
Sisi baik. Setiap orang pasti punya sisi baiknya amsing-masing. Seburuk apapun sifat dan sikapnya terhadap orang lain, pasti mereka memiliki sisi baik dalam diri mereka. Meskipun hanya sebesar debu.
Keesokan harinya setelah penyerangan Rahman, Burhan dan Shodiq sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Shodiq fokus pada perusahaan Rahman. Sedang Burhan harus mengurusi kasus penyerangan itu.
Burhan akhirnya memilih memberikan bukti yang ia dan Rahman miliki tentang kasus video Rahman beberapa bulan lalu. Bukti bahwa Akbar yang telah menjebak Rahman malam itu.
Pagi ini Burhan memenuhi panggilan dari kepolisian. Ia menemui Jefry dan memberikan buktinya. Jefry terkejut selama ini mereka menyimpan bukti itu. Burhan pun mengatakan alasan Rahman menyimpan bukti itu.
Setelah ia selesai dengan Jefry, ia menemui Akbar sejenak. Akbar di antar petugas dengan langkah pincang karena kakinya ditembak Burhan kemarin. Mereka mengobrol di sebuah ruangan dengan ditemani dua orang petugas.
Bug. Burhan langsung memukul wajah Akbar sekuat tenaga ketika mereka saling berhadapan. Dua petugas langsung memegangi Burhan dan Akbar masing-masing.
"Br*engsek kau Bar! Bisa-bisanya kau melakukan itu pada Rahman dan Nurul!" Burhan mengumpat keras pada Akbar.
Akbar menyeringai menahan sakit di wajahnya yang dipukul Burhan. Burhan dan Akbar masih dipegangi oleh para petugas.
"Mohon tenang Pak!" Ucap petugas yang memegangi Burhan. Burhan mengangguk paham. Burhan dan Akbar akhirnya duduk di kursi saling berhadapan yang terhalang meja.
"Apa dia sudah mati sekarang?" Tanya Akbar tanpa rasa bersalah.
"Siapa? Nurul?" Ucap Burhan dengan nada mengejek. "Dia harus meregang nyawa karena ulahmu. Kau puas?" Nada bicara Burhan mulai meninggi.
"Apa katamu? Almira? Aku tak menyakitinya. Baj*ngan itu yang kutembak." Jawab Akbar sedikit panik.
"Iya, kau berhasil menembak dan menusuk Rahman. Kau berhasil membuatnya meregang nyawa. Tapi Allah masih memberinya kesempatan untuk membalasmu. Dan karena kondisi Rahman, Nurul pun harus meregang nyawa kemarin." Ucap Burhan asal. Ia bahkan tidak tahu, apakah Rahman bisa selamat atau tidak.
"Apa? Dia masih selamat? Kau pasti berbohong!"
"Untuk apa aku berbohong padamu? Tak ada untungnya bagiku."
"Almira? Bagaimana Almira?" Akbar mulai cemas kembali.
"Untuk apa kau menanyakan kondisinya? Bukankah kau yang telah membuatnya meregang nyawa? Harusnya kau senang berhasil melakukan itu juga."
"Cepat katakan! Bagaimana kondisi Almira?" Akbar tiba-tiba berdiri dan menarik kerah kemeja Burhan. Para petugas kembali menenangkan mereka.
"Oh Nurul Almira, apakah seperti ini pemuja rahasiamu? Dia benar-benar munafik." Ejek Burhan.
"Aku tak menyakitinya. Bagaimana kondisinya sekarang? Katakan padaku? Kenapa dia sampai meregang nyawa?" Akbar semakin panik. Ia benar-benar mencemaskan keadaan Nurul.
"Karena ulahmu kemarin, bayinya kontraksi lebih cepat. Ketubannya pecah lebih dulu, dia harus berpacu dengan waktu ketika melahirkan anaknya. Dan itu membuatnya mengalami pendarahan pasca melahirkan. Dia bahkan belum sadar sampai sekarang. Kau puas bukan sudah menyakiti orang yang kau cintai?" Burhan berusaha mencari sisi baik Akbar.
"Bohong! Kau bohong Han! Almira-ku baik-baik saja." Akbat berusaha menyanggah Burhan.
"Kalau kau tak percaya, kau bisa tanyakan ke rumah sakit bagaimana kondisi Nurul sekarang."
"Almira, maafkan aku sayang! Aku tak bermaksud menyakitimu! Aku mencintaimu." Ratap Akbar sembari menunduk.
"Cinta kau bilang? Itu bukan cinta, itu obsesimu Akbar Mahendra."
"Kenapa semua berkata seperti itu? Ini cinta, bukan obsesi?"
__ADS_1
"Jika kau mencintainya, kau akan membiarkannya hidup bahagia dengan pilihannya. Dia hidup bahagia dengan Rahman. Bahkan mereka kini sudah saling mencintai. Apa kau tidak sadar?" Ucap Burhan semangat membela sahabatnya.
"Tidak, tidak mungkin! Dia hanya boleh mencintaiku, bukan orang lain!"
"Itulah perbedaanmu dengan Rahman. Rahman rela mengorbankan dirinya untuk kau lukai demi Nurul, sementara kau? Malah memberinya luka yang begitu besar demi ke egoisanmu. Demi obsesimu memilikinya."
"Tidak, itu tidak benar!" Keyakinan Akbar mulai goyah.
"Dan lagi, Rahman sudah berkorban untukmu beberapa bulan terakhir ini. Apa kau tidak menyadarinya?"
"Apa, apa yang dia korbankan? Dia bahkan masih tetap mempertahankan Almira-ku untuknya."
"Apakah pengorbanan itu harus memberikan istri yang dicintainya pada orang lain? Apa kau tahu kondisi Nurul seperti apa?"
"Almira kenapa? Dia sakit apa?"
"Sudah kuduga. Tak ada yang tahu tentang kondisi Nurul, termasuk KAU!" Burhan meremehkan Akbar.
"Katakan padaku! Apa yang terjadi?"
"Karena video yang kau buat untuk menjebak Rahman, Nurul harus dirawat di rumah sakit beberapa hari. Dia syok mengetahui bahwa KAU yang menjebak Rahman."
"Aku tak melakukan apapun pada Rahman. Dan video apa maksudmu?"
"Tak usah berlagak bodoh kau! Rahman bahkan sudah tahu, bahwa kau yang menjebaknya malam itu. Dia juga tahu, kau bekerja sama dengan Dinda untuk menjebaknya. Dan kau bahkan bercumbu dengan Dinda malam itu. Dia bahkan punya bukti kuat untuk kasus itu."
"Aku tak melakukannya!"
Akbar terdiam. Dia terkejut, Rahman bisa mengetahui semuanya.
"Rahman memilih diam, agar kondisi Nurul tak memburuk. Rahman diam untuk menjaga nama baikmu dan keluargamu. Rahman diam agar hubungan keluargamu dan keluargnya tak hancur. Apa itu kurang untukmu?"
"Tak mungkin. Kau bohong!" Akbar berusaha menyanggah ucapan Burhan.
"Rahman masih menganggapmu teman baiknya. Kalian sudah saling kenal sejak kecil, keluarga kalian juga bersahabat baik. Hanya karena wanita, kau tega memperlakukannya seperti itu? Dimana nuranimu Bar?"
Akbar mulai kehabisan kata-kata. Lidahnya kelu tak dapat bergerak. Hatinya mulai terasa perih mendengar ucapan Burhan.
"Karena ke-egoisanmu, kau menyakiti banyak orang Bar!" Nada bicara Burhan mulai melembut.
"Tidak! Aku tidak menyakiti siapapun!"
"Yang paling kau sakiti adalah,," Burhan berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berhenti di sana dan mulai membungkukkan badannya. Ia membantu seseorang untuk berdiri.
"Yang paling kau sakiti adalah dia Bar, Mamamu!" Ucap Burhan sembari memegangi lengan Bu Tari yang tadi jatuh terduduk saat mendengar percakapan Burhan dan Akbar. Burhan sudah mengetahui kehadiran Bu Tari sejak tadi.
"Mama,," Akbar segera berlari ke arah bu Tari. Ia memeluknya erat.
"Apa semua yang dikatakan Burhan tadi benar?" Bu Tari menatap wajah Akbar dengan air mata yang mulai mengalir.
Akbar masih diam. Ia tak ingin ibunya tahu tentang semua itu.
__ADS_1
"Jawab Mama Bar!" Bu Tari mulai sedikit marah.
Akbar hanya mengangguk. Ia tak berani berkata-kata dihadapan ibunya. Bu Tari langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia melangkah mundur kebelakang hingga hampir terjatuh. Burhan berhasil memegangi tubuh wanita paruh baya itu.
"Mama,," Akbar berusaha mendekati ibunya.
"Jangan dekati Mama!" Tolak Bu Tari. Akbar terkejut mendengar ucapan ibunya.
"Bagaimana kondisi Rahman dan Nurul?" Bu Tari bertanya pada Burhan dengan pipi yang telah basah karena air mata.
"Sampai pagi ini mereka belum sadar Tante." Jawab Burhan.
"Ya Allah, selamatkan mereka!" Bu Tari terlihat cemas. "Dan bayi Nurul?"
"Dia lahir dengan selamat Tante."
"Alhamdulillah. Masih ada kabar baik."
"Iya Tante. Maaf Tante, saya permisi dulu! Saya masih ada pekerjaan. Permisi Tante." Pamit Burhan.
"Oh iya, hati-hati!"
"Baik Tante. Maaf, Tante harus mendengar semua itu tadi." Ucap Burhan tulus.
"Tak apa. Tante yang tak bisa mendidiknya hingga ia melakukan hal sefatal itu. Tante minta maaf, jadi merepotkanmu!"
"Tidak merepotkan sama sekali Tante."
"Terima kasih ya Han!"
"Iya Tante sama-sama. Saya permisi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumusalam." Jawab Bu Tari dan Akbar.
"Mama kecewa sama kamu Bar! Kamu melakukan hal seburuk itu pada Rahman." Bu Tari mulai meluapkan emosinya.
"Tapi Ma,,"
"Tapi apa Bar? Tapi itu demi Nurul? Itu yang ingin kamu katakan? Bukankah kita sudah pernah membicarakan ini Bar? Dan kamu sudah bisa menerimanya saat itu."
Akbar hanya diam menunduk. "Nurul bahagia dengan Rahman Nak. Jangan kau usik hidupnya lagi! Biarkan dia hidup bahagia dengan pilihannya."
Bu Tari memeluk tubuh putranya itu. "Mama tahu, itu pasti sulit untukmu. Tapi Mama yakin, kamu akan bisa melaluinya. Mama ada di sini sayang." Ucap Bu Tari di bahu Akbar.
"Iya Ma. Maafkan Akbar Ma! Maaf!" Ucap Akbar lirih. Hatinya sakit karena telah menyakiti ibunya sendiri.
Dua ibu dan anak itu akhirnya duduk bersama dan mengobrol sejenak. Akbar mengakui semua kesalahannya pada ibunya. Bu Tari sangat terkejut mendengar pengakuan Akbar. Ia tak menyangka, putranya bisa berbuat seperti itu.
Setelah cukup mengobrol, Bu Tari pamit pada Akbar. Ia ingin menjenguk Rahman dan Nurul ke rumah sakit. Akbar pun meminta Bu Tari untuk mengabari bagaimana kondisi sepasang suami istri itu nanti. Dan Bu Tari menyanggupinya.
Akbar mulai menyesali perbuatannya. Ia tahu, perbuatannya salah besar. Dan ia akan menerima semua hukuman yang akan ia terima nantinya. Ia pun akan berusaha melepaskan Nurul. Demi semua orang yang telah ia sakiti.
__ADS_1