Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Sandal Jepit


__ADS_3

"Rahman mana bu'?" tanya Shodiq pada bu Dira yang telah sampai di depan rumah bersama bu Lastri.


"Masih di masjid, baru sholat." jawab bu Dira. Burhan dan Shodiq saling berpandangan. Terlintas sebuah ide di kepala mereka. "Jangan dijahilin. Awas kalian!" ancam bu Dira ketika melihat wajah jahil kedua sahabat putranya itu. Karena dia tahu betul sifat ketiga laki-laki itu. Akan selalu ada ide nakal untuk menjahili yang lain.


"Iya jangan aneh-aneh yaa, awas aja kalau sampai aneh-aneh," ucap seorang perempuan di samping Shodiq, yang tak lain adalah Rika, istrinya. Dia merupakan teman Rahman sejak kecil.


Shodiq lantas menoleh pada Rika. "Kamu kok gitu sih mbeb, kenapa belain Rahman?"


"Biarin! Dia itu nunggu ini sampai tujuh tahun, masak iya mau kalian usilin. Awas aja!" Rika langsung berkacak pinggang. Seorang perempuan lain pun ikut berkacak pinggang, Nana, istri Burhan.


"Kamu kenapa ikut-ikutan sih Yang?" tanya Burhan pada sang istri.


"Aku setuju sama mbak Rika, pokoknya awas aja kalau kalian usilin mas Rahman sama istrinya," imbuh Nana.


"Iya, iya nyonya! Enggak usil dehh!" jawab Shodiq dan Burhan bersamaan. Mereka berdua lantas berjalan menuju masjid. Rika dan Nana masih kurang percaya pada suami mereka. Akhirnya mereka mengikuti Shodiq dan Burhan setelah menitipkan anak-anak mereka pada mbok Tum dan pak Slamet.


Ketika sampai di masjid, pengantin baru itu telah selesai sholat dan berdo'a. Mereka hendak kembali ke rumah. Nurul tengah merapikan mukena yang ia kenakan, sedang Rahman telah berjalan keluar hendak memakai sepatunya. Ia menoleh kesana kemari mencari sesuatu.


"Wooiii mantan duda!! Lama banget sih? Nanti aja diterusin di rumah, jangan di masjid! Kasihan para tamu itu nungguin," teriak Shodiq yang telah sampai di halaman masjid.


"Diem ah!" sahut Rahman singkat sembari celingak-celinguk.


"Mas Rahman cari apa?" tanya Nurul yang telah berada di belakang Rahman.


"Sepatumu," jawab Rahman. Kedua sahabat Rahman pun refleks ikut celingak-celinguk ke kanan dan kiri.


"Nurul tadi nggak pakai sepatu mas," jawab Nurul. Ketiga pria itu lantas menatap Nurul bersamaan seolah mereka bertiga memikirkan hal yang sama. "Eh,," Nurul terkejut ditatap tiga pria.


"Lalu kamu tadi pakai apa ke sini dari rumah? Pakai itu?" Rahman menunjuk sepasang sandal jepit yang sedari tadi mencuri perhatiannya. Bagaimana tidak, sepasang sandal jepit yang sudah berlubang bagian tumitnya, yang sebelah kanan berwarna hijau dan yang sebelah kiri berwarna biru dengan ukiran nama 'Abu' dibagian depan. Sungguh menyita perhatian bukan? Apalagi tak ada alas kaki lain di sana selain sepatu milik Rahman dan sepasang sandal itu.


"Hhahaha,," Shodiq dan Burhan tertawa keras.


"Kamu itu Man! Masak iya istrinya Rahman Abdullah, usahawan hebat dari D**** pakai sandal buluk gitu? Udah dandan cantik gitu juga, kejam banget kamu Man, Man," timpal Burhan.


"Hhihi,, itu sandal jepit sudah dari kemarin mas di sini. Nurul tadi pakai heels warna hitam mas ke sini," Nurul sedikit cekikikan melihat ekspresi aneh Rahman.


"Itu ya mbak heels kamu?" ucap seorang wanita. Nurul menoleh pada sumber suara. Ada dua orang wanita cantik yang berada di sisi lain halaman masjid. Nurul segera berjalan menuju sisi lain serambi masjid. Ia menemukan heels miliknya yang ia kenakan tadi.


"Iya mbak, terima kasih!" Nurul tersenyum lalu memakai heelsnya. Rahman pun kemudian memakai sepatu miliknya. Nurul memperhatikan kedua wanita itu.

__ADS_1


"Ini Rika, dan ini Nana," ucap Rahman memperkenalkan istri kedua sahabatnya. Nurul pun menjabat tangan kedua wanita itu sambil tersenyum dan memperkenalkan dirinya.


"Dan ini Shodiq dan Burhan, yang pernah aku ceritakan waktu itu," imbuh Rahman sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya. Burhan pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nurul. Nurul kemudian menyambutnya dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Kamu ini!" Shodiq mencubit lengan Burhan. "Kamu lupa tadi adegan setelah ijab qobul," dan bluussss,, pipi Nurul terasa panas seketika.


"Rika ini istrinya Shodiq, dan Nana istrinya Burhan," ucap Rahman mencoba mengalihkan perhatian.


"Mbak, besok kalau sampai Rahman macem-macem sama kamu, bilang aja mbak sama aku! Biar aku ulek dia pakai ulekan sambelku di rumah," ucap Rika sambil menggandeng lengan kanan Nurul. Nurul terkejut oleh ucapan Rika. Dia menatap Rika bingung. "Hhihi,, aku ini teman Rahman dari kecil mbak. Tapi jangan salah sangka yaa, kita beneran temenan aja dari kecil. Cintaku cuma buat ayang bebebku Shodiq," ucap Rika mencoba menjelaskan pada Nurul. Nurul tersenyum kaku menanggapi kalimat terakhir Rika.


"Mohon dimaklumi ya mbak mereka bertiga! Kalau sikapnya agak berlebihan, mohon pengertiannya! Aku dulu juga kaget waktu dikenalin sama dua sahabat mas Burhan. Tapi lama-lama juga terbiasa akhirnya," ucap Nana yang juga telah menggandeng lengan kiri Nurul. Tiga wanita yang hampir seumuran itu berjalan beriringan meninggalkan masjid. Sedangkan tiga pria berada di belakang mereka mengapit sang pengantin.


"Dari kita bertiga, kayaknya mbak Nurul yang paling muda, iya kan?" tebak Nana.


"Masak sih mbak?" tanya Nurul heran.


"Iya mbak. Mbak Rika aja seumuran sama mas Rahman. Aku satu tahun lebih muda dari mbak Rika. Kalau mbak Nurul?"


"Saya tiga tahun lebih muda dari mas Rahman," jawab Nurul.


"Tuh kan bener! Paling imut," sahut Nana.


"Iya mbak Rika, kayaknya seru deh. Gimana mbak Nurul? Mau kan?" timpal Nana.


"Iya mbak, In shaa Allah. Tapi kayaknya panggilnya nggak usah pakai 'mbak' deh,, hhihi. Kan tadi katanya Nurul yang paling imut?" Rika dan Nana tergelak mendengar ucapan Nurul. Mereka lantas tertawa bersama.


Rahman yang berada dibelakang mendengar mereka tertawa merasa khawatir. "Mereka ngobrol apa sampai ketawa gitu? Jangan-jangan Rika cerita aneh-aneh tentang aku?"


"Hei mantan gadis!" panggil Rahman. Tiga wanita itu lantas berhenti dan membalikkan badan menatap Rahman.


"Kenapa?" sahut Rika singkat.


"Nurul jangan diracunin macem-macem ya pikirannya!" ancam Rahman.


"Hhahaha,," Rika dan Nana tertawa keras. Nurul hanya tersenyum mendengar ucapan Rahman. Tanpa menjawab apapun, Rika dan Nana langsung berbalik badan menggandeng kembali lengan Nurul. Meninggalkan ketiga pria yang bersahabat itu.


Tak lama mereka sampai di rumah bu Lastri. Acara pun dilanjutkan. Kedua mempelai masuk ke dalam rumah. Acara memang hanya di dalam rumah bu Lastri tanpa ada panggung pelaminan. Sederhana, sangat. Jika mengingat status keuarga bu Dira, sungguhlah tidak sebanding. Tapi bu Dira tidak keberatan akan hal itu. Para kerabat dan tetangga yang menjadi tamu bu Dira pun tahu, seperti apa watak bu Dira. Dia yang memang tidak suka mengumbar kemewahan dan kekayaannya.


Selepas adzan dzuhur acara telah usai. Para tamu undangan mulai berpamitan untuk pulang pada tuan rumah dan mempelai. Tak ketinggalan, ada mantan suami Nurul dan istrinya.

__ADS_1


"Selamat ya, aku bahagia kamu akhirnya mau menikah lagi. Aku yakin, dia pilihan tepat untukmu dan Al," ucap Bayu pada Nurul. "Dan mas Rahman, aku titip Nurul dan Al padamu! Tolong jangan sakiti mereka seperti apa yang kulakukan dulu. Aku yakin, kamu bisa membahagiakan mereka," pesan Bayu pada Rahman.


"In shaa Allah, aku akan menjaga mereka. Terima kasih telah hadir di pernikahan kami," jawab Rahman. Nurul dan Rahman tersenyum pada Bayu dan Ika, istrinya. Sedang Ika yang memang sejak awal tidak pernah menyukai Nurul, hanya menatap sinis pada perempuan yang baru saja melepas status jandanya itu.


Tersisa tamu undangan bu Dira dan kerabat Nurul. Mereka melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu di masjid. Tak ketinggalan kedua mempelai. Rahman pun menjadi imam sholat berjamaah itu.


"Han, nanti kamu pulang bareng dua mobil lain ya! Bawa Indra dan yang lainnya. Biar Eko sama Bagas nanti yang ngikutin mobil aku sama pak Harto," perintah Rahman pada Burhan setelah selesai sholat.


"Siap! Tapi kamu nggak nginep sini emangnya?" tanya Burhan.


"Enggak, kemarin udah dibahas waktu lamaran. Nurul langsung dibawa ibu' pulang ke D**** hari ini juga,"


"Hhaha,, ibu' mah emang pengertian sama anaknya," kelakar Burhan.


Setelah semua undangan bu Dira berpamitan, mereka pulang terlebih dahulu bersama mobil yang dikendarai Burhan dan Shodiq. Tinggal bu Dira sekeluarga yang masih di sana. Bu Dira menunggu Nurul dan Al bersiap.


Setelah semua siap, mereka semua pun akhirnya berpamitan. Bu Lastri yang sudah terbiasa ditinggal Nurul merantau, entah kenapa terasa enggan melepas putri dan cucunya itu. Ia menangis sesenggukan. Setelah beberapa saat, akhirnya bu Lastri bisa melepaskan Nurul dan Al.


Bu Dira yang tadinya menaiki mobil yang dibawa Rahman, kini ia memilih menaiki mobilnya sendiri yang dibawa pak Harto. Karena dalam mobil Rahman bertambah penumpang, Nurul dan Al.


Semua merasa lega karena acara berjalan dengan baik dan lancar. Rasa syukur tak luput dari hati masing-masing. Meski acara sangat sederhana, tapi terasa bermakna bagi kedua mempelai dan keluarga.


...****************...


Assalamu'alaikum..


Hai readers 🤗🤗


Othor menyapa lagii,,😁


maaf ya kemarin sempat nggak update, othor baru dalam kondisi kurang baik. Ini juga masih dalam masa pemulihan, jadi mungkin slow update yaa,,maaff 🙏🙏 sekali lagi othor yang amatir ini minta maaf pada readers semua 🙏🙏


Tapi tetap diusahakan update setiap hari 😉😉


Terima kasih untuk semua readers yang masih setia dengan kisahnya Rahman sama Nurul. Semoga tidak membosankan dan mengecewakan yaa 😁


Mohon dukungannya ya semua 😘 dan terima kasih semuanya 😘😘


wassalamu'alaikum..😊🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2