Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Tante Ida


__ADS_3

Malam kembali menyapa. Kediaman bu Dira masih ramai oleh suara obrolan seisi penghuni rumah yang berada di ruang keluarga. "Man, kamu besok jangan kerja dulu ya! Kamu juga ya nduk! Besok tante Hamidah mau datang." ucap bu Dira.


"Tante Hamidah tadi nggak ikut ke Jogja bu'?" tanya Nurul.


"Enggak nduk! Dia tinggal di Surabaya, dan memang kemarin pamit nggak bisa ikut ke Jogja. Jadi besok baru mau ke sini kenalan sama kamu,"


"Besok kalau tante Ida ngomong macem-macem, nggak usah diladenin ya mbak! Orangnya rewel kayak netizen sama haters," sahut Fatimah hingga membuat Nurul bingung. "Udah nggak usah dipikirin, besok juga tahu sendiri, hhihi"


Nurul pun segera menelfon sang atasan untuk meminta izin tambahan satu hari. Begitu pula Rahman, yang langsung mengabari kedua sahabatnya.


"Bunda, Al udah ngantuk! Al mau tidur," pamit Al pada ibunya setelah sang ibu selesai menelfon atasannya.


"Iya! Yuk tidur sama bunda!" sahut Nurul.


"NGGAAAK BOLEH!" sahut bu Dira dan Fatimah bersamaan dan sedikit berteriak. Semua orang terkejut mendengar teriakan dua wanita itu. Semua mata tertuju pada mereka yang tengah duduk berdampingan.


"Kenapa bu'?" tanya Nurul bingung.


"Aduh, kenapa ya? Nggak mungkin kan aku bilang tentang malam pertama sama cucuku," bu Dira berusaha mencari alasan.


"Kan tadi Al udah bilang mbak, mau belajar mandiri. Lagian, kamar mbak Nurul kan sebelahan sama kamarnya Al, nggak mungkinlah kalau Al ilang!" sahut Fatimah asal.


"Riko boleh tidur sama mas Al nggak Ummah?" ucap Riko mengalihkan perhatian.


"Boleh dong sayang! Tapi Rindi nggak boleh yaaa! Nanti takutnya kamu kena tendang kakak-kakakmu waktu tidur, Oke sayang?" Rindi mengangguk.


"Rindi tidur sama Oma aja yuk!" ajak bu Dira.


"Iya Oma, Rindi mau," gadis kecil yang belum genap berusia lima tahun itu pun langsung mendekap tubuh sang nenek.


"Yaudah, nanti kalau ada apa-apa panggil Bunda ya di kamar sebelah! Jangan nakal sama dek Riko ya!" pesan Nurul.


"Siap Bunda sayang!"


Semua pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Dan menuju kamarnya untuk beristirahat.


Di dalam kamar, Nurul merasa gugup. "Apa iya aku tidur satu ranjang sama mas Rahman? Tapi di sini cuma ada satu tempat tidur, walaupun ukurannya besar banget. Atauuu,,, aku tidur di sofa sajalah. Aku ambil selimut di almari, tadi kayaknya aku lihat ada selimut di sana." Nurul benar-benar masih belum siap jika harus berbagi tempat tidur dengan seorang laki-laki yang berstatus suaminya itu.


Rahman yang baru selesai menerima telfon, ia lalu masuk ke kamarnya dan mendapati Nurul telah terlelap di sofa kamarnya. "Kenapa dia tidur di sana?" Rahman pun berjalan mendekati Nurul. Dia mengamati wajah Nurul yang tanpa riasan. "Memang benar manis, meski tanpa riasan," Rahman tersenyum.


Nurul sedikit merasa terusik. Ia membuka matanya dan mendapati Rahman tengah setengah berjongkok sambil menatapnya. Nurul terkejut, "Mas Rahman?". Ia segera bangun dan mendudukkan dirinya. "Ada apa mas?"

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak tidur di ranjang?" Rahman menegakkan badannya.


"Eh,,?? Eng-enggak mas. Itu,, itu,, itu kan tempat tidurnya mas Rahman, kalau Nurul tidur di sana takutnya nanti ganggu istirahat mas Rahman. Nurul tidur di sini saja mas. Lagian sofa nya juga nyaman kok mas buat tidur, Nurul aja tadi langsung bisa tidur, hhehe. Jadi mas Rahman bisa istirahat nyaman di tempat tidur. In shaa Allah, Nurul kalau tidur tenang kok mas, nggak berisik!" Rahman hanya tersenyum mendengar ucapan Nurul. Ia mengerti bahwa istrinya itu mungkin belum siap dan terbiasa tidur dengan orang asing.


"Tempat tidur sebesar itu, masih muat kok kalau buat tidur berdua. Badanmu kan kecil, tidurku nggak akan terganggu kalau cuma berdua sama kamu. Apalagi kamu bilang barusan, kamu tidurnya nggak berisik, apanya yang ganggu coba?" Rahman tersenyum nakal, sambil membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Nurul.


"Nuruuul,,,"


"Hhahaha, kamu ini benar-benar menggemaskan jika sedang gugup. Tenanglah, aku tidak akan memaksamu. Aku tahu semua butuh waktu proses dan proses itu pasti butuh waktu," Rahman mendudukkan dirinya di kursi. "Kita juga belum lama saling mengenal, ini semua pasti terasa canggung, bukan begitu?" Nurul hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku pun juga merasa canggung padamu sebenarnya. Hanya saja, apa iya kita akan terus menerus merasa canggung satu sama lain, tidak bukan?" Rahman menjeda kalimatnya. "Baiklah, tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa. Tak baik rasanya jika membiarkanmu tidur di sofa."


"Tak apa mas, Nurul tidur di sofa saja. Mas Rahman bisa tidur di tempat tidur seperti biasa," Nurul bergegas merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimutnya.


"Yasudah, istirahatlah! Jika kamu merasa tak nyaman, pindahlah tidur di sisi lain ranjang!"


"Iya mas, terima kasih," pengantin baru itu pun mengakhiri perbincangan kecil mereka dan beristirahat. Melepas lelah setelah seharian berkutat dengan hal yang tak biasa.


...****************...


Pagi menjelang. Semua orang telah bangun dengan semangat baru. Dan telah bersiap menyambut kedatangan beberapa tamu.


"Assalamu'alaikum mbak Dira," sapa seorang perempuan yang baru saja turun dari mobilnya.


"Baik mbak. Wah, nggak ada resepsi mbak? Kok sepi sih,,"


"Belum ada rencana dik, nggak tahu juga mau ada apa nggak. Ayo masuk dulu!" ajak bu Dira. Mereka pun lantas masuk ke rumah yang di ikuti oleh beberapa tamu lain yang juga telah turun dari mobil.


"Nduk Nurul, sini sebentar!" bu Dira memanggil Nurul yang tengah membantu mbok Tum menyiapkan minuman. Nurul pun segera menghampiri ibu mertuanya. "Dik, ini istrinya Rahman, Nurul. Dan itu yang main sama Rindi, Fatih, anaknya," Nurul pun mengulurkan tangannya untuk menyalami tamunya.


"Assalamu'alaikum tante, saya Nurul,"


"Iya, kamu bisa panggil saya tante Ida," tante Ida sedikit risih kepada Nurul. "Nggak salah pilih mbak kamu?" bu Ida mengamati Nurul dari atas ke bawah.


Bu Dira menatap tajam pada bu Ida. Nurul undur diri terlebih dahulu untuk memanggil Al agar menyambut para tamu bersamanya. Nurul dan Al pun menyambut para tamu yang tak lain adalah anak, menantu dan cucu dari bu Ida. Bu Ida punya tiga orang anak, yang salah satunya tinggal di D****. Beberapa tetangga dan kerabat lain pun mulai berdatangan.


"Nurul, kamu ketemu Rahman di mana sih? Kok bisa juga Rahman mau nikah sama kamu?" tanya bu Ida di sela-sela obrolan mereka.


"Ketemunya di depan rumah ini Tante," jawab Nurul jujur.


"Terus kok bisa Rahman mau nikah sama kamu? Kamu pakai pelet apa? Dukunnya orang mana? Pasti kamu bayar mahal yaa,, cih,"

__ADS_1


"Dukunnya di sini Tante!" sahut Fatimah lantang. Semua tamu pun menoleh ke arah Fatimah. Dia tengah berdiri disamping bu Dira.


"Aku dukunnya dek, aku yang ngenalin Rahman ke Nurul. Hebat kan dukunnya? Dan ya, Nurul membayar sangat mahal untuk bisa nikah sama Rahman."


"Kamu denger sendiri Man? Istrimu itu nyuap ibu kamu biar bisa nikah sama kamu. Dia itu cuma mau harta kamu, biar status sosialnya naik, bisa hidup enak tanpa harus susah kerja lagi, dasar MUNAFIK! cih,," ucap bu Ida sambil menunjuk Nurul dengan jari telunjuknya. Semua orang terkejut mendengar ucapan bu Ida. Tak terkecuali Nurul.


"Apa benar begitu mbak Nurul?" tanya beberapa orang kepada Nurul.


Air mata Nurul mulai menggenang di pelupuk matanya. Ucapan pedas dari mulut bu Ida masih tetap keluar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia tidak pernah terfikirkan hal semacam itu sampai saat ini. Tapi inilah yang pernah ia takutkan. Status sosialnya akan menjadi masalah bagi keluarga bu Dira.


Bukan Nurul wanita lemah, hanya saja, fitnah itu sangat menyakitkan. Meskipun ia pernah difitnah oleh orang lain sebelumnya, dia tetap seorang wanita yang lembut hatinya. Tetap akan merasakan sakit jika fitnah itu datang padanya.


"Maaf tante, saya benar-benar tidak tahu apa salah saya pada Anda. Kita juga baru saja saling mengenal. Tapi kenapa tante sepertinya begitu membenci saya? Apa salah saya pada Anda tante? Atau pada keluarga Anda?" tanya Nurul sambil menahan air matanya menetes.


"Kamu masih tanya? Kamu itu nggak jauh beda sama para pengemis di luar sana, yang hanya ingin hidup enak dari hasil jerih payah orang lain. Kamu nyuap mbak Dira dengan kepolosanmu supaya bisa jadi suaminya Rahman dan nikmatin harta kekayaannya. Iya kan? Dasar perempuan nggak tahu diri, dari luar aja kelihatannya baik, pakai jilbab besar, tapi hatinya sangat hina, cih!" tuduh bu Ida dengan sinisnya.


"Bunda nggak seperti itu!" teriak Al dengan lantang dari arah pintu halaman belakang.


Nurul segera berlari menghampiri Al. Air matanya mulai menetes. Dengan cepat ia mengusapnya. "Al, nggak boleh teriak sama oma Ida! Bunda nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu yaa,, sekarang minta maaf sama Oma!" perintah Nurul.


"Tapi bundaaa,,"


"Cepat minta maaf sama oma Ida! Ayo sama Bunda juga,," Nurul merangkul sang putra mendekati bu Ida.


"Fatih minta maaf Oma, karena tadi teriak sama Oma," ucap Al sedikit menunduk.


"Saya minta maaf tante, jika ada tutur kata saya yang menyakiti hati tante. Saya juga ingin meminta maaf atas sikap anak saya yang kurang sopan,"


"Ibu dan anak sama saja! huh,," bu Ida pergi meninggalkan Nurul dan Al. Tapi seketika lengannya dicekal oleh bu Dira.


"Kamu tahu Hamidah berapa yang Nurul bayar untuk bisa menjadi istri Rahman? Nurul membayar dengan ketulusan dan keikhlasannya menerima perlakuan-perlakuan dari orang sepertimu. Apa dia marah padamu setelah kau menghinanya? Apa dia menyakitimu setelah kau menginjak harga dirinya? TIDAK. Dia bahkan meminta maaf padamu dan tidak membalas apa yang kau lakukan padanya. Kau memang tidak pernah berubah Da," semua mulai menggunjingkan sikap bu Ida.


"Dasar penjilat," bu Ida mengumpat pada Nurul.


"Cukup tante!" bentak Rahman. "Tante sedang di rumah saya, jadi tolong jaga sikap tante! Dan kalau sampai saya mendengar satu lagi ucapan buruk tante tentang istri dan anak saya, jangan salahkan saya jika akhirnya saya mengusir tante dari rumah ini." Marah Rahman yang entah sejak kapan telah berada dibelakang Nurul.


"Mas Rahman istighfar! Jangan seperti itu sama tante mas!" bujuk Nurul. Rahman lalu menatap wajah Nurul yang mata dan hidungnya mulai memerah.


"Astaghfirullah," Rahman menarik nafas panjang. "Maaf semuanya, atas insiden yang baru saja terjadi. Silahkan dilanjutkan kembali bincang-bincangnya!" ucap Rahman yang lantas mengajak Nurul untuk kembali ke kamar.


Nurul dan Rahman saling menenangkan diri di kampar mereka. Tak lama mereka telah kembali ke bawah menemui para. Al pun telah kembali bermain dengan Riko dan Rindi ditemani oleh Ali. Fatimah dan bu Dira juga sedang asyik mengobrol dengan yang lain.

__ADS_1


Menjelang dzuhur semua tamu mulai berpamitan pulang. Tak terkecuali bu Ida dan keluarganya. Semua bersikap biasa saja, seperti tak terjadi apapun. Karena mereka paham, jika seorang Rahman sampai marah karena suatu hal, itu bukanlah hal baik. Mereka memilih diam dan tak mengungkitnya.


Satu ujian kecil baru saja dilalui. Perlu saling pengertian dan saling memahami dalam menjalin hubungan. Tak lupa, kepercayaan dan kejujuran pun harus ada didalamnya. Agar lebih kokohlah fondasi hubungan itu.


__ADS_2