
" Kamu mau belajar berenang juga seperti Al,,??" goda Rahman.
cekrek,,cekrek,,cekrek
Nurul segera melepaskan cengkeraman tangannya pada baju Rahman dan menundukkan pandangannya. " Eh,,eng-enggak mas. Maaf mas,maaf!!" Rahman pun melepaskan pelukannya setelah yakin nurul berdiri dengan benar. " Terima kasih mas Rahman!" ucap Nurul masih sambil menunduk tapi sudah tidak dalam pelukan Rahman.
" Sama-sama! Hati-hatilah,lantainya licin!" saran Rahman.
" Iya mas,terima kasih," Nurul pun lantas membereskan pakaian Al. Sedang Rahman menerima telfon tak jauh dari posisi Nurul.
Di sisi lain,sang paparazi dadakan sedang melaporkan berita kepada bosnya. Iya,mbok Tum. Ia memperlihatkan hasil jepretannya pada bu Dira yang tengah berada di dalam kamar. Bu Dira memang meminta mbok Tum untuk mengawasi Rahman dan Nurul. Dan dia meminta mbok Tum untuk melaporkan semua yang terjadi jika dia tidak ada. Seperti saat Rahman menangkap tubuh Nurul ke dalam pelukannya ketika hendak terjatuh ke kolam renang. Bu Dira sangat senang dengan kabar itu. Meskipun itu terjadi karena kecelakaan,tapi berakhir sangat manis bagi bu Dira. ( buat Nurul dan Rahman juga manis kok buu,,😁😁). Bu Dira lantas keluar dari kamar dan menghampiri Nurul yang ternyata tengah duduk dengan sisa-sisa kegugupannya di ruang tamu.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Suara adzan telah berkumandang. Semua bersiap untuk melaksanakan sholat. Rahman mengajak Al ke masjid kembali setelah Al selesai berganti baju. "Kamu kenapa nduk? Sakit?" tanya bu Dira pada Nurul yang terlihat diam.
" Ehh,,enggak kok bu',Nurul nggak papa." jawab Nurul.
" Kamu masih grogi ya gara-gara dipeluk Rahman?? hhihi" bu Dira cekikikan di dalam hatinya. " Yasudah,sholat yuk! Setelah itu,ibu pengen bicara sama kamu!" ajak bu Dira. Nurul segera beranjak dari duduknya dan mengikuti bu Dira ke mushola kecil di rumahnya.
...****************...
" Al,ayo pulang sudah sore!" ajak Nurul ketika Al sudah pulang dari masjid.
" Biar diantar Rahman ya sayang,! Dan ibu nggak mau di tolak!" paksa bu Dira. Nurul hanya bisa pasrah menuruti permintaan bu Dira. " Kamu mau kemana Man?? Kamu anter Nurul sama Al pulang dulu yaa!" ketika melihat Rahman telah berganti baju.
" Mau ke rumah Shodiq bu',,ada yang mau dibicarain katanya sama Burhan juga. Iya bu'." jawab Rahman.
" Mas Rahman kan ada janji bu',,saya pulang pakai taksi saja bu'." Nurul berusaha menolak.
" Sekalian saja,,searah juga tempatnya!" Rahman menimpali.
" Sejak kapan rumahnya Nurul sama Shodiq searah? Apa Shodiq pindah rumah? Kenapa Rahman nggak pernah cerita,,?? Belum lama ketemu Rika,dia juga nggak cerita apa-apa,,udahlah biarin. Nanti aku tanya sama Rahman aja." Bu dira menatap kebingungan pada Rahman. Bu Dira akhirnya hanya tersenyum. Nurul akhirnya menyetujui untuk diantar pulang Rahman.
Bu Dira kembali berulah. Dia membisikkan sesuatu pada Al. " Al,kamu duduk dibelakang ya,,biar bunda sama om Rahman yang di depan. Ini,Oma kasih anggur banyak buat Al." Bu Dira memang sudah menyiapkan sekeranjang anggur untuk Al,karena dia tahu Al sangat menyukai anggur.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Ketika dia mendapat apa yang disukainya langsung menyetujui persyaratannya. Al pun seperti itu. Dia sangat menyukai anggur. Dia pun menuruti usulan bu Dira.
Nurul dan Al pun lantas berpamitan pada bu Dira. " Kamu di depan ya Al nemenin om Rahman!" perintah Nurul.
" Enggak Bunda,Al dibelakang saja,mau makan anggur yang dikasih Oma,,Bunda saja ya yang di depan,,!" tolak Al yang langsung masuk ke mobil. Nurul akhirnya duduk di kursi depan bersama Rahman.
" Hati-hati ya nduk!" kata bu Dira sembari melambaikan tangan.
" In shaa Allah bu',,Assalamu'alaikum." ucap Nurul juga membalas lambaian tangan bu Dira.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam!" mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah itu. Yang akan menuju rumah kecil sederhana.
...****************...
Keesokan paginya di kediaman Rahman. Bu Dira tengah menunggu putranya untuk sarapan bersama. Hingga putranya itu turun dari kamarnya sudah dengan pakaian lengkap dengan jas dan tas kerja di tangannya. Mereka pun makan pagi bersama.
" Man,,nanti setelah makan siang kamu temenin ibu' ya pergi sebentar!" pinta bu Dira.
" Ibu' mau kemana? Pak Harto libur?"
" Enggak,pak Harto nggak libur. Ibu' nanti ke kantor kamu sekalian makan siang sama kamu,setelah itu baru kamu anterin ibu. Ibu mau beli sesuatu tapi sama kamu yaaa!!"
" Iya bu',," jawab Rahman. Rahman yang lebih dulu selesai sarapan pun langsung berangkat kerja. Tiga puluh menit ia berkendara akhirnya sampailah Rahman di kantornya. Memang tidaklah besar gedung kantor Rahman,tapi di sinilah kantor pusat bisnis Rahman. Bisnis yang sudah merambah ke berbagai kota dan mulai merambah bidang lain.
...****************...
Waktu makan siang tiba. Bu Dira telah sampai di kantor Rahman. Ia memilih menunggu putranya di lobi kantor. Setelah mengabari Rahman bahwa ia sudah sampai,tak lama Rahman telah turun ke lobi dan menghampiri ibunya. " Ayo bu',mau makan dimana,,?"
" Terserah kamu saja Man." mereka berdua pun pergi meninggalkan kantor Rahman yang dulu juga pernah menjadi kantor bu Dira. Rahman memilih makan siang dengan urap sayur. Mereka sudah berada di warung langganan bu Dira.
Setelah selesai makan,Rahman bertanya pada ibunya, " Ibu mau diantar Rahman ke mana?"
" Kita ke J**** Jewelry!"
" Ibu mau beli apa bu' kesana?"
" Mbak,tolong cincin yang tampilannya sederhana tapi elegan ya. Yang cocok untuk pertunangan. Tapi bukan yang sepasang ya mbak,untuk yang perempuan saja!" Rahman terkejut mendengar ucapan ibunya. Penjaga toko pun mengambil beberapa cincin dan menunjukkannya pada bu Dira. Bu Dira sedang sibuk memilih cincin ketika para penjaga toko perhiasan itu sibuk mengagumi Rahman. Bu Dira tidak menyadari itu. Hingga pilihannya jatuh pada sebuah cincin berwarna putih dengan lingkar jari kecil dan berhiaskan tiga buah permata kecil disalah satu sisinya.
" Man,ini kalau buat Nurul kebesaran nggak ya,?"
" Memang Nurul sudah menerimanya bu'?"
" Udah,,nanti ibu ceritain di mobil. Gimana,,ini kira-kira muat nggak buat Nurul? Dia kan badannya kecil,jarinya ramping banget."
" Kalau kurang pas ukurannya,,bisa dibuatkan yang baru bu' besok sesuai ukuran." ucap seorang penjaga yang tak sengaja mendengar percakapan bu Dira dan Rahman.
" Yasudah saya ambil ini ya mbak. Ini ukuran berapa mbak?" tanya bu Dira
" Ini nomor 9 bu',," jawab sang penjaga.
" Oh iya mbak,makasih ya." Rahman pun lantas membayar cincin pilihan ibunya. Keluarga Rahman memanglah kaya,tapi mereka tidak suka bermewah-mewahan atau menghambur-hamburkan uang.
" Ibu mau kemana lagi,,??" tanya Rahman ketika sudah di dalam mobil.
" Kita ke butik budhe Tari ya!"
__ADS_1
" Siap nyonyaaa!" Rahman sedikit menggoda ibunya.
" Kemarin Nurul bilang ke ibuk untuk melamarnya langsung ke orang tuanya. Dia belum memberi jawaban kemarin,hanya saja feeling ibu bagus tentang lamaran ini. Jadi,besok hari Minggu kita ke Jogja buat lamar Nurul ke orangtuanya."
" Ya bu'." jawab Rahman singkat sambil menyetir mobil.
" Menurutmu,Nurul gimana Man,,??"
" Baik bu',sopan. Dan sangat polos. Dia bahkan tidak bisa menutupi perasaannya dari orang lain," jawab Rahman yang kembali teringat ketika ia menangkap tubuh Nurul dan memeluknya. " Saat itu detak jantungnya begitu kencang dan pipinya merona. Sungguh menggemaskan!"
" Berarti dia jujur Man!" imbuh bu Dira.
" Iya iya bu'."
Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah butik yang cukup terkenal di kota itu. Milik salah seorang teman dekat bu Dira. Mereka pun langsung masuk dan disambut hangat oleh pemilik butik,bu Tari.
" Gimana mbak kabarnya?" sapa bu Dira pada temannya.
" Baik. Kamu gimana? Lama nggak main ke sini,," jawab bu Tari bahagia.
" Ibu baru jadi detektif budhe akhir-akhir ini,,jadi sibuk deh nggak bisa main ke sini,,hhihi" Rahman ikut menjawab pertanyaan bu Tari. Bu Tari kebingungan mendengar jawaban Rahman.
" Hhaha,,iya. Aku baru nyariin Rahman istri."
" Apa budhe,,mas Rahman mau nikah,?? Akhirnya maaasss,,hhaha" sahut seorang pria yang menuruni tangga dari lantai dua yang menjadi ruangan pribadi milik bu Tari.
" Akbar!! Kapan kamu pulang??" Rahman langsung menyambut pria itu dan saling berpelukan melepas rindu.
" Udah 3 hari mas,,ini juga mau balik lagi ke Bandung. Kapan mas Rahman nikah?" tanya Rahman antusias.
" Belum tahu Bar. Besok hari Minggu baru mau lamaran." jawab bu Dira. " Kamu juga kapan Bar,??"
" Secepatnya budhe. Minggu depan Akbar mau nemuin dia mau Akbar ajak ta'aruf dulu."
" Siapa ini gadis yang beruntung mendapatkan perhatian seorang Akbar Mahendra,,hem?? Kenapa juga minggu depan,sekarang aja kenapa? Keburu diambil orang lhooo,," goda Rahman.
" Akbar harus balik ke Bandung sekarang mas,ada masalah sama pabrik Akbar disana."
" Dia bukan gadis Man,,janda anak satu. Anaknya udah sekolah lagi. Disuruh cari yang gadis malah kecantol sama janda anak satu. Coba tolong kamu nasehatin tu Man si Akbar." geram bu Tari. Bu Tari memang awalnya tidak menyetujui perempuan pilihan Akbar. Tapi setelah dibujuk oleh Akbar dan kakaknya,akhirnya dia menerima pilihan Akbar.
" Maaaa,,katanya udah direstuin kemarin? Udah dong,,!!" rengek Akbar.
" Apa salahnya mbak janda?? Rahman juga janda calon istrinya mbak,juga udah punya satu anak,tapi baik dia." Saran bu Dira.
" Yasudah,semoga lancar semua urusanmu Bar! Dan ditunggu kabar baiknya. Oke!"
__ADS_1
" Siap mas Rahman!" jawab Akbar mantap.
Obrolan mereka pun berlanjut. Bu Dira membeli baju untuk Rahman,Nurul dan Al. Akbar pun pamit terlebih dahulu karena ada jadwal penerbangan yang harus dia lakukan. Hingga sore menjelang,Rahman dan bu Dira pun pamit pulang pada bu Tari.