Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Tidak Melawan


__ADS_3

"Mas Rahmaaannn!" Nurul tiba-tiba berteriak sangat keras. Ponsel ditangannya terlepas begitu saja.


"Nurul? Nurul? Rahman kenapa? Nurul?" Suara Burhan berteriak dalam panggilan tak dihiraukan Nurul. Nurul langsung membuka pintu mobil dan berlari keluar. Ia melupakan permintaan Rahman untuk tidak keluar dari mobil.


Air mata Nurul mengalir begitu saja ketika melihat Rahman dipukul keras oleh Akbar tepat di perutnya. Rahman berusaha melawan.


"Stop!" Teriak Akbar sembari meraih tangan Nurul yang berlari ke arah Rahman. Semua orang menoleh ke arah Akbar.


"Lepasin Mas Akbar!" Nurul mencoba menarik tangannya yang dipegang dan dicengkeram oleh Akbar.


Bug. Rahman kembali dipukul oleh dua orang secara bersamaan hingga tersungkur. "Mas Rahman!"


"Ayo lawan lagi Man! Maka kamu akan lihat anakmu yang diperut Nurul mati!" Ucap Akbar sembari menyeringai jahat.


"Mas Rahman, lawan Mas!" Nurul berteriak pada Rahman.


"Jangan sakiti Nurul ataupun bayiku!" Ucap Rahman sembari meringis menahan sakit.


"Kamu harus mati jika itu maumu! Dan aku akan memiliki Almira-ku seutuhnya."


"Enggak Mas, enggak! Kamu harus melawan Mas!" Nurul masih mencoba memberontak dari cengkeraman tangan Akbar.


"Habisi dia!" Perintah Akbar.


Para anak buah Akbar pun kembali memukuli Rahman bertubi-tubi. Rahman benar-benar tidak melawan.


"Mas Akbar hentikan! Apa maumu Mas? Kenapa kamu jadi seperti ini Mas?" Ucap Nurul sembari menahan sakit di tangannya karena cengkraman Akbar.


"Aku cuma mau kamu. Almira sayang!" Akbar mengusap lembut pipi Nurul. Nurul menghempaskan tangan Akbar di pipinya.


"Aku sudah menikah Mas. Dan aku juga tak memiliki perasaan apapun padamu sejak awal."


"Tapi aku mencintaimu Almira sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu!"


"Itu bukan cinta Mas, itu obsesi!"


"Bukan Almira sayang, ini cinta! Cintaku tulus padamu."


"Jika kamu mencintaiku Mas, kamu akan melepaskanku dan membiarkanku hidup bahagia dengan pilihanku. Bukan malah menyakitiku seperti ini!"


"Aku akan membahagiakanmu juga Almira!"


"Eeuummhh,, lepasin Mas! Lepasin aku dan suruh anak buahmu berhenti Mas!" Nurul merasakan janinnya berkontraksi, ia memegangi perutnya dengan satu tangan.


"Asalkan kau mau ikut denganku dan menjadi milikku seutuhnya."


"Tolong Mas, hentikan! Mas Rahman bisa mati jika terus dipukuli seperti itu, hiks, hiks." Nurul berlutut di depan Akbar.


"Bangunlah Sayang! Jangan kau membelanya! Dia telah mengambilmu dariku!" Bentak Akbar setelah membantu Nurul berdiri.

__ADS_1


"Mas Rahman, hiks, hiks, eeuummhh!" Nurul sekuat tenaga menahan agar tidak mengejan. Ia menahan kontraksi dari bayinya.


"Berhenti!" Perintah Akbar. Anak buah Akbar pun berhenti memukuli Rahman.


Tubuh Rahman sudah babak beluk dihajar oleh beberapa anak buah Akbar tanpa perlawanan. Ia tumbang tapi masih sadar, ia kesulitan untuk bergerak. Nurul berusaha melepaskan diri dari Akbar. Ia menarik tangannya sekuat tenaga, tapi tak berhasil. Cengkraman tangan Akbar begitu kuat.


"Mas Rahman, hiks, hiks, bertahanlah Mas!"


"Tusuk dia!" Pinta Akbar.


"Jangan Mas Akbar, jangan! Nurul mohon padamu Mas! Jangan lakukan itu!"


Rahman dipegangi oleh dua orang anak buah Akbar untuk berdiri. Dan satu orang lain telah siap dengan pisau ditangannya.


"Kau harus melihat, dia yang telah merebutmu dariku mati!" Satu tangan Akbar meraih dagu Nurul dan menghadapkannya ke arah Rahman. Nurul menggeleng begitu keras.


"Jangan Mas Akbar! Kumohon!" Nurul memohon kembali.


"Lakukan!"


Jleb. Sebuah pisau menancap sempurna di perut Rahman. Darah langsung mengucur deras dari lukanya.


"Mas Rahman! Tolong! Siapapun tolong!" Nurul berteriak sekeras mungkin. Tubuh Nurul lemas seketika melihat Rahman yang terjatuh setelah ditusuk. Ia terduduk di samping Akbar yang tetap mencengkeram erat satu tangannya.


"Hhahaha, itulah akibatnya karena kau berani merebut Almira ku!" Umpat Akbar penuh kemenangan.


"Mas Rahman! Bangunlah Mas! Bangun!" Ucap Nurul lirih disela tangisannya.


Warga yang ada disekitar dan para pengguna jalan, tak ada yang berani mendekat. Mereka terlalu takut, karena ada anak buah Akbar yang membawa senjata tajam dan senjata api.


Hingga ada seorang wanita berjalan dengan langkah pasti mendekati Akbar dari belakang. Ia meraih bahu Akbar dan menariknya. Akbar memutar tubuhnya dan menatap wanita itu.


Plak. Sebuah tamparan sangat keras jatuh di pipi kiri Akbar. "Mama?"


"Apa yang kamu lakukan Bar? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Bu Tari.


Nurul menoleh ke arah Akbar. Ia langsung berdiri ketika melihat Bu Tari di samping Akbar. "Budhe Tari, tolong Mas Rahman Budhe!"


"Iya Rul! Aku pasti menolong Rahman!" Ucap Bu Tari.


"Ma, Akbar udah dapetin Almira Ma! Mama akan segera punya menantu!" Jawab Akbar.


"Kamu gila Bar! Kenapa kamu menyakiti Rahman dan Nurul?"


"Aku cuma mau Almira Ma!"


"Tapi dia sudah menjadi istrinya Rahman. Dia juga teman baikmu."


"Tidak lagi Ma! Teman tidak akan merebut apa yang temannya miliki."

__ADS_1


"Kamu dan Nurul bahkan tidak mempunyai ikatan apapun! Kalian belum berta'aruf atau pun bertunangan!"


"Ini semua salah Mama! Kalau saja Mama merestuiku sejak awal, pasti Almira sudah jadi milikku dan ini semua tak akan terjadi."


"Aku tak pernah punya perasaan apapun padamu Mas!" Sahut Nurul.


"Perasaan itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Sayang. Perlahan kamu pasti akan mencintaiku!"


"Tidak akan! Aku tidak akan pernah mencintaimu jika sikapmu seperti ini! Aku bersyukur Mas Rahman meminangku lebih dulu waktu itu."


"Kau dengar sendiri Bar apa yang Nurul katakan! Sekarang lepaskan Nurul dan kita sudahi semua ini. Rahman harus segera dibawa ke rumah sakit." Pinta Bu Tari dengan nada bicara sedikit lembut. Ia berusaha meluluhkan hati putranya.


"Baiklah kalau begitu! Jika memang itu keputusanmu Almira, aku akan akhiri semuanya sekarang." Raut wajah Rahman terlihat lebih marah.


"Bangunkan dia!" Pinta Akbar. Rahman pun kembali dibantu berdiri oleh dua anak buah Akbar. Rahman masih sadar, ia melirik ke arah istrinya yang berusaha melepaskan diri dari Akbar.


"Maafkan aku sayang, aku tak bisa menjagamu dan anak kita!" gumam Rahman.


"Bawa kemari milikku!" Ucap Akbar.


Seorang anak buah datang mendekati Akbar. Ia menyerahkan sebuah pistol kepadanya. Nurul dan Bu Tari membelalakkan matanya.


"Akbar hentikan! Jangan lakukan itu Nak!" Rayu Bu Tari sembari memegangi tangan Akbar yang membawa pistol.


"Mas Akbar jangan Mas! Nurul mohon! Jangan lakukan itu Mas!" Nurul kembali memohon pada Akbar.


"Bawa Mama kembali ke mobil! Jangan sampai dia mengangguku lagi!" Perintah Akbar.


"Budhe, tolong Budhe! Budhee!" Nurul memanggil Bu Tari meminta pertolongan.


"Akbar, jangan Bar! Hentikan!" Bu Tari masih mencoba merayu Akbar.


Dua anak buah Akbar pun langsung menarik paksa Bu Tari. Ia mencoba memberontak, tapi tak bisa. Ia akhirnya di bawa kembali ke mobilnya dan tak diperbolehkan keluar dari mobil. Ia hanya bisa melihat putranya dari kejauhan.


"Mas Akbar, tolong Mas! Jangan lakukan itu!" Nurul masih terus memohon.


"Kamu yang meminta ini Almira! Kamu lebih memilih dia daripada aku. Jadi kamu harus melihatnya mati! Dan KAU pun juga akan menyusulnya nanti."


"Jangan Mas! Kalau Mas dendam padaku, bunuh aku saja! Jangan Mas Rahman!"


"Kalian memang pantas mati!"


Akbar mengangkat tangannya yang memegang pistol. Dan mengarahkannya ke arah Nurul. Nurul berusaha tersenyum menatap Akbar.


"Lakukanlah jika itu membuatmu puas!" Ucap Nurul tenang. "Tolong kami Ya Allah! Hanya pada-Mu kami berserah, dan hanya pertolongan-Mu yang dapat membantu kami."


"Tentu saja!" Tiba-tiba tangan Akbar beralih ke arah Rahman.


Dor. Dor. Dua suara tembakan terdengar hampir bersamaan.

__ADS_1


"Mas Rahman!" Nurul berteriak sangat kencang. Dan seketika itu juga terasa ada air yang mengalir deras dari selangkangannya. "*K*etubanku pecah!" gumam Nurul.


__ADS_2