Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Kabar Baik


__ADS_3

Pagi yang mendung. Awan hitam menggantung sempurna di langit. Seakan-akan siap menumpahkan seluruh isinya kapanpun ia mau.


Di salah satu ruangan VVIP Rumah Sakit Restu Bunda, Rahman dan Nurul tengah menikmati sarapan mereka. Nurul tak menghabiskan makan paginya. Baru saja ia meletakkan sendoknya, perutnya langsung bergejolak. Ia segera berlari ke arah toilet yang langsung disusul oleh Rahman.


Nurul memuntahkan semua makanannya pagi ini. Badannya lemas seperti hari-hari sebelumnya ketika ia setiap pagi harus memuntahkan isi perutnya. Ia terduduk lemas di toilet. Rahman dengan telaten membantunya membersihkan bekas muntahannya. Lalu menuntunnya kembali ke tempat tidur.


"Makan lagi ya?" ucap Rahman.


Nurul menggelengkan kepalanya. "Nurul minum teh hangat saja mas," pinta Nurul.


Rahman segera mengambilkan teh hangat untuk Nurul. Nurul menerima teh hangat yang diberikan Rahman lalu meminumnya. "Maaf mas, sarapan mas Rahman jadi terganggu," kata Nurul setelah meminum sebagian isi gelasnya.


"Tak apa. Kamu mau makan buburku?"


"Tidak mas. Nanti saja Nurul makan lagi. Kalau sekarang makan lagi, pasti keluar lagi nanti."


"Kamu tiap hari kayak gini ya? Maaf, aku nggak pernah tahu kondisimu sampai seperti ini. Pantas saja tubuhmu makin kurus."


"Nggak papa mas, lagian Nurul kira kemarin juga karena asam lambung yang naik."


Tok, tok, tok,, ceklek,, pintu ruangan terbuka. Rahman dan Nurul menoleh ke arah pintu.


"Maaf pak bu', pasien ditunggu dokter Arum diruangannya untuk dilakukan pemeriksaan," ucap seorang perawat.


"Oh, ya suster. Tolong bawakan kursi roda kemari!"


"Baik pak."


"Dan suster, apa ada masker? Kalau ada, boleh saya minta satu untuk saat ini?"


"Iya bu', saya ambilkan," jawab perawat itu yang langsung kembali keluar.


Tak lama perawat itu kembali membawa kursi roda dan masker untuk Nurul. Rahman membantu Nurul untuk duduk di kursi roda lalu mendorongnya mengikuti perawat menuju ruangan Arum.


Ruangan praktek Arum ada di lantai satu. Mereka menyusuri lorong rumah sakit yang masih cukup sepi. Karena memang hari masih pagi.


"Ini dia nyonyahku yang cantik," Arum tersenyum menyambut pasiennya itu. "Gimana, udah sarapan kan?"


"Sudah dokter," jawab Nurul singkat.


"Tapi sudah dikuras lagi perutnya tadi selesai makan," imbuh Rahman.


"Apa kamu tiap hari juga muntah-muntah?" tanya Arum khawatir.


"Iya dokter,"


"Okey, nanti aku kasih permen buat ngurangi mual yaa! Dan sekarang ayo tiduran dulu di sana, kita lihat calon baby kamu,," ucap Arum antusias.


Perawat membantu Nurul untuk tiduran di ranjang tempat periksa. Ia menutupi bagian bawah tubuh Nurul dengan selimut. Arum mempersiapkan peralatannya untuk memeriksa Nurul.


Arum mengoleskan gel ke perut Nurul yang dibuka sedikit bajunya. Ia lalu meletakkan sebuah alat dan memutar-mutarnya di atas perut Nurul. Hingga nampaklah sebuah gambar di monitor. Nurul dan Rahman memperhatikan dengan seksama gambar itu.


"Tuh kan bener, itu janin, bukan mioma uteri. Ini calon bayinya, masih kecil banget," ucap Arum semangat sambil menggerak-gerakkan alat di atas perut Nurul. "Tuh lihat, calon bayinya! Dia kuat, karena kemarin bisa bertahan di rahim kamu. Padahal kemarin kamu pendarahan cukup banyak," puji Arum.

__ADS_1


Air mata Nurul telah lolos dari kelopak matanya. "Aku benar-benar hamil anaknya mas Rahman?" Nurul menoleh ke arah Rahman. Ia melihat suaminya itu sangat bahagia melihat gambar janinnya yang masih sangat kecil.


"Kenapa dia kecil sekali Rum?" tanya Rahman.


"Woi pak CEO, apa iya janin itu langsung sebesar kamu gitu? Semua itu butuh waktu dan proses. Ini aja masih empat minggu. Nanti kalau udah empat bulan, baru mulai kelihatan itu bentuk bayinya. Perut Nurul juga mulai membesar nanti," ketus Arum yang disambut lirikan mata bingung oleh perawat.


Arum menyelesaikan pemeriksaannya. Nurul pun dibantu perawat untuk bangun dan turun dari ranjang periksa. "Pokoknya, next time harus lebih hati-hati lagi yaa, jangan sampai kelelahan lagi. Dan kamu Man, kamu udah bilangkan sama nyonyah tentang kondisi kamu?"


"Sudah dokter tadi malam," jawab Nurul.


"Suster, bisa tolong tinggalkan kami dulu!" perintah Arum yang langsung disanggupi oleh dua perawat di ruangan itu.


"Kalian ini udah nikah berapa lama sih? Sampai kamu nggak bilang sama istrimu tentang kondisimu. Untung bayimu kuat, coba kalau enggak, aku bakal kulitin kamu hidup-hidup gara-gara kebodohanmu itu Man!" Arum meluapkan amarahnya pada Rahman.


"Bukan gitu maksudku Rum,," kilah Rahman.


"Terserah maksud kamu gimana! Kamu pikir kondisi Nurul kemarin nggak bahaya juga buat dia? Kalau dia kehilangan banyak darah, nyawanya juga terancam Man. Kamu sayang nggak sih sama istrimu, hah?"


Rahman menatap Nurul dengan sendu. "Yang ngerasain itu tubuhnya Nurul Man. Kalau aja dia tahu kondisimu dari awal, dia pasti bakalan lebih hati-hati, dia bakal mikirin hal ini jauh sebelum kejadian seperti kemarin. Apalagi dia bilang kemarin, dia ngerasa ada yang aneh sama tubuhnya akhir-akhir ini, dia juga pernah punya anak, dia pasti paham bagaimana rasanya awal kehamilan, ya kan Nyah?" Arum menoleh pada Nurul.


Nurul menganggukkan kepalanya. "Tapi Dokter,,"


"Kamu nggak usah belain dia Nyonyahku sayang,, Okey?" nada bicara Arum tetap lembut pada Nurul. "Sekarang, Nyonyah kembali ke kamar saja yaa! Pokonya istirahat total, nggak boleh kecapean lagi yaa! Dijaga baik-baik ya babynya! Aku pun menunggu kelahirannya, okey?" Arum mengusap lengan Nurul.


"Terima kasih dokter," ucap Nurul yang mulai di dorong kembali oleh Rahman.


"Ingat pesanku Man!" ancam Arum.


"Iyaa, makasih yaa," jawab Rahman. Rahman dan Nurul pun keluar dari ruang periksa dan kembali ke ruang perawatannya.


"Sudahlah mas, kita bersyukur saja, kita masih diberi kesempatan untuk merawatnya!" Nurul menggenggam kedua tangan Rahman. "Kedepannya, kita harus lebih hati-hati lagi supaya ini tidak terulang lagi," hibur Nurul.


"Thank you baby," Rahman merengkuh Nurul dalam pelukannya.


Ceklek,, suara pintu kamar terbuka. Bu Dira masuk tanpa permisi. Hatinya lega melihat kedua orang itu tengah berpelukan.


"Waahh Fatimah, kita ganggu ini ternyata," goda bu Dira.


Fatimah langsung menyerobot masuk dan melihat sang kakak masih dengan posisi saling berdekatan. Fatimah cekikikan melihat itu. Diikuti Al dibelakangnya.


"Ibu, Al," Nurul memanggil mereka.


Al langsung menghambur ke pelukan ibunya. "Bundaa! Bunda masih sakit?" tanya Al.


"Enggak sayang, bunda udah nggak sakit. Kamu nggak sekolah?"


"Enggak Bunda, Al khawatir sama Bunda,"


"Kan semalam Bunda udah bilang, Bunda nggak papa sayang,"


"Iya Bunda, maaf. Besok Al pasti sekolah!" jawab Al semangat.


"Nah gitu donk! Itu baru Al nya Bunda," Nurul mengusap kepala putranya yang tengah duduk di tepi brangkar.

__ADS_1


"Gimana nduk, udah diperiksa lagi? Kamu nggak papa kan?" tanya bu Dira.


Nurul menoleh pada Rahman. Rahman yang faham pun langsung mengajak bu Dira untuk duduk di sofa. Ia menggenggam tangan ibunya.


"Maaf bu', Rahman nggak jujur pada ibu. Dan karena kecerobohan Rahman, kemarin Nurul sampai seperti itu," ucap Rahman.


"Nurul kenapa Man?"


"Kemarin Nurul kelelahan hingga pendarahan bu'. Ternyata Nurul sedang hamil anak Rahman,"


"Apa? Nurul hamil? Jadi kamu,,??" Bu Dira menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arah Nurul. Fatimah yang tengah memainkan ponselnya pun mengalihkan perhatiannya ke Rahman.


"Kondisiku sudah jauh lebih baik bu'."


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami?" nada bicara bu Dira mulai meninggi.


"Rahman tidak ingin memberikan harapan yang belum pasti pada ibu," ungkap Rahman perlahan.


"Tapi karena keegoisanmu, nyawa Nurul dalam bahaya Man," bu Dira semakin marah.


"Maaf bu'. Rahman tidak bermaksud seperti itu."


"Lalu, bagaimana kondisi Nurul sekarang? Ah, sudahlah! Ibu akan tanya sendiri pada dokter yang menanganinya. Siapa dokternya? Apa Arum?" bu Dira mulai beranjak dari duduknya. Rahman hanya mengangguk.


Bu Dira lantas pergi meninggalkan Rahman yang diikuti oleh Fatimah. Dengan perasaan yang tidak karuan, ia sedikit berlari menuju ruang praktek Arum. Fatimah berusaha menenangkan ibunya disepanjang koridor. Tapi tidak berhasil.


Setelah bu Dira sampai di ruang praktek Arum, ia menunggu sejenak di depan ruangan. Tak lama seorang pasien keluar bersama perawat.


"Dokter, ada bu Indira ingin bertemu?" ucap seorang perawat.


"Oh iya, persilahkan masuk!" jawab Arum. Perawat itu mengangguk.


"Bu Indira, silahkan masuk!" kata perawat tadi.


Bu Dira dan Fatimah lantas masuk ke ruangan Arum. "Bu Dira, silahkan bu'! Bagaimana kabarnya bu'?"


"Baik Dokter. Langsung saja Dokter, sepertinya pasien Dokter juga masih banyak. Saya ingin menanyakan kondisi anak saya, Nurul," bu Dira langsung mengutarakan maksud hatinya.


"Apa Rahman belum memberi tahu bu Dira?" tanya Arum bingung.


"Saya ingin mendengarnya langsung dari Dokter. Saya agak kecewa padanya,"


"Saya faham maksud bu Dira. Iya, Nurul kini tengah hamil, usia kandungannya empat minggu. Dia kemarin dibawa kesini dalam keadaan pendarahan cukup banyak, tapi Alhamdulillah janinnya masih bisa diselamatkan," jelas Arum.


"Jadi Nurul dan bayinya tidak apa-apa?"


"Iya, sekarang sudah tidak apa-apa," Arum berusaha menenangkan bu Dira. "Tadi pagi saya sudah memarahi Rahman atas kecerobohan dan keegoisannya. Tapi saya juga faham kenapa Rahman melakukan itu."


"Jadi Rahman memang sudah sembuh?"


"Bisa dikatakan seperti itu. Meski belum bisa dikatakan sempurna, tapi sudah banyak kemajuan dalam kondisinya. Kemungkinan memiliki keturunan juga lebih besar."


Mendengar penjelasan Arum, bu Dira dan Fatimah saling pandang. Mereka lega bahwa kondisi semuanya baik-baik saja. Mereka lantas berpamitan pada Arum dan membiarkan Arum kembali bekerja.

__ADS_1


Perasaan bahagia dan kecewa masih bergelut dalam hati bu Dira. Bahagia ternyata do'anya selama ini terkabulkan. Putranya bisa sembuh dan memiliki keturunan dari rahim sang istri. Dan kecewa karena dia tidak jujur kepada keluarganya hingga mengakibatkan nyawa istrinya dalam bahaya.


Bu Dira berusaha menekan rasa kecewanya demi keluarganya. Dia juga faham bagaimana jalan fikiran Rahman seperti apa. Kini dia berharap, semua akan baik-baik saja. Dan lebih banyak hal baik yang akan terjadi pada keluarganya.


__ADS_2