
Hari telah berubah gelap. Sang mentari sudah kembali ke peraduannya. Kini saatnya sang rembulan dan para bintang yang menghiasi langit nan luas.
Tapi sayangnya, keindahan langit malam itu tertutupi oleh awan hitam yang bergerombol. Memang, mendung tak berarti hujan. Tapi bisa menjadikan pertanda, mungkin langit sedang ingin memberikan kesejukan untuk sang bumi.
Adzan isya telah berkumandang beberapa waktu yang lalu. Nurul dan Al pun sudah pulang dari masjid.
"PR-nya sudah selesai Al?" Tanya Nurul.
"Udah Bunda." Jawab Al sambil menyalakan tv.
"Mau makan sekarang apa nanti *L*e?"
"Nanti saja Bunda, Al belum pengen makan. Bunda kalau mau, makan dulu saja nggak papa."
"Nanti saja *L*e,Bunda juga belum pengen."
Tok,, tok,, tok,,
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nurul dan Al bersamaan. Nurul pun segera berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Pak Harto! Ada apa Pak kesini malam-malam? Dan kok tau rumah saya?" Tanya Nurul bingung. Al pun segera menghampiri ibunya.
"Saya kesini disuruh Bu Dira untuk jemput Mbak Nurul dan putranya." Jujur Pak Harto.
Nurul pun teringat undangan tak biasa dari bu Indira tadi siang.
"Maaf Pak, sepertinya saya nggak bisa datang. Saya harus nemenin anak saya mengerjakan tugas sekolahnya." Bohong Nurul dengan sembarang alasan.
"Kalau begitu, saya telepon Bu Dira dulu ya Mbak!"
Pak Harto lantas mengambil ponsel disaku bajunya dan memencet nomor telfon Bu Indira yang ada di ponselnya lalu meneleponnya. Dan panggilan pun langsung tersambung.
"Assalamu'alaikum Bu'. Maaf Bu', Mbak Nurul nya nggak bisa datang Bu' katanya. Harus nemenin anaknya mengerjakan tugas sekolah."
"Berikan ponselnya pada Nurul!"
__ADS_1
"Oh iya Bu' sebentar." Pak Harto menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Maaf Mbak Nurul, ini Bu Dira mau bicara sama Mbak Nurul."
Nurul pun lantas menerima ponsel dari tangan Pak Harto.
"Assalamu'alaikum Bu'." Sapa Nurul sedikit ragu.
"Wa'alaikumussalam. Gimana *N*duk? Kenapa nggak jadi dateng? Ibu' udah nungguin kamu dari tadi." Suara dari sebrang telfon menggema ditelinga Nurul.
"Nurul benar-benar minta maaf Bu'. Al masih ada tugas sekolah yang belum selesai." Bohong Nurul yang lantas ditoleh oleh Al. Nurul hanya tersenyum pada Al.
"Ibu' nggak mau tahu. Tugas sekolahnya kan bisa dikerjakan besok. Pokoknya kamu harus datang ke rumah Ibu' malam ini. Bilang ke Pak Harto, dia nggak boleh pulang kalau nggak sama kamu sama Al." Ucap Bu Indira tegas.
Mata Nurul pun membola mendengar ucapan bu Indira. Pak Harto yang sedikit mendengar perkataan bu Indira lantas memasang wajah bingungnya. Dia bersiap untuk memulai aktingnya.
"Ini orang maksa bener ya!" Batin Nurul sembari menyerahkan kembali ponsel pak Harto.
" Gimana mbak?" tanya pak Harto sembari menerima ponselnya kembali.
"Maaf pak! Tadi Bu Dira bilang, Pak Harto nggak boleh pulang kalau Bapak nggak datang sama saya dan anak saya." Jujur Nurul.
"Mbak, tolong dong! Mau ya datang ke rumah Bu Dira! Masak iya saya nggak bisa pulang, nggak mungkin juga kan saya nginep di sini Mbak." Ratap pak Harto.
"Nggak boleh pulang ke rumah Bu Dira sih nggak papa. Masih ada istriku tercinta yang nungguin di rumah sendiri, hhihi. Tapi kasihan juga sama Mbak Nurul jadinya. Maaf ya Mbak, demi Mas Rahman sama Mbak Nurul juga."
"Eh jangan Pak."
Nurul diam sejenak dan berfikir.
"Ehhmm, gimana ya Pak? Tapiii,," Nurul menoleh pada Al.
"Yasudah Pak, saya ikut Bapak. Tapi kami ganti baju sebentar ya Pak! Bapak bisa tunggu di dalam dulu." Nawab Nurul pasrah.
"Alhamdulillah. Makasih ya Mbak, makasih. Saya tunggu di sini saja Mbak." Jawab pak Harto dengan wajah berseri.
Nurul dan Al pun masuk ke dalam. Nurul lantas menjelaskan pada Al bahwa mereka akan pergi ke rumah Bu Dira dan meminta Al untuk mengganti bajunya. Begitupun Nurul juga langsung memasuki kamarnya untuk berganti baju.
__ADS_1
Sedangkan di depan rumah,pak Harto langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada bu Indira.
"Rencana sukses komandan. Paket akan segera meluncur.👍"
Sepuluh menit kemudian, Nurul dan Al sudah selesai bersiap. Mereka lantas keluar rumah menghampiri pak Harto. Pak Harto sedikit terkejut dengan penampilan Nurul. Dia terlihat lebih cantik dengan gamis simple berwarna navy dan jilbab instan besar berwarna kunyit dengan bros bunga warna silver di dada sebelah kirinya.
"Ini dia calon nyonya baruku". Batin Pak Harto.
Al pun tak kalah mengejutkan penampilannya. Dengan kaos polo berwarna senada dengan gamis sang bunda dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam, membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa. Berbeda dengan penampilan mereka tadi sebelum berganti baju. Kumel.
"Mari pak!" Suara Nurul menyadarkan kekaguman Pak Harto.
"Oh iya Mbak. Mobilnya saya parkir di depan gang, nggak bisa masuk soalnya."
Nurul pun lantas mengunci pintu dan berjalan keluar dari gang depan rumah kontrakannya. Rumah kontrakan Nurul memang masuk gang kecil. Hanya cukup dilewati oleh dua sepeda motor saling berpapasan. Tapi itu cukup nyaman untuk Nurul dan orang-orang yang juga mengontrak rumah di sekitar kontrakan Nurul.
Setelah keluar dari gang, Pak Harto lantas menuju ke mobil sedan berwarna putih yang terparkir di tepi jalan. Ia lantas membukakan pintu belakang untuk Nurul dan Al.
Nurul terkejut menerima perlakuan itu. Tapi ia tak ingin berdebat, karena sedang berada di tepi jalan yang sedang cukup ramai. Pak Harto pun lantas berlari kecil memutari mobil untuk menuju belakang kemudi. Dan lantas melajukan mobilnya menuju rumah sang majikan.
"Maaf Pak Harto, sebenarnya di rumah Bu Dira ada acara apa ya Pak? Tasyakuran dalam rangka apa Pak?" Tanya Nurul ketika mobil berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.
"Kalau tidak salah dengar, tasyakuran buat Mas Rahman karena mau melepas status dudanya. Kan Mas Rahman itu udah jadi duda 7 tahun Mbak. Tapi saya kurang begitu paham juga sih mbak. Tidak banyak tamu juga yang diundang. Saya hanya diperintahkan untuk menjemput Mbak Nurul tadi." Jelas Pak Harto yang langsung melirik kaca spion untuk melihat ekspresi si calon nyonya barunya.
Deg. Deg. Deg.
"Oh begitu." Jawab Nurul singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Nurul terpaku di tempat duduknya. Dia berusaha menutupi keterkejutannya dengan memalingkan pandangannya keluar jendela. Sedang Al masih sibuk dengan game di ponselnya.
"Mas Rahman ternyata sudah lama menduda. Dan sekarang dia akan segera menikah. Bukankah itu bagus? Tapi kenapa terasa ada yang mengganjal dihatiku? Aku bahkan baru bertemu dengannya satu kali dan itu pun hanya sebentar. Tapi tatapan matanya yang tajam nan lembut itu, kenapa terngiang difikiranku sejak saat itu. Astaghfirullah." Nurul sibuk dengan fikirannya sendiri.
Sejak pertemuan Nurul dengan Rahman di depan rumah Bu Indira waktu itu, Nurul sering terngiang bayangan Rahman difikirannya. Tatapan matanya yang tajam tapi penuh kelembutan. Wajahnya yang tampan dengan kulit kuning langsat dan rahang yang tegas. Tak lupa senyuman ramah dari seorang pria nan tinggi dan gagah mampu mengalihkan sejenak perhatian Nurul dari aktivitasnya. Astaghfirullahal'adzim. Itulah yang akan Nurul ucapkan ketika ia tersadar dari lamunannya.
Nurul sibuk dengan fikirannya yang melayang entah kemana.
"Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini yang telah memikirkan seorang pria yang tidak seharusnya. Jagalah mata dan hati hamba dari berbuat zina Ya Allah. Dan semoga Bu Indira mendapatkan menantu terbaik baginya. Aamiin."
__ADS_1
Itulah sepenggal do'a yang tulus dari hati seorang Nurul. Akhirnya, senyum pun tersungging di bibir janda dengan wajah manisnya.