Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Bukti Kuat


__ADS_3

"Al, udah belum sayang? Udah ditunggu Ayah sayang," panggil Nurul tepat di depan kamar Al.


"Iya Bunda!" sahut Al dari dalam kamar.


Tak lama pintu kamar Al pun terbuka. Al telah siap mengenakan baju sekolahnya. Dengan tas yang ia gendong di punggungnya.


"Al berangkat dulu Bunda!" pamit Al sembari menyalami tangan Nurul.


"Iya sayang," Nurul mengecup puncak kepala Al. Al pun lantas berlari keluar untuk berangkat sekolah.


Keluarga kecil Nurul telah kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Nurul dan Rahman telah kembali satu minggu yang lalu, tepat satu hari setelah peringatan tujuh hari meninggalnya Bu Lastri. Rahman pun sudah mulai berangkat ke kantor.


Sedang di rumah Dinda, Dinda sudah siap berangkat ke Jakarta untuk menjalani operasi. Tiba-tiba ada dua mobil polisi berhenti di depan rumahnya. Beberapa petugas polisi lantas turun dan berjalan menuju rumah Dinda. Salah satu petugas mengetuk pintunya. Dinda pun membukakan pintunya.


"Dengan Ibu Dinda Larasati?" tanya salah seorang polisi wanita.


"Iya, saya sendiri." Jawab Dinda mulai kebingungan.


"Mari ikut kami ke kantor! Anda kami tahan atas tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik."


"Saya tidak bersalah Bu'," sangkal Dinda.


"Anda bisa menjelaskan di kantor!"


"Tapi saya harus ke Jakarta untuk menjalani operasi,"


"Mari ikut kami ke kantor dulu!" Polisi wanita itu lantas menarik paksa tangan Dinda dan memakaikan borgol di tangannya.


"Geledah rumahnya, kumpulkan semua buktinya!" Perintah polisi lain.


"Saya tidak melakukannya! Tolong lepaskan saya!" Dinda mencoba memberontak.


"Tolong kerja samanya Bu Dinda!" Pinta polisi wanita tadi.


Dinda pun lantas dibawa masuk ke mobil dan dibawa ke kantor polisi. Iya, Rahman telah melaporkan Dinda sebagai tersangka kasus foto dan video yang menyeret dirinya. Rahman telah menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib.


Sore harinya, Burhan pergi ke kantor polisi mewakili Rahman untuk memenuhi panggilan dari kepolisian. Ia juga membawa beberapa bukti yang masih tertinggal di kantor Rahman.


Burhan bertemu dengan Jefry dan berbincang cukup lama. Hingga menjelang malam mereka baru selesai. Jefry telah lebih dulu pergi karena ada hal lain yang harus diselesaikan. Ketika Burhan hendak meninggalkan kantor polisi, ia mendengar suara Dinda tengah berbincang dengan seorang pria. Dan suara itu sangat familiar bagi Burhan. Ia pun mengurungkan niatnya meninggalkan kantor polisi dan sejenak menguping pembicaraan mereka.


"Bantu aku keluar dari sini! Kita kerja sama dalam rencana ini." Ucap Dinda pada lawan bicaranya.


"Kamu yang bodoh! Tidak mengatakan semuanya sejak awal," sahut pria itu.


"Kita partner!"


"Kita hanya partner di atas ranjang." Sahut pria itu enteng. Burhan segera menutupi mulutnya karena terkejut.


"Sialan kau Akbar Mahendra! Kau bilang akan membantuku jika terjadi sesuatu."


"Ini terjadi karena ulahmu sendiri. Karena kebodohanmu!"


"Oke, oke! Ini salahku! Dan sekarang tolong bantu aku keluar dari sini! Atau akan kusebutkan dengan jelas namamu kepada polisi?" Ancam Dinda.


"Oke. Aku akan membantumu! Tapi jangan sebut namaku sedikitpun!"


"Tentu saja! Asal kau membantuku keluar dari sini!"


"Baiklah! Aku akan bicara dengan asisten pribadiku dulu, kau tunggulah di sini sementara!"


Akbar segera beranjak dari kursinya. Dan seorang laki-laki yang tak lain adalah asisten pribadinya mengikutinya di belakang. Tiga langkah kemudian ia berhenti, tepat di depan pintu ruangan yang terbuka dimana Burhan tengah bersembunyi.


"Bunuh dia! Dan hilangkan semua bukti yang menyangkut diriku!" ucap Akbar kepada asistennya dengan suara cukup lirih.


"Baik Pak!" jawab sang asisten. Mereka lantas kembali melangkah keluar dari kantor polisi.


Burhan mendengar jelas perkataan terakhir mereka, karena ia tepat berada di balik tembok samping pintu.


"Apa dia serius dengan ucapannya?" gumam Burhan yang lantas keluar dari ruangan dan pergi meninggalkan kantor polisi.


...****************...

__ADS_1


Satu hari kemudian, Burhan mendapat kabar bahwa Dinda harus dilarikan ke rumah sakit dan kondisinya kritis. Dinda dikabarkan berselisih dengan narapidana lain dan berkelahi. Sayangnya, ia kalah kuat hingga kepalanya dibenturkan ke tembok oleh lawannya.


Dan saat menjelang malam tiba, dia dikabarkan meninggal dunia karena kondisi pendarahan parah dikepalanya. Burhan dan Shodiq terkejut mendengar berita itu. Rahman yang telah pulang lebih awal, belum sempat mendengar kabar itu. Akhirnya, Burhan dan Shodiq pun memutuskan mengunjungi Rahman di rumahnya guna memberitahukan kabar itu dan berdiskusi.


"Kita ngobrol di balkon saja!" Ajak Rahman pada dua orang sahabatnya ketika mereka sampai di rumahnya. Mereka bertiga pun lantas naik ke lantai dua rumah Rahman dan sempat melewati kamar Rahman.


Nurul yang tengah membaca Al-Qur'an di kamarnya selepas sholat isya, merasa penasaran dengan tamu yang datang. Ia menyelesaikan membaca Al-Qur'an-nya dan berniat melihat siapa yang datang. Ia keluar kamar tanpa mengenakan alas kakinya. Ketika ia membuka pintu, bertepatan dengan Mbok Tum yang baru saja sampai di depan kamarnya yang hendak membawakan minuman dan cemilan untuk tamu.


"Mbok Tum!" Suara Bu dira menggema hingga lantai dua.


"Mbok, biar Nurul saja yang bawa! Mau buat tamu kan?" tawar Nurul.


"Biar Mbok saja Mbak!" Tolak Mbok Tum.


"Tamunya siapa memang Mbok?"


"Mas Burhan dan Mas Shodiq."


"Nggak papa sini Mbok! Mbok Tum ke bawah aja! Itu dipanggil ibu!" Nurul segera meraih nampan dari tangan Mbok Tum.


"Tapi Mbak, Mbak Nurul baru hamil, perutnya sudah besar."


"Nggak papa Mbok, cuma sampai balkon kan? Kasihan ibu Mbok."


Akhirnya Mbok Tum mengalah dan menyerahkan nampan itu pada Nurul. Ia lantas kembali ke bawah dan menghampiri Bu Dira. Sedangkan Nurul, segera membawa nampan itu menuju balkon.


Saat sampai di pintu, ia mendengar percakapan tiga orang sahabat itu. Ia berhenti di sana karena terkejut. Dan tak ada yang menyadari kehadiran Nurul di sana.


"Tadi aku dikabari Pak Jefry, Dinda udah meninggal di rumah sakit," ucap Burhan


"Kenapa?" tanya Rahman.


"Pendarahan kepalanya cukup parah, dia nggak bisa bertahan. Dan satu lagi, aku lupa belum cerita ke kalian."


"Kasihan Dinda!" Sahut Shodiq.


"Ada apa lagi?" tanya Rahman.


"Akbar?" ucap Rahman kaget.


"Iya. Akbar Mahendra. Dinda dengan jelas menyebutkan namanya! Jadi sepertinya kecurigaan kita selama ini benar. Akbar dalang dari masalah ini."


"Coba ceritain yang bener Han!" Pinta Shodiq.


Burhan pun lantas menceritakan kejadian kemarin sore ketika ia di kantor polisi menguping pembicaraan Dinda dan Akbar. Bahkan tentang perintah Akbar kepada asistennya untuk membunuh Dinda.


Ting,, bruk. Ketiga pria itu menoleh ke sumber suara. Tubuh Nurul sedikit oleng dan menubruk pintu. Membuat gelas dan toples kaca yang ada di nampan yang ia bawa saling bersentuhan.


Tiga orang pria itu segera menghampiri Nurul. Rahman segera mengambil nampan dari tangan Nurul dan menyerahkannya pada Shodiq.


"Kamu kenapa Dek?" Rahman memegangi lengan Nurul kuat.


"Mbak Dinda dan Mas Akbar,,??" Nurul tak bisa melanjutkan kalimatnya karena sangat terkejut mendengar obrolan tiga orang sahabat itu.


"Kita bicara di kamar saja ya!" ajak Rahman.


"Kamu nggak usah mikir macem-macem Rul, kasihan bayi kamu!" sahut Burhan.


Rahman segera memapah tubuh Nurul kembali ke kamar. Ia mendudukkan Nurul di ranjangnya. Rahman berlutut di hadapan Nurul dan memegang erat tangannya.


"Mbak Dinda?" mata Nurul mulai berkaca-kaca.


"Dinda udah nggak ada tadi sore." Jawab Rahman.


Air mata Nurul mulai mengalir. "Dan Mas Akbar?"


"Akbar,,"


"Apa benar dia yang menjebak Mas waktu itu?"


"Itu hanya perkiraan kami sayang. Biar polisi yang menyelidikinya."

__ADS_1


"Ini semua berarti salahku Mas?"


"Kenapa salahmu? Kamu bahkan tak melakukan apapun. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"


Nurul menggelengkan kepalanya. "Lantas?"


Nurul diam tak menjawab. Air matanya masih mengalir. Ia menyalahkan dirinya sendiri, karena ia fikir, Akbar menyimpan dendam padanya karena menolaknya waktu itu. Dan Akbar memanfaatkan Dinda untuk membalas Nurul melalui Rahman.


"Maafkan aku Mas!" Ucap Nurul lirih sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu tak salah apapun sayang. Apa kau menyesal menikah denganku?" Nurul langsung menatap wajah Rahman.


"Aku tak pernah menyesal memilihmu Mas. Kamu suami dan ayah terbaik bagiku dan anak-anak kita. Hanya saja,,"


"Hanya apa?"


"Sepertinya Mas Akbar menaruh dendam padaku, dan dia ingin membalasnya melalui dirimu. Kamu mendapatkan masalah karena aku."


"Kita belum tahu siapa yang membantu Dinda, jadi janganlah berburuk sangka."


"Tapi, tadi Mas Burhan bilang,,"


"Sudah sayang! Itu hanya perkiraan kami, belum ada bukti kuat untuk itu."


"Tapi Mas,,"


"Sudah Sayangku! Kamu jangan berfikiran terlalu jauh. Aku tak ingin kondisimu memburuk lagi!"


"Eeuummhh,," Nurul sedikit meringis menahan sakit.


"Kenapa sayang? Kepalamu sakit?" Nurul megangguk pelan sembari tangannya meremas bajunya.


"Sebentar, aku ambilkan obatmu!" Rahman segera berdiri dan mengambil obat Nurul yang tersimpan di laci nakas.


Ia segera menyerahkan obatnya pada Nurul dan memberinya air putih. Nurul pun segera meminum obatnya.


"Istirahatlah!" pinta Rahman.


Nurul mengangguk pelan lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. "Perlu aku temani?" tawar Rahman.


"Tapi Mas Rahman sedang ada tamu bukan?"


"Hanya Burhan dan Shodiq. Mereka bisa menunggu sebentar." Rahman lantas merebahkan tubuhnya tepat disamping Nurul


Rahman memeluknya erat. Karena pengaruh obat, Nurul pun langsung terlelap. Rahman lantas bangun dan menyelimuti tubuh Nurul. Ia lalu pergi keluar mengahampiri dua sahabatnya.


"Nurul gimana?" tanya Burhan saat Rahman tiba di balkon.


"Udah tidur."


"Secepat itu?"


"Pengaruh obat."


"Obat apa? Dia sakit?" tanya Shodiq.


"Diagnosa dokter, kepalanya mengalami cedera traumatik karena kecelakaan beberapa tahun lalu."


"Parah?"


"Enggak. Cuma lebih sering sakit kepala."


"Alhamdulillah."


"Lalu gimana masalah Dinda?" tanya Rahman.


"Kita serahin ke pihak berwajib aja. Biar mereka yang menyelidiki." Jawab Shodiq.


"Kamu harus jaga Nurul lebih ketat Man! Takutnya Akbar nekat nantinya." Sahut Burhan.


"Bener kata Burhan Man." Sahut Shodiq.

__ADS_1


Rahman hanya menganggukkan kepalanya. Ingin ia menyangkal pemikiran mereka, tapi bukti yang ada terlalu kuat. Rahman takut, jika itu benar, akan berpengaruh pada hubungan keluarganya dan keluarga Akbar. Terlebih, akan berpengaruh pada kondisi Nurul yang tengah hamil. Ia hanya bisa berharap, semua selesai dengan baik. Tanpa dendam dan menyakiti siapapun.


__ADS_2