Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Lelah


__ADS_3

Dengan suasana bahagia, waktu pasti terasa sangat cepat berlalu. Begitu pun untuk Nurul dan Rahman. Mereka yang mulai saling nyaman, tak ada perasaan canggung yang berlebihan hingga membuat mereka terhanyut dalam suasana yang bernama bahagia. Perjalanan panjang pun tak terasa membosankan.


Setelah berkendara beberapa jam, mereka telah sampai di rumah bu Lastri. Mereka memutuskan terlebih dahulu menyelesaikan pengurusan berkas ke KUA, setelah itu baru akan beristirahat sejenak sebelum akhirnya kembali ke D****.


"Al gimana nduk?" tanya bu Lastri setelah mereka sampai.


"Sehat bu' alhamdulillah." jawab Nurul.


"Alhamdulillah. Kabarnya bu Dira gimana mas Rahman?" tanya bu Lastri kepada Rahman.


"Alhamdulillah sehat bu'. Jangan panggil 'mas' bu', panggil Rahman saja."


"Oh iya, maafkan ibu! Ibu belum terbiasa."


"Tidak apa bu',"


"Yasudah bu', kita ke KUA dulu ngurus berkasnya. Nurul kan harus kerja juga nanti, biar nggak telat kelamaan."


"Iya. Biar cepet selesai. Kamu puasa hari ini?" tanya bu Lastri pada Nurul.


"Iyalah bu'. Nggak papa bu', kuat kok. Kalau nggak kuat ya ditinggal aja. Biar orang lain yang lebih kuat yang bawa,, hhihi." bu Lastri hanya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan sang putri.


Mereka bertiga pun berangkat ke Kantor Kelurahan setempat lalu ke KUA. Tak lama mereka telah selesai mengurusi berkas-berkas pernikahannya. Tempat, tanggal dan waktu akad nikah pun telah terdaftar. Kini hanya tinggal menunggu hari itu tiba.


Setelah selesai mereka pun pulang kembali ke rumah bu Lastri. Di rumah, Nita sudah menunggu mereka bersama sang suami untuk makan siang bersama. Nurul sedikit kelelahan karena perjalanan. Dia memilih tidur sejenak ketika semua orang tengah bersantap siang. Hingga setelah makan siang dan menunaikan sholat dzuhur, Rahman dan Nurul berpamitan kepada bu Lastri, Nita dan Yudi.


"Kami pulang dulu ya bu'! Ibu' jaga kesehatan yaa!" ucap Nurul sembari memeluk sang ibu.


"Iya nduk, kamu juga jaga kesehatan. Salam buat Al ya! Oh iya, Al udah pulang belum jam segini?" Nurul pun melirik arloji berwarna silver di tangannya.


"Sebentar lagi bu', ada kegiatan tambahan biasanya hari Rabu. Tapi paling cuma 30 menitan."


"Oohh yasudah. Rahman, tolong sampaikan salamku untuk ibumu ya! Dan ini sedikit dari ibu' untuk ibumu!"


"In shaa Allah bu'! Dan terima kasih oleh-olehnya. Kami berangkat ya bu', mbak, mas!" pamit Rahman.


"Iya hati-hati!" semua menjawab dengan jawaban yang sama. Tak lupa Nurul dan Rahman menyalami mereka bertiga.


"Assalamu'alaikum!" ucap Nurul dan Rahman.


"Wa'alaikumussalam!" jawab bu Lastri dan lainnya bersamaan.

__ADS_1


Nurul dan Rahman pun kembali ke D****. Rahman kembali memutar musik. Ia memilih lagu-lagu dengan alunan sedikit mellow. Ia sedikit memeperhatikan Nurul yang terlihat mengantuk.


"Kamu masih ngantuk? Tidur lagi aja! Biar nggak kecapekan! Kan nanti kamu masih harus kerja."


"Enggak mas! Kasihan mas Rahman nanti nyetir nggak ada temennya ngobrol, padahal kan ada temennya juga. Nanti kalau mas Rahman ngantuk gimana? Kan bahaya kalau nyetir sambil ngantuk."


"Kamu lupa aku ini jadi duda udah tujuh tahun? Aku sudah terbiasa berkendara sendiri." Rahman sedikit menyombongkan dirinya.


"Iya, iya pak Duda,, hhihi." mereka pun tertawa dengan candaan mereka sendiri.


Dan dengan tidak tahu malunya, tak butuh waktu lama, Nurul sudah terlelap di tempat duduknya. Rahman hanya tersenyum melihat Nurul yang sudah berselancar ke alam mimpinya. Rahman menepikan mobilnya. Ia mengambil tas yang ada dipangkuan Nurul dan meletakkannya di kursi belakang. Ia sedikit mencondongkan kebelakang kursi tempat duduk Nurul. Nurul sedikit menggeliat. Sejenak ia menatap wajah Nurul dengan jarak yang sangat dekat. " Benar-benar manis wajah yang sering kau sembunyikan ini!" Rahman tersenyum dan tanpa ia sadari, wajahnya sedikit demi sedikit mendekati wajah Nurul.


Rahman tersadar seketika, ia segera menjauhkan wajahnya dari hadapan janda yang sedang terlelap dalam mobilnya itu. " Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan tadi?" Rahman mengusap kasar wajahnya. Ia pun segera melajukan kembali mobilnya.


Di tengah perjalanan Nurul terbangun. Ia benar-benar malu karena tertidur cukup lama dan membiarkan Rahman menyetir sendiri tanpa ditemani mengobrol.


"Maaf mas Rahman, Nurul ketiduran tadi,," ucap Nurul sembari membenarkan jilbab dan duduknya. Ia masih belum sadar, posisi kursinya sedikit condong ke belakang.


"Iya." jawab Rahman singkat. "Kamu kenapa? Nggak nyaman gitu duduknya? Itu kursimu tadi sedikit aku buat kebelakang, biar kamu lebih nyaman tidurnya." Nurul pun baru menyadari posisi kursinya. Ia pun segera membenarkannya sendiri agar lebih nyaman.


"Makasih mas. Eehhmm,, mas Rahman kenapa nggak bangunin Nurul dari tadi? Nurul tidur lama banget kan?"


"Nggak papa, biar kamu nggak kelelahan nanti. Kan masih harus kerja."


"Enggak,, aku nggak kerja nanti. Aku ambil cuti hari ini."


"Ooww begitu!"


"Oh iya, tadi ibu' telfon waktu kamu tidur. Al udah dijemput sama ibu', sekarang dirumah sama ibu'."


"Oh iya mas, makasih mas! Nanti malam biar Nurul jemput Al sepulang kerja. Maaf ngerepotin ibu' sama mas Rahman."


"Iyaa,," Rahman tersenyum kecil. Obrolan pun berlanjut hingga sampailah mereka di tempat kerja Nurul.


"Terima kasih mas! Dan maaf ngerepotin si Al,," ucap Nurul sebelum keluar dari mobil.


"Iya,iya Nurul! Mau berapa kali lagi mau bilang itu,, haa?" goda Rahman. Nurul tersenyum.


"Kalau begitu Nurul turun dulu mas." Nurul lantas membuka pintu mobilnya. Ia sempatkan memberikan senyuman terima kasih pada Rahman.


Nurul hendak menutup pintunya. "Nurul, tas kamu!". Nurul baru sadar bahwa tasnya tidak ada ditangannya. Entah karena masih gugup atau memang perhatiannya terlalu fokus ke Rahman, ia melupakan tas yang tadi ia bawa. Ia celingukan mencari tasnya. Rahman meraihnya dari jok belakang. "Niihh!"

__ADS_1


Nurul sedikit cengengesan. "Hhehe,, makasih lagi mas Rahman. Assalamu'alaikum!"


"Iya,, wa'alaikumussalam." Nurul lalu menutup pintu mobil. Rahman pun lantas melajukan mobilnya meninggalkan Nurul.


Nurul memperhatikan mobil Rahman hingga jauh, lalu ia berbalik dan berjalan menuju pintu masuk minimarket. Dan ketika ia membuka pintu, " Ciieeee mbak Nurul habis kencan yaaaaa,,!!!" goda semua teman Nurul yang ternyata sedari tadi memperhatikannya dari dalam.


"Astaghfirullahal'adzim," Nurul pun terkejut bukan main karena disoraki oleh teman-temannya. Beberapa pelanggan menoleh ke arah nya. " Bentar yaa, aku ke dalam dulu!" Nurul segera meninggalkan tiga orang temannya itu.


Dila menyusul Nurul ke dalam. Ia langsung menginterogasi Nurul dengan banyak pertanyaan. Dan bukan Nurul jika ia tak menutupi apa yang memang harus ditutupi. Setelah membersihkan diri sejenak, Nurul memulai pekerjaannya dengan Riki. Sedang Dila dan Azka telah pulang karena jam kerja mereka telah selesai.


Waktu terus berjalan. Badan Nurul mulai kelelahan. Apalagi malam ini keadaan toko cukup ramai. Hingga waktu pulang pun tiba. Setelah menutup toko, Riki terlebih dulu pulang dengan motornya karena ada janji dengan temannya. Nurul mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalan pulangnya. Jalanan yang mulai sepi dari lalu lalang kendaraan.


"Capek juga hari ini." guman Nurul sambil menatap kios-kios yang telah tutup. "Astaghfirullah, aku harus jemput Al di rumah mas Rahman! Kenapa bisa lupa?" Nurul segera mempercepat langkahnya. Ia tidak enak hati jika terlalu malam bertamu ke rumah orang lain.


Hingga di ujung gang masuk ke rumahnya, Nurul melihat sebuah mobil yang familiar terparkir rapi. Ada seorang laki-laki bersandar pada bagian depan mobil sedang memainkan ponselnya. Ia masih samar-samar melihatnya. Ketika semakin dekat, laki-laki itu semakin jelas. "Mas Rahman!"


Rahman yang samar mendengar namanya di sebut pun mencari sosok yang memanggilnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat sosok dihadapannya. "Akhirnya pulang juga! Berat sekali hidupmu demi menafkahi putramu,," gumam Rahman dalam hatinya.


"Kamu baru pulang?" Rahman berbasa-basi. "Capek banget kayaknya? Capek gitu,masih mau jemput Al ke rumah. Yakin masih bisa?" ejek Rahman.


Nurul yang tadi merasa sangat lelah,setelah mendengar ucapan Rahman ia sedikit memaksa pergi rasa lelahnya. "Enggak capek kok mas! Ya yakin lah mas masih bisa. Sebentar mas, Nurul ambil motor dulu di rumah. Setelah itu Nurul jemput Al ke rumah mas Rahman. Maaf ya mas malem banget,,"


"Udaah,, kamu itu yaa, ngeyel! Itu Al baru tidur di mobil. Nggak usah kamu jemput ke rumah!" Nurul pun memperhatikan bagian kursi depan mobil. Dan benar, Al sedang terlelap di sana.


"Biar Nurul bangunin mas, udah nyampe deket rumah."


"Jangan dibangunin, kasihan dia! Tugas sekolahnya tadi banyak, mungkin dia kelelahan setelah ngerjain tugasnya. Biar aku gendong sampai rumah."


"Nggak usah mas, biar Nurul banguni aja!"


"Kamu mau berdebat di sini?" Rahman menggoda Nurul. Nurul hanya menggeleng. "Yaudah! Kalau gitu,,," Rahman berpindah ke samping mobil dan membuka pintunya, mengambil sebuah paper bag dan meyerahkannya kepada Nurul. ",,kamu bawa ini, dari ibu'. Biar aku gendong Al sampai kamarnya."


Nurul akhirnya menuruti perkataan Rahman karema tak ingin berdebat di tepi jalan. Yang hanya akan mengundang perhatian orang-orang. Setelah sampai di rumah, Nurul membuka pintu rumahnya dan membiarkan Rahman meletakkan Al di kamarnya.


"Yasudah, aku pulang dulu. Itu dari ibu', makanlah!"


"Iya mas, terima kasih. Tolong sampaikan juga terima kasih dari Nurul untuk ibu'! Dan maaf Nurul banyak merepotkan."


"Baiklah,, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam mas."

__ADS_1


Rahman pun meninggalkan rumah Nurul. Nurul pun lantas menutup pintunya dan membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Tak lupa ia membuka pemberian bu Dira dan memakannya seperti pesan Rahman. Sungguh,, hari yang panjang bagi Nurul.


Perlahan namun pasti,nama itu mulai terukir dalam hati. Meski belum begitu dalam, tapi nama itu mulai menjadi perhatian sang pemilik hati. Biarkanlah sang waktu yang kembali mengukirnya.


__ADS_2