
Dor. Dor. Dua suara tembakan terdengar hampir bersamaan.
"Mas Rahman!" Nurul berteriak sangat kencang. Dan seketika itu juga terasa ada cairan yang mengalir deras dari selangkangannya. "Ketubanku pecah!" gumam Nurul dalam hati.
Dan saat itu juga, tubuh Rahman langsung rubuh tak sadarkan diri. Cengkeraman tangan Akbar pun terlepas. Tubuhnya merosot hingga berlutut. Ia meringis kesakitan. Anak buahnya berlari menghampirinya.
Nurul pun segera berlari menghampiri Rahman. Ia mendudukkan dirinya di dekat kepala Rahman. Mengangkat sedikit kepala Rahman, membawanya ke pangkuannya.
"Mas bangunlah! Kumohon bangunlah Mas!" Nurul mengusap wajah Rahman lembut. Wajah yang penuh luka lebam dan beberapa luka robek di kulitnya. Air mata Nurul mengalir tiada henti melihat kondisi suaminya.
Perlahan ia mengusap luka tembak dan luka tusukan di tubuh Rahman. "Mas bangunlah! Apakah ini sakit Mas? Bagilah sakitmu denganku! Jangan kau tanggung sendirian! Aku di sini Mas, bangunlah!"
Nurul memeluk erat tubuh Rahman yang sekuat tenaga ia rengkuh. Menangis di pelukan suaminya yang tak sadarkan diri.
"Rul, gimana kondisi Rahman?" Suara seorang pria mengalihkan perhatian Nurul yang sedari tadi menutup mata.
Nurul membuka matanya. "Mas Burhan? Mas tolong Mas Rahman! Dia ditusuk dan di tembak!"
Nurul melepaskan pelukannya dan membiarkan Burhan melihat kondisi Rahman.
"Apa?" Burhan sangat terkejut mendengar ucapan Nurul. "Kamu bagaimana?"
"Aku tidak apa-apa Mas."
"Tunggu sebentar, ambulan segera datang!" Ucap Burhan. Ia menatap sedih tubuh sahabatnya yang penuh luka.
Di sisi lain, Jefry dan beberapa anggota polisi tengah mengamankan lokasi kejadian. Mereka menangkap semua anak buah Akbar dan Akbar juga tentunya. Jefry telah sampai lokasi kejadian bersamaan dengan Burhan dan Shodiq tadi.
Dan saat mereka sampai tadi, Akbar tengah menodongkan pistolnya ke arah Rahman. Burhan dengan cepat mengambil pistolnya dan menembak kaki Akbar. Jefry beserta para polisi dan Shodiq langsung berlari ke arah Akbar dan mengamankannya bersama anak buahnya. Sedang Burhan langsung berlari menghampiri Rahman dan Nurul.
Bu Tari yang melihat anaknya tertembak langsung berlari keluar mobil. Ia berlari menghampiri Akbar. Tangisnya akhirnya pecah. Ia berusaha menahan polisi agar tak membawa Akbar. Tapi semua sia-sia. Akbar dan anak buahnya di bawa ke kantor polisi.
Dua petugas medis langsung datang menghampiri Rahman. "Bawa dia secepatnya!" Perintah Burhan.
"Mas Rahman,," Nurul berusaha berdiri untuk mengikuti Rahman. Tapi kontraksi di perutnya menahannya. Ia terduduk kembali.
"Kamu nggak papa Rul?" Tanya Burhan khawatir.
"Eeuummhh, nggak papa Mas." Nurul merasakan kontraksinya semakin kuat.
"Kamu yakin?" Burhan mulai panik.
Nurul mengangguk. "Bisa tolong bantu Nurul berdiri Mas?"
"Oh iya, tentu!" Burhan mengulurkan tangannya. Nurul meraihnya. Tapi kontraksi kembali terjadi, Nurul tak kuat untuk berdiri.
"Eeuummhh,," Nurul meremas tangan Burhan.
__ADS_1
"Kamu kenapa Rul?" Nurul menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya Rul, aku gendong kamu ke mobil saja ya!" Nurul masih diam karena menahan kontraksi yang semakin kuat. Ia mengepalkan tangannya kuat.
Burhan mulai menunduk hendak mengangkat tubuh Nurul. Ia merasakan basah di lengan bajunya.
"Ini apa Rul? Kenapa basah?" Burhan kebingungan.
"Ketubanku sudah pecah Mas tadi." Jawab Nurul lirih karena kontraksi kembali.
"Apa? Dan kamu kenapa seperti kesakitan?"
"Tolong ke rumah sakit Mas! Bayiku sudah kontraksi."
"Apa?" Burhan pun segera membopong tubuh Nurul. Membawanya ke mobil Rahman.
"Mas Rahman?"
"Kamu tenang saja! Rahman pasti baik-baik saja." Burhan berusaha menutupi kekhawatirannya di depan Nurul. Ia pun sebenarnya juga khawatir akan kondisi sahabatnya itu.
Burhan segera melajukan mobil Rahman menuju rumah sakit. Ia mengambil ponselnya sembari menyetir dan melakukan panggilan.
"Rum, siapkan ruang operasi dan bersalin!" Ucap Burhan saat melakukan panggilan.
"Siapa yang akan dioperasi?"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Nggak usah banyak tanya! Cepat siapkan! Kami sebentar lagi sampai." Burhan langsung mengakhiri panggilannya.
"Eeuummhh,," Nurul mencengkeram apapun yang ada di dekatnya.
"Sabar Rul, sebentar lagi kita sampai!" Burhan tambah panik. Nurul hanya mengangguk.
"Sebentar ya sayang! Kamu harus bertahan sebentar lagi! Kita akan berjuang bersama!" Nurul bergumam dalam hati sembari mengelus perutnya.
Sepuluh menit berkendara, mobil Burhan langsung memasuki area rumah sakit dan menuju pintu IGD. Ambulan yang membawa Rahman telah sampai terlebih dulu. Rahman langsung dibawa ke ruang operasi.
Nurul langsung dibantu oleh Burhan kembali untuk turun dari mobil. Ia langsung dibawa ke ruang bersalin oleh Arum. Arum pun langsung turun tangan sendiri menangani Nurul.
Burhan sedikit lega karena Rahman dan Nurul telah mendapatkan penanganan pihak medis. Ia lantas mengabari Bu Dira dan Ali. Tak lupa, ia mengabari Rika dan Nana dan meminta mereka untuk segera ke rumah sakit.
Bu Dira yang mendengar kabar dari Burhan, langsung jatuh pingsan di rumah. Mbok Tum panik karena tiba-tiba sang majikan pingsan. Pak Slamet dan Mbok Tum berusaha menyadarkan Bu Dira. Al pun ikut panik melihat neneknya.
Tak berselang lama Bu Dira sadar. Ia lalu mengabarkan kabar buruk itu pada Al. Al pun lantas menangis sekencang-kencangnya. Bu Dira dan Al langsung pergi ke rumah sakit bersama Pak Harto.
Ali yang mendengar kabar buruk itu pun bergegas berangkat bersama Fatimah dan kedua anaknya. Rika dan Nana pun langsung pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Di ruang bersalin, Nurul tengah berjuang untuk melahirkan bayi kecilnya ke dunia ini. Keinginan untuk melahirkan ditemani sang suami pun pupus. Karena sang suami pun kini tengah berjuang melawan maut.
Dan sesaat setelah Bu Dira dan Al sampai, bayi kecil itu lahir ke dunia. Seorang bayi perempuan nan cantik dengan tangisan yang begitu keras.
"Bayimu cantik Nyah, kayak kamu!" Ucap Arum setelah Nurul selesai melahirkan.
"Alhamdulillah. Boleh aku peluk?" Jawab Nurul lirih. Badannya mulai lemas.
"Sebentar, baru di bersihkan oleh perawat!" Jawab Arum dengan tangan yang masih sibuk menyelesaikan tugasnya.
Tak berselang lama, seorang perawat membawa bayi kecil itu ke pelukan ibunya. Nurul menatap dan mencium wajah putri kecilnya yang berada di sampingnya.
"Anak kita sudah lahir Mas! Dia perempuan seperti yang kamu dan Al inginkan. Kamu harus bertahan Mas, demi putri kecilmu!" Air mata Nurul mengalir begitu saja.
Arum lalu meminta Nurul untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ketika ia selesai melakukan tugasnya. Nurul pun menurutinya. Nurul menyusui putri kecilnya itu untuk pertama kali.
Bu Dira dan yang lain di izinkan masuk ketika Arum telah selesai melakukan tugasnya. Arum meminta Burhan untuk mengadzani putri kecil sahabatnya itu. Burhan pun dengan senang hati melakukannya setelah Nurul selesai menyusui.
Arum masih setia menemani Nurul yang kembali memeluk putri kecilnya. Tak bertahan lama, Nurul tiba-tiba merasa pusing. Wajahnya semakin pucat.
"Dokter, bisa tolong gendong sebentar bayinya! Kenapa saya sangat pusing?" Ucap Nurul lemah.
Arum segera mengambil bayi itu dari Nurul dan memberikannya pada perawat. Perawat itu membawa bayi kecil itu ke ruang bayi. Ia kembali memeriksa Nurul. Nurul tiba-tiba tidak sadarkan diri saat masih diperiksa. Arum segera mengecek kondisi Nurul keseluruhan. Bu Dira dan yang lain diminta untuk keluar lebih dulu, sementara Arum melakukan tugasnya.
Nurul ternyata mengalami pendarahan pasca melahirkan. Ia bahkan harus ditranfusi darah untuk memulihkan kondisinya.
Sedang diruangan lain, Rahman juga masih berjuang untuk hidupnya. Operasinya berlangsung cukup lama. Bahkan ketika Ali dan Fatimah tiba di rumah sakit, Rahman masih belum selesai di operasi.
Bu Dira terkulai lemas di lantai rumah sakit. Ia mencemaskan kondisi anak dan menantunya. Tangisnya belum mereda. Wajahnya mulai sedikit bengkak. Begitupun Fatimah. Rika dan Nana berusaha menenangkan dua wanita itu. Al masih sedih ketika ditemani Riko dan Rindi.
Sementara Ali menginterogasi Burhan tentang apa yang terjadi. Burhan pun menceritakan semua yang ia ketahui.
"Dasar Akbar br*ngsek! Bisa-bisanya dia melakukan itu?" Amarah Ali memuncak ketika Burhan selesai bercerita.
"Sabar Li! Kita akan buat perhitungan sama dia nanti! Akbar sudah diurusi oleh Shodiq dan Pak Jefry sekarang. Yang penting sekarang, kondisi Rahman dan Nurul."
"Iya Mas." Ali berusaha meredam emosinya.
Setelah empat jam lebih, dokter yang menangani Rahman mengatakan bahwa operasinya berhasil. Tapi Rahman masih belum sadarkan diri. Posisi peluru yang nyaris mengenai jantungnya, dan pendarahan yang cukup banyak akibat luka tusuk membuatnya masih dalam kondisi kritis.
"Kita sudah berusaha. Jangan lelah berdo'a! Dan pasrahkan semuanya pada Allah. Allah pasti memberi yang terbaik. Pak Rahman orang yang kuat." Ucap seorang dokter yang baru saja menangani Rahman.
Rahman akhirnya dipindahkan ke ruang ICU malam itu. Nurul pun telah dipindahkan ke ruang perawatan meski belum sadarkan diri hingga malam.
Rika dan Nana pamit pulang setelah Rahman selesai di operasi. Mereka pulang bersama Shodiq dan Burhan. Fatimah pun akhirnya pulang bersama Al, Riko dan Rindi. Sedang Bu Dira dan Ali memilih menginap di rumah sakit untuk menjaga Nurul dan Rahman.
Sepasang suami istri itu kini tengah berjuang untuk bertahan hidup. Berjuang melawan maut yang ada di depan mata. Mereka berjuang dengan kondisi masing-masing. Di ruangan masing-masing. Tak ada saling menguatkan. Tak ada saling mendo'akan.
__ADS_1
Tapi ada seorang malaikat kecil yang tengah menanti mereka. Seorang putri kecil yang baru saja melihat dunia. Ia kini sendirian menanti kedua orangtuanya.