Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Tasyakuran part 2


__ADS_3

"Mbak, mbak Nurul. Mbak Nurul nggak papa?" suara panggilan dari luar toilet.


"Mbok Tum?" gumam Nurul dalam hati. "Iya mbok, nggak papa kok. Sebentar saya keluar!" sahut Nurul.


Tak lama Nurul pun keluar dari toilet. "Mbak Nurul nggak papa? Saya panggilkan mas Rahman ya, mbak Nurul pucat gitu wajahnya."


"Eh jangan mbok! Nurul nggak papa kok,!"


"Mbok Tum ambilin minum sama makan ya mbak?"


"Teh hangat saja mbok, perutku sakit sepertinya mau menstruasi. Biasanya dikasih teh hangat agak mendingan nanti,"


"Sekalian makan ya mbak?"


"Jangan mbok, nggak enak sama tamu-tamunya. Nanti saja makannya!"


"Yasudah, mbok Tum ambilkan teh hangat dulu ya! Mbak Nurul tunggu di kamar mbok Tum saja ya,"


"Oh iya mbok,!"


"Mbak Nurul ke kamar dulu saja, nanti mbok Tum antar kesana minumnya!" mbok Tum pun bergegas membukakan pintu kamarnya lalu pergi mengambilkan teh hangat untuk Nurul.


Nurul merebahkan tubuhnya sejenak di kasur yang ada di kamar itu. "Ini kenapa tumben banget perutku sakit, biasanya juga nggak sakit begini. Apa aku kecapekan ya? Tapi kan aku juga udah nggak kerja. Seminggu ini aja aku cuma ngobrol terus sama ibu' di rumah. Apa miomnya tumbuh lagi?" Nurul bergumam sambil merasakan perutnya yang kram.


Tak lama mbok Tum datang membawa segelas teh hangat. Ia juga membawa beberapa potong kue. Nurul lantas meminum tehnya. "Kuenya dimakan mbak, nanti mbok Tum ambilin lagi,"


Ketika Nurul hendak memakan kuenya, terdengar suara ustadz yang sedang bertausiyah akan segera mengakhiri tausiyahnya. Nurul pun tak jadi memakan kuenya lalu keluar dari kamar. "Nanti saja mbok makannya, itu pak ustadznya sudah selesai, nggak enak kalau Nurul malah di kamar,"


Dan benar, ketika Nurul keluar dari kamar, sang ustadz telah selesai bertausiyah. Acara pun dilanjutkan. Kini Fatimah yang mengisi acara.


"Maaf semuanya, ini ada acara tambahan sedikit ya. Sedikit kejutan untuk kakakku tersayang," ucap Fatimah dengan menggunakan mic yang telah berada di sebelah Burhan dan Shodiq.


"Mas Ali, tolong bawa sini mas yang tadi!" pinta Fatimah.


Dari kamar bu Dira, Ali muncul dengan mendorong sebuah meja troli, dengan kue besar diatasnya. Kue bertingkat dua dengan dipenuhi hiasan pernak-pernik pernikahan, yang dipesan khusus oleh Fatimah. Tentu saja, Rahman dan Nurul tak tahu tentang ini.


Semua orang bertepuk tangan menyambut kue itu. (yang disambut tepuk tangan kuenya yaa, bukan orangnya 😅). Rahman yang masih berada diantara para tamu menatap ke arah Fatimah bingung. Nurul dari arah belakang tak kalah bingung melihat adegan itu.


"Mas Rahman sama mbak Nurul, bisa tolong ke depan sebentar!" pinta Fatimah setelah kue itu tepat berada di depan semua orang.


Rahman pun berdiri menghampiri adiknya. Nurul masih berdiri mematung di belakang para tamu bersama mbok Tum. "Mbak Nurul, itu dipanggil mbak Fatimah," suara mbok Tum membuyarkan lamunan Nurul.


"Eh, iya mbok," jawab Nurul terkejut.


Nurul lantas berjalan ke arah Fatimah setelah memutar melewati para tamu. Ia lantas duduk di samping Rahman. "Kamu nggak papa? Kenapa pucat?" tanya Rahman.

__ADS_1


"Nggak papa kok mas," Nurul berusaha tersenyum untuk meyakinkan Rahman. Padahal ia masih menahan sakit di perut bagian bawahnya.


"Selamat buat mas Rahman ku tersayang, dan juga mbak Nurul. Semoga pernikahan kalian barokah, jadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah. Jadi pasangan dunia akhirat yaaa,,! Maaf kemarin Fatimah sempat jahil sama kalian, tapi itu karena Fatimah sayang sama kalian kok, yakin deh,, hhihihi. Mohon dimaafkan yaaa,, jadi besok Fatimah ulangin lagii,, hhaha," semua pun ikut tertawa karena ulah Fatimah.


"Ayo mas Rahman sama mbak Nurul, itu kuenya dipotong, trus nanti dibagiin ke tamu," pinta Fatimah.


"Kamu ini dek, ada-ada aja! Kayak masih ABG aja pakai acara potong kue," gerutu Rahman di telinga Fatimah.


"Biarin mas, kan nggak tiap hari juga! Lagian, mas Rahman kan juga nggak pernah kayak gini. Ayo mas cepetan, itu anak-anak pantinya udah nungguin." jawab Fatimah.


"Mbak Nurul, ayo sini!" panggil Ali.


"Eh, aku juga ya!" Nurul sangat tidak fokus karena menahan perutnya yang sakit. Nurul kemudian dengan setengah berdiri menghampiri Rahman yang telah berada tepat didepan kue.


"Ini pisaunya mas, potongnya barengan ya, biar romantis. Terus yang pada jomblo jadi pengen deh cepet-cepet nikah,, hhihi," candaan Fatimah pun di sambut tawa oleh para tamu.


Rahman meraih tangan kanan Nurul. Memegangnya erat dan mengambil pisau untuk memotong kue secara simbolis. Para hadirin pun bertepuk tangan. Lalu kue dibawa masuk dan dipotong-potong kecil untuk dibagikan kepada para tamu.


Adzan telah berkumandang dari masjid. Semua acara dihentikan sejenak. Nurul pun kembali duduk bersama keluarga yang lain. "Kamu nggak papa nduk?" tanya bu Lastri.


"Nggak papa bu', kenapa?" jawab Nurul sambil tersenyum lalu menyandarkan kepalanya dibahu bu Lastri.


"Kamu pucat nduk. Kamu udah makan belum?"


"Udah bu' tadi," jawab Nurul. "Tapi udah dikeluarin juga pas muntah tadi pagi," batin Nurul.


Acara pun berlanjut dengan perbincangan ringan. Dan beberapa tamu mulai berpamitan pulang. Satu per satu kerabat Nurul dan para tetangga pun meninggalkan rumah bu Dira.


Hanya tersisa keluarga Burhan dan Shodiq serta rombongan dari bu Lastri yang masih belum pulang. Mereka masih melepas rindu dengan Nurul dan Al. Semenjak menikah dengan Rahman, Nurul memang belum pernah mengunjungi ibunya. Padahal biasanya setiap libur bekerja, ia akan pulang ke Jogja bersama putranya.


Untuk saat ini, Nurul berusaha menjadi istri yang baik untuk Rahman. Ia belum berani meminta izin pada Rahman untuk berkunjung ke rumah ibunya. Apalagi mengingat sikap Rahman yang dingin padanya beberapa minggu terakhir.


"Itu siapa nduk? Kok belum pulang? Keponakan ibu kamu?" tanya bu Lastri yang tengah melihat Rika serta Nana bercengkrama bersama Fatimah.


"Oh itu bu', yang pakai baju merah mbak Rika, istrinya mas Shodiq. Kalau yang baju pink, mbak Nana, istrinya mas Burhan. Mas Shodiq sama mas Burhan itu sahabatnya mas Rahman, yang juga sekertaris dan asisten pribadinya mas Rahman. Kalau mbak Rika itu khusus bu', dia temannya mas Rahman dari kecil," jelas Nurul.


"Udah biasa main ke sini?"


"Udah bu'. Nurul juga udah kenalan sejak kemarin di Jogja. Tadi pagi yang rias juga mbak Rika, hhihi,"


"Rahman nggak,,,"


"Udah bu', nggak usah mikir yang aneh-aneh! Mbak Rika memang teman kecilnya mas Rahman, tapi kalau perasaan mbak Rika, cuma buat mas Shodiq kok, hhihi," Nurul mencoba menenangkan ibunya.


"Yasudah, ibu do'akan pernikahanmu juga langgeng ya nduk, sabar dan saling pengertian ya. Yang penting jujur dan saling percaya, ya!" pesan bu Lastri.

__ADS_1


"In shaa Allah bu', Aamiin." jawab Nurul.


Matahari mulai tergelincir ke barat. Adzan ashar juga telah berkumandang. Semua orang bergantian melaksanakan sholat fardhu. Hingga selepas sholat, semua tamu berpamitan pulang, termasuk Shodiq dan Burhan.


"Ibu pulang dulu ya nduk, kamu jaga kesehatan ya! Jangan membantah suamimu ya, jaga Al juga ya!" pesan bu Lastri.


"Iya bu', In shaa Allah. Ibu juga jaga kesehatan ya,!" jawab Nurul.


"Man, ibu' titip Nurul dan Al ya. Tolong bimbing mereka, ibu mohon yang sabar ya sama Nurul!" pesan bu Lastri pada Rahman.


"In shaa Allah bu', ibu juga jaga kesehatan ya bu'! Maaf belum sempat berkunjung ke Jogja lagi," jawab Rahman.


"Iya nggak papa nak,". Bu Lastri pun lalu berpamitan pada yang lain.


"Hati-hati ya bu Lastri," ucap bu Dira.


"Iya bu Dira, terima kasih. Titip Nurul dan Al ya bu', maaf jika mereka merepotkan,"


"Tentu tidak merepotkan bu Lastri,"


"Kalau begitu, saya permisi pulang bu Dira. Silahkan lain kali datang ke Jogja bu Dira,"


"Tentu bu Lastri, In shaa Allah lain waktu,"


Bu Lastri pun lantas berpamitan pulang bersama rombongan. Rumah yang tadinya ramai pun, kini telah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang dari pihak katering yang sedang membereskan peralatannya.


"Al, mandi dulu yaa! Nanti main lagi sama dek Riko," perintah Nurul.


"Iya Bunda," jawab Al yang lantas berlari ke kamarnya.


Sungguh hari yang panjang dan cukup melelahkan. Semua orang tengah membersihkan diri. Hanya tinggal Nurul yang masih di bawah membantu mbok Tum membereskan beberapa sisa makanan yang ditinggalkan pihak katering.


Setelah beres, Nurul pun lantas pergi ke kamarnya. Langkah kakinya sudah terasa sangat berat. Perutnya terasa semakin sakit. Ia berpegangan erat pada pegangan tangga dan sesekali meremasnya untuk menahan sakit di perutnya. Keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuhnya.


Ketika ia sampai di kamarnya, Rahman telah selesai mandi. Ia melihat Nurul yang sedang meringkuk di atas ranjangnya. "Kamu nggak papa dek?" tanya Rahman.


"Nggak papa kok mas," bohong Nurul. Ia lantas bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Yakin dek nggak papa?"


"Iya mas, nggak papa," sahut Nurul dari dalam kamar mandi.


Rahman pun lantas keluar dari kamar, meninggalkan Nurul yang tengah mandi. Ia turun ke bawah untuk mengambil minum.


Sedang di dalam kamar, Nurul segera menyelesaikan mandinya. Badannya sudah semakin lemas dan perutnya semakin sakit. Ia keluar kamar mandi lalu berdiri di depan almarinya dan segera memakai pakaiannya. Ia mengambil sembarang hijab untuk ia kenakan. Pandangannya tiba-tiba berputar cepat. Tubuhnya sedikit goyah. Ia berusaha berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Belum sempat ia sampai di kamarnya, tubuhnya mulai merosot. Ia terjatuh ke lantai. "Ya Allah, ini sakit sekali!" air mata Nurul telah tumpah. Menahan sakit diperutnya dan betapa pusing kepalanya. Tubuhnya yang sangat tidak nyaman, sungguh ia tidak tahu harus bagaimana saat ini.


"Tolong, tolong, siapapun! Ya Allah, tolong hamba!" gumam Nurul dengan lirihnya hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri di pintu walk-in closetnya.


__ADS_2