
Hati mana yang tak bahagia, ketika orang yang disayangi bisa tertawa bahagia. Mengulas senyum begitu indah. Tertawa dengan begitu renyah menelusup ke telinga.
Rahman bahagia hari ini. Ia melihat Nurul tertawa begitu lepas bersama teman-temannya. Tawa yang belum pernah ia lihat di wajah Nurul sebelumnya.
Malam harinya, Nurul yang kelelahan, memilih istirahat lebih awal. Ia tetap tak bisa terlelap tanpa pelukan Rahman. Hal itu seolah menjadi pengantar tidur untuk Nurul akhir-akhir ini.
Fikirannya mulai melayang jauh. "Apa iya, itu tadi Mas Rahman? Kenapa hari ini dia beda banget sama aku? Bahkan ngajak aku jalan-jalan. Dia kesambet apa ya?" Nurul membalikkan posisinya berguling ke sebelah kiri.
"Apa iya mas Rahman mulai membuka hatinya untukku? Atau dia hanya tak ingin mentalku mempengaruhi perkembangan bayinya?" Nurul masih bergumam memikirkan kejadian hari ini.
"Mas Rahman mana ya? Kenapa belum ke kamar, aku kan udah ngantuk? Tapi, kenapa juga sekarang aku kalau tidur harus dipeluk Mas Rahman? Uuuhhhh, kan malu juga tiap hari mesti minta peluk," Nurul merubah posisinya menjadi telentang.
"Ah biar ah, malu, malu deh! Yang penting bisa tidur. Kalau nggak bisa tidur, kan kasihan si kecil juga," Nurul akhirnya bangun dari tidurnya. Dengan wajah yang sudah sangat mengantuk dan tubuh yang lelah, ia berniat menyusul Rahman ke ruang kerjanya.
Sedang di ruang kerja Rahman, Bu Dira tengah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Rahman. Dia memandangi putranya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ibu dengar, kalian tadi ke Masjid Agung Man?" ucap bu Dira.
"Iya bu,' Nurul pengen sholat disana katanya," jawab Rahman sambil melirik sedikit ke arah bu Dira.
"Ibu pengen bicara sebentar sama kamu Man, sini!" Bu Dira menepuk sofa disampingnya.
Rahman segera beranjak dari kursi kerjanya. "Ada apa bu'?"
"Gimana hubungan kamu sama Nurul?"
"Baik bu'. Bahkan Nurul sekarang mulai berani manja sama Rahman,"
"Oh ya?"
"Coba aja ibu' ke kamar, pasti Nurul belum tidur,"
"Kenapa? Bukannya dia bilang tadi kelelahan,"
"Semenjak pulang dari rumah sakit, Nurul itu nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk sama Rahman, hhihi,"
"Hormon kehamilannya berarti sangat kuat,"
"Sepertinya begitu bu',"
"Lalu kamu bagaimana?"
"Maksud ibu'?"
"Apa kamu bisa membuka hatimu untuk Nurul? Nurul sebagai seorang perempuan, sebagai istrimu. Ibu nggak ingin, kamu hanya menganggapnya sebagai ibu dari anak-anakmu. Tapi anggaplah dia sebagai seorang wanita seutuhnya," Bu Dira mengambil nafas panjang.
"Dengan hormon kehamilannya, ibu yakin, dia pun sudah mulai membuka hatinya untukmu. Dia mulai jatuh hati padamu."
"Kenapa ibu' sama Rika bisa kompak sih? Kalian sekongkol mau nyomblangin Rahman sama Nurul?"
"Maksudnya?"
"Rika tadi ke kantor, dia juga mengatakan persis seperti yang ibu katakan tadi. Dia bahkan marah-marah ke Rahman,"
"Lalu?"
"Ibu mau denger satu cerita nggak? Cerita ini, Rahman pertama kali cerita ke Ibu',"
"Cerita apa? Bukan dongeng Kancil dan Buaya kan?"
"Itu kan cerita udah banyak yang tahu bu'. Yang ini belum ada yang tahu bu',"
Bu Dira mengangguk. Rahman pun mulai menceritakan kisahnya pada Bu Dira. Dia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang Rahman ucapkan. Mereka larut dalam cerita Rahman.
Hingga tiba-tiba, ceklek,, pintu ruang kerja Rahman terbuka. Nurul muncul dari balik pintu dengan wajah yang sangat mengantuk. Hijabnya bahkan sudah tidak rapi.
__ADS_1
"Maaasss,,?" Nurul terkejut melihat Bu Dira ada di ruang kerja Rahman.
"Eh, ibu'? Ibu belum istirahat?" tanya Nurul sedikit gelagapan. Waktu memang telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya jam segini, Bu Dira telah beristirahat di kamarnya.
"Tuh kan Bu' bener yang Rahman bilang," Bu Dira tersenyum kecil.
"Ada yang ingin Ibu bicarakan dengan Rahman nduk. Kamu belum tidur?"
"Eh, belum bu'. Kalau begitu, Nurul permisi Bu'! Maaf mengganggu waktu Ibu dan Mas Rahman," pamit Nurul yang langsung kembali menarik gagang pintu.
"Sudah kok nduk, Ibu juga mau istirahat! Kalian istirahat ya!" ucap Bu Dira sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Bu Dira mengusap wajah Nurul yang mengantuk. Nurul tersenyum kaku. Bu Dira berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.
Nurul langsung kembali ke kamarnya. Rahman juga telah merapikan berkas-berkasnya lalu menyusul Nurul ke kamarnya.
Nurul telah meringkuk di atas kasur dengan badan membelakangi tempat tidur Rahman. Matanya masih tetap belum terpejam. Rahman telah merebahkan tubuhnya dibelakang Nurul.
"Peluk sini Dek?" Nurul menggeleng. Ia malu.
"Yakin?" Nurul mengangguk.
"Beneran?" Nurul diam.
"Ayo dong mata, tidur! Nggak usah harus tidur didekapannya Mas Rahman!" gumam Nurul dalam hatinya.
Nurul masih diam tak bergerak. Rahman akhirnya menggeser tubuhnya mendekati Nurul. Ia langsung mengangkat sedikit kepala Nurul hingga berbantalkan tangan kanannya. Nurul terkejut Rahman melakukan itu padanya.
Nurul tak bisa menahannya. Ia segera membalikkan badannya ke arah dada bidang Rahman. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Rahman. Rahman langsung mendekap pinggang kecil istrinya. Dan Nurul pun langsung tertidur dengan sangat tenang. Rahman pun menyusulnya. Mereka kembali tidur dengan saling berpelukan.
...****************...
Long week end. Sore itu Bu Dira dan Al tengah sibuk mempersiapkan beberapa keperluan. Mereka akan berkunjung ke rumah Fatimah. Hanya mereka berdua. Nurul merengek ingin ikut tapi dilarang oleh Bu Dira. Dengan alasan kehamilan Nurul yang masih memasuki trimester pertama. Ia takut akan terjadi hal buruk kembali.
"Al nggak boleh nakal ya di rumah Tante Fatimah nanti! Harus nurut apa yang dibilang Oma, Tante sam Om ya!" pesan Nurul ketika ia memasukkan beberapa baju Al ke dalam koper kecil.
Bu Dira telah menunggu di ruang tamu. Ia telah selesai berkemas. Ia berencana menghabiskan akhir pekan di rumah putrinya bersama Al. Dan membiarkan Rahman dan Nurul di rumah.
"Nduk, inget ya, besok temani Rahman menghadiri undangan temannya! Tapi kamu jangan kecapekan juga yaa!" pesan Bu Dira ketika ia akan berangkat.
"Iya bu'," jawab Nurul sambil tersenyum.
"Hari Minggu, in shaa Allah Ibu sama Al udah balik ya. Ibu titip Rahman ya!" Nurul mengangguk.
"Kamu juga ya Man, jagain Nurul yang bener!"
"Iya Bu'," jawab Rahman.
Bu Dira dan Al segera masuk ke mobil. Kopernya telah di masukkan oleh Pak Harto. Tak lupa mereka melambaikan tangan kepada sepasang suami istri yang melepas kepergiannya.
Rahman dan Nurul segera masuk kembali ke rumah setelah mobil yang membawa Bu Dira keluar dari gerbang rumah. Ponsel Rahman berdering.
Pak Jefry is calling...
Rahman langsung menjawab telfonnya. "Assalamu'alaikum Pak Jefry," sapa Rahman.
"Wa'alaikumussalam Pak Rahman. Bagaimana kabarnya? Lama tidak bertemu Pak," jawab Pak Jefry di ujung telfon.
"Alhamdulillah baik Pak Jefry. Bagaimana pekerjaannya? Lancar bukan?"
"Alhamdulillah Pak, lancar. Maaf Pak Rahman, apa malam ini ada waktu? Ingin meminta bantuan Pak Rahman seperti biasa, sebagai umpan,"
"Malam ini?" Rahman menjeda kalimatnya, melirik pada Nurul yang tengah asyik menonton tv.
"Maaf sekali Pak Jefry, saya tidak bisa malam ini. Ibu sedang berkunjung ke rumah Fatimah, istri saya di rumah sendiri. Saya tidak bisa meninggalkannya sendirian,"
__ADS_1
"Istri?" terdengar kegaduhan di sebrang telfon.
"Iya Pak. Saya tidak bisa meninggalkannya di rumah sendiri, dia sedang hamil muda,"
"Baiklah Pak, mungkin lain kali. Ini juga ada yang datang ke kantor, cukup gaduh. Kita sambung lain waktu. Terima kasih Pak Rahman."
"Baik Pak, sama-sama."
Tut, tut, tut. Telfon langsung terputus. Rahman segera duduk di samping Nurul. Rahman merangkul bahu istrinya. Menarik kepalanya agar bersandar pada dadanya.
Nurul yang sedang asyik menonton tv, hanya pasrah. Matanya membulat sempurna ketika tangan Rahman merengkuhnya. Menariknya ke dalam pelukannya.
"Mau nggak dek main ke rumah Shodiq?" Nurul segera menegakkan tubuhnya kembali. Menatap Rahman dengan seksama.
"Ke rumah Mbak Rika?" sahut Nurul. Rahman mengangguk.
Nurul tersenyum lalu mengangguk cepat. "Nanti selepas isya' kita ke rumah Rika ya," ucap Rahman.
Nurul mengangguk bahagia. Ia lantas menyandarkan kembali tubuhnya ke sofa. Rahman kembali menariknya ke dalam pelukannya. Nurul tersenyum kecil. Ia mulai membiasakan diri dengan sikap Rahman yang mulai romantis.
Selepas sholat isya', Rahman dan Nurul bersiap untuk mengunjungi rumah Shodiq. Rahman telah meminta Mbok Tum untuk tak memasakkan makan malam, karena mereka akan keluar.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di kediaman Shodiq. Hingga mereka sampai di sebuah rumah dengan desain mewah dan terlihat lebih menonjol dibandingkan beberapa rumah lainnya.
"Nurul,, adik kecilkuu,, hhihi," Rika langsung memeluk Nurul. Nurul terkekeh melihat sikap Rika.
"Ayo masuk! Wellcome to my little palace baby!" ucap Rika bersemangat. Rika memang belum lama berkenalan dengan Nurul, tapi Rika sangat menyukainya. Sangat senang jika bertemu dengannya. Wajah Nurul yang manis dan sikapnya yang halus, menjadi magnet tersendiri bagi sebagian orang. Termasuk Rika.
"Halo Tante," ucap seorang anak laki-laki yang langsung mengulurkan tangannya menyalami Nurul. Rezki, putra pertama dari Shodiq dan Rika.
"Hello boy! Mana adikmu?" tanya Nurul.
"Ahmad sudah tidur Tante," jawab Rezki.
"Oohh, kamu kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk Tante. Tante, Mas Fatih mana? Nggak ikut?"
"Mas Fatih pergi ke Semarang sama Oma Dira tadi sore. Besok lain kali, Tante ajak Mas Fatih kesini, atau kamu yang main ke rumah Om Rahman ya?"
Rezki mengangguk mantap. Mereka mulai mengobrol di ruang tamu. Rika kemudian menyiapkan makan malam bersama Nurul.
"Dek jangan kecapean yaa!" ucap Rahman dari ruang tamu. Rika tersenyum mendengar ucapan Rahman.
Nurul hanya mengangguk menjawab Rahman. "Makasih ya Mbak Ka, Nurul udah lama nggak kayak gini. Di rumah nggak boleh ngapa-ngapain sama ibu sama Mas Rahman," Nurul mencurahkan isi hatinya.
"Hhihi, alhamdulillah dong! Jadi ratu di rumah," goda Rika.
"Kan bosen mbak lama-lama,"
"Main kesini aja kalau bosen, atau ke rumah Nana, kita ngerumpi, hhihi,"
"Iya mbak, in shaa Allah," jawab Nurul sembari menata makanan di meja makan.
"Mbak Ka, pinjem toilet dong! Dimana mbak?" tanya Nurul.
"Itu di sana, yang pintu warna coklat," tunjuk Rika. Nurul segera pergi ke toilet.
"Ayo makan dulu beb!" ajak Rika yang telah selesai menata makanan.
Semua beranjak menuju meja makan. "Dari kemarin kek Man kayak gini, nyenengin istri kan pahala juga," goda Rika.
"Iya, iya! Terserah kamu ajalah," pasrah Rahman.
Mereka pun makan bersama. Diselingi obrolan-obrolan ringan dan canda tawa. Hingga malam mulai larut, Rahman dan Nurul berpamitan pulang. Rika dan Shodiq benar-benar bahagia melihat pasangan suami istri itu. Perlahan mereka semakin dekat. Semakin memahami satu sama lain.
__ADS_1
Tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses. Dan setiap proses pasti butuh waktu. Termasuk perasaan. Itulah yang kini tengah Rahman dan Nurul lalui. Mereka sedang berproses untuk menjadi pasangan seutuhnya. Saling menerima dan memahami kekurangan masing-masing. Biarkan waktu yang akan menunjukkan perasaan mereka satu sama lain.