
Pagi yang cerah mengawali long week end kali ini. Setelah beberapa hari terakhir, hujan selalu membasahi bumi setiap pagi.
"Pagi yang cerah," gumam Nurul di tepi jendela kamarnya, setelah sang surya mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur.
"Jalan-jalan yuk Dek," bisik Rahman ditelinga kanan Nurul.
"Eh Mas,," Nurul terkejut dan refleks menoleh ke kanan. Manik mata Nurul bertemu tatap dengan mata Rahman.
"Yuk jalan-jalan, cari sarapan!" ajak Rahman
"Mbok Tum libur mas?"
"Enggak. Mbok Tum nggak mungkin libur kalau ibu baru ke tempat Fatimah,"
"Terus?"
"Ya nggak papa, sekalian kamu kan bisa jalan-jalan. Emang nggak jenuh di rumah terus?"
"Jenuh Mas. Apalagi nggak boleh ngapa-ngapain," jawab Nurul dengan wajah sedikit sedih.
"Yaudah yuk, jalan-jalan! Nanti malam kita jalan-jalan lagi,"
"Bukannya nanti malam Mas ada undangan?"
"Ya kan jalan-jalan juga. Yuk!" Rahman langsung menggandeng tangan Nurul keluar kamar.
"Mbok, kami mau jalan-jalan cari sarapan. Mbok Tum masak seperlunya saja ya," pamit Rahman.
"Baik Mas," jawab Mbok Tum.
Rahman mengeluarkan motornya matic miliknya. Motor yang dulu biasa Nurul gunakan untuk bekerja. Mereka menyusuri jalanan kota yang masih lengang. Mencari sarapan sekaligus menikmati suasana pagi.
Rahman akhirnya menepikan motornya di depan warung nasi uduk yang cukup ramai pembeli. Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai, tak lupa mereka membeli beberapa cemilan untuk di rumah.
Hampir pukul sembilan Rahman dan Nurul baru sampai rumah. Nurul memindahkan camilan yang ia beli tadi ke piring. Membawanya ke ruang keluarga dimana Rahman tengah bersantai.
Tok, tok, tok,,
"Biar Nurul saja Mbok yang buka! Mbok Tum lanjutkan saja pekerjaannya," ucap Nurul sembari berjalan menuju pintu. Mbok Tum mengangguk patuh dari arah dapur.
Ceklek, pintu terbuka sempurna. Nampak empat orang laki-laki berdiri di depan pintu. Nurul menatap semua laki-laki itu.
"Pak Rahman ada?" ucap seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar.
"Ada. Sebentar saya panggilkan, silahkan masuk!" ucap Nurul.
"Siapa dek?" ucap Rahman yang muncul dari arah ruang keluarga. "Pak Jefry! Mari Pak silahkan masuk semuanya!"
Rahman meraih pinggang Nurul. Memeluknya sedikit intens. Nurul yang terkejut dengan sikap Rahman, menatap wajah Rahman bingung.
"Ini?" tanya Jefry.
"Kenalkan, ini Nurul, istri saya." Ucap Rahman tegas sembari menarik pinggang Nurul lebih erat.
"Kenalin Dek, ini Pak Jefry, Pak Adam, Pak Heru dan Pak Joko. Mereka anggota kepolisian dari Polda," jelas Rahman satu per satu.
Para tamu mengulurkan tangan mereka untuk menyalami Nurul, dan disambut dengan tangkupan tangan Nurul di depan dada. Akhirnya mereka melakukan hal yang sama.
"Mari Pak, silahkan masuk! Kita ngobrol di dalam," ajak Rahman. "Kamu tunggu di ruang keluarga saja ya, aku panggilkan Mbok Tum buat nemenin kamu!" perintah Rahman pada Nurul.
Nurul pun mengangguk patuh. Setelah para tamu duduk, tak lama Mbok Tum datang membawakan minuman dan camilan.
"Mbok, tolong temani Nurul dulu ya!" pinta Rahman.
"Baik mas!" Mbok Tum segera pergi ke ruang keluarga untuk menemani Nurul.
"Pak Rahman kapan menikah? Kenapa tidak ada kabar?" tanya Jefry.
"Dua bulan yang lalu Pak. Ibu dan istri saya memang tidak ingin acara besar, jadi hanya tasyakuran kecil, sekitar rumah saja," jawab Rahman.
"Tadi malam saya sempat tidak percaya ketika saya menelfon anda dan mengatakan 'istri anda di rumah sendiri', jadi pagi ini saya kesini untuk memastikannya. Dan ternyata benar, anda sudah menikah."
"Cantik sekali Pak, kenal dimana?" tanya Heru.
__ADS_1
"Kenal di Jogja," jawab Rahman.
"Selamat Pak Rahman, akhirnyaa,," ucap Joko dan Adam.
Mereka hanyut dalam obrolan tentang kesibukan dan pekerjaan masing-masing. Sementara di ruang keluarga, Nurul dan Mbok Tum juga asyik mengobrol
"Kenapa Mas Rahman bilang kalau kenal di Jogja? Bukannya kenal di sini?" gumam Nurul.
"Iya ya Mbak. Kan Mbak Nurul sama Mas Rahman kenal di sini dikenalin ibu," sahut Mbok Tum.
"Iya Mbok. Coba nanti Nurul tanya Mas Rahman Mbok,"
"Iya Mbak."
"Mbok Tum, udah lama kerja sama ibu?"
"Udah Mbak, dari mas Rahman masih bayi,"
"Udah lama banget Mbok,"
"Iya Mbak."
Mereka pun mengobrol banyak hal. Hingga, Nurul mulai mengantuk dan tertidur di sofa ruang keluarga. Mbok Tum meninggalkan Nurul di ruang keluarga.
"Mbok tum, Nurul?" tanya Rahman ketika melihat Mbok Tum melewati ruang tamu.
"Mbak Nurul tidur Mas di depan tv," jawab Mbok Tum yang langsung pergi ke belakang.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu Pak Rahman, ada laporan yang harus diselesaikan," pamit Jefry.
"Terima kasih Pak sudah mampir ke rumah," jawab Rahman.
Mereka semua lalu berdiri dan berpamitan pada tuan rumah. Rahman segera mengahampiri Nurul yang tengah tertidur di sofa.
"Tidurlah, nanti malam kita akan berkencan! Dan kau, akan tampil sangat cantik sebagai istriku," gumam Rahman dengan senyum nakalnya.
Senja telah tiba. Membawa sejuta pesona dengan lembayung yang indah menggantung di langit. Mengantarkan sang mentari kembali ke peraduan. Hingga bintang dan bulan menampakkan sinarnya di antara gelap malam.
"Assalamu'alaikum," ucap Rika yang baru saja tiba di kediaman Rahman.
"Nurul mana?" tanya Rika.
"Di kamar,"
"Yaudah, aku langsung ke kamar ya!" pamit Rika. Rahman mengangguk. Tak lama Shodiq pun menyusul Rika masuk ke rumah.
Sedang di dalam kamar, Nurul tengah kebingungan. "Aduhh, gimana ini? Aku nggak bisa dandan. Apa aku minta Mas Rahman buat nganter ke salon bentar ya? Masak iya nemenin Mas Rahman menuhin undangan akunya nggak dandan sama sekali, huuuhhh," Nurul menghela nafas panjang.
"Ruull," panggil Rika dari depan pintu kamar.
"Iya," Nurul segera membukakan pintu. "Mbak Rika? Sini Mbak masuk!" Rika lantas masuk ke kamar Nurul.
"Mbak Rika nggak dapet undangan kayak Mas Rahman?"
"Dapet,"
"Terus, nggak dateng?"
"Ini juga sekalian mau berangkat Rul. Tapi mau dandanin kamu dulu," jawab Rika sambil menunjukkan sebuah tas kosmetik berukuran besar.
"Makasih Mbak Rika!" Nurul langsung memeluk erat tubuh langsing Rika.
"Bajumu warna apa Rul?" tanya Rika.
"Hitam Mbak, itu!" Nurul menunjuk ke arah kasur dimana ada satu set pakaian dan perhiasan di atasnya.
"Bagus banget Rul,"
"Ibu yang beliin Mbak kemarin, sebelum berangkat ke Semarang," jawab Nurul.
"Selera ibu memang nggak main-main," puji Rika.
Rika pun langsung merias Nurul. Rika yang memang handal dalam merias, tak butuh waktu lama baginya untuk mengubah wanita sederhana itu menjadi seorang wanita yang cantik.
__ADS_1
Rika pun membiarkan Nurul untuk berganti pakaian dan mengenakan hijabnya. Ia membereskan peralatan make up nya sembari menunggu Nurul.
Setelah selesai, mereka berdua keluar kamar dan menghampiri suami mereka di ruang keluarga.
"Udah beb?" ucap Shodiq saat melihat dua wanita menuruni tangga. Rika mengacungkan jempolnya.
Rahman pun menoleh. Ia terpaku melihat Nurul. Nurul terlihat sangat cantik malam ini. Dengan balutan gamis berwarna hitam dan hijab dengan warna senada. Dilengkapi tas tangan berwarna putih berlambang huruf 'H' di tangannya, selaras dengan wedges dua belas senti dengan warna yang sama yang ia kenakan. Tak lupa, sebuah cincin dan gelang permata yang telah Bu Dira siapkan khusus untuknya, dan sebuah bros permata ia sematkan di dada sebelah kanannya.
"Jangan ngelamun Man, nanti kesambet!" goda Shodiq
Rahman berusaha menutupi kekagumannya. "Yaudah, ayo berangkat!" sahut Rahman.
Mereka lalu berangkat ke tempat acara dengan mobil masing-masing. Setelah tiga puluh menit, mereka sampai di tempat acara.
Tak ada yang berbicara antara Nurul dan Rahman selama perjalanan. Rahman terlalu kagum dengan penampilan Nurul malam ini.
"Kamu tunggu di sini ya sama Rika itu! Aku cari tempat parkir dulu," pinta Rahman ketika mereka sampai tepat di depan pintu masuk gedung.
"Iya Mas," Nurul patuh.
"Bentar dek!" Rahman memegang tangan kanan Nurul sebelum Nurul keluar.
"Ya Mas?"
"Kamu cantik banget malam ini," pujian itu akhirnya keluar dari mulut Rahman.
Pipi Nurul terasa panas. Ia tersenyum kecil sambil menunduk. "Terima kasih Mas!"
Nurul lantas keluar dan Rahman lalu menuju tempat parkir dan mencari tempat parkir kosong. Nurul segera menghampiri dua wanita cantik yang tengah asyik mengobrol.
"Itu dia!" ucap Nana ketika melihat Nurul sedang berjalan ke arahnya.
"Mbak Na," sapa Nurul. Mereka langsung bercipika-cipiki.
"Kami cantik banget adik kecil," ucap Nana.
"Berkat Mbak Rika pastinya, hhihi. Makasih ya Mbak Rika!" ucap Nurul yang langsung bergelayut manja di tangan Rika.
"Tentu saja," Rika mengedipkan sebelah matanya. "Jangan lupa, besok bilang makasih juga sama ibu' ya. Ibu yang minta aku dandanin kamu malam ini,"
"Siap komandan!" Nurul mengangkat tangannya memberi hormat pada Rika.
Semua tertawa bersama. Tiba-tiba ada dua orang pria menghampiri mereka.
"Hai Ka! Shodiq mana?" tanya salah satu pria.
"Baru parkir mobil sama Rahman sama Burhan," jawab Rika.
"Tambah cantik aja kamu Ka," puji pria yang lain. "Eh Ka, ini siapa? Kenapa nggak dikenalin? Cantik banget. Halo Mbak, namanya siapa?"
"Nggak usah kenalan, dia udah ada yang punya!" ketus Rika. Nurul hanya mendengarkan obrolan mereka.
"Wah, sayang banget yaa! Tapi nggak papa lah kalau cuma kenalan. Halo Mbak, kenalin, aku Dean," Dean mengulurkan tangannya.
"Kenalin Mbak, aku Irfan," Irfan pun turut mengulurkan tangannya.
"Nurul," jawab Nurul singkat sembari menangkupkan tangannya di depan dada. Dua pria itu pun kikuk karena sikap Nurul.
"Hei," sapa Rahman yang telah selesai mamarkirkan mobil bersama Shodiq dan Burhan.
"Ini dia duda tampan kita yang ketiga. Gimana kabarmu Man?" ucap Irfan.
"Baik, alhamdulillah," mereka saling berpelukan sejenak.
"Bro, ada yang cantik itu! Tapi sayang, udah ada yang punya kata Rika," ucap Dean sembari mengedipkan matanya dan melirik ke arah Nurul.
"Kenalan aja, siapa tahuu,," Irfan sengaja menggantungkan kalimatnya. Shodiq dan Burhan hanya cekikikan melihat adegan itu.
Ide jahil Rahman muncul. Ia berpura-pura ikut berkenalan dengan Nurul. "Halo Mbak, aku Rahman," ucap Rahman sembari mengulurkan tangannya.
Nurul segera menyambut tangan suaminya dan mencium punggung tangannya. Irfan dan Dean terbelalak. "Lhoh Mbak? Kok tadi sama aku enggak?" tanya Irfan.
"Dia itu istrinya Rahman, hhaha," tawa Shodiq dan Burhan membahana di depan gedung.
__ADS_1
Rahman tak melepaskan tangan Nurul. Ia malah menarik tubuh kecil Nurul dalam pelukannya. Ia merangkul pinggang Nurul dan berjalan meninggalkan irfan dan Dean memasuki gedung.
Shodiq, Rika, Burhan dan Nana sempat terkejut dengan sikap Rahman. Tapi mereka lantas mengikuti Rahman dan Nurul masuk ke dalam gedung.