Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Manja part 1


__ADS_3

Kabar kehamilan Nurul benar-benar membuat bu Dira dan Rahman bahagia. Mereka memberikan perhatian lebih pada Nurul karena tak ingin hal buruk kembali terjadi.


Malam belum begitu larut. Nurul telah berada di kamarnya bersiap untuk istirahat. Bu Dira dan Al pun telah beristirahat di kamar mereka masing-masing.


"Kamu belum tidur dek?" tanya Rahman setelah memasuki kamarnya dan melihat Nurul masih duduk di sofa bermain ponsel.


"Belum mas, belum bisa tidur," jawab Nurul.


Rahman lantas duduk disebelah Nurul. Menyalakan kembali laptop yang ia bawa tadi. Ia sengaja membawa laptopnya ke kamar, untuk menemani Nurul beristitahat.


"Istirahatlah di tempat tidur! Kamu nggak boleh tidur di sofa lagi, oke?"


"Tapi mas,,"


"Nggak ada tapi-tapian. Kamu sedang hamil, dan baru saja pulang dari rumah sakit. Atau kamu lebih betah ya di rumah sakit?"


"Mana ada mas orang yang betah menginap di rumah sakit," sungut Nurul.


"Kalau begitu, istirahatlah di tempat tidur! Aku akan menyelesaikan beberapa laporan dulu,"


Nurul pun menuruti perintah Rahman. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang di kamarnya. Ditariknya selimut yang ada di kakinya, dan mulai memejamkan mata.


Sepuluh menit,


Dua puluh menit,


Tiga puluh menit,


Enam puluh menit, dan Nurul masih belum bisa tertidur. Tubuhnya lelah berguling menghadap kekanan dan kiri, tapi ia tidak bisa tertidur.


Rahman yang sedari tadi memperhatikan Nurul pun akhirnya mendekatinya. Ia duduk di sisi lain ranjang tempat Nurul merebahkan tubuhnya.


"Kamu kenapa? Nggak bisa tidur?" tanya Rahman sambil menatap wajah Nurul.


Nurul hanya menganggukkan kepalanya. Matanya tetap terpejam.


"Lapar?" Nurul menggeleng.


"Ada yang sakit?" Nurul menggeleng kembali.


"Nggak nyaman ya ada aku di sini?" Nurul membuka matanya dan menggeleng kembali.


"Kamu ini kenapa? Kenapa cuma ngangguk dan geleng kepala dari tadi?" Nurul hanya diam. "Yasudah, aku keluar dulu. Istirahatlah!"


Rahman hendak beranjak dari duduknya, tapi Nurul menarik baju bagian belakang Rahman. Ia terduduk kembali. "Kenapa lagi dek?" tanya Rahman bingung. Nurul tetap diam saja.


"Mau ditemenin tidur?" Nurul mengangguk pelan.


"Hhahaha,, kamu ini dek. Kenapa nggak bilang dari tadi? Sebentar, aku matikan laptop dulu," Rahman pun beranjak dari duduknya dan mematikan laptopnya. Lalu merebahkan tubuhnya tepat disamping Nurul.


Nurul menatap Rahman yang tiduran disampingnya. "Aaahh,, kenapa juga aku pengen tidur sama mas Rahman yaa? Kan malu jadinya," gumam Nurul dalam hati.


Nurul menatap lengan kekar Rahman yang beberapa hari lalu menggendongnya saat tak sadarkan diri. Dan dada bidangnya yang tadi siang terasa begitu hangat dipeluknya. "Aadduuhh, kenapa jadi pengen dipeluk lagi sama dadanya mas Rahman? Astaghfirullah,, aaaaaaa," Nurul kembali bergumam dalam hati dan tanpa sadar kakinya menghentak-hentak dibalik selimut.


Rahman terkejut melihat tingkah Nurul. "Ada apa dek? Ada sesuatu di kakimu?" Nurul tersadar akan tingkahnya lalu menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" Nurul tetap diam. Dia malu mengungkapkan keinginannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih dek? Tumben banget," Nurul menghela nafas panjang.


"Pengen dipeluk," jawab Nurul dengan suara sangat pelan tapi masih terdengar oleh Rahman. Rahman tersenyum mendengar jawaban Nurul.


Ia lantas merentangkan tangannya. "Sini, tidur di sini!" Rahman menepuk sebelah lengannya.


Nurul segera beringsut mendekat pada Rahman. Kepalanya tidur beralaskan lengan kanan Rahman. Nurul menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya. Ia sedikit memperbaiki posisi tidurnya. Tangan kiri Rahman melingkar di atas tubuhnya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi dek?" Nurul diam tak menjawab, dia hanya memukul pelan dada suaminya. Rahman tersenyum kecil mendapat perlakuan dari Nurul.


"Tidurlah!" Nurul tak menjawab, hanya nafas yang mulai melambat dan teratur dapat Rahman rasakan di dadanya. Tak butuh waktu lama, Nurul langsung terlelap dalam pelukan Rahman.


"Astaghfirullah dek, cuma pengen dipeluk gini, dari tadi nggak bisa tidur,," Rahman menggelengkan kepalanya.


Rahman pun memutuskan untuk ikut terlelap bersama Nurul. Untuk pertama kalinya, mereka tidur dalam satu ranjang yang sama dalam keadaan sadar dan atas permintaan Nurul.


...****************...


Mulai malam itu, hubungan Nurul dan Rahman semakin dekat. Entah karena alasan apa, Nurul setiap malam akan mencari dada bidang suaminya untuk bisa terlelap. Sikap Nurul mulai terlihat sangat manja pada Rahman. Rahman pun dengan senang hati menemani Nurul tidur dengan memeluknya erat.


Beberapa hari terakhir Rahman harus berangkat lebih pagi. Ia tidak sempat sarapan dan mengantar Al ke sekolah. Al akhirnya diantar pak Harto, sopir pribadi bu Dira. Kesibukan Rahman di kantor benar-benar banyak menyita waktunya. Proyek barunya untuk membangun apartemen sungguh tidak bisa dikesampingkan. Ia akan berangkat lebih pagi, dan pulang terlambat.


"Nduk, kamu antar makan siang ke kantor Rahman ya!" ucap bu Dira siang itu.


"Iya bu'. Biar Nurul masak dulu bu'!" jawab Nurul.


"Udah siap itu nduk. Kamu pokoknya nggak boleh kelelahan, jadi udah ibu' siapin!" jelas bu Dira. "Sudah sana berangkat, keburu jam makan siang!"


"Iya bu', Nurul ambil tas sebentar," Nurul bergegas ke kamarnya mengambil tasnya.


"Dan nanti kamu pulang sama Rahman yaa! Pak Harto biar langsung pulang buat jemput Al sekolah," imbuh bu Dira.


Ia langsung berangkat ke kantor Rahman karena memang sudah di tunggu oleh pak Harto. Ia melupakan ponselnya yang ia letakkan di meja ruang keluarga.


Saat Nurul sampai di kantor, jam makan siang tengah berlangsung. Banyak karyawan berlalu lalang. Ia langsung menuju meja resepsionis.


"Permisi mbak, ruangan Pak Rahman di mana ya?" tanya Nurul pada wanita yang berada di meja resepsionis.


"Maaf bu', apakah sudah ada janji dengan Pak Rahman?"


"Belum mbak," jujur Nurul. "Apa kalau mau ketemu sama mas Rahman harus janjian dulu?" batin Nurul.


"Maaf bu', Pak Rahman saat ini sedang ada meeting dengan kliennya. Dan ibu juga belum ada janji temu dengan Bapak, jadi nanti kami akan konfirmasikan dulu dengan sekertarisnya. Ibu bisa menunggu di sebelah sana terlebih dahulu. Maaf, dengan ibu siapa?" wanita itu menunjukkan deretan kursi yang ada di lobi kantor itu.


"Nurul mbak, terima kasih," Nurul lantas meninggalkan meja resepsionis.


Ia memilih salah satu kursi kosong di sana. Ia hendak menghubungi Rahman, tapi tidak menemukan ponselnya di dalam tas. "Yaaahhh,, ponselku ketinggalan di rumah! Gimana mau telfon mas Rahman coba?" gerutu Nurul setelah duduk disalah satu kursi kosong.


w


"Yaudah deh, nunggu kabar dari mbak resepsionis aja, semoga nggak lama!" gumam Nurul sembari melihat orang-orang berlalu lalang.


Jam makan siang telah usai tiga puluh menit yang lalu. Area lobi terlihat lebih sepi. Belum ada kabar apapun dari resepsionis. Nurul mulai jenuh dan lelah menunggu.


"Apa mas Rahman belum selesai meetingnya? Apa mereka nggak makan siang? Heemmhh,," Nurul menghela nafas panjang.


Nurul berjalan-jalan di area lobi. Ia tak melihat Rika yang memasuki kantor dan langsung menuju ruangan Shodiq. Rika dan Nana sudah biasa keluar masuk kantor untuk menemui suami mereka. Mereka tak perlu izin dan janji temu untuk masuk ke kantor dan bertemu suami mereka. Spesial.

__ADS_1


Tak lama Rika sudah kembali dari ruangan Shodiq hendak pulang. Ia melihat Nurul yang tengah duduk termenung di salah satu kursi di lobi. "Nurul?"


"Mbak Rika?" sahut Nurul ketika melihat sosok perempuan cantik dengan dress polkadot selutut berwarna marun.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rika yang sudah berada di dekat Nurul.


"Ini mbak, di suruh ibu' nganterin makan siang buat mas Rahman," Nurul menunjukkan paper bag besar yang ia bawa.


"Kenapa nggak langsung keruangannya?"


"Kata resepsionis tadi, mas Rahman baru meeting,"


"Kamu sejak kapan di sini?"


"Sejak mulai jam makan siang tadi mbak,"


"Apa? Kamu nggak telfon Rahman?"


"Ponsel Nurul ketinggalan di rumah mbak, hhehe," Nurul cengengesan.


"Astaga! Sebentar aku telfon Rahman dulu!"


"Emang udah selesai *meetin*gnya mbak?"


"Udah," Rika langsung mengalihkan perhatian pada ponselnya dan menelfon Rahman. "Astaga! Tasku ketinggalan di meja mas Shodiq."


Nurul hanya tersenyum mendengar ucapan Rika. Tak lama Rahman terlihat berlari ke arah mereka. "Tuh Rahman!" tunjuk Rika. "Aku duluan ya, mau ambil tas!" pamit Rika.


"Makasih Ka." ucap Rahman yang dibalas anggukan kepala oleh Rika. Rika langsung berlalu.


"Kamu udah lama dek? Kenapa nggak telfon?" tanya Rahman panik.


"Nurul lupa nggak bawa ponsel mas, hhehe."


"Yaudah yuk, ke ruanganku!" Rahman mengambil paper bag yang Nurul bawa dan berhenti sejenak di meja resepsionis. "Lain kali, kalau bu Nurul kesini, langsung izinkan masuk keruanganku. Dia istriku!" Rahman menekankan ucapannya.


"Baik Pak!" jawab resepsionis.


Rahman lalu menuntun Nurul keruangannya. Rahman segera meminta Nurul duduk di sofa ruang kerjanya. "Kamu udah makan?" tanya Rahman ketika melihat bekal makan siang yang masih utuh.


Nurul menggeleng. "Man, ada Pak Adrian mau tanda tangan kontrak! Eh ada kamu Rul. Bentar ya, pinjam Rahman dulu," ucap Burhan yang berada di pintu.


"Sebentar ya, kamu tunggu di sini dulu!" Nurul mengangguk patuh.


Sepeninggal Rahman, Nurul merasakan ingin buang air. Ia keluar dari ruangan Rahman dan mencoba bertanya pada karyawan yang ia temui dimana letak toilet. Setelah diberi petunjuk, ia lantas mencarinya.


Selesai buang air, Nurul merasa pandangannya berputar cepat. Kepalanya berdenyut keras. Ia berpegangan erat pada wastafel. "Astaghfirullah, ini kenapa lagi kepalaku?" Nurul memijit-mijit kepalanya.


Nurul membalikkan badannya hendak keluar dari toilet. Ia kehilangan keseimbangan, berusaha berpegangan pada tembok, tapi tubuhnya merosot perlahan. Ia terduduk lemas dan tertunduk.


Ceklek,, pintu toilet terbuka. "Nurul, kamu kenapa?" suara Rika menyadarkan Nurul yang hampir limbung.


"Mbak Rika?" Nurul mengadahkan pandangannya. Wajahnya mulai pucat.


"Sial! Kamu tunggu disini!" ucap Rika yang lantas berlari keluar toilet.


Brak,, Rika mendobrak pintu ruang rapat. Semua orang yang berada di ruang rapat menoleh ke arah pintu. "Rahman! Nurul jatuh di toilet!" teriak Rika sambil terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2