
Hari terus berganti. Waktu pun tak berhenti bergulir. Roda kehidupan terus berputar. Takdir Tuhan tiada yang tahu. Apa yang akan terjadi, masih menjadi misteri.
Rahman dan Nurul semakin hari semakin dekat. Kehamilannya membuatnya tak ingin jauh dari Rahman. Meskipun ia tak mengidam hal yang aneh-aneh, tapi sikapnya sungguh sangat manja pada Rahman.
Perut Nurul kini mulai membuncit karena usia kehamilannya yang telah menginjak bulan ke lima. Ia baru saja mengunjungi Bu Lastri minggu lalu bersama Rahman dan Al.
Siang itu, Nurul tengah bersantai sambil menonton tv. Bu Dira sedang beristirahat di kamarnya. Tiba-tiba Pak Slamet menghampirinya.
"Mbak Nurul, ada surat," kata Pak Slamet sembari menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna coklat.
"Dari siapa Pak?" Nurul menerima amplop itu dan mencari nama pengirimnya, tapi tidak ditemukannya. Hanya ada nama dan alamat tujuannya.
"Saya nggak tahu Mbak. Tadi ada ojek online yang mengantar, cuma bilang buat Mbak Nurul,"
"Oh! Yasudah Pak, terima kasih ya."
"Iya Mbak, sama-sama. Saya permisi!" Pak Slamet pun pergi meninggalkan Nurul.
Nurul lantas membuka amplop itu. Ia menemukan sebuah surat dan amplop yang lebih kecil di dalamnya. Ia membaca surat itu.
Dear Nurul,
Aku tahu kamu wanita baik, dan wanita yang baik pasti paham bagaimana perasaan wanita lain.
Aku butuh keikhlasanmu untuk mengerti keadaanku.
Bukalah amplop kecil ini. Dan aku yakin, kamu akan paham maksud surat ini.
Dinda
"Dari Mbak Dinda? Kenapa dia kirim surat segala?" gumam Nurul. Ia meletakkan surat itu dan membuka amplop kecil itu dan mengeluarkan isinya.
Ada beberapa lembar foto di sana. Ia menatap lekat satu per satu foto-foto itu. Dadanya mulai sesak. Kelopak matanya mulai berair. Ia berusaha menguasai dirinya. "Mas Rahman?"
Nurul segera membungkam mulutnya sendiri. Ia tak ingin isakannya terdengar oleh Bu Dira. Air mata yang berusaha dibendungnya, tak lagi kuasa ditahannya. Tumpah mengalir deras membasahi pipi dan beberapa lembar foto yang terjatuh.
Ia segera meraup semua isi amplop tadi. Ia membawanya berlari ke kamarnya. Dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Sampai di kamar, ia duduk di samping ranjang tidurnya. Ia kembali memastikan apa yang ada di foto itu.
Foto dimana Rahman sedang memeluk seorang wanita, yang tak lain adalah Dinda. Mereka berada di sebuah kamar. Dan terlihat cukup jelas dari foto itu, bahwa Rahman dan Dinda tidak mengenakan pakaian. Bahkan ada foto dimana Rahman dan Dinda tengah berciuman dan bercumbu mesra.
Istri mana yang tak sakit hatinya melihat hal seperti itu. Apalagi dalam kondisi tengah hamil, dimana hormon dalam tubuhnya sangatlah tidak stabil. Nurul menangis tak karuan. Hatinya begitu sakit terasa. Hingga ia menyadari ada satu foto yang terlewat.
"Ini kan foto hasil USG? Dan ini kan, hiks, hiks, bahkan Mbak Dinda sudah hamil?" Nurul semakin menumpahkan air matanya. Ia menangis begitu lama di kamarnya. Hingga ia kelelahan dan tertidur begitu saja di lantai kamarnya.
Di kantor, Rahman sedang sibuk dengan berkas-berkasnya. Hingga sebuah ketukan di pintu sedikit membuyarkan fokusnya. "Masuk!" ucap Rahman.
Seorang wanita cantik dengan rok sedikit diatas lutut, masuk ke ruangan Rahman. "Hai Man!" sapa wanita itu.
Rahman yang tadi masih fokus dengan berkasnya, menoleh ke arah pintu. "Dinda? Ngapain kamu ke sini?"
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Boleh aku duduk?"
"Tak perlu. Cepat katakan apa maumu?"
"Baiklah. Aku kesini hanya ingin minta tanggung jawabmu atas bayi di kandunganku,"
"Apa? Kamu gila?" marah Rahman dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah wajah Dinda.
__ADS_1
"Kalau kamu tak percaya, ini hasil tes dan hasil USG ku," Dinda menyerahkan sebuah kertas hasil tes kehamilan dan foto hasil USG.
"Kamu kira aku bodoh mau bertanggung jawab untuk anak yang bukan milikku?"
"Ini anakmu Man. Kamu lupa apa yang terjadi malam itu? Kamu yang memintaku melakukannya Man."
"Aku tak pernah tidur denganmu," nada bicara Rahman semakin tinggi.
"Kau memang lupa Man. Ini untuk mengingatkanmu," Dinda menyerahkan ponselnya dan memutar sebuah video.
Rahman mengambil ponsel itu dan melihat videonya. Ada sebuah video yang diambil dati sisi samping dimana ia tengah berciuman dan bercumbu mesra dengan Dinda di sebuah kamar hotel. Rahman meremas ponsel di tangannya.
"Tak mungkin, ini bukan aku!" Rahman berteriak dan membanting ponsel ditangannya. "Aku tak pernah melakukan itu!"
"Terserah kamu Man! Nurul sekarang tengah hamil anakmu, aku pun juga bisa Man jika kau melakukannya padaku. Dan itu bukti nyata!" Dinda membela diri.
"Keluar kamu dari ruanganku!" hardik Rahman.
Kegaduhan di ruangan Rahman mengundang tanya Burhan dan Shodiq. Mereka bergegas ke ruangan sahabatnya itu. Ketika mereka membuka pintu, Rahman tengah berusaha meredam amarahnya. Sedang Dinda tengah memungut ponselnya yang dibanting Rahman.
"Terserah Man. Kamu mau tanggung jawab atau video ini tersebar dan dalam sekejap menghancurkan hidupmu. Akan kukirimkan videonya padamu." Dinda segera pergi dari ruangan Rahman.
Burhan dan Shodiq segera menghampiri Rahman. "Tenang Man! Kenapa itu nenek lampir kesini dan kamu sampai marah begini?" tanya Burhan sambil menuntun Rahman untuk duduk.
Rahman diam tak menjawab. Dia memegang kepalanya kuat. "Kenapa ketika aku memulai lembaran baru dengan Nurul, masalah seperti ini harus muncul?" ratap Rahman dengan air mata mulai jatuh.
Ponsel Rahman berbunyi tanda pesan masuk. Shodiq lalu mengambil ponsel itu di meja. Ia melihat sebuah kertas hasil tes dan foto hasil USG di meja Rahman. Ia pun meraih dua benda asing itu.
"Apa ini Man?" Shodiq masih berusaha membaca kertas itu.
"Dinda hamil dan minta pertanggung jawabanku," jawab Rahman lirih.
"Lalu video apa yang dia maksud tadi?" tanya Shodiq.
"Video bukti kalau aku pernah menidurinya di hotel,"
Burhan segera meraih ponsel Rahman. Mencari video itu di ponsel Rahman. Dan benar, ada sebuah video yang baru saja dikirimkan oleh Dinda. Video yang sama yang dilihat oleh Rahman tadi.
"Tenang Man! Kita cari solusinya, pasti ini jebakan Dinda," ucap Burhan curiga.
"Yang penting, jangan sampai Nurul tahu hal ini dulu. Atau akan berpengaruh pada kehamilannya," saran Shodiq.
Rahman hanya mengangguk. Ia mengingat ketika Nurul menceritakan masa lalunya. Nurul dulu juga dihianati ketika sedang dalam keadaan hamil. Sungguh malang nasibnya.
Rahman mengusap kasar wajahnya dan berteriak sangat kencang. "Aaaarrrrggghhhh,,".
Karena kejadian itu, Rahman pulang sedikit terlambat. Rahman dan dua sahabatnya berusaha mencari solusi untuk masalah yang Rahman hadapi.
Rahman sampai di rumah ketika adzan isya' berkumandang. Rahman langsung ke kamarnya dan membersihkan diri. Kala itu, Nurul tengah menemani Al belajar.
Selepas sholat, Nurul kembali ke kamarnya. Ia berniat menanyakan foto yang dikirimkan Dinda. Sedangkan Rahman tengah berbicara dengan ibunya di ruang keluarga.
"Bu', Rahman minta maaf. Rahman mengecewakan Ibu'," ucap Rahman sedih. Ia tak berniat meminta solusi pada ibunya atas masalahnya.
"Kamu bicara apa Man?"
"Rahman melakukan kesalahan besar Bu',"
__ADS_1
"Kesalahan apa? Ada masalah sama di kantor?" tanya Bu dira sembari menatap Nurul yang telah berdiri di belakang Rahman.
"Apa ini Mas kesalahanmu?" Nurul sedikit melempar amplop beserta isinya yang ia terima tadi siang. Air mata sudah memenuhi rongga matanya dan siap untuk ditumpahkan.
Rahman menoleh ke arah Nurul. Ia lalu meraih amplop yang dilempar Nurul. Membuka dan melihat isinya. Rahman seketika berdiri. "Kamu dapat dari mana ini Dek?" tanya Rahman.
Bu Dira langsung menyambar amplop di tangan Rahman dan melihat isinya. Ia terkejut dan lantas membalikkan tubuh Rahman yang telah menghadap Nurul.
Plak..
Sebuah tamparan dari Bu Dira tepat mendarat di pipi kiri Rahman. Pipinya seketika menjadi merah. Nurul tak lagi dapat menahan air matanya.
"Apa salahku Mas? Apa?" Nurul menangis keras sembari memegangi kepalanya yang sedari siang telah berdenyut tanpa henti.
"Dengarkan penjelasanku Dek!" Rahman memegang kedua bahu Nurul.
Nurul menghempaskan tangan Rahman kasar. "Aku menerima Mas jika kamu akan berpoligami, tapi tidak dengan cara seperti ini."
Nurul lalu berlari ke kamarnya. Sakit di kepalanya tak lagi ia pedulikan. Sakit dihatinya kini, terasa lebih berat dibandingkan sakit kepalanya.
Brak. Pintu kamar Nurul dibanting keras.
"Apa yang kamu lakukan Man? Ibu tak pernah mendidikmu seperti ini!" marah Bu Dira saat Nurul telah masuk kamar.
Tiba-tiba, "Aaaaarrrrrggghhhh,," suara teriakan Nurul menggema ke seluruh rumah.
Pyar. Suara benda pecah pun terdengar dari dalam kamar.
"Bundaaaa!" Al berlari keluar kamar. Ia dicegat oleh Rahman. Mbok Tum dan Pak Slamet pun ikut berlari ke arah kamar Nurul.
"Al di sini saja ya, biar Ayah yang nenangin Bunda," pinta Rahman. Al mengangguk patuh. Bu Dira segera memeluknya. Tak lupa, ia segera menyembunyikan foto-foto Rahman agar tidak dilihat Al.
Rahman segera berlari ke kamarnya. Ketika ia membuka pintu, kamarnya sudah sangat berantakan. Bantal, guling dan selimut tergeletak di lantai tak karuan. Kaca di meja rias Nurul sudah pecah. Botol-botol skin care dan seisi meja rias pun telah raib dari tempatnya. Buku-buku di rak yang tertata rapi telah berhamburan di lantai.
Nurul? Ia terduduk lemas di dekat ranjangnya dengan air mata yang mengalir deras. Suara tangisnya begitu keras hingga keluar kamar. Suaranya begitu menyayat hati.
"Tenanglah Dek!" Rahman langsung memeluk tubuh Nurul.
Nurul mencoba menolak dan memberontak. Tapi Rahman mengeratkan pelukannya. Nurul memukul dada suaminya sekeras mungkin.
"Kamu jahat Mas! Kamu jahat! Kamu jahat!" umpat Nurul sembari terus memukul dada Rahman. Rahman membiarkan istrinya memukulinya.
Lama-lama, pukulan itu semakin pelan. Nurul mulai terisak dan sesenggukan. Rahman masih tetap memeluknya erat. Hingga suara dering ponsel Nurul mengalihkan perhatian mereka.
Rahman mulai melepaskan pelukannya. Mencari sumber suara. Ponsel Nurul tergeletak di lantai tertutup selimut. Ia meraih ponsel itu. Seketika Nurul merebutnya.
Mbak Nita memanggil...
Nurul segera menjawab telfonnya. Ia berusaha menstabilkan suaranya. "Assalamu'alaikum mbak,"
"Wa'alaikumussalam dek. Dek pulanglah! Ibu' tadi jatuh di kamar mandi, sekarang di rumah sakit belum sadar,,"
"Ibu'? Iya Mbak, Nurul pulang,"
"Kamu hati-hati ya!" Nurul memegangi kepalanya yang semakin berdenyut kencang. Ponselnya terlepas begitu saja.
Ia segera berdiri dan meninggalkan Rahman. "Dek! Dek!"
__ADS_1
Nurul tak menggubris panggilan Rahman. Ia hanya ingin pulang saat ini. Ya, pulang ke Jogja. Tanpa Rahman. Hanya dia dan Al.