Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Kebenaran part 2


__ADS_3

"Ini lho Ya istrinya Rahman!" ucap bu Tari ketika sampai depan bersama Nurul. Semua menoleh ke arah bu Tari.


"Nurul?" ucap Isti.


"Bu Isti?" ucap Nurul terkejut.


Akbar yang duduk di sebelah Rahman seketika berdiri. Nurul melihatnya. "Mas Akbar?" Deg.


"Kalian udah saling kenal?" ucap bu Tari dengan tatapan bingung.


Akbar seketika meninggalkan ruangan itu dan masuk ke kamar pribadi bu Tari.


"Jadi bu Isti dan mas Akbar, anaknya budhe tari?" tanya Nurul pelan.


"Iya," sahut bu Tari. Tubuh Nurul sedikit oleng. Ia berpegangan pada tembok di dekatnya.


"Bar, Akbar! Bentar Bar! Akbar Mahendra dengerin mbak Tya," Isti mencoba memanggil adiknya. Tapi tak ada jawaban. "Ma kita bicara dulu ya! Bentar ya semuanya!" pamit Isti sembari menarik tangan ibunya.


"Kamu nggak papa?" tanya Rahman yang lantas berlari menghampiri Nurul. Nurul menatap kosong. Fikirannya berkelana jauh. Memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Kepalanya mulai berdenyut dan semakin keras. Pandangannya mulai tak jelas. "Dek, dek?" Nurul masih belum menyahut panggilan Rahman. Tiba-tiba tubuhnya rubuh dipelukan Rahman. Rahman segera mengangkatnya dan meletakkan Nurul di sofa. Bu Dira dan Fatimah panik.


"Nurul kenapa Man?" tanya bu Dira.


"Rahman juga nggak tahu bu'. Dek, dek," Rahman berusaha menyadarkan Nurul. Bu Dira mengambil minyak angin di tasnya. Ia mengusap-usapkan pada hidung Nurul.


"Mbak Nurul bangun mbak, mbak!" Fatimah ikut panik.


Tak lama Nurul mulai sadar. Keningnya berkerut dalam dan mulai membuka matanya perlahan. Dia masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.


"Alhamdulillah, kamu sadar. Kamu nggak papa?" tanya Rahman.


Nurul hanya menganggukkan kepalanya. "Mbak Nurul, minum dulu!" ucap Fatimah sembari memberikan gelas berisi air putih.


Rahman membantu Nurul untuk bangun. Ia meminum air yang diberikan Fatimah. Ia menegakkan duduknya sendiri. "Kamu kenapa nduk?" tanya bu Dira setelah Nurul bisa duduk sendiri.


"Nurul minta maaf bu', Nurul benar-benar minta maaf bu'," ucap Nurul dengan air mata yang telah membasahi pipinya.


"Minta maaf buat apa nduk? Karena kamu udah kenal sama Tya dan Akbar? Kan nggak ada salahnya nduk," hibur bu Dira.


"Kamu punya hubungan dengan Akbar?" tanya Rahman.


Nurul menatap wajah Rahman. Air matanya semakin deras mengalir. Perasaannya sungguh tak karuan. Ia takut jika hubungan kedua keluarga itu akan merenggang karena dirinya. Ia juga takut jika Rahman dan bu Dira akan marah dan kecewa padanya karena tak menceritakan tentang Akbar pada mereka.


Bu Dira memeluk Nurul. "Tenanglah, ceritakan perlahan!" ucap bu Dira menenangkan.


Perlahan tangis Nurul mereda dan bu Dira melepaskan pelukannya. "Kamu kenal sama Tya sama Akbar?" tanya bu Dira.


"Tya?" ucap Nurul bingung. "Apa maksudnya bu Isti? Bu Listyani Maheswari?" Bu Dira mengangguk.


"Bu Isti itu, atasan Nurul di tempat kerja," jawab Nurul pelan.


"Lalu Akbar?" tanya Rahman.


"Sejak dua tahun terakhir mas Akbar mencoba mendekati Nurul, tapi Nurul selalu menolak. Dan tepat satu hari setelah ibu dan mas Rahman ke Jogja hari itu, mas Akbar mengutarakan niatnya untuk mengkhitbah Nurul," jawab Nurul dengan suara ketakutan.


Bu Dira dan Rahman saling pandang. Mereka mengingat kunjungan terakhir mereka ke butik waktu itu. Mereka akhirnya sadar, ternyata orang yang dimaksud Akbar waktu itu adalah Nurul yang telah siap dipinang oleh Rahman.

__ADS_1


"Apa kamu menyesal menerima lamaran ibu dan tak menerima lamaran Akbar?" tanya bu Dira.


"Tidak bu', Nurul tak pernah menyesali itu. Bukan begitu maksud Nurul bu'. Nurul hanya takut, ibu kecewa dengan Nurul karena tak menceritakan masalah ini, dan hubungan ibu dan budhee,,"


"Kamu berfikir terlalu jauh nduk!" Bu Dira.


"Maaf saya tinggal lama," ucap bu Tari yang kembali bersama Isti dan Akbar. "Kamu kenapa nduk?" tanya bu Tari ketika melihat wajah Nurul yang sembab.


"Nggak papa mbak! Oh iya mbak, maaf untuk,," ucap bu Dira.


"Nggak ada yang salah mbak. Ini semua diluar kendali kita. Isti juga sudah cerita tentang Nurul sepenuhnya. Budhe nggak marah kok nduk sama kamu. Kamu nangis gara-gara ini?" tanya bu Tari.


"Iya budhe, bahkan mbak Nurul tadi sempat pingsan," sahut Fatimah.


"Pingsan?" ucap bu Tari dan Isti bersamaan. Akbar terlihat panik tapi berusaha mengendalikan emosinya. Ia ingat, Nurul kini adalah istrinya Rahman.


Fatimah pun menceritakan apa yang terjadi setelah bu Tari dan Isti pergi. "Astaga Rul, kamu itu kalau mikir pasti kejauhan. Masak iya, Mama sama budhe Dira mau marahan gara-gara ini?" ucap Isti.


Bu Tari mendekati Nurul dan memeluknya. "Maaf nduk, budhe pernah berfikiran buruk tentangmu. Kamu ternyata sangat baik."


"Iya budhe, Nurul juga minta maaf," Nurul membalas pelukan bu Tari.


"Tenang Rul, semua sudah terkendali. Akbar juga sudah lebih baik kan,?" ucap Isti.


Nurul lantas melepas pelukannya dan menoleh pada Isti. Ia lantas menganggukkan kepalanya. "Makasih bu Isti,"


Rahman berdiri menghampiri Akbar. "Maaf Bar,"


"Sudahlah mas, Akbar nggak papa. Tadi Akbar hanya terkejut. Tolong jaga Nurul buat Akbar mas! Kalau sampai mas Rahman nyakitin Nurul,," Akbar menghentikan ucapannya dan sedikit berbisik di telinga Rahman, ",, Akbar pasti bakal ambil Nurul dari mas Rahman!"


Obrolan pun berlanjut. Hingga menjelang waktu ashar bu Dira sekeluarga memutuskan untuk pulang. Karena Fatimah dan Ali pun harus kembali ke Semarang. Tak lupa bu Dira mengundang keluarga bu Tari ke acara tasyakuran yang akan diadakan empat minggu lagi.


...****************...


Semua berjalan seperti biasanya. Nurul pun mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Meski sulit, ia berusaha menjadi istri yang baik bagi Rahman. Terlebih, setelah kejadian hari itu, sikap Rahman lebih dingin terhadap Nurul.


Tiga minggu berlalu sejak hari itu. Rahman masih tetap dingin kepada Nurul. Nurul bahkan kesulitan ingin menanyakan alasan sikap dinginnya itu.


Hari ini hari terakhir Nurul bekerja. "Kamu kapan berhenti kerja nduk?" tanya bu Dira setelah ia selesai sarapan dan melihat Nurul telah siap berangkat kerja.


"Hari ini Nurul terakhir kerja bu'," jawab Nurul.


"Bunda sakit?" sahut Al.


"Enggak sayang, kenapa?"


"Bunda pucat wajahnya."


"Iya nduk, wajahmu pucat. Man, kamu antar Nurul berangkat kerja ya!" perintah bu Dira.


"Nggak usah bu', Nurul berangkat sendiri saja. Mas Rahman biar istirahat di rumah, kan akhir pekan," tolak Nurul.


"Pokoknya kamu harus diantar Rahman, kondisimu nggak baik gitu nduk, ibu nggak tenang! Dan lihat tuh, mulai gerimis kan, nanti kamu malah tambah sakit lagi," paksa bu Dira.


Nurul merasakan perutnya bergejolak. Ia langsung berlari menuju toilet tamu yang tak jauh dari ruang makan. Bu Dira panik melihat Nurul. Ia berlari menyusul Nurul ke toilet.

__ADS_1


Hoeek,, hoeekk,, hoeekk,, Nurul memuntahkan semua isi perutnya. Ia terduduk lemas di dalam toilet. Ia lantas membersihkan bekas muntahan di mulutnya dan mengguyur muntahannya.


"Kamu nggak papa nduk?" tanya bu Dira yang melihat Nurul terduduk di lantai.


"Sepertinya Nurul masuk angin bu', beberapa hari kehujanan," jawab Nurul.


"Makanya, hari ini kamu kerja biar diantar jemput sama Rahman. Ibu nggak mau kamu kenapa-napa di jalan." Tegas bu Dira. Nurul hanya menganggukkan kepalanya.


Bu Dira membantu Nurul berdiri dan keluar dari toilet. "Atau kamu nggak usah berangkat saja ya? Biar ibu telfon Tya buat izinin kamu,"


"Nggak usah bu', Nurul harus laporan terakhir juga sama bu Isti hari ini. Jadi Nurul harus berangkat,"


"Yasudah, pokonya kalau ada apa-apa kamu langsung telfon Rahman ya, biar dia jemput kamu," pesan bu Dira yang disambut dengan anggukan kepala oleh Nurul.


Nurul akhirnya berangkat bekerja diantar Rahman. Al pun ikut mengantar bundanya. Rahman dan Nurul tetap saling diam hingga sampai di tempat kerja Nurul. Nurul lantas berpamitan pada rahman. "Badannya panas sekali," gumam Rahman setelah Nurul berpamitan.


Di tempat kerja, Nurul tak banyak yang dilakukan. Hanya mengawasi Azka yang mulai mahir dengan pekerjaan barunya. Ketika Isti tiba ia pun melaporkan semua hal sebelum ia berhenti bekerja. Semua menyayangkan Nurul harus berhenti bekerja. Tapi semua pun faham dengan posisi Nurul sekarang.


Sore menjelang. Rahman telah datang untuk menjemput Nurul. "Mbak Nurul, itu suaminya ya? Kenalin dong mbaakk,," rengek Dila.


"Iya mbak, mumpung mbak Nurul masih di sini." jawab Riki.


"Eemmmm,, sebentar yaa! Tapi nggak janji juga yaa,, hhehe," jawab Nurul. Ia lantas berjalan ke arah belakang dan mengambil ponselnya, lalu menelfon Rahman.


"Assalamu'alaikum mas,"


"Wa'alaikumussalam, kenapa?"


"Maaf mas Rahman, bisa tolong masuk ke toko sebentar? Teman-teman Nurul ingin kenalan sama mas Rahman, itu jika mas rahman nggak keberatan,"


Tut,, tut,, tut,, telfon langsung dimatikan oleh Rahman. Nurul menghela nafas panjang. Ia berjalan ke arah loker hendak mengambil tasnya. Dengan langkah berat ia berjalan keluar. Mencoba mencari alasan untuk diberikan pada teman-temannya.


Ketika sampai depan, betapa terkejutnya Nurul. Ia melihat Rahman tengah berbincang santai dengan teman-temannya. "Mas Rahman?"


"Sudah selesai?" tanya Rahman ramah.


"Sudah mas," jawab Nurul.


"Mbak Nurul, kapan ketemu lagi? Dila pasti kangen deh,, mama juga kangen iti mbak sama Al," Dila menggelayut di tangan Nurul.


"In shaa Allah besok Minggu yaa. Aku tadi udah minta izin bu Isti, besok Minggu ada tasyakuran di rumah, kalian dateng yaa! Mama Tika diajak ya Dil," pesan Nurul.


"Beneran mbak?" tanya Azka.


"Iya, tadi bu Isti udah kasih izin," jawab Nurul. Semua bersorak bahagia hingga menjadi pusat perhatian para pelanggan.


"Yasudah, aku pulang dulu yaa,"


"Hati-hati ya mbak! Dan mas Rahman, tolong jagain mbakku yang satu ini ya pokoknya!" ucap Dila.


"Iya, pasti," jawab Rahman.


"Assalamu'alaikum," ucap Nurul.


"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya.

__ADS_1


Semua teman-teman Nurul melambaikan tangan kepada Nurul sebelum mobil Rahman meninggalkan toko. Nurul seperti sosok ibu bagi mereka. Meskipun jarak umur mereka tidak terlalu jauh, tapi sifat Nurul membuatnya terlihat lebih dewasa.


__ADS_2