
Hari demi hari terus berganti. Bulan pun terus berganti tahun. Takdir Tuhan tiada yang tahu. Apa yang akan terjadi nanti, hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya perlu yakin, apapun yang terjadi nanti, itu memang haruslah terjadi.
Tiga tahun telah berlalu. Perlahan tapi pasti, Rahman dan Nurul semakin memahami satu sama lain. Ikatan perasaan mereka pun semakin kuat satu sama lain.
Al dan Hilya pun tumbuh dengan baik. Al yang memang memiliki otak yang cerdas, dia mendapatkan prestasi bagus saat kelulusan sekolahnya. Dia menjadi lulusan terbaik di sekolah.
Dan sekarang, dia sedang memperdalam ilmu agamanya di salah satu pondok pesantren terbaik di Kota Solo. Dan itu atas kemauannya sendiri. Itu memang sudah menjadi keinginannya sejak lama, bahkan sebelum ia mengenal Rahman. Dan kini, Rahman mewujudkan keinginan putranya itu.
Ya, Rahman sangat menyayangi Al. Ia tak pernah menganggap Al sebagai anak tiri, ia selalu menganggap Al anak kandungnya. Ia memperlakukan Al seperti Hilya, anak kandungnya sendiri.
Hilya pun kini sudah sangat aktif. Ia tumbuh dengan sangat baik. Ia tumbuh menjadi gadis kecil yang menggemaskan dan pandai. Ia mirip sekali dengan Al, sangat pandai dalam mempelajari sesuatu yang baru.
Rahman semakin menjadi pusat perhatian banyak orang. Setelah kejadian penyerangan tiga setengah tahun lalu, ia menjadi perbincangan banyak pebisnis. Usahanya pun semakin berjalan baik. Banyak pebisnis besar yang tertarik padanya dan memulai kerja sama dengannya.
Tragedi. Selalu ada dampak baik dan buruknya. Mungkin tragedi penyerangan waktu itu, langsung berdampak buruk pada Rahman dan keluarganya saat itu. Tapi kini, karena tragedi itu, banyak orang yang lebih mengenal Rahman Abdullah.
Banyak media yang menyorot tragedi penyerangan kala itu. Tapi Rahman dan dua sahabatnya berhasil menutupi semua informasi tentang Nurul dan keluarga kecilnya. Ia tak ingin ketentraman keluarga kecilnya terganggu karena hiruk pikuk pemberitaan media. Terlebih, Rahman paham betul sifat istrinya yang tak suka jika menjadi pusat perhatian banyak orang.
Bu Dira, dia sangat bahagia dengan keadaan kedua putra-putri nya. Rahman dan Nurul semakin dekat dan bahagia dengan kedua putra-putrinya. Begitupun Fatimah dan Ali. Bahkan Fatimah dan Ali sudah menambah seorang cucu laki-laki untuk Bu Dira. Dan kini usianya sudah hampir satu tahun. Dia tampan dan lincah sekali. Tambah ramai saja keluarga Bu Dira.
Nurul? Perlahan tapi pasti, dia mulai berubah. Dia berubah menjadi seorang yang tampak sangat berbeda dalam waktu-waktu tertentu. Dia sudah belajar banyak hal selama hampir empat tahun menjadi istri Rahman. Mungkin terbilang belum lama pernikahan mereka, tapi dunia Rahman adalah hal baru bagi Nurul. Dan dia harus sangat beradaptasi dengan dunia baru itu.
Saat di rumah, ia tetaplah seorang menantu, istri dan ibu yang banyak menghabiskan waktunya di rumah. dan fokus pada keluarga. Bahkan ketika ia keluar rumah mengurusi pekerjaannya, ia tetap tak melupakan kodratnya menjadi ibu rumah tangga.
Nurul merintis usaha kecilnya. Yang pasti atas izin dan bimbingan Rahman tentunya. Berasal dari kesukaannya dengan berbagai macam kue, ia akhirnya fokus belajar membuat kue selama hampir satu tahun. Setelah itu ia membuka toko kue kecil yang letaknya tak jauh dari rumah.
Dan takdir Allah berpihak pada Nurul. Toko kue kecil itu, dalam dua tahun terakhir telah membuka tiga cabang lain di area kota dan satu cabang di Jogja. Nurul dibantu oleh seorang asisten pribadi dalam mengelola usahanya. Asisten itu dipilihkan sendiri oleh Rahman. Nurul hanya akan mengunjungi toko-tokonya satu minggu sekali, untuk mengecek laporan dan keadaan toko.
Rahman tak membiarkan Nurul terlalu sering keluar rumah untuk bekerja. Rahman mengizinkan Nurul merintis usaha agar Nurul tak merasa jenuh berdiam diri saja di rumah. Dan Rahman pun menyadari potensi istrinya yang sebenarnya sangat mudah mempelajari hal baru.
Nurul yang dulu tak pandai merias diri, kini sudah mahir dalam hal itu. Atas bimbingan dari Rika dan Nana, Nurul dapat merubah dirinya menjadi seorang wanita yang pandai menyenangkan suaminya, di rumah maupun di luar rumah.
Dan berkat bimbingan Bu Dira, Nurul kini mulai percaya diri mengahadapi banyak orang. Dia belajar bagaimana menjadi istri seorang pengusaha seperti Rahman. Dia sesekali diminta menemani Rahman menemui rekan bisnisnya. Itupun jika sang rekan bisnis yang meminta dan sang rekan bisnis juga mengajak istrinya.
Rahman masih tak ingin mempublikasikan istri tercintanya itu. Hanya beberapa orang saja yang tahu sosok Nurul Almira sebagai Istri Rahman Abdullah.
Seperti siang ini. Nurul sedang berada di salah satu hotel milik Rahman. Ia diminta Rahman untuk menemani makan siang bersama rekan bisnisnya di hotel. Ia datang ke hotel di antar oleh Pak Harto. Hilya ia titipkan sebentar di rumah bersama Bu Dira.
Nurul berjalan dengan langkah pasti menuju meja resepsionis. Dengan gamis hitam polos yang dipadukan dengan long vest berwarna milo, dan sebuah jilbab instan menutup dada berwarna milo yang dihiasi sebuah bros berlian berwarna hitam. Dan tas tangan berlogo huruf C bolak-balik, serta wedges hitam sebagai pelengkapnya. Tak lupa masker dan kaus kaki sebagai penutup auratnya.
Itulah yang Rahman banggakan dari Nurul. Ia tak pernah lupa menutup auratnya. Meski godaan model pakaian sangat beragam, ia akan tetap memilih gamis longgar dan jilbab besar menutup dada setiap kali ia keluar rumah.
"Permisi Mbak, apakah Pak Rahman sudah selesai rapat?" tanya Nurul ketika ia sampai di depan meja resepsionis. Nurul sudah mencoba menghubungi Rahman, tapi ponselnya tak bisa dihubungi.
"Maaf Bu', dengan ibu siapa?" tanya resepsionis ramah.
"Saya,," Nurul belum selesai dengan kalimatnya, suara seorang wanita yang familiar memanggilnya.
"Adek Kecil!" panggil wanita itu yang tan lain adalah Rika. Ia datang bersama Nana.
Nurul pun menoleh. "Mbak Ka, Mbak Na!" sapa Nurul bahagia. Mereka lalu saling berpelukan.
"Makasih ya Mbak." Ucap Nurul pada resepsionis tadi.
"Kamu ini ya! Kalau keluar rumah kayak orang pakai APD aja. Rapet banget." Celetuk Rika.
"Hhihi, misua suka yang begini Mbak! Jadi ya nurut aja." Jawab Nurul jujur.
"Kalau di rumah pasti pakai yang kurang bahan kan?" bisik Nana di antara Nurul dan Rika.
"Hhahaha,," ketiga wanita itu tertawa bersama hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di lobi.
"Kan yang ngajarin Mban Na, hhihi" jawab Nurul sambil cekikikan.
"Tumben siang-siang disini? Kangen sama Rahman?" sindir Rika.
"Iya dong Mbak, harus kangen terus, biar nempel terus, hhihi." celetuk Nurul.
"Udah pinter sekarang Adek Kecil kita Ka." Ejek Nana bahagia.
"Iya Na," sahut Rika.
"Sayang! Kamu udah dateng?" sapa Rahman yanh datang dari arah dalam hotel. Ketiga wanita dan beberapa orang yang ada di sekitar itupun menoleh.
__ADS_1
Nurul menurunkan maskernya. Melemparkan senyumnya pada Rahman dan langsung meraih tangan kanan Rahman lalu menciumnya. Rahman pun lantas memeluk pinggang Nurul dan mencium kening Nurul di depan semua orang.
"Woii, tempat umum!" sindir Rika.
"Biarin! Sama istri sendiri kok. Sirik bilang! Sana cari Shodiq di kantor kalau mau!" Sahut Rahman ketus.
"Maass,," tegur Nurul lembut.
"Iya, iya Sayang!" jawab Rahman sembari mencubit gemas hidung Nurul.
Semua orang membelalakkan matanya. Semua terkejut melihat sikap Rahman. Mereka tak menyangka, wanita dengan pakaian yang tertutup itu adalah istri Rahman Abdullah. Yang ternyata wajahnya begitu cantik.
"Sialan kamu Man! Ayok Na, kita ke tempat klien aja! Keburu telat nanti!" gerutu Rika sembari berjalan meninggalkan Rahman dan Nurul.
"Duluan ya Adek Kecil!" pamit Nana yang berjalan menyusul Rika.
"Mbak Na mau kemana?" tanya Nurul.
"MUA Sayang,," sahut Nana sedikit berteriak. Nurul mengangguk paham.
Rika dan Nana merintis usaha salon dan spa sejak delapan tahun yang lalu. Mereka bekerja sama membangun uasahanya sendiri. Dan kini, salon mereka cukup terkenal di seluruh kota. Pelayanan yang memuaskan, pegawai yang ramah dan harga yang bersahabat, menjadi nilai tambah dan penarik datangnya pelanggan.
"Ayok Sayang, kita tunggu di resto saja!" Rahman masih setia memeluk tubuh Nurul sembari berjalan menuju restoran hotel. Nurul segera menutupkan kembali maskernya.
Mereka memilih salah satu kursi kosong dan duduk di sana sembari menunggu rekan bisnisnya datang. Tak lama sepasang suami istri mendekati mereka. Rahman segera berdiri ketika melihat kedatangan mereka. Nurul pun ikut berdiri dan melepaskan maskernya.
"Pak Adrian." Sapa Rahman sembari menyalami rekan bisnis dan istrinya. Nurul pun turut menyalami istri Adrian.
"Iya Pak Rahman. Apa Kabar?" jawab rekan bisnis Rahman.
"Baik Pak, silahkan duduk! Bu Adrian juga silahkan!" ucap Rahman ramah. Mereka pun lantas duduk saling berhadapan.
"Jadi ini istri Anda yang waktu itu pingsan di kantor?" tanya Adrian.
"Anda masih ingat Pak? Iya benar, ini istri saya, Nurul Almira."Jawab rahman bangga.
Nurul tersenyum pada Adrian dan istrinya. "Cantik sekali ternyata Bu Rahman." Puji istri Adrian.
Mereka pun melanjutkan obrolan sembari menikmati makan siang. Saat selesai makan, Nurul berpamitan untuk ke toilet. Di toilet, Nurul memuntahkan isi perutnya. Ia merasa pusing dan tak enak badan beberapa hari terakhir. Ia merasa lemas saat ini, tapi ia ingat masih harus menemani suaminya. Ia merapikan riasannya lalu kembali ke meja makan.
Dan tak lama, Adrian dan istrinya berpamitan pulang. Rahman dan Nurul pun mengantarnya hingga lobi hotel. Setelah Adrian dan istrinya keluar lobi, Nurul mencengkeram kuat lengann Rahman. Rahman terkejut lengannya dicengkeram Nurul.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rahman panik.
Bruk. Tubuh Nurul ambruk tak sadarkan diri dan tepat jatuh di pelukan Rahman. Orang-orang berlari menghampirinya. Tak terkecuali Bagas, si pengawal pribadi.
"Ambil mobilku!" Rahman melempar kuncinya pada Bagas. Bagas segera menuju parkiran hotel.
"Sayang, kamu kenapa?" Rahman menepuk pelan pipi Nurul yang tubuhnya dipegangi Rahman erat.
Tak ada respon sama sekali. Rahman segera mengangkat tubuh Nurul dan membawanya keluar hotel. Bagas pun segera tiba dengan mobil Rahman. Mereka membawa nurul ke rumah sakit.
Setelah mendapat penanganan, Nurul masih belum juga sadar. Setelah beberapa lama, Nurul akhirnya sadar.
"Hai Nyah!" sapa Arum yang sedang berdiri di samping tempat tidur Nurul.
"Dokter Arum?" Nurul kebingungan.
"Kalau kangen sama aku bilang Nyah. Jangan pakai acara pingsan!" ledek Arum.
"Aku kenapa pingsan Mas?"
"Gimana sih Nyah? Kan kamu yang pingsan, kok tanya Rahman?" tanya Arum.
"Iya Sayang, kamu kenapa tadi? Tiba-tiba pingsan di lobi." Jawab Rahman.
"Kamu hamil ya Nyah?" tanya Arum.
"Hamil?" ucap Rahman dan Nurul bersamaan. Mereka saling berpandangan.
"Biasa aja ekspresinya." Gerutu Arum.
Rahman langsung menghujani Nurul dengan ciuman berkali-kali ke seluruh wajahnya. Nurul hingga kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Sepertinya sekitar delapan minggu." Imbuh Arum yang tadi sudah memeriksa Nurul. "Besok USG ya Nyah!"
Nurul tersenyum dan mengangguk pada Arum. Arum lantas pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu.
"Terima kasih Sayang!" ucap Rahman lembut sembari mengelus pipi Nurul.
"Sama-sama Mas." Nurul tersenyum bahagia menatap Rahman.
...****************...
*Ya Allah, sungguh besar kuasa-Mu
Sungguh indah takdir-Mu
Hingga kau pertemukan aku dengannya
Dia yang begitu sempurna bagiku
Tak banyak yang kupinta Ya Allah
Jadikanlah aku putra terbaik untuk orang tuaku
Jadikanlah aku suami terbaik untuk istriku
Jadikanlah aku ayah terbaik untuk putra-putriku
Jadikanlah aku sahabat terbaik untuk sahabat-sahabatku
Dan jadikanlah Nurul Almira menjadi bidadari surgaku
Satukanlah kami semua di surgamu kelak*.
~Rahman Abdullah~
...****************...
*Untukmu yang terkasih
Maaf aku tak menayadarimu
Maaf aku membuatmu kecewa
Maaf aku melukaimu begitu dalam
Maaf aku tidaklah sempurna
Tapi dengan ketidak sempurnaanku ini
Kau menerimaku apa adanya
Kau mencintaiku sepenuhnya
Kau menyayangiku setulus hatimu
Kau melengkapiku suamiku
Aku tak dapat menjanjikan surga untukmu
Tapi aku akan berusaha meraih surga bersamamu
Bimbinglah aku, tuntunlah aku suamiku
Menuju jalan yang Allah ridhoi
Terima kasih telah mencintaiku selama ini
Dan menerimaku apa adanya
Sungguh aku mencintaimu suamiku, Rahman Abdullah*
~Nurul Almira~
...(Tamat)...
__ADS_1