaf, jika Nurul merepotkanmu."


"Iya Mbak." Rahman mengangguk. "Aku akan menemani kalian di sini. Mbak Nita istirahat saja dengan Nurul. Aku sewakan kamar ya Mbak buat istirahat?"


"Aku akan menunggu ibu di ruang tunggu. Sewakan untuk Nurul saja, kasihan dia sedang hamil." Nita lalu beranjak menuju ruang tunggu pasien dan di ikuti Rahman.


Saat sampai, dia melihat Nurul tengah tertidur lelap. Ia dan Rahman memutuskan membiarkannya tetap tertidur. Nita pun akhirnya merebahkan tubuhnya di dekat Nurul. Rahman memilih duduk sembari berjaga.


Pukul empat pagi, Bu Lastri sadar. Bu Lastri lantas di periksa kondisinya oleh dokter. Rahman yang memang masih terjaga, ia segera membangunkan Nita dan Nurul. Nita dan Nurul masuk ke ruang ICU untuk menemui Bu Lastri atas permintaannya dan izin dokter.


"Ibu', Nurul disini bu'. Apa ada yang sakit Bu'?" tanya Nurul dengan air mata yang mulai mengalir.


Bu Lastri hanya menggelengkan kepalanya. Tangan kanan dan kirinya di genggam oleh kedua putrinya.


"Ibu, ibu, sudah, nggak papa!" jawab Bu Lastri terbata-bata sembari menatap kedua putrinya.


"Ibu istirahat lagi ya! Nita sama Nurul di ruang tunggu. Ada Rahman juga di sana," ucap Nita yang mulai basah pipinya.


"Ta, kamu jaga adikmu ya! Kalian harus akur! Jangan lupa dengerin cerita adikmu, kasihan dia kalau nggak ada yang dengerin ceritanya!" ucap Bu Lastri pelan-pelan.


"Ibu' bicara apa? Kan ada Ibu' yang selalu dengerin cerita Nurul Bu'," air mata Nurul mulai mengalir deras.


"Ibu minta maaf nduk karena maksa kamu nikah sama Bayu dulu. Dan Al, jaga dia baik-baik ya! Jangan marahi dia!" air mata Bu lastri mulai mengalir. Nurul hanya menganggukan kepalanya. Ia tak dapat berkata lagi.


"Rahman. Ibu mau ketemu sama Rahman!" Nita pun mengajak Nurul keluar dari ICU dan memanggil Rahman.


"Mbak, ibu gimana Mbak? Ibu Mbak,, hiks, hiks," Nurul terduduk lemas.


Rahman masuk ke ruang ICU menemui Bu Lastri. Ia disambut senyum kecil Bu Lastri.


"Rahman, Ibu titip Nurul dan Al ya. Tolong jaga mereka! Ibu yakin, kamu suami dan ayah terbaik untuk mereka,"


"Tentu Bu', Rahman pasti menjaga mereka. Ibu juga harus segera sembuh, agar bisa bermain dengan adiknya Al besok," Rahman menyemangati Bu Lastri.


"Maaf jika mereka merepotkanmu,"


"Tentu tidak Bu',"


"Man, tolong tuntun ibu bersyahadat!" Rahman terkejut mendengar permintaan Bu Lastri. Tapi ia menyanggupinya.


"Asyhaduan-Laa Ilaaha ill Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah" ucap Bu Lastri pelan sembari dituntun Rahman.


"Ibu mau tidur dulu Man." Rahman mengangguk paham lalu meninggalkan Bu Lastri.


Rahman kembali ke ruang tunggu. Di sana Nurul dan Nita tengah melihat Bu Lastri yang sedang ditangani dokter karena tiba-tiba kondisinya memburuk. Rahman pun terkejut melihat itu.


Kabar buruk itu datang. Bu Lastri menghembuskan nafas terakhirnya pagi itu. Nita dan Nurul tak dapat menahan tangisnya. Rahman pun meneteskan air matanya melihat kondisi mereka berdua. Terlebih istrinya yang mulai pucat dan terus memegangi kepalanya.


Nurul menangis di samping tubuh ibunya yang telah tiada. "Ibu', bangun Bu'! Ibu bilang mau main sama adiknya Al, dia bahkan belum lahir bu', kenapa ibu' pergi? Ibu' bangun Bu'!"


Nurul menggoyangkan tubuh Bu lastri dan menciumi wajahnya. Ia lantas memeluknya erat dengan airmata yang terus mengalir. Tiba-tiba tubuhnya merosot tak sadarkan diri. Rahman dengan sigap menangkap tubuh istrinya dan segera membawanya ke IGD. Nurul segera ditangani oleh dokter.


Rahman meninggalkan Nurul setelah kondisinya stabil meski belum sadarkan diri. Ia menghampiri Nita.


"Mbak pulang dulu saja, biar Rahman yang mengurusi rumah sakit," saran Rahman pada Nita.


"Nurul gimana?"


"Masih belum sadar, tapi sudah ditangani dokter. Mbak pulang sama Bagas ya! Nanti Rahman menyusul setelah urusan administrasi selesai."


"Bagas?"


"Pengawal pribadiku. Dia ikut kesini tadi. Dia menunggu di luar."


Nita menuruti saran Rahman. Ia pulang diantar oleh pengawal pribadi Rahman untuk mempersiapkan keperluan di rumah. Rahman mengurusi administrasi rumah sakit sembari menunggu Nurul sadar. Tak lupa ia mengabari Bu Dira dan dua sahabatnya.

__ADS_1


Bu Dira yang mendapat kabar dari Rahman segera mengabari Fatimah. Ia lantas mengajak Al untuk ke Jogja setelah Fatimah sampai di rumah Bu Dira. Mereka berangkat bersama dengan Burhan dan Shodiq serta Rika dan Nana.


Maut memang selalu jadi misteri. Tak ada yang tahu kapan ia akan datang. Semua itu selalu jadi rahasia sang Ilahi.


__ADS_2