
Oh Nurul Almira, kenapa kau begitu polos? Nurul benar-benar tak menyadari gelagat Rahman. Rahman pun akhirnya memilih keluar dari kamarnya. Ia beralasan pada Nurul, ingin mencari udara segar di dekat kolam renang belakang.
Nurul masih betah memangku Hiilya. Al pun datang ke kamar Nurul. Ia senang mengganggu adiknya ketika sedang tidur dipangkuan ibunya. Ia akan mencolek-colek dan menciumi pipi tembam Hilya hingga ia terbangun. Nurul pun kembali menyusui Hilya hingga tertidur.
Rahman? Ia benar-benar berusaha menguasai dirinya yang telah dikuasai oleh kabut gairah. Sungguh ia ingin menerkam istrinya itu saat ini.
Adzan isya berkumandang. Rahman pun kembali ke kamarnya. Nurul sedang meletakkan Hilya di tempat tidurnya bersama Al. Mereka bersiap sholat berjamaah.
"Dek, nanti habis sholat, ikut Mas ya! Ada kerjaan sedikit, tapi nggak bisa kalau sendirian." Ucap Rahman ketika Nurul selesai berwudhu.
"Al sama Hilya?" tanya Nurul bingung.
"Al nggak mau ikut Bunda kalau Ayah ngurusin kerjaan." Jawab Al spontan.
"Iya, Al di vila saja sama oma, tante dan om. Jagain Dek Hilya sekalian ya sayang!" sahut Rahman.
"Siap Yah!" jawab Al mantap.
"Mereka ditinggal Mas? Tapi nggak lama kan? Udah malem Mas."
"Kan ada ibu sama Fatimah." Rahman berusaha meyakinkan Nurul.
"Kenapa nggak sama Ali aja Mas?"
"Ali nggak mau." Bohong Rahman.
"Tumben?" Nurul keheranan sendiri. "Yaudah Mas, nanti Nurul temani. Tapi Nurul nanti nggak ganggu Mas?"
"Enggak Dek."
"Ya Mas."
Rahman, Nurul dan Al pun lalu sholat berjamaah. Setelah selesai, Rahman dan Nurul bersiap untuk pergi. Mereka lalu berpamitan pada Bu Dira, Fatimah dan Ali. Tak lupa, Nurul menitipkan Al dan Hilya.
Rahman mengenakan kemeja putih dipadukan dengan blazer kasual berwarna navy. Ia menggulung sedikit lengan blazernya. Sedangkan Nurul, mengenakan gamis berwarna senada dengan blazer Rahman. Dengan jilbab instan berwarna putih, senada dengan tas tangan dan flat shoes yang ia kenakan. Mereka saling mengagumi penampilan satu sama lain.
Rahman dan Nurul berkendara selama dua puluh menit bersama dua pengawalnya. (Ah si pengawal mah, ikutan liburan gratis yaa 😅). Mereka tiba disebuah resort tepi pantai. Tak kalah indah dengan vila yang disewa Rahman yang juga berada di tepi pantai. Rahman dan Nurul langsung masuk menuju meja resepsionis.
"Reservasi atas nama Rahman Abdullah." Ucap Rahman pada dua orang wanita di meja resepsionis.
"Baik Pak, tunggu sebentar!" jawab resepsionis itu.
"Eh, Man! Kamu di sini?" sapa seorang pria yang baru saja datang, yang tak lain adalah Haidar, teman Rahman.
"Oh, ada pemilik resort ternyata. Gimana kabarmu?" jawab Rahman sembari merentangkan tangannya dan sejenak berpelukan dengan Haidar.
Haidar Mahadirga adalah pemilik resort dimana Rahman dan Nurul kini berada. White Ocean Resort. Salah satu resort terbaik dan terbesar di Kepulauan Karimun Jawa. Resort dengan pemandangan laut nan indah, dan segudang fasilitas yang memanjakan para pengunjungnya.
"Ini Pak kuncinya!" ucap resepsionis itu sembari menyerahkan dua kunci berbeda.
"Iya, terima kasih!" Rahman lantas menerimanya.
"Kalian cuma berdua?" tanya Haidar sembari menatap gantungan kunci yang ada di tangan Rahman. Ia tahu betul kamar seperti apa yang Rahman pesan hanya dengan melihat gantungan kuncinya.
"Iya,," jawab Rahman singkat.
"Aku paham maksud kalian,," ucap Haidar dengan senyuman nakalnya pada Rahman.
"Otak kita satu frekuensi kan? Hhaha,," Rahman dan Haidar tertawa lepas bersamaan.
Nurul kebingungan melihat tingkah dua pria itu. Ia menggelengkan kepalanya. Lalu tangan Rahman ditarik oleh Haidar sedikit menjauh dari Nurul.
"Jadi kamu yang pesan tempat dinner di teras kamar?" Haidar sedikit berbisik pada Rahman.
"Kau cepat tanggap rupanya sekarang!" sindir Rahman.
__ADS_1
"Sialan kau!" gerutu Haidar. "Apa istrimu tahu?"
Rahman menggelengkan kepalanya. "Aku ada ide!" ucap Haidar semangat. Haidar pun segera membisikkan idenya pada Rahman. Dan Rahman pun menyetujuinya.
"Sayang, aku pergi sama Haidar sebentar ya! Kamu tunggu di sini ditemenin Bagas!" ucap Rahman setelah ia selesai berbincang dengan Haidar.
Nurul hanya mengangguk. Rahman kemudian berlalu pergi dengan Haidar. Sedangkan Nurul ditemani Bagas yang selalu ada di belakangnya.
Nurul tak ingin mengganggu urusan bisnis Rahman. Itu yang ada dalam benak Nurul. Padahal Rahman sedang menyiapkan kejutan untuk Nurul dibantu Haidar. Itupun juga atas usulan Haidar.
Sepuluh menit kemudian, ada seorang pelayan wanita menghampiri Nurul. Ia sedang duduk menatap beberapa fasilitas yang ada di resort itu.
"Dengan Ibu Nurul Almira?" ucap pelayan itu.
"Iya,," jawab Nurul singkat.
"Mari Bu' ikut saya! Ibu sudah ditunggu Pak Rahman."
"Oh iya,," Nurul segera berdiri.
"Maaf Bu', tolong kenakan ini dulu!" pelayan itu menyerahkan sebuah penutup mata pada Nurul.
"Iniii?" Nurul kebingungan lalu menoleh pada Bagas.
"Ini bagian dari layanan yang dipesan Bapak Rahman." Jelas pelayan itu.
Nurul kebingungan. "Tak apa Bu', kenakan saja! Saya dibelakang Ibu." Ucap Bagas meyakinkan.
Bagas sebenarnya sudah diberitahu Rahman beberapa saat lalu bahwa akan ada pelayan mengantar penutup mata pada Nurul. Jadi ia tinggal meyakinkan istri bosnya itu.
Nurul akhirnya memakai penutup mata itu. Kemudian perlahan ia dituntun oleh pelayan wanita tadi. Tak lupa Bagas mengikutinya di belakang.
Cukup jauh Nurul berjalan dengan penutup mata. Ia mulai merasakan pasir pantai di bawah sepatunya. Suara deburan ombak kecil pun mulai terdengar jelas. Hembusan angin yang kencang mulai menerpa tubuhnya.
Pelayan itu menghentikan langkahnya. Nurul pun ikut berhenti. Pelayan itu diam-diam meninggalkan Nurul. Bagas pun lantas pergi undur diri tanpa berpamitan.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka penutup mata Nurul. Ia sedikit mengerjapkan matanya. Ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Surprise!" Bisik Rahman tepat ditelinga Nurul. Nurul menoleh pada suaminya.
Nurul pun melihat sekeliling. Ia kini telah berada di tepi pantai dengan banyak pohon kelapa yang menjulang tinggi. Ada sebuah panggung kayu dengan latar pemandangan laut malam di depannya. Tak begitu besar, tapi telah dihias dengan sangat indah. Dengan sebuah meja di tengah dan dua buah kursi saling berhadapan. Lengkap dengan peralatan makannya. Taburan kelopak bunga mawar merah berhamburan di lantai panggung. Cahaya lampu-lampu lilin yang tertutup bola kaca agar tak padam karena angin, diletakkan di sekitar meja dan kursi.
"Iniii,," Nurul tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kejutan buat kamu Sayang." Jawab Rahman. "Kamu suka?"
Nurul mengangguk bahagia. Tak terasa, airmatanya mengalir. Airmata bahagia. Ia tak pernah menyangka akan mendapat kejutan seindah ini dan diperlakukan seistimewa ini.
Nurul membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya di leher Rahman. "Terima kasih Mas." Ucap Nurul yang langsung mengecup bibir Rahman.
"Tentu saja Sayang." Rahman langsung menyambar bibir Nurul. Menciumnya dengan lembut. Nurul pun menyambut ciuman Rahman. Mereka sejenak lupa bahwa mereka sedang ada diruang terbuka. Walaupun memang keadaan sekitar sudah disterilkan dari pengunjung lain oleh Haidar.
Setelah cukup lama berciuman, Rahman menghentikan aksinya. "Kita makan dulu Sayang!" ajak Rahman sembari merangkul pinggang kecil Nurul menuju meja di atas panggung kayu.
Rahman pun memanggil pelayan. Dan tak lama, makan malam mereka telah terhidang di meja. Rahman dan Nurul pun menikmati makan malam mereka.
"Sudah malam Mas, kita pulang!" ajak Nurul setelah mereka selesai makan.
"No. Kita tak akan pulang malam ini!" jawab Rahman.
"Lhoh, kenapa Mas? Lalu Hilya dan Al bagaimana?"
"Kita akan menginap di sini selama tiga hari. Hanya kamu dan aku. Kita akan berbulan madu."
"Tiga hari?"
__ADS_1
"Iya. Kamu tak usah khawatir tentang Al dan Hilya. Al sudah besar Sayang, dan Hilya sudah punya pengasuh sementara kita di sini."
"Pengasuh?"
"Iya. Pengasuh sangat profesional yang kubayar sangat mahal. Jadi kita bisa percaya padanya dan kamu tak usah khawatir. Kamu hanya perlu memerah asi untuk Hilya selama kita disini. Pengawal yang akan mengantarkan asi ke vila."
"Aku nggak bawa keperluan untuk menginap Mas."
"Aku sudah siapkan itu semua, kamu hanya tinggal menikmati semuanya nanti." Rahman beranjak dari kursinya. Nurul pun mengikutinya.
"Kita lihat kamar kita! Aku pesankan dua kamar untuk kita, kamu bisa pilih yang mana yang kamu suka!" ucap Rahman sambil kembali memeluk pinggang Nurul dan berjalan berdua menuju kamar mereka. Rahman tadi sudah sempat melihat kamar itu bersama Haidar.
"Kenapa harus dua Mas? Kan satu sudah cukup?"
"Ini kejutan untukmu."
Tak jauh dari tempat mereka makan, ada beberapa bangunan seperti rumah berjajar rapi dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Rahman pun berhenti di depan salah satu bangunan itu lalu membuka pintunya. "Ini kamar kita!"
Ketika pintu dibuka, ada sebuah kamar yang sudah dihias dengan begitu cantik ala pengantin baru. Tempat tidur yang lengkap dengan kelambu yang menjuntai. Tempat tidur pun telah dihias dengan banyak kelopak mawar merah dan putih berbentuk hati. Lantai kamar juga dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Tak lupa dua buah handuk yang dibentuk angsa saling berhadapan menambah romantis pemandangan kamar itu. Beberapa lilin aroma terapi yang tertata rapi di beberapa sudut kamar.
Ada yang menarik perhatian Nurul di seberang tempat tidur. Gorden berwarna putih dan krem yang membentang lebar.
"Itu,,?" Nurul menunjuk ke arah gorden.
"Bukalah!" jawab Rahman lembut.
Nurul segera menghampiri gorden itu dan membukanya lebar. Ada sebuah pintu kaca disana. Dengan pemandangan laut lepas didepannya. Ia segera membuka pintu itu dan keluar menuju teras. Ia menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Rahman pun mengikutinya dan memeluknya dari belakang.
"Kamu menyukainya?" tanya Rahman.
"Sangat Mas. Terima kasih." Nurul mengusap tangan Rahman yang tepat berada di perutnya.
"Kita lihat satu kamar lain! Nanti kamu bisa pilih, kamar mana yang ingin kamu tempati selama disini."
Nurul mengangguk bahagia. Mereka lalu keluar dari kamar itu dan kembali berjalan menuju kamar lain yang telah Rahman pesan. Menyusuri jalan setapak yang tak begitu jauh. Hingga mereka tiba di sebuah kompleks seperti perumahan kecil. Ada beberapa rumah disana.
"Ini vila Mas?" tanya Nurul kebingungan.
"Iya. Ayo masuk, kita lihat di dalam!" Rahman segera mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu.
Sebuah vila kecil lengkap dengan taman dan kolam renang pribadi. Ada sebuah kamar tidur dengan dinding kaca dan ruang bersantai cukup besar.
"Kamu suka yang mana Sayang?" tanya Rahman setelah mereka selesai melihat-lihat. Mereka duduk di kursi dekat kolam renang.
"Yang tadi Mas. Bisa lihat laut lepas dari kamar." Jawab Nurul antusias.
"Tapi sayang Mas kalau ini nggak dipakai. Kan udah Mas pesan juga?" Nurul bergelayut manja di bahu Rahman.
"Kamu nggak usah mikirin itu Sayang! Itu biar Mas yang urus!" Rahman kemudian mengecup puncak kepala Nurul.
"Kalau gitu, kita balik ke kamar tadi ya?" tawar Rahman.
"Iya Mas. Nurul juga perlu mompa asi, udah sakit ini. Mas bawain Nurul alat pompa asi sama kotak penyimpanannya kan?" Nurul langsung beranjak dari duduknya.
Rahman hanya mengangguk. Mereka lalu kembali ke kamar yang pertama. Setelah sampai kamar, Nurul segera mengosongkan asi-nya dengan pompa dan menyimpannya. Ia hendak membongkar kopernya tapi di tahan oleh Rahman.
"Kamu bersihin diri dulu aja Sayang, itu biar Mas yang beresin." Pinta Rahman.
Nurul menuruti permintaan Rahman. Ia membersihkan diri di kamar mandi. Ia keluar mengenakan batrobes karena ia lupa membawa baju ganti. Setelah ia selesai, gantian Rahman yang memebersihkan diri.
"Mas bajuku di mana?" Nurul bertanya pada Rahman setelah ia tak menjumpai kopernya dengan sedikit berteriak.
"Di almari Sayang!" jawab Rahman dari kamar mandi.
Nurul segera membuka almari yang ada di kamar itu. Matanya membola sempurna. Matanya berkedip berkali-kali.
__ADS_1
"Kenapa lingerie semua?" gumam Nurul kebingungan.