Istri Pilihan Sang Duda

Istri Pilihan Sang Duda
Sisi Lain


__ADS_3

"Nduk, kamu istirahat saja! Temenin Rahman saja sana, ini biar aku yang nyelesaiin," pinta Nita ketika Nurul mulai membantunya menyiapkan keperluan untuk peringatan tujuh hari meninggalnya Bu Lastri.


"Jenuh Mbak diem terus! Lagian, kan juga duduk ini nggak jalan-jalan. Mas Rahman juga baru ngurusin kerjaan." Jawab Nurul sembari sedikit memonyongkan bibirnya.


"Yaudah! Tapi kalau udah capek, istirahat! Nggak usah maksain macem-macem! Kamu kan juga baru pulang dari rumah sakit."


"Iya Mbakku sayang!" ucap Nurul dengan nada sedikit manja.


Nurul baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah tiga hari di rawat, ia diizinkan pulang. Ia pun juga sudah menjalani CT scan kepalanya. Dokter mendiagnosa, bahwa sakit kepala yang sering Nurul rasakan, akibat cedera traumatik karena benturan kepala belakangnya ketika mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Ia diberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya jika itu kambuh.


Rahman pun sudah mulai kembali bekerja. Meskipun masih dari jarak jauh. Ia memeriksa laporan-laporan yang dikirim Burhan dan Shodiq dari Jogja. Ia juga sudah menerima kabar bahwa, berita kehamilan Dinda hanya sebuah kebohongan besar. Tapi ia belum mengatakan itu pada Nurul. Ia ingin memastikan kebenaran dari foto dan video itu.


Dan hari ini, tepat satu minggu saat peringatan meninggalnya Bu Lastri, Burhan telah membuat janji temu dengan orang yang ia percayai untuk memastikan keaslian foto dan video Rahman. Bahkan dia harus menemuinya diluar kota untuk menghindari kecurigaan seseorang yang ia fikir adalah dalang di balik masalah ini.


"Jadi bagaimana Tuan? Apa memang Rahman yang ada di foto dan video itu?" tanya Burhan pada seorang pria yang ia percaya untuk menganalisa kebenaran foto dan video.


"Mau berita baik atau berita buruk dulu?" sahut pria yang berada di depan Burhan yang usianya mungkin tak jauh dari Burhan.


"Berita buruk."


"Berita buruknya, yang ada di foto itu benar Pak Rahman."


"Anda yakin?"


"Sangat."


"Tapi Rahman tak mungkin melakukan itu,"


"Dari cerita Anda kemarin, bukankah Pak Rahman sempat tak sadarkan diri? Mungkin saat itulah foto itu dibuat. Dan jika itu benar, maka ada orang lain di dalam kamar itu selain Pak Rahman dan wanita itu,"


"Orang lain?"


"Ya. Dan yang pasti, mereka telah bekerja sama dengan pihak kitchen atau mungkin pelayan yang ada di hotel itu untuk menaruh sesuatu di minuman atau makanan Pak Rahman. Hingga membuat dia tak sadarkan diri, dan menjebaknya di kamar itu."


"Kenapa aku melewatkan hal itu? Aahh, sial!" Burhan mengumpat dirinya sendiri.


"Rencana mereka cukup matang Pak Burhan."


"Lalu kabar baiknya?"


"Kabar baiknya, yang ada di video itu bukanlah Pak Rahman."


"Maksud Anda?"


"Yang berhubungan intim dengan wanita di video itu bukanlah Pak Rahman, melainkan pria lain. Mungkin dia orang ketiga yang ada di dalam kamar itu."


"Yang mengambil foto-foto itu?"


"Mungkin saja,"


"Jadi maksud Anda, orang yang ada dalam foto dan video itu berbeda?"


"Iya. Dan apabila wanita itu sampai hamil, kemungkinan besar, anak dalam kandungannya bukan anak Pak Rahman."


"Apa yang membuat Anda yakin jika yang di video itu Rahman?"


"Sebenarnya cukup sulit menemukannya. Mereka cukup jeli mengedit videonya. Tapi jika diperhatikan lebih detail dan perlahan, ada saat dimana bekas luka jahitan di bahu belakang yang tertera jelas dalam foto, hilang dalam video. Memang hanya sepersekian detik, tapi itu bisa menjadi bukti bahwa itu orang lain. Dan juga, garis wajahnya sempat berubah dalam video."


"Apa Anda bersedia menjadi saksi jika nanti dibutuhkan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Saya berhutang budi pada almarhum Bapak Khairil Abdullah, dan mungkin saat ini saya harus membalasnya."


"Baiklah, terima kasih."


"Saya akan kirimkan file hasil akhirnya ke Anda. Dan semoga itu bisa jadi bukti kuat untuk polisi."


"Tentu saja. Saya harap Anda lebih berhati-hati setelah ini. Karena saya khawatir, orang dibalik masalah ini akan mencari Anda."


"Tentu saja Pak Burhan. Saya memiliki ajudan yang selalu mengawal saya kemana saja."


"Baiklah. Terima kasih untuk semuanya."


"Sama-sama Pak Burhan."


"Kalau begitu, saya permisi!" Burhan pun beranjak dari kursinya dan bersalaman dengan pria dihadapannya.


"Baik Pak Burhan. Saya tunggu kabar selanjutnya. Dan tolong sampaikan salam saya untuk Bu Indira." Jawab pria itu sembari menjabat tangan Burhan.


Burhan pun segera meninggalkan tempat ia bertemu tadi. Ia segera kembali ke D**** untuk memberikan hasil analisa dari pria tadi. Dan akan menyelidiki keterkaitan pegawai hotel dengan insiden itu.


Di sisi lain, Shodiq pun telah menemukan dimana Dinda mendapatkan hasil tes kehamilan palsu itu. Ia pun sudah mengantongi nama dokter yang membuatkannya. Hanya tinggal mengumpulkan semua bukti dan menyerahkannya ke pihak berwajib.


Sedangkan di rumah Dinda, sore itu ia baru saja pulang bekerja. Ia baru saja masuk ke rumahnya dan berganti pakaian. Ia kini hanya mengenakan tanktop berwarna pink dan hot pants denim. Ia terbiasa berpakaian seperti itu di rumah.


Hingga ada dua buah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ia hafal siapa pemilik salah satu mobil itu. Ia pun lantas membukakan pintu bahkan sebelum orang itu mengetuk pintunya.


"Sialan kamu Dinda!" teriak seorang pria setelah dia tepat berdiri di hadapan Dinda sembari mencekikkan satu tangannya ke leher Dinda.


Dinda memukul-mukul tangan pria itu. Dia kesulitan bernafas. Tapi pria itu tak bergeming sedikit pun. Dan malah mendorong tubuh Dinda hingga membentur tembok dalam rumahnya.


"Apa, apa salahku?" ucap Dinda terbata-bata.


"Kenapa kau tak bilang dari awal jika kau sudah tak memiliki rahim?"


"Jelaskan!" bentak pria itu.


"Kamu yang tak bertanya padaku bukan? Lagi pula, aku sudah mendapat orang yang mau mendonorkan rahimnya padaku." Jawab Dinda dengan sedikit bentakan dan sudah mulai berdiri kembali.


"Kau merusak rencanaku!"


"Salahmu sendiri! Waktu itu aku sudah ingin mengatakannya padamu, tapi kamu terlalu sibuk mengatakan rencanamu dan tak membiarkanku bicara."


"Aarrrggghh, sialan kau! Bagaimana kau bisa melakukan itu? Rahman pasti akan curiga. Bodoh!"


"Aku sudah punya rencana untuk itu."


"Lupakan rencanamu! Rahman bahkan sudah tahu, kau tidak hamil dan bahkan tidak memiliki rahim."


"Apa?"


"Bodoh sekali kau! Bahkan dua sahabat Rahman berhasil membalikkan keadaan dengan menjebakmu."


"Burhan dan Shodiq?" Dinda terdiam. Ia mengingat kejadian beberapa hari lalu saat di restoran.


"Iya. Mereka memberikan obat tidur padamu dan membawamu ke rumah sakit."


"Aah sial! Mereka mengelabuhiku."


"Kapan kau akan menjalani transplantasi rahim?"

__ADS_1


"Minggu depan di Jakarta."


"Bagaimana rencanamu setelah itu?"


"Aku akan pura-pura keguguran setelah itu. Dan itu sudah cukup untuk sekedar mengalihkan kehamilan palsuku. Yang terpenting, aku harus menjadi istri Rahman lagi."


"Apa itu akan berhasil?"


"Kalaupun tidak, aku harus secepatnya hamil setelah menjalani operasi, apapun resikonya."


"Kau akan menjebak Rahman lagi?"


"Itu terlalu sulit. Bagaimana jika kau yang menghamiliku?" Dinda mulai memainkan jarinya di dada pria yang tadi membentaknya itu.


"Aku? Aku tak sudi punya anak darimu." pria itu menghempaskan tangan Dinda yang mulai merabanya.


"Baiklah. Mungkin aku akan menjebak Rahman lagi. Tapi yang pasti, aku akan butuh bantuanmu lagi."


Pria itu mendengus kesal. "Baiklah. Hubungi aku jika kau sudah selesai menjalani operasi!"


"Tentu saja. Tapi, sebenarnya apa masalahmu dengan Rahman? Dari kemarin kau tidak mau mengatakannya padaku."


"Dia merebut calon istriku." Ucap pria itu dengan penuh api cemburu di dadanya.


"Apa? Jadi kau menginginkan Nurul? Apa hebatnya dia?"


"Tutup mulutmu! Dia jauh lebih baik darimu," ucap pria itu sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah Dinda.


"Benarkah? Apa dia bisa memuaskanmu di ranjang seperti aku memuaskanmu waktu itu?" Dinda mulai menggoda pria itu kembali.


"Dia bukan pelacur sepertimu, yang rela menjual diri hanya demi uang."


"Baiklah, baiklah! Dia lebih baik dariku."


"Jangan pernah lagi kau menghina Almiraku."


"Terserah." Dinda meninggalkan pria itu menuju meja makannya untuk mengambil minum.


Pria itu mengedarkan pandangannya ke seisi rumah Dinda. Melihat seksama isi rumah kecil itu. Tiba-tiba Dinda datang membawakan minuman untuknya. Dinda menyerahkan langsung minuman dingin itu ke arah pria itu. Ia pun menerimanya.


Dua buah kaleng minuman soda mereka buka bersama. Dinda yang sedang kehausan, tergesa-gesa meminum minuman itu. Tak sengaja, ada sebagian minuman yang mengalir ke leher hingga ke dadanya.


"Kau ini seperti anak kecil. Minum begini saja sampai belepotan! Cih," umpat pria itu ketika ia selesai meneguk minumannya.


"Aahh, biar saja! Aku sangat haus. Apalagi kau mencekikku tadi." Jawab Dinda bersungut.


Dinda meletakkan kaleng minuman di tangannya lalu mengambil tisu yang ada di mejanya, dan mengelap leher dan dadanya yang basah. Buah dadanya yang memang berukuran cukup besar sedikit bergoyang karena ulahnya sendiri. Ia tak menyadari, pria dihadapannya melihatnya dengan seksama.


"Sial!" Umpat pria itu dalam hati. Hasrat kelaki-lakiannya timbul karena ulah Dinda. Gairahnya untuk bercinta pun hadir.


Tanpa menunggu lama, ia langsung meletakkan kaleng yang di pegangnya ke meja. Lalu dengan cepat menyambar tubuh Dinda. Menarik tali tanktop dan bra milik Dinda kebawah, hingga buah dada Dinda terbuka sempurna. Ia lantas mel*mat bibir Dinda dan mem*inkan dua buah benda kenyal di dada Dinda.


Dinda pun langsung membalas perlakuan pria itu. Dinda menggiring pria itu memasuki kamarnya. Ia lantas melepaskan pakaiannya dan pakaian pria itu.


Des*han demi des*han menggema di kamar kecil milik Dinda. Mereka mend*sah dan meng*rang penuh gairah. Hingga mereka mencapai pelepasan bersama sama.


"Almira,," teriak pria itu ketika ia mendapatkan pelepasan.


Pria itu akhirnya menjatuhkan tubuhnya di samping Dinda. Mereka mengatur kembali nafas mereka perlahan.

__ADS_1


"Perasaanmu pada Nurul, itu bukan cinta. Tapi obsesi." Ucap Dinda sembari membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya. Pria itu hanya diam tak menjawab.


"Dan jangan lupa bayaranku untuk yang tadi," imbuh Dinda.


__ADS_2