
Manusia hanya bisa berusaha, berdo'a dan bertawakkal. Selebihnya, biarkan kuasa Allah yang menentukan.
Mungkin itulah, sepenggal kalimat yang kini tengah dihadapi oleh Bu Indira. Sudah berbagai cara ia lakukan agar Rahman bisa bertemu dengan Nurul. Tapi selalu saja gagal. Akan tetapi, akhirnya usahanya selama ini ternyata tidaklah sia-sia. Allah mempertemukan mereka dengan cara-Nya sendiri.
Seperginya Nurul dan Al dari rumah Bu Indira, kedua ibu dan anak itu pun masuk ke dalam rumah. Tak lupa Rahman memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya. Bu Indira sudah menunggu di ruang keluarga.
"Man, sini sebentar, ibu mau minta tolong!" Ucap Bu Indira sambil menepuk sofa tepat disampingnya. Rahman pun lantas duduk disampingnya.
"Man, tolong kamu carikan informasi lengkap tentang Nurul ya. Ibu mau dua hari harus sudah siap!" Ucap bu Indira tegas.
"Buat apa Bu'? Memangnya Ibu' belum kenal sama dia? Kalau belum kenal, kenapa tadi mau dianterin sama dia Bu'?" Rahman sedikit khawatir.
"Mau Ibu' jadikan mantu." Jawab bu Indira cekikikan.
Rahman hanya mengerutkan keningnya. Dia langsung paham arah pembicaraan sang ibu.
"Ibu' udah berusaha deketin dia, berusaha cari tahu kehidupannya, tapi orangnya sangat tertutup. Gak banyak yang Ibu dapat."
"Udah berapa lama Ibu' cari informasinya?"
"Dua bulan. Ibu sengaja nggak minta tolong kamu kemarin-kemarin. Karena ibu nggak pengen kamu tahu siapa calon yang mau ibu kenalin sama kamu. Lagian Ibu yakin, kamu pasti nggak bisa bawa calon mantu buat ibu dalam waktu satu bulan. Makanya, Ibu nggak nyerah sama Nurul. Inget kan janji kamu sama Ibu' waktu itu?" Selidik bu Indira.
"Ya Allah Bu'', sampai segitunya Ibu' tu." Tangan Rahman langsung merangkul pundak sang ibu.
"Ibu' kenal dimana sama dia Bu'? Sama nama lengkapnya siapa Bu', biar lebih mudah nyarinya?"
"Aduh, Ibu lupa. Ibu cuma inget nama depannya aja. Sebentar ibu inget-inget dulu. Nurul Al,, Al,, Almira. Iya, Nurul Almira. Ibu kenal di minimarket. Dulu Ibu' juga kesana sama kamu pas kamu mau ke Jogja sama Pak Jefry."
"Nama yang cantik." Gumam Rahman dalam hati
"Kan bisa pakai wajahnya juga lewat CCTV gerbang." jawab Bu Indira sangat bersemangat.
"Iya-iya ibuku tersayang." Rahman semakin mengeratkan rangkulan tangannya sambil tersenyum. Senyuman yang sedikit penuh makna. ( bayangin sendiri ya senyumnya Rahman 😁 othor juga bingung gimana jelasinnya 😄)
Rahman pun segera menelfon sang asisten pribadi, Burhan. Memintanya untuk mencari informasi sesuai permintaan ibunya. Tak lupa Rahman mengirimkan potongan foto dari CCTV rumahnya.
Sebenarnya Burhan kini tengah berada di ibu kota bersama sekertaris Rahman, Shodiq. Mereka sedang menyelesaikan masalah di cabang hotel di ibu kota.
Rahman sangat percaya pada dua rekannya itu. Mereka bertiga adalah teman sejak SMA. Dan pertemanan mereka berlanjut hingga sekarang. Mungkin di kantor hubungan mereka sebagai atasan dan bawahan, tapi diluar kantor, mereka sahabat yang selalu ada untuk satu sama lain.
...****************...
Dua hari berselang, Burhan dan Shodiq pun sudah kembali dari ibu kota. Masalah pun sudah teratasi. Waktu pun bergulir tanpa henti. Bahkan hari hampir senja.
Tok,, tok,, tok
"Iya masuk!" Jawab Rahman dari balik meja kerjanya.
Burhan dan Shodiq pun masuk dan duduk di sofa ruangan Rahman.
"Nih, yang kamu minta." Burhan meletakkan amplop coklat besar ke meja di depannya.
__ADS_1
"Apaan tu Han?" Tanya Shodiq penasaran yang langsung mengambil amplop itu dan membukanya.
Shodiq baca perlahan dan memastikan apa yang sedang ia baca.
"Roman-romannya, ada yang siap nglepas status 'duda' nih, hhahaha" Ledek Shodiq disertai tawa lepasnya dan Burhan.
"Itu Ibu' yang minta dicariin informasi. Katanya udah dua bulan deketin itu perempuan, tapi gak dapet-dapet infonya. Karena orangnya sangat tertutup. Kemarin Ibu' akhirnya minta tolong buat cari infonya." Jawab Rahman sambil meninggalkan meja kerjanya dan ikut duduk bersama kedua sahabatnya.
"Kenapa nggak dari kemarin-kemarin minta tolongnya Man? Atau jangan-jangan, hhahahaha"
Rahman yang sudah sangat faham dengan ledekan teman-temannya,dia hanya bisa pasrah menghadapi keadaan tersebut.
"Iya. Itu calon dari Ibu'. Aku lupa, dua bulan lalu ibu ngasih tenggat waktu 1 bulan buat aku ngenalin calon istri ke ibu. Kalau nggak bisa, aku harus terima pilihan Ibu'." Rahman pun mengambil amplop di tangan Shodiq dan membacanya dengan seksama.
"I got you!"
"Orangnya kayaknya baik kok Man. Manis gitu wajahnya. Sederhana juga. Beda banget sama Dinda." Burhan mulai memprovokasi.
"Ya secara Han, background mereka aja beda jauh." Kata Shodiq menimpali.
"Gaya hidup itu pilihan Diq. Background hanya pendukungnya saja. Ya nggak Man?"
Burhan langsung menoleh kearah Rahman. Begitu pula Shodiq.Tapi ternyata, Rahman masih terpaku pada isi di dalam amplop. Mereka berdua pun saling pandang.
Tanpa aba-aba, Burhan langsung merebut kertas yang sedang dibaca Rahman. Membuat Rahman sangat terkejut. Dan malah disambut oleh tawa keras dari dua sahabatnya itu.
"Hati sang duda mulai luluh nih kayaknya. Ya nggak Han?" Ledek Shodiq dengan tawa kerasnya memenuhi ruangan.
"Terserah kalian sajalah." Jawab Rahman cuek seraya berdiri dari sofanya.
Sebuah senyuman kecil tercipta dibibir sang duda. Tanpa diketahui oleh dua sahabatnya. Ia sedikit merapikan meja kerjanya dan mengambil beberapa berkas dan masukkannya ke dalam tas. Ia lantas meraih jas nya yang tergantung di kursinya dan memindahkan ke tangan kirinya.
"Kalian nggak mau pulang?"
"Ya pulang dong. Kita kan nungguin kamu." Jawab Burhan dan Shodiq bersama.
Burhan lantas menyerahkan amplop tadi beserta isinya pada Rahman. Mereka pun lantas berjalan meninggalkan ruangan Rahman untuk pulang. Ditemani obrolan dan candaan hingga berpisah di tempat parkir. Itulah kedekatan mereka.
...****************...
Akhir pekan. Mungkin menjadi hari yang banyak dinanti oleh para pencari nafkah. Mereka bisa menghabiskan hari bersama keluarga di rumah. Atau juga berjalan-jalan dengan teman, sahabat atau bahkan kekasih. Menikmati hari libur setelah berkutat dengan pekerjaan dalam beberapa hari sebelumnya.
Tapi tidak untuk Nurul. Dia tetap berangkat bekerja. Karena tiga hari yang lalu dia sudah mengambil jatah liburnya. Menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama si Al saat semua pekerjaan rumah Al selesai dikerjakan. Begitulah Nurul, tegas terhadap pendidikan Al. ( Emak-emak yang tegas yaa, bukan galak. 😁)
"Selamat pagi. Selamat berbelanja." Sapa Nurul dan Azka ketika seorang pelanggan memasuki tempatnya bekerja.
Nurul masih berkutat dengan layar komputernya untuk memeriksa stok barang yang perlu isi ulang. Ia tak begitu memperhatikan pelanggan yang datang.
"Mbak Nurul!" Suara itu mengalihkan pandangan Nurul dan Azka ke sumber suara. Azka lantas menoleh ke arah Nurul dengan tatapan sedikit bingung.
"Oh Bu Dira. Silahkan Bu', ada yang bisa saya bantu?" Nurul sedikit bergeser dari depan komputernya.
__ADS_1
"Bisa saya minta waktu mbak Nurul sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan secara pribadi ke mbak Nurul." Ucap Bu Indira langsung. Membuat orang yang sedang mengantri bertransaksi di kasir pun ikut menoleh.
Nurul yang menyadari tatapan para pelanggan pun merasa canggung. Karena antrian kasir hanya 1 orang, dia pun menuruti permintaan Bu Indira.
"Oh iya Bu'. Bentar ya Ka!" Pamit Nurul pada Azka.
Nurul pun mengajak Bu indira mengobrol di depan toko. Mereka duduk di bangku kosong depan toko.
"Ada apa ya Bu'?" Tanya Nurul memulai percakapan.
"Ehmm, nanti malam kamu ada acara nggak *N*duk?" Tanya Bu Indira.
"Ada Bu'. Kalau malam, saya nemenin Al menyelesaikan tugas sekolahnya. Apalagi kalau akhir pekan, biasanya tugasnya lebih banyak."
Ada guratan kekecewaan di wajah perempuan paruh baya itu. Tapi dia tetap tidak mau menyerah.
"Sebenarnya saya ingin mengundangmu ke rumah. Ada acara sederhana di rumah. Saya ingin kamu ikut. Tapi kayaknya kamu nggak bisa ya?" Ucap bu Indira dengan nada dibuat sedikit putus asa.
Mata Nurul membola sempurna. Tapi seketika kerutan keterkejutan dan kebingungan hadir di wajahnya.
"Saya Bu'? Kenapa saya juga diundang?".
"Iya nduk. Ada acaraaaa,,," Bu Indira sejenak mencari ide untuk meyakinkan Nurul.
"Acara tasyakuran sederhana *Nduk. Mau ya Nduk dateng! Ibu' tu pengen banget ngobrol macem-macem sama kamu. Tapi Ibu' nggak bisa keluar malem. Sedangkan kamu ada waktu luang malam hari. Kalau kamu libur, pulang ke Jogja. Gimana N*duk??"
"Tasyakuran apa Bu'?"
"Ya kamu nanti malam datang saja ke rumah, biar tahu. Nanti biar dijemput sama pak Harto ya. Ba'da isya." Bu Indira menggenggam tangan Nurul yang di atas meja.
"Ya Allah, buatlah Nurul agar bisa datang ke rumah nanti malam. Ada niat baik hamba-Mu nanti malam. Kabulkan do'a hamba ya Allah."
"Eh,nggak usah repot-repot Bu'. Kan Nurul ada motor, bisa berangkat pakai motor." Jawab Nurul begitu saja.
"Oke. Berarti kamu mau datang ya nanti malam. Makasih ya *N*duk." Jawab bu Indira semangat.
Nurul baru tersadar akan ucapannya tadi.
"Astaghfirullah. Salah bicara aku tadi. Ini lagi,kenapa tiba-tiba keinget sama mas Rahman. Allahu Akbar."
"Maaf Bu', saya tidak bisa berjanji akan datang. Karena harus nemenin Al menyelesaikan tugas sekolahnya dulu. Tapi, kalau Allah mengizinkan, saya akan datang. Dan tidak perlu dijemput sama Pak Harto. Saya bisa berangkat pakai motor saya sendiri." Ucap Nurul lebih hati-hati.
"Jangan lupa Al juga diajak yaa!"
"Iya Bu'. Nggak mungkin saya ninggalin Al sendirian kecuali bekerja."
"Yasudah, Ibu permisi pulang dulu ya! Pokonya, nanti malam Ibu' tunggu di rumah ya. Maaf mengganggu pekerjaanmu! Salam buat temanmu yang di dalam ya. Terima kasih. Assalamu'alaikum." Pamit bu Indira seraya berdiri dari bangkunya.
Nurul pun lantas ikut berdiri, tak lupa menyalami dan mencium punggung tangan bu Indira.
"Wa'alaikumussalam."
__ADS_1
Nurul pun kembali masuk ke dalam minimarket dan melanjutkan pekerjaannya. Dan pastinya,dia diberondong pertanyaan oleh Azka yang sangat penasaran dengan sosok wanita yang sering mencari Nurul dua bulan belakangan.