
Setelah permainan pertama malam itu, dan istirahat sejenak, Rahman kembali mengajak Nurul untuk 'bermain' lagi. Nurul meminta waktu untuk mengosongkan asi-nya terlebih dahulu. Rahman pun menurutinya.
Nurul mencari lingerie yang tadi ia kenakan. Setelah ketemu, ia memakainya lagi. Tapi ia lupa dengan g-string yang entah Rahman lempar kemana. Rahman pun mengenakan celana boxernya dan mengambilkan alat pemompa asi. Tak lupa ia menyalakan lampu kamarnya.
Rahman lalu menyerahkan alat pompa asi kepada Nurul. Dan seketika itu, junior mulai tegak lagi. Bagaimana tidak? Melihat Nurul yang sedang duduk di sofa hanya mengenakan lingerie tipis berwarna putih tanpa pakaian dalam apapun. Oh Nurul, kau kembali menguji Rahman rupanya.
Nurul mulai memompa asi. Ia selalu fokus jika sedang memompa asi untuk putrinya. Sedangkan Rahman sudah sangat gelisah duduk disamping Nurul. Ia berusaha menahannya lagi hingga Nurul selesai. Karena ia tahu betul, istrinya akan marah jika ia mengganggu ketika istrinya memompa asi.
Setelah beberapa saat, Nurul telah selesai memompa asi. Rahman bergegas merapikan alat pompa dan botol yang berisi asi. Ia langsung kembali mematikan lampu dan menghampiri Nurul.
Nurul yang sudah faham, ia langsung melepaskan lingerie nya dan berjalan menghampiri Rahman tanpa mengenakan apapun. Mereka kembali memagut bibir satu sama lain. Rahman pun segera melepas celana boxernya.
Nurul tiba-tiba mendorong kuat tubuh Rahman hingga terjatuh ke ranjang. Ia mengungkung tubuh Rahman.
"It's my turn!" ucap Nurul dengan nada lembut dan mesra di telinga Rahman. Rahman tersenyum lalu mengangguk.
Nurul mulai mel*mat bibir Rahman dengan lembut. Ia menelusuri setiap rongga mulut Rahman begitupun sebaliknya. Ciuman Nurul mulai berpindah dan mengabsen setiap inci tubuh Rahman. Rahman sangat menikmati permainan Nurul.
Tangan Nurul pun mulai nakal pada junior. Bibirnya pun mulai nakal pada junior. Kini giliran Rahman mulai meracau karena ulah Nurul. Nurul benar-benar membuat Rahman kehilangan kendali dirinya.
Rahman lalu bangun dan membalikkan posisi mereka. "Aku sudah tak tahan Sayang." Ucap Rahman setelah ia bergantian mengungkung Nurul dengan satu tangan mulai memel*ntir puncak dada Nurul.
Rahman kembali memainkan perannya. Ia memainkan satu jarinya di bagian intim Nurul sembari bibirnya mel*mat bibir Nurul. Nurul kembali meng*rang dan mend*sah. Hingga sesuatu telah tumpah di bawah sana.
Rahman segera melakukan aksinya dengan junior. Dengan sekali hentakan, Rahman berhasil melakukan penyatuannya. Nurul kembali menjerit. Rahman pun segera menyambar bibir Nurul kembali sambil menggerakan tubuh bagian bawahnya perlahan.
Mereka kembali menikmati permainan satu sama lain. Hingga des*han demi des*han kembali menggema di kamar itu. Hingga akhirnya, mereka mencapai puncak bersamaan.
Rahman tersenyum hangat pada Nurul. Nurul pun membalasnya. Lalu Rahman merebahkan dirinya lagi di samping Nurul dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Mas, haus," ucap Nurul setelah mereka istirahat beberapa saat.
"Sebentar, Mas ambilkan!" Rahman segera beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan minum.
"Mas, pakai celananya! Jangan kayak gitu!" pinta Nurul sambil bersembunyi dibalik selimut.
"Kamu ini Dek, ada-ada saja!" ejek Rahman. "Tadi aja pinter banget maininnya, masak gini aja malu?"
"Aahh Mas aahh,," Nurul merajuk dibalik selimut.
Rahman lalu menyibakkan selimutnya dan memberikan segelas air pada Nurul. "Ini minumnya!"
Nurul pun bangun lalu meminum air yang diberikan Rahman. "Alhamdulillah, segarnya. Makasih Mas!"
Nurul menyerahkan kembali gelasnya pada Rahman. Rahman lalu meletakkan gelas itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur. Mereka berdua lalu tiduran kembali di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh mereka. Nurul menyandarkan kepalanya di dada Rahman.
"Sayang,," panggil Rahman.
"Iya Mas,," jawab Nurul sembari mendongakkan wajahnya.
"Apa kalau wanita setelah melahirkan itu jadi perawan lagi?"
"Apa Mas? Hhaha,," Nurul tertawa keras. "Mas ini ada-ada saja!" Nurul mencubit gemas perut Rahman.
"Aw,, sakit Sayang!" rintih Rahman. "Lha tadi kenapa punyamu bisa jadi sempit gitu Sayang? Kamu kayak jadi perawan lagi."
__ADS_1
"Itu rahasia perempuan Mas. Apa Mas suka?"
"Sangat Sayang." Rahman mengecup puncak kepala Nurul mesra.
"Itu hadiah kecil dariku Mas. Untuk kesabaranmu menantiku siap melakukannya. Terima kasih Mas,," jawab Nurul.
"Tentu saja Sayang!" jawab Rahman.
Nurul langsung memeluk erat Rahman. "Makasih Mbak Nana ilmunya, hhihi,," gumam Nurul dalam hati.
Semenjak Nurul menjadi istri Rahman, ia belajar banyak hal baru. Dari Bu Dira, Nurul belajar bagaimana menjadi sosok istri seorang pengusaha seperti Rahman. Dari Rika ia belajar berdandan agar terlihat lebih cantik di hadapan suaminya, seperti malam ini. Dari Nana ia belajar bagaimana merawat diri dan 'menyenangkan suami'. Dan masih banyak hal baru ia pelajari dalam beberapa bulan terakhir.
"Sayang,," panggil Rahman lagi.
"Iya Mas,," sahut Nurul dengan posisi yang masih memeluk Rahman .
"Kamu udah mau lagi?" goda Rahman.
"Mau apa Mas?" Nurul masih belum faham.
"Sayang, dada kamu nempel di dadaku. Yang dibawah sana bangun lagi tuh!" Rahman menyibakkan selimutnya hingga memperlihatkan juniornya yang sudah tegak kembali.
"Aahh Mas, Nurul masih capek!" Nurul pun segera melepaskan pelukannya. Ia lalu menutupi kembali tubuh bagian bawah Rahman dengan selimut.
"Iya, iya Sayang." Ucap Rahman setelah mngecup puncak kepala Nurul.
"I love you Mas!" kalimat itu menggema indah di setiap sudut kamar. Rahman bahagia mendengarnya.
"I love you too my dear!" jawab Rahman.
Dan lagi. Rahman tak tinggal diam ketika Nurul selesai mengosongkan asinya. Ia kembali melakukan penyatuan dan pelepasannya bersama sang istri tercinta. Hingga akhirnya Nurul kelelahan dan terlelap setelah selesai melakukannya kembali. Entah pukul berapa saat ini dan mereka pun bersama-sama terlelap di balik selimut yang sama.
Ketika adzan subuh berkumandang, Rahman lebih dulu terbangun. Ia membersihkan diri lebih dulu. Baru setelah selesai mandi, ia membangunkan Nurul.
"Sayang, bangunlah! Sudah waktunya sholat subuh." Rahman menggoyang-goyangkan tubuh Nurul. Nurul tak bergerak sedikit pun. Ia tertidur sangat lelap.
"Sayang,," Rahman mengusap kepala Nurul dan mencium keningnya. Nurul masih tak bergeming.
Ide nakal Rahman muncul. Ia merebahkan tubuhnya lagi di samping Nurul. Rahman lalu memasukkan tangannya ke dalam selimut yang menutupi tubuh Nurul. Ia mulai menggerayangi tubuh polos istrinya yang ada di balik selimut. Hingga bermain-main dengan dua pucuk payudara Nurul yang sudah mulai keras kembali karena penuh asi.
Nurul mulai menggeliat tak nyaman. "Maasss,, jangan nakal tangannya!" sungut Nurul dengan mata terpejam.
"Bangunlah sayang! Kita sholat subuh dulu!" ucap Rahman dengan tangan yang masih sibuk dibalik selimut.
"Apa sudah waktunya sholat Mas?" ucap Nurul dengan mata tetap terpejam.
"Sudah Sayang. Bangunlah! Atau kau ingin melakukannya lagi?" goda Rahman.
Nurul segera membukan matanya dan menoleh pada Rahman. "Mas tangannya udah! Itu penuh Mas, sakit dimainin terus." Rengek Nurul.
"Maaf Sayang! Dari tadi aku membangunkanmu tapi kamu tak kunjung bangun." Rahman lantas menghentikan tangannya yang ada di bawah selimut.
"Kan Nurul sudah bangun sekarang."
"Mandilah! Setelah itu kita sholat!" Nurul mengangguk patuh lalu turun dari ranjang dengan melilitkan selimut di tubuhnya.
__ADS_1
"Mas sudah mandi?" tanya Nurul ketika akan memasuki kamar mandi.
"Sudah tadi." Jawab Rahman yang lalu beranjak dari tempat tidur dan menyiapkan baju ganti untuk Nurul. Nurul pun bergegas mandi.
Tak lama Nurul mandi. Ia keluar dengan bathrobe di tubuhnya dan handuk yang menggulung dikepala.
"Itu bajunya sayang!" Rahman menunjuk ke arah tempat tidur.
"Mas simpen baju Nurul dimana sih? Kemarin Nurul nyari nggak ketemu." Ucap Nurul sambil berjalan kembali ke kamar mandi untuk memakai gamis berwarna ungu yang disiapkan Rahman.
"Rahasia Sayang!" jawab Rahman sedikit berteriak. Di kamar mandi, Nurul merasa kesal sendiri. Karena ia tak bisa menemukan tempat Rahman menyimpan bajunya.
Setelah selesai berpakaian, Nurul segera keluar. Mereka pun sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, Nurul segera memompa kembali asinya. Setelah Nurul selesai, Rahman segera minta pengawalnya untuk mengantar asi ke vila dan membawa botol asi yang sudah kosong dari vila.
"Sayang, ganti ini yaa!" pinta Rahman sembari menyerahkan sebuah lingerie berwarna senada dengan gamis yang Nurul kenakan.
"Maaasss,," Nurul merajuk sangat manja. Badannya masih terasa lelah setelah beberapa pertempuran semalam. "Rambut Nurul aja belum sempat dikeringin Mas. Mau lagi?"
"Aku ingin melihatmu memakai ini Sayang,," rayu Rahman.
Nurul menatap lingerie di tangan Rahman. Lingerie model backless berbahan satin dengan belahan dada sangat rendah dan hanya ada satu tali dibagian leher.
Nurul sungguh sangat ingin menolak. Tapi ia juga tak ingin mengecewakan Rahman yang telah sabar menantinya selama ini. Ia akhirnya menerimanya dan kembali ke kamar mandi untuk bersiap. Tak lupa, ia memoleskan make up tipis diwajahnya. Ia membiarkan rambutnya yang basah tergerai.
Rahman dengan setia menunggunya di sofa. Nurul akhirnya keluar. Ia berjalan ke arah Rahman. Kini ia berusaha membuang rasa malunya dihadapan sang suami. Rahman benar-benar terkagum pada panampilan wanita yang ada dihadapannya itu. Nurul langsung duduk dipangkuan Rahman dan mengalungkan tangannya ke leher Rahman. Rahman terkejut dengan sikap Nurul.
"Mas suka?" Tanya Nurul setelah mengecup bibir Rahman sekali.
Rahman tersenyum. "Sangat suka. Kamu sangat cantik Sayang!"
Rahman langsung menyambar bibir Nurul. Mereka kembali berciuman dengan penuh gairah. Tangan Rahman pun tak tinggal diam. Ia langsung menggerayangi tubuh Nurul ke segala arah. Dan memainkan kembali pucuk payudara Nurul.
Nurul pun mulai melepaskan pakaian yang Rahman kenakan. Melemparnya entah kemana. Hingga tak menyisakan apapun di tubuh Rahman. Nurul kembali duduk di pangkuan Rahman.
Rahman pun tak mau kalah. Ia segera menarik tali dibalik leher Nurul hingga lingerie berwarna ungu itu lepas dengan sendirinya. Dan ternyata Nurul tak mengenakan ****** ********. Rahman pun segera bermain dibagian intim Nurul.
Nurul yang sudah terpancing hasratnya, ia mulai mend*esah dan meng*rang karena tangan Rahman yang lihai bermain dan mulutnya yang tak henti meny*esap pay*udara Nurul. Tangan Nurul pun mulai bermain dengan junior. Mereka memainkan perannya masing-masing. Saling bermain dengan apa yang mereka sukai. Hingga Nurul akhirnya mencapai puncaknya.
Tanpa berpindah tempat, mereka hanya sedikit merubah posisi duduk. Rahman merebahkan tubuhnya dan Nurul memutar tubuhnya mejadi berhadapan dengan Rahman.
Nurul benar-benar liar pagi itu. Tanpa Rahman minta, ia langsung melakukan penyatuannya dengan Rahman. Dengan sebuah jeritan kecil, Nurul berhasil melakukannya. Rahman pun menyambut perlakuan Nurul dengan senang hati.
Perlahan. Semakin cepat dan semakin cepat. Nurul melakukannya dengan sangat baik. Tangannya sibuk mencari sesuatu untuk dicengkeram. Tangan Rahman pun sibuk menggerayangi tubuh istrinya yang sedang bermain lincah di atasnya. Hingga akhirnya mereka mencapai klimaks bersamaan dengan tubuh yang berpeluh.
Nurul menjatuhkan tubuhnya di dada Rahman. Menghirup aroma tubuh suaminya sembari mengatur nafasnya yang yang terengah-engah. Rahman memeluknya mesra.
"Kamu hebat Sayang!" bisik Rahman. Nurul pun tersenyum.
Ooohh, pagi yang indah untuk sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.
"Mas, tolong gendong ke tempat tidur!" rengek Nurul setelah beberapa saat mereka saling berpelukan.
"Capek ya?" tanya Rahman. Nurul hanya mengangguk di atas dada Rahman.
Rahman pun berusaha bangun tanpa merubah posisi mereka. Tapi Nurul yang akhirnya turun dari atas tubuh Rahman. Ia kembali duduk dipangkuan Rahman setelah Rahman bangun. Rahman pun segera membopong Nurul ke tempat tidur. Mengambil selimut dan menutupi tubuh Nurul.
__ADS_1
"Istirahatlah!" pinta Rahman sembari mengecup kening Nurul. Nurul hanya mengangguk dan langsung memejamkan matanya. Ia langsung terlelap. Rahman pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Benar-benar olahraga pagi yang indah bagi mereka.