
Ting. Pintu lift terbuka. Lift telah sampai di lantai teratas gedung. Ada seorang wanita di dalam lift dan di depan pintu lift. Mereka saling berpandangan.
"Nyonyah?" Sapa wanita yang berada di depan lift, yang tak lain adalah Arum.
"Dokter Arum." Jawab Nurul dari dalam lift. Ia langsung keluar dan menghambur memeluk Arum. Arum tampak kebingungan.
"Kamu kenapa Nyah? Kamu nangis?" Arum mendengar isakan tepat di bahunya.
Nurul hanya diam. Ia semakin erat memeluk Arum. Seolah meminta kekuatan padanya.
"Kita ke ruanganku saja, jangan di sini!" Arum segera menuntun Nurul ke ruangan pribadinya. Ruangan wakil direktur, yang memang ada di lantai teratas salah satu gedung rumah sakit itu.
Arum lalu mengajak Nurul untuk duduk di sofa dan memberinya air putih. Nurul menerima lalu meminumnya sedikit.
"Terima kasih Dokter." Ucap Nurul.
"Iya. Tapi maaf, aku harus pergi! Ada pasien yang menunggu. Kamu istirahatlah dulu di sini, nanti aku kembali. Gunakanlah ruangan ini seperlumu, tak akan ada yang kesini selain aku!" Ucap Arum sambil mengusap punggung Nurul.
"Iya dokter, maaf merepotkan!"
"Tidak sama sekali Nyaaah!" Arum segera beranjak dari sofa dan keluar ruangan.
Hanya tinggal Nurul sendiri di ruangan itu. Ia kembali menangis ketika ingat ucapan Rahman tadi. "Mas Rahman akan menceraikanku? Ya Allah, ujian apa ini ya Allah?" ratap Nurul seorang diri.
Nurul meringkuk di sofa sembari terus menangis. Ia sungguh tak siap jika harus berpisah dengan suaminya. Hingga beberapa saat, tangisnya mulai mereda. Wajahnya sudah sangat bengkak. Ia mencoba menenangkan diri dengan meminum air yang tadi diberikan Arum. Sesekali isakan itu masih ada.
Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu mengejutkan Nurul. Ia segera berdiri untuk membukakan pintu.
"Kenapa harus mengetuk pin,," Nurul menghentikan kalimatnya saat pintu terbuka.
"Mas Rahman?" Nurul terkejut saat membuka pintu. Bukan Arum di sana, tapi Rahman. Nurul segera menghapus sisa air matanya dan berusaha menutupi kesedihannya.
"Maaf Mas, Nurul tadi konsultasi ke Dokter Arum. Mas kenapa di sini?" Bohong Nurul.
"Kenapa konsultasi di sini nggak di ruang prakteknya?" Rahman menyanggah ucapan Nurul.
"Emh, tadi, tadi Dokter Arum yang mengajak Nurul kesini."
"Mas kenapa kesini? Dan sama siapa kesini?"
"Tadi sama Shodiq dan Burhan. Nyari kamu!"
Nurul terkejut mendengar ucapan Rahman. "Mungkin Mas Rahman ingin mengutarakan niatnya bercerai denganku." Gumam Nurul dalan hati.
"Mari Mas, Nurul antar kembali ke kamar!" Nurul segera keluar dari ruangan Arum, tak lupa menutup pintunya. Ia lantas mendorong Rahman kembali ke kamarnya.
Saat sampai di kamar, Shodiq dan Burhan sudah berada di sana. Bekal camilan yang Nurul bawa pun sudah disantap sebagian oleh dua orang itu.
"Kamu pinter banget Rul sembunyi?" Sapa Burhan ketika Nurul membantu Rahman kembali ke tempat tidurnya.
"Siapa yang sembunyi Mas?" Jawab Nurul asal. Karena dia kebingungan menjawab pertanyaan Burhan.
"Ini buatanmu ya Rul kuenya? Enak Rul. Kamu pinter masak ya?" Imbuh Shodiq.
"Enggak juga Mas. Pasti lebih pinter Mbak Rika." Jawab Nurul sambil merapikan kursi roda.
"Rika nggak bisa bikin kue gini Rul."
Nurul hanya diam tak menanggapi. "Maaf Mas Rahman, Nurul pulang dulu!"
"Eh, no Rul! Kamu di sini dulu! Kami mau balik ke kantor, kamu temenin Rahman dulu! Oke?" Shodiq segera beranjak dari kursi. Ia menyenggol keras kaki Burhan. Burhan masih asik mengunyah kue yang dibawa Nurul.
"Ngapain sih kakimu?" Burhan tak faham ia sedang diberikan kode oleh Shodiq. Rahman yang melihat itu, menepuk jidatnya sendiri.
"Sialan ini anak! Pake nggak peka segala dikasih kode." Umpat Shodiq kesal. Shodiq segera menarik tangan Burhan lalu keluar ruangan.
"Balik kantor dulu Man! Cepet pulih kamu, jangan manja!" Teriak Shodiq sembari menutup pintu.
Saat Burhan dan Shodiq sudah keluar, Nurul mulai panik. Ia terlalu takut jika nanti ia tak dapat mengontrol perasaannya ketika Rahman mengungkapkan niatnya untuk bercerai. Dan akan mempengaruhi kondisi Rahman.
"Dek,," Rahman memanggil Nurul yang termenung berdiri di samping tempat tidurnya.
"Eh, iya Mas!" Nurul sangat terkejut hingga berjingkat lalu menoleh pada Rahman.
__ADS_1
"Maaf mengejutkanmu!"
"Tidak Mas. Em, Mas Rahman butuh sesuatu?"
"Kamu bawa bekal apa?"
Nurul berjalan menuju meja dan mengambil bekal yang ia bawa. "Ini cheese cake, brownis sama bubur sumsum. Mas mau?"
"Aku mau buburnya saja!"
"Sebentar Nurul siapkan!" Nurul lalu menyiapkan bubur sumsum yang ia bawa.
"Tolong suapi ya!" Pinta Rahman lembut.
Deg. Jantung Nurul berdegup kencang, darahnya berdesir. Ia terdiam. "Jangan seperti ini Mas! Aku akan sangat kesulitan melepasmu jika sikapmu seperti ini!"
"Dek,," Suara Rahman kembali mengejutkan Nurul.
"Oh, iya Mas!"
Nurul pun menuruti permintaan Rahman. Ia duduk di tepi tempat tidur Rahman dan menyuapi Rahman dengan telaten.
"Kamu sudah beri nama putri kita Dek?" Tanya Rahman disela makannya. Nurul hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu ingin kasih nama siapa?" tanya Rahman lagi.
"Terserah Mas saja!"
"Bagaimana kalau Hilya Khairunnisa?"
"Iya Mas. Nama yang cantik."
"Bisa tolong ambilkan minum Dek?" Nurul mengangguk.
Nurul segera beranjak dari duduknya lalu meletakkan kotak bekal ditangannya dan memberikan minum untuk Rahman. Setelah selesai, Nurul ingin kembali menyuapi Rahman, tapi tangannya ditahan oleh Rahman.
"Apa sudah kenyang Mas?" Rahman mengangguk.
"Aaww,," Rahman sedikit merintih karena bekas lukanya tertubruk tubuh Nurul.
"Mas nggak papa?" Nurul berusaha melepaskan pelukan Rahman, tapi tak berhasil. Ia takut menyakiti Rahman lagi.
"Aku nggak papa sayang! Aku hanya rindu padamu. Rindu memelukmu, rindu sikap manjamu, rindu pelukanmu, rindu perhatianmu, rindu ciumanmu. Aku rindu semua tentangmu." Nurul membeku mendengar ucapan Rahman.
"Maass,,"
"Iya sayang,,"
"Aku juga merindukanmu,," Nurul akhirnya membalas pelukan Rahman. Air matanya mengalir begitu saja.
"Aaww,, jangan terlalu kuat sayang!" Rahman kembali merintih karena pelukan Nurul.
"Maaf Mas,," Nurul mengendorkan pelukannya.
Lama mereka saling berpelukan. Melepaskan rasa rindu yang tertahan beberapa hari. Rasa yang menyiksa hati karena kesalah fahaman.
"Kamu kenapa diam beberapa hari ini?" Tanya Rahman setelah mereka selesai berpelukan. "Apa kau kecewa padaku?"
"Tidak Mas. Aku tidak kecewa padamu."
"Maaf, aku tidak bisa melindungi dan menjagamu waktu itu!" Ucap Rahman sambil menggenggam tangan Nurul.
"Kamu menjagaku dengan sangat baik Mas! Kamu rela dipukuli bahkan sampai menderita seperti ini demi melindungiku dan putri kita."
"Maaf juga, aku tak bisa memenuhi permintaanmu waktu itu! Aku tak bisa menemanimu saat kau melahirkan putri kita. Aku tak ada di sampingmu."
"Kita sama-sama berjuang Mas waktu itu. Demi putri kita." Nurul mengusap wajah Rahman yang masih ada beberapa bekas luka lebam.
"Lalu kenapa kamu diam padaku? Dan bahkan, kamu tidak mau menemuiku saat aku sadar kemarin?"
"Nurul, Nurul, Nurul hanya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya dan menghadapinya. Aku yang membuatmu jadi seperti ini. Terluka sangat parah. Maafkan aku Mas,, maaf." Nurul tertunduk sedih.
"Berhenti mengatakan itu! Kita sama-sama tahu, siapa yang melakukannya."
__ADS_1
"Tapi itu terjadi karena Nurul Mas."
"Bukan! Ini ujian untuk kita! Kau tak memilki kesalahan apapun sayang!" Rahman menarik dagu Nurul lalu mengusap pipinya lembut.
"Maaf Mas, aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu!"
"Kamu lupa apa yang pernah ku katakan padamu? Kamu adalah istri terbaikku." Rahman sedikit memajukan tubuhnya dan mencium kening Nurul.
"Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku sempat berniat untuk menceraikanmu, hingga kau bersedih. Maafkan aku istriku sayang!" Rahman memegangi kedua pipi Nurul.
"Tak apa Mas, aku memang bukan istri yang baik." Rahman langsung meyambar bibir istrinya. Ia harus sedikit menahan rasa sakitnya. Nurul hanya diam tak membalas. Ia terkejut.
"Berhenti mengatakan itu, aku tak suka! Kamu adalah istri terbaikku! Ingat itu!" Ucap Rahman penuh penekanan setelah ia melepas ciumannya.
Nurul tersenyum mendengar ucapan Rahman. Nurul pun mengangguk. Rahman kembali memagut bibir istrinya itu. Dia sungguh merindukan semua tentang istrinya itu. Nurul pun akhirnya membalas ciuman Rahman. Ia perlahan membenarkan posisinya agar Rahman lebih nyaman dan tak kesakitan.
Cukup lama mereka berciuman. Saling mengecap dan bermain lidah. Saling menikmati permainan satu sama lain. Nurul akhirnya melepaskan ciumannya perlahan dan mengecup bibir Rahman sekali lalu tersenyum. Rahman mengusap bibir Nurul yang merah karena ulahnya dan tersenyum hangat pada Nurul.
"Apa kau mencintaiku sayang?" Tanya Rahman sambil menatap lembut mata Nurul.
"Kenapa Mas bertanya seperti itu?"
"Kau tak pernah mengatakannya sayang."
Nurul terkejut mendengar ucapan Rahman. Ia berfikir sejenak. Memang, selama ini ia tak pernah mengatakannya pada Rahman. Nurul tersenyum hangat. Nurul memangkupkan tangannya ke pipi Rahman.
"I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you, I love you so much my beloved husband. Aku mencintaimu Mas Rahman Abdullah." Nurul kembali mengecup bibir Rahman.
Rahman tersenyum bahagia mendengar ucapan Nurul. "I love you too my dear," jawab Rahman penuh kehangatan. Mereka kembali berpelukan mesra. Menikmati momen yang indah itu.
"Kenapa kau tak pernah mengatakannya sayang?" tanya Rahman yang masih memeluk tubuh Nurul.
Nurul tiba-tiba melepaskan pelukannya lalu menundukkan wajahnya. "Maaf Mas, aku terlalu takut."
"Takut kenapa?"
"Aku terlalu takut, jika setelah aku mengatakannya, kenyataan pahit yang akan datang. Aku terlalu takut jika perasaan ini hanya aku yang merasakannya, dan pada akhirnya aku harus berjuang sendiri menjalaninya."
"Aku di sini sayang! Aku akan selalu mencintaimu sayang. Kamu tak akan sendiri! Tersenyumlah!" Rahman menggenggam erat tangan Nurul.
Nurul mengangkat wajahnya. Ia tersenyum dengan linangan air mata haru di wajahnya. "Terima kasih Mas."
Rahman menganggukkan kepalanya. Ibu jari tangannya sibuk menghapus air mata yang ada di wajah Nurul.
"Astaghfirullah Mas, Hilya!" Ucap Nurul tiba-tiba.
"Hilya kenapa Sayang?" Rahman mulai panik.
"Dia di rumah sama Fatimah. Kasihan Fatimah Mas ngurusin anak-anak sendirian."
"Udah biarin aja sayang, Hilya sama Fatimah sebentar. Aku masih kangen sama kamu." Rahman merengek mesra.
"Maass,,"
"Iya sayang,,"
"Aku pulang dulu ya! Ibu baru nggak enak badan, kasihan Fatimah kalau Hilya rewel."
"Aaahh sayang,,"
"Mas kenapa jadi manja gitu?"
"Ya kan aku juga mau dimanja sama kamu,,"
Nurul kebingungan melihat sikap Rahman. Ia mengerutkan dahinya dalam sambil menatap Rahman aneh.
"Makanya, Mas harus cepet pulih! Nanti Mas bisa puas manja di rumah, ya?"
"Iya sayang, pasti! Aku kangen banget tidur di kamar kita."
"Iya Mas." Nurul kembali mengecup bibir Rahman. Rahman pun tersenyum.
Rahman akhirnya mengalah pada Nurul dan membiarkan Nurul pulang. Rahman kembali di jaga oleh pengawalnya dan Nurul pulang bersama Pak Harto.
__ADS_1