
Minggu pagi yang cerah. Semua di kediaman Fatimah sedang bersiap untuk berlibur. Liburan keluarga yang telah Rahman siapkan selama dua bulan terakhir. Sebenarnya ia menyiapkan bersama Fatimah. Ia berunding banyak hal dengan adiknya itu. Liburan ini, hadiah kecil untuk keluarga kecilnya.
Dengan mengendarai dua mobil SUV, milik Rahman dan Ali, mereka berangkat dari rumah Fatimah di Semarang. Kali ini mereka disopiri oleh para pengawal. Rahman dan Ali tak lupa membawa masing-masing dua pengawal pribadi kepercayaan mereka.
Mereka menuju Jepara untuk menyeberang dengan kapal ke Kepulauan Karimun Jawa. Al yang belum pernah menaiki kapal merasa sedikit takut. Begitu pula Nurul. Terlebih Nurul harus menjaga Hilya.
Rahman telah menyewa dua buah kamar di kapal. Demi kenyamanan keluarga pastinya. Rahman menemani Al dan Nurul di salah satu kamar. Sedang Bu Dira, Fatimah dan Rindi ada di kamar yang lain. Sedangkan Ali mengajak Riko untuk berjalan-jalan berkeliling kapal.
"Ayah, berapa lama kita naik kapal?" Tanya Al yang mulai hilang rasa takutnya setelah kapal beejalan selama beberapa saat.
"Sekitar tiga jam. Kalau kamu ngantuk, tidurlah!" Ucap Rahman.
"Al pengen jalan-jalan! Tapi Bundaa,,"
"Yaudah, Al jalan-jalan di kapal sama Ayah nggak papa. Bunda di kamar saja sama adek." sahut Nurul. Nurul merasakan kepalanya sedikit pusing.
"Kamu nggak papa di sini sendiri?" Tanya Rahman khawatir.
"Nggak papa Mas. Mas temenin Al jalan-jalan aja! Kan nggak tiap hari juga. Nanti kalau Nurul udah nggak pusing, Nurul ikut jalan-jalan."
"Yakin?"
"Iya Mas."
"Aku minta Ibu' kesini aja ya?"
"Jangan Mas! Kasihan Fatimah sendirian nanti."
"Jalan-jalannya nggak usah lama-lama Yah! Nanti kita balik lagi ke kamar nemenin Bunda sama adek." Imbuh Al semangat.
"Udah sana, jalan-jalan dulu!" Perintah Nurul sembari bermain dengan Hilya.
"Kalau kenapa-napa telfon Mas ya!"
"Iya Mas. Tenang aja!" Nurul berusaha menenangkan Rahman.
Akhirnya Rahman dan Al pergi keluar kamar untuk berjalan-jalan melihat suasana kapal dan pemandangan laut nan luas. Al sangat senang. Ketakutannya hilang setelah melihat laut yang terbentang luas.
"Ayah, ayo ajak Bunda sama Dek Hilya jalan-jalan!" Al merengek kepada Rahman setelah ia puas jalan-jalan.
"Al nggak capek habis keliling kapal?" Tanya Rahman khawatir.
"Enggak Yah. Ayok Yah!" Al menarik tangan Rahman menuju kamar dimana Nurul dan Hilya berada.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh!"
Al masih terus menarik tangan Rahman sekuat tenaga agar cepat sampai di kamar. Dan ketika sampai di kamar, tak ada siapapun di sana.
"Lhoh, Bunda kemana Yah?" Al kebingungan mencari ibu dan adiknya yang tak ada di kamar.
"Kita cari ke kamar Oma ya! Mungkin Bunda di kamar Oma." Rahman segera mengajak Al menuju kamar sebelah.
Dan benar, ternyata Nurul ada di kamar sebelah. Ia kesepian hanya berdua dengan Hilya. Terlebih, kepalanya semakin terasa berat dan perutnya mulai mual.
"Assalamu'alaikum," ucap Al ketika pintu terbuka.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua orang yang ada di dalam.
"Bundaa, ayo jalan-jalan keliling kapal!" Al langsung menarik tangan Nurul yang sedang duduk di tempat tidur.
"Aall, Bunda kepalanya pusing nak! Bunda mabuk laut." Sahut Bu Dira.
"Al sudah jalan-jalannya sama Ayah?" Tanya Nurul sambil menarik tubuh Al ke pelukannya.
__ADS_1
"Sudah Bunda. Ayo sekarang jalan-jalan sama Bunda dan adek!" Al kembali merengek.
"Yasudah, tapi jangan lama-lama ya! Kepala Bunda pusing." Nurul akhirnya mengalah pada Al.
Nurul segera menggendong Hilya yang sedang asik bermain dengan Rindi. Rindi pun akhirnya merengek ingin ikut. Dan akhirnya semua orang ikut berjalan-jalan di kapal.
Sakit kepala Nurul sedikit mereda, tapi perutnya masih terasa mual. Hilya yang sedari tadi digendong Rahman pun terlihat bahagia melihat laut luas yang merupakan hal baru baginya.
Setelah berlayar hampir tiga jam, kapal pun berlabuh di pelabuhan. Nurul benar-benar lega, meski kepalanya masih terasa berat. Mereka segera berkendara kembali dengan mobil menuju vila yang sudah disewa Rahman. Vila yang pasti cukup besar dengan segudang fasilitasnya.
Mereka tiba di vila saat adzan dzuhur berkumandang. Semua lalu bersiap untuk melaksanakan sholat. Setelah selesai, semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Fatimah dan Ali masih setia menemani Al, Riko dan Rindi bermain. Bu Dira dan Rahman pun ikut menemani. Nurul memilih di kamar bersama Hilya yang mulai mengantuk. Ia menyusui Hilya hingga kenyang dan tertidur. Ia lantas keluar kamar bergabung dengan yang lain.
"Mbak, ayo kita pergi!" Ajak Fatimah bersemangat.
"Kemana Dek?" Tanya Nurul penasaran.
"Nyalon." Jawab Fatimah singkat.
"Haaahhh?" Nurul benar-benar bingung dengan jawaban Fatimah.
"Kita ke salon Mbak, bersantai, dipijit."
"Emang di Semarang nggak ada salon apa Dek? Sampai-sampai kamu mau nyalon di sini."
"Biar rileks Mbak! Kan tadi Mbak Nurul juga mabuk laut, pasti terus enak deh badannya setelah dipijit nanti. Ya?"
"Tapi Hilya gimana? Aku juga belum beresin koper."
"Udah, biar Mas Rahman yang ngerjain itu. Hilya juga biar Mas Rahman yang jaga, ada ibu juga kan. Ya kan Mas Rahman?"
Rahman hanya mengangguk. "Tuh Mas Rahman nggak ikhlas kan?" sanggah Nurul.
"Tapi Mas,,"
"Nggak pakai tapi! Stok ASI perah kamu kan juga banyak, nggak usah khawatir!" Imbuh Rahman.
"Emang berapa lama di salonnya Dek?"
"Ya nggak tahu Mbak. Kan nggak tahu penuh enggak." Jawab Fatimah.
"Udah Mbak Nurul tenang aja! Nanti Ali bantuin jagain Hilya juga!" Ali pun ikut membujuk Nurul.
Nurul menatap bingung pada semua orang. Rahman tiba-tiba merengkuh bahu Nurul ke dalam pelukannya. "Udah Sayang, nggak usah mikir macem-macem! Kepalamu masih pusing kan? Sana relaksasi sama Fatimah ke salon. Hilya biar Mas yang jaga, kamu nggak usah khawatir!"
Nurul menghela nafas panjang. Ia akhirnya menuruti permintaan Rahman. Fatimah dan Nurul bergegas pergi ke salon diantar oleh dua pengawal Rahman.
Setelah dua puluh menit, mereka sampai di sebuah salon yang cukup besar dan ramai pengunjung. Fatimah dan Nurul langsung masuk ke dalam. Ada beberapa orang sedang mengantri giliran mereka.
"Selamat datang." Sapa seorang wanita cantik dengan seragam di meja resepsionis.
Nurul dan Fatimah mengangguk. "Iya Mbak. Reservasi atas nama Nurul Almira." Ucap Fatimah tegas.
"Kok namaku Dek?" tanya Nurul bingung.
"Hhihi, sama aja Mbak."
Wanita di balik meja resepsionis lalu sibuk dengan komputernya. Setelah beberapa saat, resepsionis itu bertanya, "Oh iya Kak silahkan. Untuk dua orang kan?"
"Iya Mbak." Jawab Fatimah.
"Mari silahkan, lewat sebelah sini!" wanita resepsionis itu lalu menunjukkan jalan ke arah ruangan di dalam. Mereka dituntun ke sebuah ruangan VIP. Sudah ada dua orang terapis yang menunggu di dalam.
__ADS_1
"Paket Honeymoon 1 ya Kak?" tanya salah satu terapis.
"Iya Mbak. Berapa lama Mbak biasanya?" jawab Fatimah.
"Biasanya bisa tiga sampai empat jam baru selesai."
"Lama banget Dek?" Nurul terkejut mendengar jawaban terapis itu.
"Ya nggak papa lah Mbak, nggak tiap hari juga kan? Hhihi," jawab Fatimah.
"Terus Hilya?" Nurul kembali memikirkan putrinya.
"Udah Mbak, biarin Hilya sama ayahnya dulu. Kita rileks di sini."
"Silahkan ganti baju dulu Kak!" Ucap terapis itu.
"Oh iya Mbak." Jawab Fatimah. Fatimah pun langsung menarik tangan Nurul menuju ruang ganti. Mereka mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh pihak salon.
Setelah selesai berganti pakaian, mereka langsung memulai perawatan tubuhnya. Para terapis pun melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Dek, kamu mau sekalian honeymoon ya? Hhihi.. Niat banget ke salonnya?" Ucap Nurul di sela perawatannya.
"Mbak Nurul kali yang mau honeymoon! Hhahaha,," Fatimah tertawa cukup keras karena kepolosan Nurul.
"Kok aku Dek?"
"Ini semua yang nyiapin Mas Rahman Mbak."
"Apa?"
"Liburan ini. Yang rencanain Mas Rahman. Termasuk perawatan kita sekarang ini, yang nyiapin Mas Rahman buat Mbak Nurul."
"Kamu ini ada-ada aja Dek!"
"Beneran Mbak! Aku cuma bantu dikit aja, selebihnya Mas Rahman yang nyiapin. Dia pengen honeymoon sama kamu."
Deg. Jantung Nurul berdegup kencang. Hatinya serasa gugup bercampur bahagia. Ia membisu mendengar penjelasan Fatimah. "Honeymoon?"
"Kakak pengantin baru ya?" tanya terapis yang sedang memijit tubuh Nurul.
"Bukan Mbak." Jawab Nurul singkat.
"Mereka udah nikah satu tahun yang lalu Mbak, tapi karena dijodohkan. Dulu masih belum saling dekat, jadi dulu belum honeymoon." Imbuh Fatimah.
"Oohh begitu. Takdir Tuhan memang tak ada yang tahu ya Kak." sahut si terapis.
"Iya Mbak, bener!" sahut Fatimah.
Mereka mengobrol banyak hal. Ketika akan menjalani perawatan rambut, Nurul merasa payudaranya mulai sakit. Asinya mulai penuh. Ia berhenti sejenak melakukan perawatan untuk memerah ASInya.
Rahman benar-benar telah menyiapkan semuanya. Bahkan ia sudah menyiapkan keperluan Nurul untuk menyimpan ASI perah untuk Hilya.
Hari mulai senja. Fatimah dan Nurul telah selesai melakukan perawatan seluruh tubuhnya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Fatimah dan Nurul benar-benar merasa rileks setelah melakukan perawatan. Sakit kepala Nurul pun telah hilang. Mereka pun pulang.
Sampai di vila hari mulai gelap. Adzan maghrib pun berkumandang. Nurul yang sudah berjam-jam di salon, langsung menggendong Hilya saat sampai vila. Ia langsung memborbardir Rahman dengan pertanyaan tentang Hilya ketika ia di salon tadi.
Rahman dengan sabar menjawab setiap pertanyaan istrinya yang terlihat lebih segar dan ceria. Rahman duduk disamping Nurul yang sedang menyusui Hilya di sofa kamarnya.
Rahman menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nurul yang berbeda dari biasanya. Begitu harum dan menggoda. Rahman mengecup kepala Nurul sambil memeluknya dari samping. Rahman pun menghirup aroma sampo dari rambut Nurul yang begitu kuat menelusup melewati jilbab yang Nurul kenakan.
Setelah lelah bertanya, Nurul akhirnya fokus pada Hilya yang ada dipangkuannya. Ia tak menyadari, Rahman sedang menikmati harum aroma sampo dan sabun yang ia pakai saat di salon tadi. Dan ia pun tak tahu, jika aroma sabun dan sampo itu bisa membangkitkan libido pria. Sampo dan sabun itu memang khusus disiapkan pihak salon khusus untuk Paket Honeymoon 1, dengan harga yang tak biasa tentunya.
Rahman mulai terpancing hasrat kelaki-lakiannya. Seuatu di balik celananya mulai mengeras. Meronta-ronta ingin di bebaskan dari sangkarnya.
__ADS_1
"Sabar ya wahai Junior! Giliranmu nanti malam." Gumam Rahman dalam hati sembari berusaha menahan hasratnya sekuat tenaga. Nurul benar-benar tak menyadari ekspresi dan gelagat Rahman. Ia masih tetap asik memandangi wajah Hilya yang tertidur. (Resiko punya istri polos, sabar ya Man 😁😁)