
"Assalamu'alaikum,, pagi Dil!" Sapa Nurul ketika dia sampai di tempat kerjanya.
"Wa'alaikumussalam,, cieee,, ada pengantin baru nih!" Jawab Dila sambil menggoda Nurul. Nurul tak menggubrisnya sama sekali.
"Udah ayo masuk, kerjaan pasti banyak kan?" Nurul mengalihkan pembicaraan.
"Iya Mbak! Laporan belum di beresin sama sekali. Mas Azka masih bingung Mbak." Jawab Dila.
"Yaudah yuk!" Nurul dan Dila segera memulai pekerjaan mereka.
Hari ini keluarga bu Dira telah memulai aktivitas seperti biasa kembali. Rahman dan Nurul kembali bekerja. Al juga sudah kembali berangkat sekolah setelah izin libur satu hari kemarin. Ali dan Fatimah juga telah kembali ke Semarang.
Barang-barang di rumah kontrakan Nurul pun telah dibawa ke rumah bu Dira. Nurul ditemani Rahman kemarin membereskan rumah kontrakan setelah para tamu pulang. Tak lupa ia berpamitan pada mbak Tika, tetangganya yang selalu ada untuknya. Meskipun masih tinggal dalam satu kota yang sama, hanya saja sudah tidak bisa bertemu setiap hari seperti sebelumnya.
Siang mulai menjelang.
"Assalamu'alaikum,, Mbak Nurul, itu motormu?" tanya Riki ketika memasuki toko setelah melihat sebuah motor matic model baru terparkir rapi.
"Mana Mas Rik?" Tanya Dila.
"Gimana sih La, dari tadi aja kamu jaga sama Mbak Nurul, masak nggak lihat?" Gerutu Riki.
"Itu Mbak Nurul sibuk beresin laporan. Jadi aku juga sibuk sama customers." Dila beralasan.
"Enggak, itu motornya masku. Motorku di Jogja, jadi aku berangkat pakai motor punya masku."
"Kenapa nggak diantar jemput aja Mbak?" tanya Dila.
"Kan dia juga harus kerja Dil, kasihan kalau mesti antar jemput."
"Istri yang pengertian,, hhihi." puji Dila.
"Kalian mau makan siang nggak? Aku yang traktir deh, mumpung aku nggak puasa, hhehe." Tawar Nurul.
"Mau dong nyonya,, hhaha." jawab Riki semangat.
"Gini aja, minta tolong Azka beli, nanti uangnya aku ganti di toko."
Dila dengan segera menghubungi Azka dengan ponselnya dan mengutarakan rencana mereka. Dan mereka sepakat membeli bakso yang sedang viral di media sosial. Azka pun tak kalah antusias mendapat tugas itu. Semua pun gembira dengan traktiran dari Nurul. Nurul melakukan itu sebagai tanda permintaan maaf karena merepotkan teman-temannya selama dia libur tiga hari.
Malam harinya, di kediaman Rahman. Seperti biasa, selepas sholat isya', Al akan melanjutkan belajarnya.
"Assalamu'alaikum Bunda,," Al menyambangi kamar ibunya.
"Wa'alaikumussalam, iya Al, masuk!" jawab Nurul sembari menata beberapa bajunya di almari.
Pintu pun terbuka, Al pun langsung mencari keberadaan ibunya. Nurul muncul dari walk-in closet kamarnya.
"Kenapa sayang? Sini duduk sama Bunda!"
"Ini Bunda, ada undangan dari sekolah!" Al menyerahkan amplop dengan logo nama sekolahnya. Nurul menerima amplop itu lalu membuka dan membacanya.
"Apa yang lain juga dapat undangan Al?"
"Enggak Bunda,"
"Kenapa? Ada masalah sama sekolahnya Al?" Tanya Rahman yang telah memasuki kamar.
"Enggak Mas! Hanya saja, nggak biasanya undangannya seperti ini." jawab Nurul ragu.
Rahman meminta undangan itu dari Nurul lalu membacanya.
"Yasudah, besok Bunda ke sekolah kamu ya."
__ADS_1
"Sama ayah juga besok ya." sahut Rahman.
"Makasih Ayah, Bunda!" Al memeluk mereka berdua bergantian.
"Al belajar dulu ya Yah, Bunda!" Al langsung pergi kembali ke kamarnya.
"Mas besok nggak terlambat kalau ke sekolah Al dulu?"
"Enggak. Dan ini, pakailah untuk beli keperluan kamu! Pinnya tanggal pernikahan kita," Rahman menyerahkan sebuah kartu ATM pada Nurul.
"Nggak usah Mas, Nurul kan masih kerja juga."
"Simpan itu untuk tabungan, untuk belanja pakai ini. Dan, berhentilah bekerja. Cukup aku yang bekerja menafkahi kalian."
"Iya mas terima kasih," Nurul menerima kartu pemberian Rahman.
"Dan untuk berhenti bekerja, Nurul akan meminta izin pada atasan dulu. Mungkin akan butuh waktu untuk berhenti, karena harus mencari karyawan pengganti terlebih dulu."
"Baiklah, maksimal dua bulan kamu harus sudah berhenti bekerja."
"Iya mas. Dan maaf Mas Rahman!"
"Kenapa?"
"Bolehkah Nurul tetap melanjutkan puasa sunah Daud Nurul selama ini? Nurul sekarang sudah jadi istrinya Mas Rahman, tak baik jika Nurul melaksanakan puasa sunah tanpa izinmu,"
"Selama hal itu baik untuk dilakukan, lakukanlah. Jadi, aku mengizinkanmu."
"Terima kasih mas." Nurul tersenyum bahagia.
"Yasudah, kamu temani ibu, aku akan menemani Al belajar!" Nurul mengangguk. Ia lantas menyimpan pemberian Rahman tadi lalu turun ke bawah menemani bu Dira yang sedang asyik menyaksikan acara tv.
...****************...
"Biar Nurul saja Mas yang ke sekolah Al, sekalian berangkat bekerja!"
"Kalau gitu, sekalian aja aku antar kamu ke tempat kerja!" jawab Rahman.
"Eh, nggak usah mas! Nurul pakai motor aja mas, mas kan harus kerja."
"Kamu ini ya, masak iya kita mau ke tujuan yang sama pakai kendaraan sendiri-sendiri, emang kita lagi berantem? hhaha." Rahman tertawa sejenak.
"Kita kalau berantem di sini aja, mau 'berantem' sekarang?" Rahman memainkan kedua alisnya dan melirikkan matanya ke arah ranjang untuk menggoda Nurul.
"Nurul turun dulu mas, Al pasti udah nunggu di bawah." Nurul segera mengambil tasnya dan berlari keluar dari kamarnya.
"Hhahaha,," tawa Rahman terdengar cukup keras hingga keluar kamar. Tak lama Rahman pun menyusul Nurul ke bawah dan berangkat ke sekolah Al bersama.
Saat sampai di sekolah, Al langsung masuk ke kelasnya dan bermain dengan teman-temannya. Nurul dan Rahman segera mencari wali kelas Al. Mereka di suruh menunggu di ruang tamu. Tak lama wali kelas dan kepala sekolah datang. Mereka terkejut ada dua orang di sana, dan nampak tak asing bagi mereka.
"Selamat pagi Ibu Nurul dan Pak,," sapa Pak Hari yang merupakan kepala sekolah di sekolah Al.
"Iya Pak Hari. Ini suami saya," jawab Nurul.
"Perkenalkan, saya Rahman Pak," Rahman mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Pak Hari dan Pak Joko, wali kelas Al, menyalami Rahman.
"Maaf Pak Joko, apa ada masalah dengan Al?" Nurul langsung mengutarakan isi hatinya setelah semua orang duduk.
"Tidak bu Nurul semua baik. Kami punya kabar bagus buat Ibu dan Bapak," Pak Joko menjeda kalimatnya sembari mengambil sebuah kertas dari beberapa berkas yang ia bawa.
"Kita tahu Bu Nurul, Al Fatih anak yang pandai sejak kelas satu. Dia selalu mendapat peringkat terbaik di kelas, dan beberapa waktu yang lalu ada anak kelas lima yang lapor ke saya, jika Al Fatih ternyata dapat menyelesaikan soal-soal dari kelas lima. Dari itu kami ingin meminta izin kepada orang tua murid, untuk mengadakan evaluasi terhadap Al Fatih. Jika evaluasi ini hasilnya baik dan sesuai perkiraan kami, kami menyarankan, Al Fatih dipindahkan ke sekolah yang lebih bagus sehingga kemampuannya bisa lebih berkembang."
Nurul dan Rahman saling pandang. "Baik Pak, saya paham maksud Bapak. Butuh berapa lama pak untuk evaluasinya?" tanya Rahman. Nurul masih sedikit kebingungan mencerna maksud pak Joko.
__ADS_1
"Maksimal dua minggu Pak, tapi kami akan usahakan secepatnya. Kami juga akan bantu mencarikan beberapa pilihan sekolah yang bagus untuk dijadikan referensi. Sehingga kalau memang hasilnya bagus, saat tahun ajaran baru, Al Fatih sudah bisa bersekolah di sekolah yang baru yang lebih baik," imbuh pak Hari.
"Baik Pak, kami mengizinkannya. Kami juga akan mencoba mencari informasi beberapa sekolah yang punya sistem pembelajaran lebih berkembang," jawab Rahman.
"Terima kasih Pak Rahman dan Bu Nurul atas izinnya."
"Sama-sama Pak," Nurul dan Rahman lantas menandatangani sebuah surat izin untuk pelaksanaan evaluasi. Mereka pun pamit setelah itu.
Nurul masih belum begitu paham dengan maksud dari sekolah Al mengadakan evaluasi. Akhirnya ia bertanya pada Rahman dan Rahman pun menjelaskannya. Setelah jelas, Rahman segera mengantar Nurul ke tempatnya bekerja. Rahman pun segera berangkat bekerja pula.
...****************...
"Selamat siang Bu Isti!" Salam Nurul ketika berada di depan ruang kantor.
"Oh iya Rul, masuklah!" Nurul pun lantas masuk menghampiri atasannya.
"Gimana Rul? Oh iya, selamat ya sekali lagi untuk pernikahanmu." Ucap Isti.
"Iya Bu' terima kasih,"
"Gimana Rul, ada masalah sama laporannya selama kamu libur?"
"Enggak bu'. Saya ingin minta izin bu',"
"Kamu mau izin bulan madu? Boleh Rul. Tapi sebelum itu, laporan kemarin sudah kamu bereskan?"
"Sudah bu', kemarin sudah saya kirim via email."
"Oh, belum saya periksa. Saya juga baru pulang dari Bandung, belum sempat mengecek pekerjaan. Jadii, mau izin bulan madu berapa lama?" tanya Isti sembari tangannya sibuk menyusuri papan keyboard.
"Saya mau izin mengundurkan diri Bu' dari toko." Isti menatap Nurul. Tangannya berhenti seketika.
"Suamimu yang meminta?"
"Iya bu', saya minta maaf Bu',"
"Saya sudah mengira, pasti ini bakal terjadi," Isti mengambil nafas panjang.
"Sebenarnya aku keberatan kamu resign dari tempat kerja. Hasil kerjamu bagus Rul, aku suka. Tapi tak bisa dipungkiri, kamu sekarang sudah menikah. Jadii,,, begini saja, aku akan mengizinkanmu resign tapi setelah kamu menyelesaikan tugas terakhirmu."
"Tugas apa Bu'?"
"Mengajari penggantimu dan mengawasi masa training anak baru selama satu bulan. Aku akan mencari karyawan baru untuk toko, dan akan memidahkan Azka ke bagian admin menggantikanmu. Kuliah Azka hampir selesai, jadi dia pasti udah punya bekal buat dasar admin menggantikanmu."
"Nggak sampai dua bulan kan Bu'?"
"Kamu dikasih waktu dua bulan sama suami kamu?"
"Iya bu',"
"Enggak, aku usahakan secepatnya agar dapat karyawan. Tenang saja!"
"Terima kasih Bu',"
"Yang lain sudah tahu kamu mau mengundurkan diri?"
"Belum Bu',"
"Yasudah, apa ada hal lain? Jika tidak, kamu bisa kembali ke depan!"
"Iya Bu', terima kasih, saya permisi,"
"Iya Rul," Nurul pun pergi meninggalkan Isti yang mulai sibuk mengecek beberapa pekerjaan.
__ADS_1
Meski berat bagi Nurul untuk berhenti bekerja, tapi itu harus ia lakukan demi menuruti keinginan sang suami. Pekerjaan dan teman-teman yang baik sungguh sayang jika harus dilepaskan. Tapi ia harus mematuhi suaminya. Silaturahmi masih dapat terjaga di zaman yang serba modern. Alat komunikasi yang sudah canggih memudahkan kita untuk kita tetap bisa menjalin silaturahmi. Sungguh kuasa Allah begitu besar.