Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Kebenaran part 1


__ADS_3

"Dek, Dek, Fatimah, Fatimah," Rahman memanggil-manggil adik perempuannya dengan sedikit berteriak di depan kamarnya. "Dek keluar cepat!" bentak Rahman.


Tak lama pintu pun terbuka. Nampak seorang wanita yang rambutnya sedikit acak-acakan dengan wajah yang baru saja bangun tidur. Fatimah tergesa-gesa membukakan pintu hingga tak sempat memakai hijabnya. "Mas Rahman ini kenapa? Pagi-pagi teriak-teriak di depan kamar Fatimah. Itu Rindi masih tidur mas, kalau terkejut kan kasihan mas," sungut Fatimah.


"Rindi bukannya tidur sama ibu di bawah?" tanya Rahman.


"Iya, tadi malam nangis nyariin mas Ali, jadi pindah ke atas tidurnya. Kenapa mas?"


"Kamu sholat belum? Kalau sudah, temuin mas di ruang kerja." Rahman langsung pergi meninggalkan Fatimah.


"Mas Rahman marah kayaknya," gerutu Fatimah. Ia langsung masuk kamar dan memakai hijabnya. Hari memang masih sedikit gelap. Rahman juga baru saja kembali dari masjid. Fatimah telah mencuci mukanya lantas turun menemui kakaknya.


Sedang di kamar Nurul, Nurul mulai membuka matanya karena teriakan Rahman yang cukup keras yang terdengar dari dalam kamar. Kamar Nurul dan kamar Fatimah memang dekat, hanya terpaut satu kamar. Ia merasakan tubuhnya kelelahan. Ia mulai mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam. Ia terkejut mendapati dirinya tidak memakai sehelai benangpun dibalik selimutnya. Ia mulai teringat satu persatu hal yang telah ia lewati tadi malam.


"Astaghfirullah, aku kenapa bisa kayak gitu sama mas Rahman? Ya Allah, mau ditaruh mana mukaku? Apa yang mas Rahman pikirin nanti? Aaaaaaaa,,," Nurul menghentak-hentakkan kakinya yang tertutup selimut. Ia lantas bangun dan mulai turun dari ranjang untuk membersihkan diri. Dengan selimut yang ia lingkarkan pada tubuhnya, ia berjalan menuju ke kamar mandi. Sembari meratapi kebodohannya. Ia masih belum sadar, bahwa semalam ia dalam pengaruh obat perangsang.


Sedang di ruang kerja Rahman, Rahman tengah mengaji sembari menunggu Fatimah datang. Tak lama, yang ditunggu datang. "Kenapa mas?" tanya Fatimah setelah memasuki ruang kerja kakaknya. Rahman menutup mushafnya.


"Sekarang mas minta kamu jawab jujur dek! Apa yang kamu kasih ke Nurul semalam?" Rahman berusaha menahan amarahnya.


"Fatimah kasih apa mas emangnya?"


"Cepat jawab, nggak usah balik tanya!" bentak Rahman.


"Fatimah nggak kasih apa-apa kok mas," jawab Fatimah mulai takut dengan amarah kakaknya.


"Bohong kamu! Dan bagaimana bisa pintu kamar mas yang tadi malam terkunci, bisa terbuka pagi ini? Padahal semalam mas sudah cari kunci di kamar nggak ketemu, kamu kan pelakunya?"


"Bu-bu-bukan Fatimah mas,"


"Kamu nggak mau ngaku?"


"Rahman!" Bu Dira melerai kedua anaknya itu. Fatimah yang melihat kedatangan sang ibu langsung berlindung dibalik punggungnya.


Rahman menarik nafas panjang. Berusaha meredam amarahnya. "Ada apa bu'?" tanya Rahman pelan.


"Kamu ini kenapa? Matahari saja belum naik, kamu sudah marah-marah,"


"Maaf bu',"


Fatimah lantas membisikkan sesuatu pada ibunya. "Yasudah, kamu kembali ke kamar," perintah bu Dira pada Fatimah. Fatimah langsung meninggalkan Rahman dan bu Dira.


"Eh,, mau kemana kamu dek, mas belum selesai," teriak Rahman.


"Kita bicara di kamar ibu'!" sahut bu Dira.


"Kenapa bu'?"


"Ibu mau bilang sesuatu ke kamu!" Rahman pun akhirnya mengikuti bu Dira ke kamarnya. Setelah sampai kamar, bu Dira menutup pintu kamarnya dan duduk bersebelahan dengan rahman. Rahman merebahkan tubuhnya di ranjang sang ibu.


"Ada apa bu'?" tanya Rahman masih dalam posisi tiduran.


"Ibu yang minta Fatimah memberikan obat perangsang ke Nurul tadi malam," Rahman seketika bangun dari posisinya. Ia menatap wajah ibunya dengan seksama. Ia berusaha mencari raut wajah kebohongan darinya, tapi tidak ia temukan.


"Kenapa bu'?" tanya Rahman dengan nada penuh kekecewaan.


"Jadi, kamu jangan marah pada adikmu. Ibu ingin kamu dan Nurul bahagia, itu saja,"


"Tapi tidak dengan cara seperti itu bu',"

__ADS_1


"Sekarang ibu tanya sama kamu. Setelah menikah, apakah kalian sudah pernah melakukannya? Berhubungan badan, belum kan? Jangankan melakukannya, bahkan kalian masih tidur terpisah."


Deg. "Ibu tahu?"


"Beberapa hari yang lalu, ibu keluar kamar untuk mengambil minum, ibu melihat pintu kamarmu terbuka sedikit. Ibu awalnya ingin menutupnya saja, tapi ternyata ibu melihat apa yang tidak ingin ibu lihat. Nurul tertidur di sofa dan kamu tengah menjawab telfonmu di teras atas. Awalnya ibu tak percaya dengan apa yang ibu lihat, tapi itu ternyata benar. Saat kemarin pagi ibu melihat gulungan selimut juga ada di sofa kamarmu, yang berarti Nurul juga masih tidur disana malam itu," mata bu Dira mulai beekaca-kaca. "Apa kamu benar-benar tidak bisa menerima kehadirannya nak?"


"Bukan begitu bu'. Kami hanya butuh waktu untuk lebih saling mengenal dan lebih dekat," Rahman sejenak memikirkan apa yang dikatakan bu Dira. "Dan untuk masalah yang ibu katakan tadi, aku tak ingin memaksanya bu' jika memang dia belum siap melakukannya. Kami sudah pernah membicarakan ini sebelumnya,"


"Ibu tahu, cara ibu salah. Hanya sajaa,,"


"Sudahlah bu', Rahman faham maksud ibu. Maaf, Rahman lepas kendali tadi."


"Biar ibu yang jelasin ke Nurul nanti, yaa?" Rahman hanya mengangguk. Rahman pun lantas meninggalkan kamar ibunya. Ia lantas menemani Al dan Riko bermain di ruang keluarga.


Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tak ada yang menyadari, Nurul belum keluar dari kamar. Bahkan dia melewatkan sarapannya. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi ia masih belum keluar kamar. Rahman sebenarnya khawatir, hanya saja dia bingung bagaimana harus mengahadapi Nurul setelah apa yang dia lakukan semalam.


"Nurul mana Man?" tanya bu Dira.


"Sepertinya masih di kamar bu',"


"Wah, kamu ini yaa,, sampai berapa kali semalam?" bisik bu Dira di telinga Rahman. Rahman hanya diam tanpa menjawab. Bu Dira lantas pergi ke kamar Nurul.


"Nduk, kamu di kamar?" ucap bu Dira saat di depan kamar Nurul.


"Iya bu', sebentar," jawab Nurul dari dalam. Tak lama pintu terbuka.


"Kamu nggak papa nduk?"


"Iya bu' Nurul nggak papa, mari bu' masuk!" Nurul mempersilakan bu Dira.


Mereka lantas duduk di sofa kamar Nurul. "Kamu kenapa dari tadi belum keluar kamar? Kamu sakit?" Nurul hanya menggelengkan kepalanya.


"Atau kamu bertengkar dengan Rahman?" Nurul pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Minta maaf untuk apa bu',?"


"Untuk tadi malam," Nurul semakin bingung.


"Tadi malam?"


"Iya, tadi malam," bu Dira menghentikan kalimatnya sejenak dan mengambil nafas panjang. "Ibu menyuruh Fatimah memberimu obat perangsang di minumanmu semalam,"


Nurul yang terkejut lantas menutupkan tangannya ke mulutnya. Ia lantas berusaha mengingat setiap kejadian yang janggal pada dirinya. Dan akhirnya ia baru menyadari, apa yang ia lakukan semalam adalah karena obat perangsang. "Tapi kenapa bu'?" tanya Nurul dengan suara yang tercekat.


Bu Dira lantas menceritakan apa yang dia ceritakan pada Rahman. Nurul tertunduk dalam. Bu Dira menunggu bagaimana reaksi Nurul.


Tiba-tiba Nurul bersimpuh dihadapan bu Dira, "Nurul minta maaf bu', Nurul tidak bisa menjadi istri yang baik bagi mas Rahman. Nurul tidak bisa menjadi menantu yang ibu inginkan. Nurul sungguh minta maaf bu', hiks, hiks," tangisnya telah pecah. Pipinya telah basah oleh air mata. Bu Dira terkejut melihat Nurul yang bersimpuh.


"Jangan begini nduk! Bangunlah!" Bu Dira meraih kedua lengan Nurul dan menuntunnya duduk di sofa kembali.


"Maafkan Nurul bu', hiks, hiks, hiks,"


"Jangan minta maaf nduk, ibu yang salah telah memaksa kalian melakukannya. Rahman sudah menjelaskannya pada ibu. Ibu yang harusnya minta maaf pada kalian," bu Dira langsung memeluk menantunya itu. Tangis pun pecah dari kedua perempuan itu.


Mereka saling memahami perasaan satu sama lain. Saling menenangkan dalam pelukannya. Hingga beberapa saat, semua telah tenang kembali. Bu Dira akhirnya mengajak Nurul turun. Di bawah semua telah menunggu mereka berdua.


"Ayo bu', jadi ke butiknya budhe Tari kan?" tanya Fatimah.


"O iya, ibu lupa. Ayo nduk siap-siap, nanti ibu kenalkan pada salah satu teman ibu. Dia pemilik butik terkenal di kota ini,"

__ADS_1


"Iya bu'," Nurul pun kembali ke atas untuk mengambil tasnya. Setelah itu, semua orang pun berangkat ke salah satu butik yang cukup ternama di kota ini.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai. Kondisi butik sedang ramai karena akhir pekan. Mereka lantas memasuki butik dan langsung mencari sang pemilik.


"Mbak Dira! Mari mbak masuk! Wah semua datang yaa,, sebentar ya, aku selesaikan ini dulu sedikit," ucap bu Tari.


"Iya, kerjakanlah dulu!" jawab bu Dira.


"Tunggu di atas saja dulu ya, nanti aku ke atas,"


"Siap budhee," jawab Fatimah. Semua lantas naik ke lantai dua. Melanjutkan obrolan.


Tak lama bu Tari pun menyusul ke atas. "Maaf ya, hari Minggu butiknya ramai,"


"Alhamdulillah kan mbak," sahut bu Dira.


"Gimana kabarnya semua? Dan inii,?" bu Tari menatap Nurul.


"Ini Nurul, istrinya Rahman. Dan itu Fatih, putranya," bu Dira memeperkenalkan Nurul. Nurul dan Al lantas mengulurkan tangannya menyalami bu Tari. Bu Tari pun menyambutnya.


"Cantik ya, pinter kamu mbak carinya," puji bu Tari.


"Alhamdulillah mbak. Gimana Akbar? Apa sudah lamaran?"


"Nggak jadi mbak, dia sudah dipinang orang."


"Akbar gimana budhe sekarang?"


"Sudah lebih baik Man, walaupun kemarin sempat frustasi, tapi sekarang sudah lebih baik. Nanti dia mau ke sini katanya. Kalian bisa ngobrol nanti. Oh iya, ada apa ini, tumben semua ke sini?"


"Ini mbak, mau pesan baju. Buat acara tasyakuran pernikahan Rahman, empat minggu lagi," ucap bu Dira.


"Mau buat resepsi ya?" tanya bu Tari antusias.


"Bukan mbak, cuma acara pengajian di rumah,"


"Oohh, aku kira mau ada resepsi. Yasudah, ayo diukur dulu yuk gantian," bu Tari mulai mengambil alat ukurnya. Dan mengukur badan semua anggota keluarga bu Dira.


Cukup lama mereka mendiskusikan model pakaian dan warna yang akan dipakai. Hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Mereka bergantian mengerjakan sholat di mushola kecil yang ada di butik itu. Dan melewatkan makan siang. Tapi tidak untuk Al, Riko serta Rindi. Mereka makan siang bersama Ali karena Riko ingin makan bakso. Hingga waktu hampir menunjukkan pukul dua siang.


Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. "Assalamu'alaikum Maa,," sapa Akbar yang baru saja sampai di lantai dua.


"Wa'alaikumussalam,, eh sudah datang Bar, sini! Ini ada keluarga budhe Dira," jawab bu Tari. Akbar pun langsung mengedarkan pandangannya.


"Assalamu'alaikum budhe," ucap Akbar.


"Wa'alaikumussalam Bar," jawab bu Dira.


"Gimana kabarmu Bar,?" tanya Rahman yang telah dirangkul bahunya oleh Akbar yang duduk disampingnya.


"Baik mas," jawab Akbar singkat.


"Eh ada budhe Dira? Ada pengantin baru juga ternyata," sapa Isti yang baru tiba. "Mana istrimu Man? Nggak ikut?"


"Baru di toilet mbak Tya, nanti juga ketemu," sahut Fatimah.


Bu Tari pun pergi ke toilet. Dan bertemu Nurul yang baru saja keluar. "Sudah nduk? Yuk budhe kenalin sama dua anak ibu!" bu Tari yang telah selesai dari toilet pun menggandeng lengan Nurul. Mereka berjalan berdua sambil mengobrol.


"Ini lho Ya istrinya Rahman!" ucap bu Tari ketika sampai depan bersama Nurul. Semua menoleh ke arah bu Tari.

__ADS_1


"Nurul?" ucap Isti.


"Bu Isti?" ucap Nurul terkejut.


__ADS_2