Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Menolak


__ADS_3

"Maaf Bu', saya tidak bisa."


Semua orang menoleh ke arah Nurul. Bahkan Rahman yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya pun ikut menoleh.


"Menolak? Dia menolakku? Apa aku nggak salah dengar? Padahal udah perfect gini, apa yang kurang coba?" Gumam Rahman.


"Ibu' tidak meminta jawabanmu sekarang *N*duk. Fikirkanlah dulu baik-baik." Ucap bu Indira pelan.


"Minumlah dulu *N*duk!" Bu Indira berusaha menenangkan Nurul.


"Tapi, kenapa kamu tadi berkata seperti itu Nduk?"


Nurul yang duduk diantara ibu dan anak itu masih merasa gugup. Rahman diam-diam melihat kegugupan Nurul.


"Kenapa Ibu' memilih saya?" Tanya Nurul setelah meminum teh yang sudah dihidangkan.


"Entahlah *N*duk. Sejak pertama kali kita bertemu di tempat kerjamu waktu itu, aku langsung tertarik denganmu. Dan entah apa yang membuatku yakin, kamu adalah perempuan baik dan pantas untuk menjadi istri Rahman." Bu Indira mengusap pundak kanan Nurul.


"Tapi Bu', apa yang baik dari saya? Bahkan Bu Dira pasti sudah membaca biodata lengkap saya bukan?"


"Sudah."


"Apa yang baik dari seorang janda Bu'? Saya pernah gagal menjalin rumah tangga. Bahkan saya lah yang meminta untuk diceraikan oleh mantan suami saya, padahal dia sudah berubah menjadi lebih baik." Nurul tertunduk diam.


" Saya tidak lah cantik Bu', tidak seperti yang terlihat dari luar. Saya tidak memiliki banyak bekal dunia maupun akhirat. Saya tidak tahu banyak ilmu agama dan ilmu dunia. Saya tidak pandai mengaji. Saya tidak pandai dalam mengurusi rumah tangga. Saya bahkan hanya lulusan SMA, tidaklah sebanding dengan mas Rahman yang lulusan S2. Dan maaf Bu', keluarga saya dan keluarga Bu Dira, sangatlah jauh berbeda. Keluarga saya hanya keluarga biasa, sangat berbeda dengan keluarga Bu Dira yang merupakan pengusaha sukses."


"Maaf Bu', Mas Rahman pantas mendapatkan perempuan terbaik yang sebanding dengannya dan pantas mendampinginya. Dan itu bukan saya Bu Dira." Jawab Nurul.


Bu Indira menatap manik mata Nurul dengan seksama. Mencari sebuah kebohongan dan penyesalan di matanya, tapi tidak ia temukan.


"Aku memang nggak salah *N*duk milih kamu." Ucap Bu Indira yang langsung memeluk Nurul dengan erat.


"Iya Bu', Mbak Nurul pantas jadi istrinya Mas Rahman." Mata Nurul membola sempurna dipelukan Bu Indira ketika mendengar ucapan Fatimah dan Bu Indira.


"Kenapa kalian bicara seperti itu?" Tanya Nurul ketika Bu Indira telah melepaskan pelukannya.


"Kamu memang hebat calon istriku." Sudut bibir Rahman sedikit terangkat mendengar ucapan Nurul.


"Iya Mbak, kamu itu beda Mbak sama perempuan-perempuan yang pernah deketin Mas Rahman. Bahkan mantan istri Mas Rahman pun beda jauh sama Mbak Nurul." Kata Ali menjawab pertanyaan Nurul.


"Semua perempuan yang deketin Mas Rahman, akan selalu bilang apa kelebihan mereka. Membanggakan dirinya dan keluarganya. Mereka melupakan kekurangannya, menutupinya hingga begitu rapat. Hingga Mas Rahman sendiri yang harus cari tahu sendiri untuk itu. Tapi Mbak Nurul, malah tanpa ragu mengungkapkan kekurangan Mbak Nurul sendiri. Mbak Nurul bener-bener hebat."


"Allahu Akbar, kenapa malah jadi gini?" Nurul mendadak lemas mendengar ucapan Ali.


"Aku tidak memandang hartamu *Nduk. Aku tidak memandang pendidikanmu, fisikmu atau apapun yang kamu sebutkan tadi. Yang aku lihat, hatimu baik Nduk*. Itu sudah cukup." Jawab Bu Indira menambahi Ali sambil menggenggam kedua tangan Nurul.


"Lagian ya Mbak, ilmu masih bisa dicari. Nanti setelah menikah, bisa kok minta diajarin sama Mas Rahman. Mas Rahman kan pinter banyak hal. Ngaji juga pinter. Ya nggak mas, jadi ladang pahala kan Mas??" Timpal Fatimah yang juga ingin menggoda Rahman yang dari tadi sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"*I*ya dek," jawab Rahman dalam hati.


Fatimah hanya ditanggapi dengan anggukan kepala, tanpa mengalihkan tatapannya dari benda pipih di hadapannya.


"Ih as Rahman kok cuek banget sih, kasihan Mbak Nurul nya mas." Sungut Fatimah.


"Pernikahan ini kan Mas Rahman yang akan menjalani, apakah Mas Rahman juga menerimanya Bu'?" Tanya Nurul lagi.


"Rahman nggak bisa nolak *N*duk, mau nggak mau, dia harus menerimanya. Sudah jadi konsekuensi dari janjinya yang diucapkan ke Ibu'." Bu Indira sedikit melirik Rahman.


"Ibu' sudah nunggu 5 tahun, katanya dia mau cari sendiri calon istrinya, bahkan Ibu' kasih dia kompensasi 2 bulan. Tapi tetep nggak ada yang dia kenalin ke Ibu'. Sebagai konsekuensinya, dia harus menerima pilihan Ibu'. Dan TIDAK BOLEH MENOLAK." Bu Indira menekankan kalimat terakhinya.


"Tapi kan Mas Rahman yang,,,," Belum selesai Nurul mengucapkan kalimatnya, Bu Indira menghentikannya.


"Man!" Panggil Bu Indira pada sang putra.


"Kamu mau kan nikah sama Nurul? Kalau kamu menolak, berarti kamu ingkar janji dan jadi anak durhaka sama ilIbu'."


"Eh,," Nurul terkejut atas ucapan Bu Indira. Dia tidak tahu harus mengatakan apa atau berbuat apa untuk menenangkan Bu Indira.


Rahman yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.


"Iya Bu', Rahman terima." Jawab Rahman singkat dengan wajah datarnya. Dan berhasil membuat Nurul merasa bersalah pada Rahman.


"Kamu fikirkanlah dulu Nduk. Ibu' kasih waktu kamu satu,,,"


"Eh,, satu bulan terlalu lama *N*duk."


"Enggak lah Bu' kalau terlalu lama." Sanggah Nurul.


"NO. Just a week. Satu minggu. Ibu akan meminta jawabanmu satu minggu lagi."


"Tapi Bu', itu terlalu cepat. Satu bulan Bu', tolong beri waktu Nurul satu bulan untuk ber-istikharoh!" Rengek Nurul.


"No Sayangku. Kalau memang kamu nanti menerima pinangan ini, dalam waktu satu bulan, kamu sudah resmi jadi istrinya Rahman."


"Allahu Akbar" Nurul sangat terkejut mendengar ucapan lawan bicaranya itu.


"Iya *N*duk. Jadi rencana Ibu' begini, Ibu' akan beri kamu waktu satu minggu untuk berfikir. Jika kamu menerimanya, satu minggu kemudian Ibu' sekeluarga akan melamarmu ke Jogja. Dan dua minggu kemudian, kalian akan menikah di Jogja. Setelah itu kamu akan langsung pindah ke sini."


"Astaghfirullahal'adzim." Nurul mengusap pelan wajahnya dan membuang nafasnya perlahan.


"Hhahaha, wajahnya Mbak Nurul lucu." Tiba-tiba tawa Fatimah mengalihkan perhatian semua orang. Nurul akhirnya tertawa kecil karena ditertawai Fatimah. Keterkejutannya mulai mereda. Semua pun tertawa. ( kalian jangan ketawa sendiri ya readers,,ajak-ajak yang lain kalau ketawa 😁😁🤭🤭 )


Suasana pun sedikit mencair, diselingi kegaduhan ketiga anak kecil yang berlarian di dalam rumah.


"Al, jangan lari-lari di dalam rumah!" Ucap Nurul sedikit berteriak.

__ADS_1


Yang namanya dipanggil pun lantas menghentikan kakinya, dan memilih berganti permainan.


"Mereka bisa langsung akrab." Kata hati Nurul sambil memandangi putranya.


"Al, siapa Mbak?" Tanya Fatimah.


"Fatih. Aku biasa manggil dia Al dari dulu. Dia kalau kenalan sama orang baru pasti namanya Fatih. Tapi kalau keluarga atau yang udah deket sama dia, dia lebih suka dipanggil Al."


"Namanya siapa sih Mbak? Bentar-bentar Mbak,,," Fatimah mengambil kertas biodata yang terdapat diatas meja.


"Maulana Al Fatih" Jawab Nurul singkat.


"Pantesan!! Dari tadi Mbak Nurul kayaknya nggak pernah panggil nama Fatih." Fatimah mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mbak, apa selama ini belum ada yang melamar mbak Nurul gitu, atau sekedar PDKT buat jadiin mbak Nurul istrinya?" Tanya Fatimah iseng.


Semua mata tertuju pada Nurul dan menanti jawabannya. Rahman pun tak ketinggalan.


"Ada. Tapi tak ada yang berhasil menaklukkan Al." Jawab Nurul jujur.


"Karena bagiku, dia segalanya bagiku. Kalau dia tidak bahagia, aku pun tak akan bahagia." Setelah mendengar perkataan Nurul, Bu Indira, Fatimah dan Ali lantas menoleh pada Rahman.


"Aku tahu kelemahanmu." Rahman yang merasa diberi kode pun lantas faham dari tatapan ketiga orang itu.


"Nurul, boleh saya bicara berdua dengan Fatih?" Izin Rahman.


"Oh, iya Mas. Silahkan!" jawab Nurul sambil tersenyum.


Rahman pun lantas berdiri dan menghampiri Al yang sedang asyik bermain lego bersama Riko dan Rindi di gazebo kecil belakang rumah.


"Kenapa aku bongkar kartu AS-ku. Hadduuhhh!! Eh, bukannya tadi Pak Harto bilang mas Rahman mau nikah ya. Astaghfirullah, kenapa aku baru sadar ya?"


"Nduk, ada yang mau Ibu' sampaikan ke kamu tentang Rahman. Tapi tidak tercantum di biodata tadi." nu Indira terdiam sejenak.


"Tak ada yang sempurna di dunia ini *Nduk, begitu pun Rahman. Rahman punya penyakit Nduk*. Dia dulu pernah menjalani perawatan supaya sembuh dari sakitnya, tapi karena sesuatu, dia akhirnya berhenti. Dan dia tidak pernah lagi mau memeriksakan kondisinya, apakah sudah membaik atau bahkan sudah sembuh atau belum."


"Mas Rahman sakit apa Bu'?"


"Azoospermia. Dia sulit dan bahkan mungkin tidak bisa memiliki keturunan *N*duk karena penyakitnya ini." Jawab Bu Indira sedih. Matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat penyakit yang diderita putranya.


"Setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan tak ada yang tak mungkin Bu', jika Allah sudah berkehendak." Ucap Nurul berusaha menguatkan bu Indira.


"Nurul juga punya kekurangan yang belum Nurul ceritakan. Meskipun sudah cukup lama tidak kambuh, tapi Nurul sendiri tidak tahu, apakah sudah sembuh atau belum. Karena Nurul sendiri tidak pernah memeriksakan kondisi Nurul."


"Kamu kenapa *N*duk? Apa parah?" Bu Indira mulai panik.


"Nurul kesulitan mengendalikan emosi dan bisa melukai orang lain dan diri sendiri." Jawab Nurul jujur.

__ADS_1


__ADS_2