
"Tante, Ayah sama Bunda kok belum pulang ya?" Al bertanya pada Fatimah saat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Al masih belum bisa tidur karena menunggu ibunya.
"Mungkin kerjaan Ayah belum selesai Al. Al tidur dulu saja!" jawab Fatimah.
"Kira-kira pulang jam berapa Tante? Apa jauh tempatnya?" Al kembali bertanya setelah ia menguap beberapa kali.
"Mungkin nggak pulang Al. Ini udah malem banget. Al tidur dulu aja ya!"
"Tidur sama Oma yuk sayang! Dek Riki kan udah tidur sama Om Ali." Imbuh Bu Dira.
"Dek Hilya gimana Oma?"
"Dek Hilya nanti tidur sama Tante sama Dek Rindi." Jawab Fatimah.
"Iya deh Oma, Al tidur sama Oma aja!" Al kembali menguap lalu berjalan menuju kamar Bu Dira dengan wajah sangat mengantuk.
Al langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Dan tak butuh waktu lama, ia langsung terlelap di kamar Bu Dira. Bahkan Bu Dira masih mengobrol di ruang santai bersama Fatimah.
"Rahman sama Nurul kemana kok belum pulang?" tanya Bu Dira pada Fatimah setelah Al masuk kamarnya.
"Nggak usah ditungguin Bu'. Mereka nggak akan pulang selama tiga hari, hhihi." Jawab Fatimah cekikikan.
"Lhoh kenapa? Rahman ada kerjaan apa sampai nggak pulang tiga hari?" tanya Bu Dira bingung.
"Mas Rahman baru ngurung Mbak Nurul Bu'. Mereka pasti lagi 'enak-enak' sekarang." Jawab Fatimah santai.
"Maksudnya gimana nduk?" Bu Dira masih belum paham maksud Fatimah.
"Ah Ibu' tumben banget nggak konek-konek. Biasanya langsung tanggap." Fatimah sedikit menggerutu.
"Apa sih nduk?"
Fatimah menghela nafas panjang. " Mas Rahman itu baru bulan madu Bu' sama Mbak Nurul di resortnya Mas Haidar."
"Lhah? Hhahaha, kenapa Ibu nggak kepikiran dari tadi ya?" Bu Dira tertawa sendiri.
"Ibu pasti capek. Istirahat saja yuk Bu'!" ajak Fatimah.
"Iya sepertinya. Tapi Hilya gimana?"
"Mas Rahman udah minta Fatimah jaga Hilya selama dia bulan madu." Jawab Fatimah.
"Oohh, begitu!"
"Udah yuk Bu', istirahat! Kasihan itu Rindi sama Hilya di kamar." Fatimah mulai beranjak dari kursi.
Bu Dira pun lalu ikut pergi beristirahat di kamar. Ia lalu merebahkan tubuhnya disamping Al dan menarik selimutnya agar menutupi tubuhnya dan Al.
Sedang di kamar lain, Fatimah baru saja ingin memejamkan matanya diantara dua gadis kecil yang sudah terlelap, Rindi dan Hilya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan. Ia membuka matanya kembali, melihat siapa yang datang. Ali muncul dari balik pintu.
"Dek, ke kamar sebelah yuk!" ucap Ali setelah ia sampai di samping tempat tidur Fatimah.
"Ngapain Mas?" Mereka berbicara sedikit berbisik.
"Kamu turun dulu sini!" pinta Ali yang langsung dituruti oleh Fatimah.
"Kenapa Mas?" tanya Fatimah bingung.
"Kamu wangi banget Dek. Mas pengen lho Dek!" Ali berbisik mesra di telinga Fatimah yang tertutup jilbab instannya.
"Mas nggak usah nakal deh! Fatimah harus jagain Hilya sama Rindi." Tolak Fatimah yang langsung paham maksud suaminya itu.
"Sebentar aja Dek! Satu ronde aja." Ali merengek pada Fatimah.
Ali merasakan apa yang tadi Rahman rasakan ketika masih di vila. Aroma tubuh Fatimah juga membangkitkan gairahnya. Ia berusaha menahannya hingga semua orang terlelap.
"Aku udah nggak tahan nih! Udah siap dari tadi tuh lihat!" Ali menunjuk pada sesuatu dibawah sana yang sudah menonjol sempurna di dalam celananya.
"Astaghfirullah Mas! Kenapa harus sekarang sih?" protes Fatimah.
__ADS_1
"Aku tuh udah nahan ini sejak kamu pulang dari salon tadi."
"Apa?"
"Beneran Dek!"
Ide nakal Fatimah muncul. Ia ingin mengerjai suaminya itu. Ia mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ali. Tangannya mulai meraba sesuatu yang mengeras di bawah sana. Tanpa pikir panjang, Ali langsung membopong Fatimah keluar kamar. Ia sempatkan menutup pintu kamar lalu berjalan menuju kamar sebelah yang harusnya ditempati Al dan Riko.
Fatimah sempat memekik ketika tubuhnya dibopong oleh Ali. Tapi Ali dengan cepat menyambar bibir istrinya itu hingga Fatimah tak berkutik. Ia malah menikmati dan membalas ciuman suaminya. Ide nakalnya untuk mengerjai Ali hilang sudah. Kini mereka malah bercumbu dengan mesra di kamar itu. Melakukan penyatuan dan pelepasan sempurna. Menuntaskan hasratnya yang ia tahan sejak tadi. (Nggak mau kalah sama yang lagi bulan madu ya Li 😅)
...****************...
Nurul segera membuka almari yang ada di kamar itu. Matanya membola sempurna. Matanya berkedip berkali-kali.
"Kenapa lingerie semua?" gumam Nurul.
Kemudian ia kembali berkeliling kamar, mencari jika ada almari lain di sana. Tapi tak ia temukan. Ia kembali ke almari itu dan bertepatan dengan Rahman keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang menutupi perut bagian bawahnya hingga lutut.
"Mas bajuku dimana?"
"Itu di almari Sayang! Kan banyak bajunya."
"Tapi kan Mas, ituu,, astaghfirullah." Nurul mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya kesal.
"Itu kenapa Sayang? Kan itu baju ada banyak Sayang. Mas udah siapin itu buat kamu."
"Tapi Maaasss,," Nurul mulai merajuk.
"Selama kita di sini, kamu harus pakai baju yang Mas siapin!"
"Tapi kan Mas,, Aaahhh,, Mas Rahman! Itu kan lingerie semua!" Nurul mulai bersungut kesal. Ia kembali menghentakkan kakinya.
Rahman pun menghampiri istrinya yang sedang kesal. Merengkuhnya dalam dekapan dadanya yang masih telanjang. Ia mengusap punggung Nurul agar tenang. Nurul menghirup wangi sabun dari tubuh Rahman.
"Oh nyamannya seperti ini." Nurul bergumam dalam hati.
"Aku ingin kamu memakainya Sayang! Hanya untukku!"
"Apa kamu mau pakai bikini? Aku akan siapkan jika kamu mau!" Nurul menggelengkan kepalanya cepat. Ia akhirnya menuruti permintaan Rahman. Rahman pun tersenyum.
Rahman kemudian memilihkan salah satu lingerie yang sudah ia siapkan. Ada beberapa model lingerie dengan warna yang berbeda. Pilihannya jatuh pada lingerie berwarna putih. Ia lantas memberikannya pada Nurul. Nurul pun segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Mas, bisa tolong ambilkan pouch make up Nurul?" pinta Nurul dari kamar mandi.
Rahman pun mengambilkan barang yang diminta Nurul lalu menyerahkannya. Ia kemudian mengenakan celana boxernya dan tetap bertelanjang dada. Ia lalu menjatuhkan pantatnya di sofa sembari menunggu Nurul. Ia mematikan ponselnya dan ponsel Nurul. Rahman benar-benar tak ingin diganggu malam ini.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Nurul tak kunjung keluar. Rahman mulai penasaran, kenapa istrinya itu tak kunjung keluar.
Sedang di kamar mandi, Nurul sedang berkutat dengan make up-nya. Ia pun ingin menyenangkan hati suaminya itu malam ini. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum pada beberapa bagian tubuhnya.
"Kok aromanya lain? Ini bukan parfumku." Gumam Nurul sambil mengamati botol parfum di tangannya.
"Udahlah nggak papa, dari pada nggak pakai juga." Ia akhirnya tetal memakai parfum itu. "Selesai! Tapiii, aku malu keluar pakai kayak gini!"
Tok, tok, tok. "Sayang, kamu nggak papa? Kenapa lama sekali?" teriak Rahman dari depan pintu kamar mandi.
"Iy, iya Mas, sebentar!" sahut Nurul.
"Aduh gimana ini?" Nurul berfikir sejenak sambil bergumam. "Aku tahu!" senyuman kecil itu hadir.
"Sayang,," panggil Rahman lagi.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Nurul masih bersembunyi di balik pintu. Ia menyembulkan kepalanya sedikit mengintip Rahman. Rahman menantinya di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Mas tolong tutup mata dulu!" ucap Nurul.
"Ngapain tutup mata Sayang? Aku udah lihat semuanya." Jawab Rahman dengan senyuman nakalnya.
"Aahh Mas! Nurul malu pakai kayak gini!"
__ADS_1
"Waktu pertama kali itu kamu nggak malu," Rahman mengingat malam pertama mereka.
"Yaudah, Nurul nggak jadi keluar!" Nurul merajuk manja.
"Iya, iya." Rahman lantas menutup matanya. "Ini udah tutup mata."
Bruk. Nurul berlari dan langsung memeluk tubuh Rahman. Ia memeluk sangat erat. Rahman terkejut lalu membuka matanya.
"Oh shit! Langsung nempel!" umpat Rahman dalam hati ketika dua benda kenyal milik Nurul tepat mendarat di dadanya.
Ia berusaha melepaskan pelukan Nurul agar bisa melihat penampilan istrinya. Tapi Nurul bertahan sekuat tenaga agar pelukannya tidak terlepas.
"Sayang,, kamu mau langsung 'main' tanpa pemanasan?" ucap Rahman sambil mengusap punggung Nurul.
Nurul mengendorkan pelukannya lalu menatap Rahman kebingungan. Ia tidak sadar, sudah membangunkan kembali si junior yang tadi sudah tenang. Dan seketika itu, Rahman langsung melepaskan pelukan Nurul. Nurul terkejut pelukannya terlepas, ia langsung membalikkan badan membelakangi Rahman.
Rahman mengamati punggung Nurul yang terekspos sempurna. Hanya terhalangi oleh lingerie transparan yang Nurul kenakan. Lingerie dengan model off shoulders itu benar-benar pas di tubuh Nurul.
"Sayang, berbaliklah! Atau aku akan menerkammu sekarang juga!" pinta Rahman.
Nurul terkejut mendengar ucapan Rahman. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya terasa sesak. Badannya gemetar. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Perlahan ia membalikkan badannya kembali, dengan kepala yang tertunduk malu.
Rahman membelalakkan matanya. Tubuh Nurul benar-benar terlihat seksi. Tubuh yang beberapa bulan lalu terlihat bulat, kini sudah sangat ramping dan menggoda.
Dua buah pay*dara Nurul dapat terlihat oleh Rahman. Karena Nurul tidak mengenakan bra. Hanya sebuah g-string yang menutupi area intimnya.
Rahman mendekati Nurul. Ia menarik dagu Nurul lalu menyingkirkan anak rambut yang sedikit tak beraturan di wajahnya. Nurul memang menggulung rambutnya sedikit tidak rapi, supaya lehernya terekspos oleh Rahman.
"You are so sexy baby!" ucap Rahman tepat ditelinga Nurul. Pipi Nurul langsung merona.
"Boleh aku melakukannya Sayang?" Rahman meminta izin pada Nurul.
Nurul menatap lembut wajah Rahman. Ia lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Matikan dulu Mas lampunya! Kita pakai cahaya lilin saja!" pinta Nurul lirih. Rahman pun langsung mematikan lampu kamarnya. Tak lupa mereka masing-masing membaca do'a dalam hatinya.
Rahman mendekati Nurul dan langsung menarik pinggangnya dengan satu tangan. Tangan yang lain dengan cepat merengkuh tengkuk Nurul lalu mencium bibirnya dengan lembut. Nurul pun menyambutnya dengan hangat dan mengalungkan tangannya ke leher Rahman.
Mereka saling mengecap bibir dan memainkan lidahnya satu sama lain. Tangan Rahman mulai bergerilya mengger*yangi tubuh Nurul. Dengan satu tarikan tali, lingerie yang Nurul kenakan berhasil terjun bebas ke lantai. Hanya menyisakan penutup bagian intim Nurul.
Rahman menuntun Nurul ke arah ranjang. Mereka tak melepaskan ciumannya. Perlahan mereka duduk dan Rahman mulai membaringkan Nurul lalu mengungkungnya. Bibir Rahman mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Nurul dan Nurul sangat menikmati permainan Rahman.
Rahman mulai meny*sap dua benda kenyal di dada Nurul secara bergantian yang sedari tadi terlihat menantangnya. Ia memainkannya benda kenyal itu dengan lihai. Nurul pun sudah diliputi kabut gairah.
Dua tangan Rahman mulai sibuk melepaskan boxer yang ia kenakan dan g-string Nurul. Mereka kini benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun. Tangan Rahman mulai bermain lincah di bagian intim Nurul.
"Aakkhh Mas,," desahan itu akhirnya meluncur dari mulut Nurul.
Gairah Rahman semakin memuncak. Bibirnya mulai berkelana ke bagian int*m Nurul dengan dua tangan bermain di atas puncak dada Nurul. Nurul semakin meracau tak karuan. Hingga Nurul sampai di pelepasan pertamanya.
"Siap Sayang?" tanya Rahman lembut.
Nurul hanya mengangguk. Ia sudah dikuasai oleh gairah yang memuncak. Rahman mulai melancarkan aksinya dengan junior.
"Sayang, kenapa jadi sempit? Are you a virgin again baby?" tanya Rahman ketika ia kesulitan melancarkan aksinya dengan junior.
"Just do it now baby!" jawab Nurul dengan nada penuh gairah.
"As you wish baby!"
Rahman kembali mencoba melancarkan aksinya dengan junior. Perlahan ia melakukannya. Setelah beberapa kali hentakan ia berhasil. Disertai dengan jeritan Nurul dan tangan yang mencengkeram sprei yang mulai berantakan. Dan Rahman pun mulai memompa perlahan.
Des*han demi des*han kembali keluar dari mulut Nurul. Rahman pun mulai mempercepat permainannya. Hingga mereka sampai pada pelepasan bersamaan.
"Mas Rahman,," ucap Nurul.
"Nurul akkhh,," ucap Rahman bersamaan dengan Nurul saat mereka mencapai puncak pelepasan.
"Thank you baby!" Rahman mengecup bibir Nurul lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nurul. Ia kemudian menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka.
__ADS_1
"Kita istirahat dulu, nanti kita lanjutkan!" ucap Rahman sambil merengkuh tubuh Nurul ke dalam pelukannya. Nurul pun menganggukkan kepalanya.
Ah bulan madu! Pastilah banyak hal indah disana. Banyak momen tak terlupakan dan akan menjadi kenangan indah.