
Selamat pagi dunia. Pagi ini kurang begitu indah. Awan mendung membayangi sang mentari. Menutupi sinar hangat sang surya menyapa para makhluk yang bernyawa.
Tapi tidak bagi sepasang suami istri ini. Rahman dan Nurul. Setelah ciuman panjang nan romantis, ini menjadi pagi yang indah bagi mereka. Mereka semakin dekat satu sama lain. Meski belumlah saling mengungkapkan kata cinta, tapi perasaan itu kian bersemi indah di hati masing-masing.
Selepas sarapan, mereka bersantai di gazebo belakang rumah. Rahman tiduran di pangkuan Nurul sambil sesekali mencium perut Nurul yang masih rata. Ia teringat kejadian ketika Nurul terpeleset dan hampir jatuh ke kolam renang beberapa bulan lalu.
"Kamu bisa berenang Dek?" tanya Rahman di sela-sela obrolan.
"Bisa Mas, gaya batu, hhihi. Langsung tenggelam deh jadinya," canda Nurul.
"Mau Mas ajarin? Mas pinter lho berenang!" sombong Rahman.
"Mas tuh pinter semuanya. Apa yang Mas nggak pinter coba?"
"Apa yaa? Eeemmhh,,"
"Mas bisa nggak membajak sawah?"
"Hah?" Rahman langsung beranjak dari tidurnya. Menatap Nurul bingung.
"Iya Mas. Mas bisa nggak membajak sawah?" ucap Nurul sambil menahan tawa.
"Ya nggak bisa lah Dek,"
"Tadi kan Mas berfikir, Mas itu nggak pinter apa kira-kira. Nah, itu tadi Nurul kepikiran, hhihi" Nurul mulai cekikikan.
"Kamu ini Dek, masak aku di suruh bajak sawah?"
"Ya nggak papa kali Mas. Kan lucu tuh Mas kayaknya. Mas Rahman yang biasanya kerja kantoran sibuk sama berkas-berkas, trus ke sawah gitu nyebur ke lumpur sambil ngendaliin sapi apa kerbau buat bajak sawah. Eh, sekarang udah pakai traktor kok Mas nggak pakai sapi apa kerbau, hhaha," Nurul tertawa lepas dan berlari meninggalkan Rahman yang terkejut dengan ucapannya.
"Awas kamu ya Dek!" Rahman segera beranjak mengejar Nurul yang memasuki rumah. Sedikit berkejar-kejaran seperti anak kecil. Rahman dengan segera dapat menangkap tubuh istrinya dengan mudah. Sedikit menggelitiknya hingga Nurul merasa geli.
Tanpa mereka sadari, sang paparazi kembali beraksi dengan kameranya. Merekam aksi kekanak-kanakan sepasang suami istri itu. Tak lupa, ia segera melaporkannya pada sang majikan.
Rahman benar-benar menikmati waktunya dengan Nurul. Ia menghabiskan semua waktu liburnya bersama Nurul. Hanya saat Nurul tidur siang, ia akan mengecek pekerjaannya yang sempat tertunda.
Hingga malam menyapa. Rahman dan Nurul baru saja selesai makan malam. Mereka ingin menghabiskan waktunya di halaman belakang. Memandangi bintang dan bulan di langit malam yang cerah.
Tok, tok, tok,, Nurul dan Rahman beranjak dari duduknya.
"Biar saya saja Mbok yang buka," ucap Rahman.
Mbok Tum segera kembali merapikan meja makan. Rahman dan Nurul berjalan menuju pintu.
"Assalamu'alaikum,," ucap seorang laki-laki ketika pintu dibuka.
"Wa'alaikumussalam,," jawab Rahman.
Ada sepuluh orang laki-laki di depan pintu. Mereka adalah teman-teman Rahman. Dan diantara mereka ada sang pengantin yang sebelumnya Rahman dan Nurul hadiri pestanya.
Nurul segera meraih lengan Rahman. Sedikit meremasnya. Ia teringat kejadian ketika kemarin di pesta ia menjadi pusat perhatian semua tamu karena telah menjadi istri Rahman. Ia juga tak terbiasa dengan banyak laki-laki di sekitarnya.
"Ayo masuk!" ajak Rahman.
Rahman menyadari sikap Nurul. Ia mengusap tangan Nurul perlahan. Para tamu pun masuk satu per satu.
"Istrimu nggak dikenalin Man?" ucap salah satu tamu.
__ADS_1
"Kenalin ini istriku, Nurul," Nurul menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Halo Mbak, masih inget aku kan? Yang semalam?" goda Irfan. Nurul hanya tersenyum.
"Kamu istirahat dulu Dek!" pinta Rahman. Nurul mengangguk patuh. Ia segera meninggalkan suaminya bersama tamu.
"Sebentar Mbak!" ucap Haidar.
Nurul menghentikan langkahnya dan berbalik. "Iya?"
"Maaf untuk yang tadi malam Mbak," Haidar berjalan mendekati Nurul. Nurul memundurkan langkahnya.
"Iya Mas, tidak apa-apa. Saya permisi!" jawab Nurul yang langsung meninggalkan para laki-laki itu.
"Istrimu kenapa Man?"
"Dia tidak terbiasa diantara para playboy kayak kalian," ejek Rahman.
"Dia beda banget sama Dinda. Kenal di mana kalian?"
"Di Jogja," jawab Rahman.
"Jauh banget Man! Tapi beda banget sama Dinda Man."
"Masak iya aku jatuh ke lubang yang sama!" gerutu Rahman.
"Bener juga, hhahaha," semua tertawa. Dan mulai hanyut dalam obrolan.
Sementara Nurul, berjalan perlahan penuh tanya dalam benaknya. "Kenapa Mas Rahman selalu bilang kalau ketemunya di Jogja sih? Mas Rahman kan daya ingatnya bagus, nggak mungkin lupa,"
Nuruk segera masuk ke kamarnya. "Aahh, belum ngantuk! Baca bukunya Mas Rahman aja lah. Yang mana yaa?" Nurul melihat-lihat deretan buku milik Rahman yang tertata rapi di rak bukunya.
Pukul sepuluh malam, teman-teman Rahman telah pulang. Rahman segera menyusul Nurul ke kamarnya. Ia menemukan Nurul yang tertidur di sofa.
"Tumben udah tidur, hhihi," Rahman perlahan mendekati istrinya. Ia mengambil buku yang terjatuh dan meletakkannya di meja. Lalu meraih tubuh Nurul dan menggendongnya. Membawanya ke tempat tidur. Ia pun turut mengistirahatkan tubuhnya kemudian.
...****************...
Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi esok hari. Takdir menjadi rahasia Tuhan yang tak akan diketahui siapapun hingga saatnya tiba.
Hubungan Rahman dan Nurul semakin dekat kian hari. Keduanya saling mengisi kekurangan satu sama lain. Usia kehamilan Nurul pun semakin bertambah. Hingga kini telah memasuki bulan ke tiga. Belum ada ngidam yang aneh-aneh sampai saat ini.
Siang itu, Nurul ingin makan siang dengan Rahman. Rahman pun dengan senang hati menuruti keinginan istrinya. Ia pulang ke rumah sebelum jam makan siang tiba. Mereka makan siang bersama di rumah.
Selepas makan siang, Rahman mengajak Nurul untuk berbelanja. Mereka hanya berdua. Al tengah libur sekolah, ia sedang berlibur ke Jogja di tempat neneknya. Rahman dan Nurul yang mengantarkannya ketika libur sekolah dimulai.
Rahman keluar melalui pintu garasi belakang. Ia bersiap mengeluarkan mobil. Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu depan. Nurul yang hendak keluar pun sekaligus membukanya.
"Hai siang!" sapa seorang perempuan cantik dengan penampilan begitu modis. Dengan celana jins ketat dan kaus berwarna putih dipadukan dengan blazer berwarna biru. Rambut nan panjang hitam bergelombang, ditambah aksen curly di ujungnya. Tak lupa tas slempang kecil dan high heels sepuluh senti melengkapi penampilannya.
"Iya siang! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurul.
"Rahman ada?"
"Mas Rahman,," belum sempat Nurul menyelesaikan kalimatnya, Bu Dira muncul dari belakangnya.
"Siapa nduk?" tanyanya sambil berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Wanita cantik itu sedikit memiringkan kepalanya, mengintip sang pemilik rumah. Ia tersenyum cerah melihat Bu Dira.
"Hai Bu'! Gimana kabarnya?"
"Dinda?" ucap Bu Dira terkejut.
"Dinda? Apa dia mantan istri Mas Rahman? Sangat cantik," gumam Nurul dalam hati.
"Iya Bu', ini Dinda. Ini siapa Bu'? Sepupunya Mas Rahman?" tanya Dinda sambil melirik ke arah Nurul.
"Pergilah nduk! Kamu udah ditunggu," perintah Bu Dira pada Nurul.
"Oh iya Bu'. Nurul pergi dulu Bu', assalamu'alaikum," Nurul mencium tangan Bu Dira. "Mari Mbak!" ucapnya pada Dinda. Ia pun pergi meninggalkan dua orang wanita itu.
"Wa'alaikumussalam," jawab Bu Dira. Dinda hanya mengangguk kaku.
"Rahman mana Bu'? Mobilnya sepertinya di rumah," tanya Dinda setelah kepergian Nurul.
"Ngapain kamu cari Rahman?" ucap Bu Dira ketus sambil berjalan meninggalkan Dinda di pintu.
"Ingin menyambung silaturahmi Bu', apa tidak boleh?" ucap Dinda bohong. Ia mengikuti Bu Dira masuk rumah.
"Itu tadi istrinya Rahman. Kamu jangan pernah mengganggu Rahman lagi. Dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya!" tegas Bu Dira.
"Ibu nggak salah pilih istri buat Rahman?" ejek Dinda. "Apa lebihnya coba perempuan itu? Kenapa dia sampai rela melakukan apapun demi perempuan itu? Cih," batin Dinda.
"Dia berkali-kali jauh lebih baik daripada kamu!" Bu Dira mulai marah.
Sedang di luar, Nurul dan Rahman pun berangkat berbelanja. "Tamu siapa Dek tadi?" tanya Rahman sembari menyetir.
"Kalau tidak salah dengar dari Ibu, namanya Dinda. Dia cantik sekali Mas!" ucap Nurul.
Rahman menoleh ke arah Nurul. "Dinda?"
"Iya Mas. Apa dia mantan istrimu? Dia tadi menanyakanmu."
"Oh. Iya. Mantan istriku namanya Dinda. Tapi dia masa laluku, kau tak perlu khawatir!" Rahman menggenggam tangan Nurul.
Nurul tersenyum ke arah Rahman. "Boleh Nurul bertanya sesuatu Mas? Tentang masa lalu kalian."
Rahman terkejut dengan ucapan Nurul. Ia menepikan mobilnya. "Apa kamu baik-baik saja?" Rahman menatap Nurul khawatir.
"Iya Mas, Nurul baik-baik saja. Sangat baik malah," Nurul ganti menggenggam tangan Rahman. "Nurul hanya ingin tahu tentang masa lalu kalian, itu pun hanya jika Mas Rahman mengizinkannya," jelas Nurul.
Rahman mencoba mencerna kata-kata Nurul. Membaca raut wajahnya. Ia tak menemukan kekhawatiran atau kecemburuan di sana.
"Tak apa jika Mas Rahman tidak ingin bercerita," Nurul menjeda kalimatnya. "Setiap orang pasti punya masa lalu, entah bahagia ataupun tidak. Masa lalu yang menjadikan kita sekarang seperti ini. Kita hanya perlu mensyukurinya."
"Kamu nggak cemburu?"
"Apa yang harus dicemburui Mas? Mas Rahman sekarang bersamaku di sini, bahkan memelukku setiap malam agar aku bisa terlelap. Siapa yang harus kucemburui? Berkas-berkasmu? Atau Mas Shodiq dan Mas Burhan?"
"Kamu ini," Rahman menjawil gemas hidung mancung istrinya. Nurul hanya tersenyum.
"Kita belanja dulu, nanti aku ceritakan padamu," Rahman meraih tengkuk Nurul, sedikit menariknya lalu mengecup keningnya.
"Iya Mas," jawab Nurul senang.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk berbelanja. Selesai berbelanja, Rahman mengajak Nurul ke taman kota untuk bersantai. Ia menepati janjinya untuk bercerita pada Nurul tentang masa lalunya.
Nurul sangat senang karena Rahman mau bercerita tentang masa lalunya. Baginya, ini adalah salah satu cara agar dia bisa lebih mengenal suaminya itu. Tak bisa dipungkiri, rasa cemburu pasti ada dalam hati setiap wanita, jika sang suami menceritakan wanita lain padanya. Tapi itu masa lalu. Ya masa lalu yang telah terlewati. Setidaknya, begitulah anggapan Nurul.