
Satu minggu telah berlalu. Kondisi Rahman semakin hari semakin membaik dengan cepat. Hati yang bahagia adalah obat terbaik. Dan siang itu, Rahman telah diizinkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Semua keluarga, bahagia menyambut kepulangan Rahman dari rumah sakit. Bu Dira menyiapkan kamar sementara untuk Rahman di lantai bawah, agar ia tidak kelelahan naik turun tangga jika beraktivitas.
Tapi ternyata Rahman menolaknya. Karena ia merindukan kamarnya sendiri. Bu Dira akhirnya mengalah pada Rahman.
Malam harinya, semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Ali pun telah tiba sore tadi. Ia pun tak kalah bahagia dengan kepulangan Rahman. Tak lupa dua sahabat Rahman beserta istri mereka pun datang. Rumah Bu Dira benar-benar ramai malam itu.
"Gimana Man? Gak jadi ce,," belum selesai Burhan dengan kalimatnya, Shodiq menginjak kaki Burhan dengan keras.
"Aaaww! Apaan sih Diq?" Gerutu Burhan.
"Mas Burhan sama Mas Shodiq ini kenapa sih? Waktu itu di rumah sakit juga kayak gitu?" Sahut Nurul penasaran sembari memangku hilya. Nurul teringat kejadian kecil saat ia kembali ke ruang rawat Rahman dari ruang pribadi Arum.
"Nggak tahu ini Shodiq. Demen bener nginjak kaki orang lain. Dikira nggak sakit apa?" Sungut Burhan. Shodiq hanya menghela nafas panjang.
"Kenapa aku dulu bisa pilih dia jadi asisten pribadiku ya?" gumam Rahman dalam hati.
"Ayang Beb, kamu belajar bikin kue sama Nurul tuh! Dia jago bikin kue." Ucap Shodiq berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu pinter bikin kue Rul?" tanya Rika.
"Eh, enggak Mbak Ka! Nurul juga masih belajar kok. Mas Shodiq aja yang melebih-lebihkan." Sahut Nurul.
"Tapi kue buatanmu kemarin enak beneran lho Rul. Burhan aja sampai kantor mau balik lagi ke rumah sakit gara-gara mau makan kuemu." Ucap Shodiq yang lalu mendapat tatapan dari semua orang.
"Kenapa? Ada yang salah sama omonganku? Tuh tanya sendiri sama orangnya kalau nggak percaya!" Imbuh Shodiq.
Semua mengalihkan pandangannya pada Burhan. Burhan hanya menanggapinya dengan cengiran aneh.
"Ya kan bisa minta dibuatin sama Mbak Na Mas Burhan?" Sahut Nurul.
"Aku orangnya nggak suka ribet Rul. Jadi mending beli jadi, hhehe." Jawab Nana.
"Oohh gituu. Itu kemarin juga karena Al minta dibuatin, jadi Nurul buatin sekalian buat Mas Rahman."
"Mbak Nurul tu diem-diem jago masak!" Puji Fatimah.
"Enggak Dek. Kamu ini ada-ada aja!" sanggah Nurul.
"Untung nggak jadi ya Man, coba kalau jadi, nyesel kamu Man!" Ucap Burhan.
Rahman dan Shodiq langsung menatap tajam pada Burhan. Burhan terkejut mendapat tatapan tajam dua orang sahabatnya. Ia baru sadar, bahwa ia hampir saja kelepasan menceritakan tentang rahasia Rahman.
Memang tak banyak yang tahu tentang keinginan Rahman untuk menceraikan Nurul beberapa hari lalu. Hanya Shodiq dan Burhan serta Rahman dan Nurul pastinya.
"Apanya yang nggak jadi Yang?" Tanya Nana bingung.
"Nggak jadi, nggak jadi lama-lama di rumah sakit maksudnya Yang. Kan kalau lama-lama di rumah sakit, nggak bisa kumpul bareng gini, ya kan Man?" Jawab Burhan bohong.
"Terserah kamu!" Jawab Rahman ketus.
"Hhehe, maaf!" Imbuh Burhan dengan sedikit cengiran rasa bersalah.
"Rul, aku mau dong gendong anakmu lagi!" Pinta Rika.
"Boleh Mbak Ka." Nurul lalu menyerahkan Hilya pada Rika.
Rahman pun langsung merangkul pundak Nurul dan menarik ke dadanya. Nurul sedikit terkejut karena ulah Rahman. Ia sedikit berontak tapi ditahan Rahman. Nurul malu karena sedang ada banyak orang di rumah.
"Namanya siapa Rul?" tanya Rika.
"Hilya Mbak Ka. Hilya Khairunnisa. Mas Rahman yang kasih nama."
__ADS_1
"Halo Hilya cantik! Ikut Tante aja yuk ke rumah Mas Rezky!" Ucap Rika sembari memangku Hilya yang tertidur lelap. Nana yang duduk di samping Rika pun ikut memandangi bayi mungil itu.
"Tuh Diq! Udah dikasih kode sama Rika. Ahmad minta dibikinin adek." Sindir Rahman.
"Mbak Na kayaknya juga pengen, hhihi." Ucap Nurul menimpali sembari bersandar manja di dada Rahman.
"Wah, Rahman sekarang makin peka kayaknya!" Sindir Burhan.
"Tuh Na, Burhan juga pengen punya bayi lagi!" Jawab Rahman.
"Tenang aja Man! Nggak usah kamu kasih tahu, Nana udah paham, hhaha." Jawab Burhan sombong.
"Tiap hari dong Mas Burhan?" Sindir Ali.
"Iya dong!" Jawab Burhan mantap tanpa rasa malu.
Semua pun tertawa mendengar ucapan Burhan. Dan suara tawa itu mengusik tidur sang bayi mungil. Ia pun terbangun lalu menangis. Rika segera menyerahkan Hilya pada Nurul.
"Bunda, adek kenapa?" Tanya Al yang tiba-tiba berlari ke arah ruang keluarga. Ia sedari tadi asik bermain dengan anak-anak yang lain di ruang tamu. Al akan langsung menghampiri adiknya jika ia mendengar tangisannya.
"Nggak papa sayang, mungkin haus." Jawab Nurul.
"Oohh, oke Bunda! Al main lagi ya!"
"Iya sayang!" sahut Nurul. Al pun kembali bermain dengan yang lain.
"Maaf ya semuanya, aku ke kamar dulu! Mau nenangin Hilya." Pamit Nurul sambil berdiri menggendong Hilya yang sudah mulai tenang. Nurul pun segera membawa Hilya ke kamar dan menyusuinya.
Semua kembali larut dalam obrolan. Hingga malam semakin larut. Shodiq dan Burhan sekeluarga pun pamit pulang. Semua anggota keluarga Bu Dira pun bersiap untuk istirahat di kamar masing-masing.
Nurul yang tadi lebih dulu masuk kamar, tidak keluar kembali. Ia tertidur bersama putrinya di tempat tidurnya setelah selesai menyusui Hilya. Ia cukup kelelahan hari ini.
Rahman di bantu Ali kembali ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, Nurul tengah terlelap memeluk Hilya di sebelah kanannya. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di samping Hilya dan memeluk tubuh dua orang wanita itu.
"Eh Mas! Astaghfirullah, Nurul ketiduran ya tadi. Mbak Ka sama Mbak Na?" Nurul panik karena ia tak sengaja tertidur.
"Udah pulang barusan. Tidurlah lagi!" Ucap Rahman lembut.
"Sebentar Mas, Nurul pindahin Hilya ke boxnya dulu!" Nurul pun segera bangun untuk memindahkan Hilya.
"Biarin tidur di sini! Kamu tukeran aja sama Hilya, aku pengen peluk kamu!" Ucap Rahman sembari tangannya memegang tangan Nurul.
"Sebentar ya Hilya sayang, ayah pinjem bunda dulu!" Rahman mengusap pipi putrinya yang tertidur lelap.
Nurul tersenyum kecil. Pipinya merona. Ia hanya mengangguk patuh lalu memindahkan Hilya ke sisi kirinya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di samping Rahman. Rahman pun langsung menarik Nurul kedalam pelukannya.
Nurul juga langsung memeluk Rahman. Ia benamkan wajahnya didada Rahman seperti yang biasa ia lakukan. Mereka sungguh sangat merindukan pelukan itu.
"Mas,," Ucap Nurul sambil menengadahkan pandangannya ke wajah Rahman.
"Kenapa sayang?"
"Nurul ingin tanya sesuatu."
"Tanyalah!"
"Waktu di rumah sakit kemarin, Mas kok tahu Nurul di ruangan Dokter Arum?"
"Aku akan selalu menemukanmu, dimanapun kamu berada."
"Beneran Mas, nggak usah pakai acara gombal gitu." Nurul sedikit kesal. "Pasti Dokter Arum ya?"
"Hhehe, iya sayang." Rahman mencium kening Nurul lembut.
__ADS_1
"Burhan ketemu Arum di bawah, dia langsung ke atas mau nemuin kamu, tapi ketemu aku sama Shodiq di depan lift. Jadi mereka cuma nganterin aku sampai depan ruangan Arum." Imbuh Rahman menceritakan sedikit kejadian waktu itu.
Nurul hanya mengangguk di dalam dekapan Rahman. Mereka masih menikmati pelukan hangat itu. Perlahan Rahman melepaskan jilbab yang Nurul kenakan.
"Sayang,,"
"Ya Mas,,"
"Mas pengen,,"
"Pengen apa Mas?"
Tangan Rahman mulai nakal menelusup ke dalam gamis bagian atas Nurul yang resletingnya terbuka. Nurul lupa belum membetulkannya tadi setelah menyusui Hilya.
"Maaass, tangannya kok nakal ya?"
"Aku pengen itu sayang,," Rahman merengek manja. Tangannya sudah sibuk memainkan sesuatu yang tertutup cup bra milik Nurul.
"Mas kenapa jadi mesum gini sih?" Nurul bersungut manja.
"Kamu baru tahu aku mesum?"
Nurul memegang tangan Rahman yang sibuk bermain di dalam bajunya. "Mas, aku belum selesai nifas! Lagi pula, Mas juga baru aja pulang dari rumah sakitkan?"
"Kapan selesainya sayang?"
"Nurul juga nggak tahu Mas kalau itu. Tiap orang beda-beda Mas. Kalau waktu Al dulu, satu bulan baru benar-benar bersih."
"Kok lama sayang?"
"Aakhh, udah Mas tangannya!" gairah Nurul mulai terangsang akibat ulah Rahman.
"Hhihi, lagi aja Dek, Mas suka!"
"Maaass,, Mas kan harus istirahat biar pulih!" Ucap Nurul sembari menggigit bibir bawahnya menahan agar tak mendesah.
Rahman menatap geli wajah Nurul yang menahan hasratnya. "Kamu udah pengen ya Dek?"
"Mas, udah!" Nurul akhirnya menarik paksa tangan Rahman dari dalam bajunya.
"Hhihi, maaf ya sayang!" Rahman mencium bibir Nurul. Nurul pun membalasnya dengan mesra.
Tok, tok, tok. Rahman dan Nurul segera mengakhiri ciuman mereka. Nurul segera bangun dan mengenakan jilbab dan merapikan bajunya. Tak lupa ia mengelap bibirnya yang sedikit basah karena berciuman.
"Bunda, Al ingin tidur sama Ayah!" Ucap Al dengan wajah kantuknya setelah Nurul membukakan pintu.
"Sini masuk sayang!" Nuril segera menuntun Al ke arah tempat tidur setelah menutup pintu kembali.
"Ayah, Al kangen tidur sama Ayah!" Ucap Al ketika melihat Rahman.
"Sini sayang tidur sama-sama!" Rahman perlahan bangun.
"Al tidurnya di sebelah kanan Ayah ya! Kan tubuh ayah yang luka di sebelah kiri." Pinta Nurul.
Al mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di sebelah kanan Rahman. "Dek Riko tidur sama siapa sayang kalau Al tidur di sini?" tanya Nurul khawatir.
"Sama Om Ali Bunda. Om Ali kangen tidur sama Dek Riko katanya."
"Oohh. Yaudah tidurlah! Kita tidur di sini sama-sama."
Al mengangguk bahagia. Ia tidur diantara kedua orang tuanya. Al memang sudah biasa tidur bersama Rahman dan Nurul jika ia ingin. Rahman dan Nurul pun tak keberatan untuk itu.
Dan malam ini, keluarga kecil itu tidur bersama di kamar yang sama. Di ranjang yang sama. Melewati malam penuh kehangatan bersama. Setelah badai besar menerpa mereka.
__ADS_1