
Hari demi hari telah berganti. Sudah kembali ke akhir pekan lagi. Sabtu sore. Nurul dan Al bersiap untuk pulang ke Jogja. Bu Dira juga sudah memberikan baju yang kemarin ia beli untuk Al dan Nurul untuk dipakai esok hari saat ia datang melamar. Nurul sebenarnya menolak pemberian itu,hanya saja dia sudah cukup tahu bagaimana sifat bu Dira. Nurul pun menghargai niat baiknya.
Nurul juga sudah mengabari ibunya di Jogja. Bahwa esok,keluarga bu Dira akan datang berkunjung. Kini Nurul sudah siap untuk melajukan motornya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun mengambil ponsel yang ada di tasnya dan menjawab telfon yang masuk.
Bu Dira is calling..
" Assalamu'alaikum bu',,"
" Wa'alaikumussalam nduk,," suara dari sebrang telfon terdengar tidak begitu jelas karena kegaduhan.
" Ada apa ya bu',,??"
" Kamu jadi pulang ke Jogja nduk hari ini,,?? Biar dianter Rahman aja ya?"
" Eh,,tidak perlu bu'. Saya sudah terbiasa mengendarai motor dengan Al. Ini juga sudah siap berangkat,,"
" Yakin nduk nggak papa,,??"
" Iya bu',tidak apa-apa,"
" Yasudah,hati-hati yaa. Besok kita ketemu di Jogja yaa!"
" In shaa Allah bu'. Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikumussalam,," sambungan telfon pun terputus. Nurul dan Al pun langsung berangkat ke Jogja agar tidak terlalu malam ketika sampai di rumah.
...****************...
Pagi hari di kota Jogja istimewa. Kota yang kata orang 'penuh kenangan',,bagi sebagian orang. Tak terkecuali Nurul. Di kota itulah ia lahir dan tumbuh menjadi gadis nan manis. Yaa,,tak banyak yang bilang nurul itu cantik. Mereka lebih suka mengatakan kalau Nurul itu berwajah manis.
Di salah satu sudut Kota Jogja yang istimewa,di rumah yang sederhana milik bu Lastri. Sanak saudara bu Lastri sudah berdatangan untuk memenuhi undangan pemilik rumah. Untuk sekedar membantu dan menjadi saksi bahwa Nurul akan dilamar kembali oleh seorang laki-laki. Apakah lamarannya akan diterima ataukah ditolak,,??
__ADS_1
Jam di tangan Nurul sudah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh pagi. Tiba-tiba sebuah mobil SUV yang akhir-akhir ini familiar oleh ingatan Nurul berhenti di depan rumah bu Lastri. Terlihat dua orang laki-laki tampan duduk bersebelahan di kursi depan sedang merapikan penampilan mereka. Dari pintu dibelakangnya turun seorang paruh baya yang sangat Nurul kenali. Bu Dira. Disusul oleh seorang perempuan muda dan dua orang anak kecil yang lantas berteriak, " Mas Fatih!!" mereka melambaikan tangan sangat bahagia. Yang dibalas pula dengan lambaian tangan oleh Al.
Lalu turunlah kedua pria tampan yang terpaut usia tak begitu jauh. Rahman dan Ali.
" Rul,punyamu yang mana,,??" goda Nita kepada sang adik ketika melihat Rahman dan Ali keluar dari mobil.
" Lhoh,bajunya kok bisa senada warnanya,,?? Wah,bu Dira ini pasti." Nurul terkejut ketika melihat Rahman memakai kemeja dengan warna sama dengan baju yang diberikan bu Dira kemarin dan ia kenakan sekarang. " Yang badannya lebih kecil,,sudah sold out mbak katanya,,"
Nita lantas mengarahkan pandangan pada Ali yang memang badannya lebih kecil di bandingkan Rahman. " Berarti yang kembaran bajunya itu sama kamu,,??"
" Ini juga yang beliin bu Dira mbak,,Nurul nggak tahu kalau bisa kembaran gitu,," Nurul membuang nafas pelan.
" Assalamu'alaikum,,!!" ucap bu Dira dengan begitu gembiranya.
" Wa'alaikumussalam,,!! Mari,mari silahkan masuk dulu,,!!" semua orang saling bersalaman dan masuk ke rumah. Duo kecil,Riko dan Rindi tetap di luar. Bermain dengan para si kecil lainnya.
Perbincangan dan perkenalan dari kedua keluarga pun berlangsung. Bu Dira memperkenalkan Rahman dan Ali sebagai putranya. " Rul,,yang mau nglamar kamu yang mana itu,,?? Kok ganteng semua,," celetuk bu Umi dengan suara agak keras untuk menggoda Nurul,,yang merupakan adik bu Lastri. Semua menoleh pada Nurul. Nurul merasa pipinya terasa panas dan mulai memerah.
" Yang ini sudah sold out bu',,!!" tiba-tiba suara Fatimah memenuhi ruang tamu bu Lastri. Semua orang lalu menoleh pada Fatimah yang tengah menggandeng lengan Ali dengan posesif. Tawa semua orang pun menggema kemudian melihat tingkah Fatimah.
Yudi,kakak ipar Nurul yang menjadi wakil dari bu Lastri menjawab mewakili Nurul. Yang saat ini sungguh sangat gugup. Badannya terasa dingin tetapi ia tetap berkeringat. Tangannya gemetar,pandangannya tertunduk.
Setelah beberapa pertanyaan dan obrolan akhirnya Yudi menjawab lamaran bu Dira. Iya,,Nurul menerima lamaran bu Dira. Semua orang merasa lega. Hingga akhirnya pemilihan hari pelaksanaan akad nikah.
" Kalau saya lebih cepat lebih baik." usul bu Dira.
" Iya bu',,itu lebih baik." jawab Yudi.
" Bagaimana kalau dua minggu dari sekarang? Secepatnya Rahman akan menyiapkan berkasnya dan Nurul. Agar segera bisa di daftarkan ke KUA. Saya menurut saja untuk tempat akad nikahnya." ucap bu Dira yang memang sudah tidak sabar ingin segera menikahkan Rahman dan Nurul.
Semua orang saling berbincang untuk bertukar pendapat. Mencari yang terbaik untuk menjadi keputusan. Akhirnya,," Baiklah bu' kami setuju. Dua minggu lagi akad nikah akan di gelar di Masjid Nurul Huda di kampung ini. Dan ibu saya,bu Lastri tidak ingin mengadakan pesta apapun hanya mengundang keluarga dan tetangga dekat saja." jawab Yudi setelah berunding.
__ADS_1
" Baiklah,,saya juga setuju." jawab bu Dira.
" Mas Rahman,,itu tadi kan bawa cincin buat mbak Nurul. Sana dipasangin di jarinya mbak Nurul!!" goda Fatimah. Wajah Rahman tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus. Dia mengambil cincin yang ia simpan di saku celananya.
Semua perhatian lantas tertuju pada Rahman. Nurul?? Jangan tanya. Dia masih tetap tertunduk malu. Apalagi setiap namanya dan Rahman disebut. Bu Dira paham dengan keadaan Rahman saat ini. Ia pun lantas meminta cincin itu dari Rahman.
" Kamu ini nduk,,masak iya mas mu ini kamu suruh masangin cincin ke jarinya Nurul. Mereka saling berdekatan aja jantungnya sudah berdegup kencang apalagi saling pegangan tangan sekarang. Bisa-bisa serangan jantung nggak jadi nikah mereka,," ucap bu Dira tanpa malu-malu. " Udah biar ibu saja sini yang masangin cincinnya ke jari Nurul,," bu Dira beranjak dari duduknya dan menghampiri Nurul. Tawa semua orang kembali bergema di ruangan yang tak begitu besar itu.
" Ya Allah,,aku pengen ke kamar buat sembunyii,,!!" ucap Nurul dalam hati.
" Nduk Nurul Almira,,!!" panggil bu Dira ketika dia sudah tepat di depan Nurul. Nurul pun mengangkat kepalanya menatap bu Dira yang berada di depannya. " Boleh ibu pasangkan cincinnya di jarimu,,??" Nurul hanya menganggukkan kepala karena terlalu gugup. Bu Dira lantas membuka kota kecil berlapis kain beludru berwarna merah di tangannya. Ada sebuah cincin dengan tiga permata disalah satu sisinya. Bu Dira lantas mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis tangan kiri Nurul.
" Wah,,pas!!" ucap bu Dira senang. Bu Dira lantas memeluk calon menantunya itu. " Makasih ya nduk,,!!" bisik bu Dira ketika mereka asih berpelukan.
" Iya bu'. Nurul juga berterima kasih bu',karena percaya dan menerima Nurul apa adanya." tak terasa,air mata kedua perempuan yang sedang berpelukan itu pun tumpah.
Semua hanyut dalam obrolan ringan. Hingga akhirnya,bu Lastri mempersilakan para tamunya untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan. Makanan sederhana yang dimasak sendiri oleh bu Lastri dan kedua putrinya. Semua pun menikmati hidangan yang disediakan bu Lastri. Hingga adzan dzuhur berkumandang dari masjid di dekat rumah bu Lastri. Para tamu pergi ke masjid untuk sholat berjamaah.
Selepas sholat dzuhur,bu Dira sekeluarga pamit undur diri. " Nduk,kamu balik ke D**** kapan,,??" tanya bu Dira pada Nurul ketika sudah di depan rumah.
" In shaa Allah nanti sore bu'." jawab Nurul.
" Sekalian bareng ibu' saja yuk,!!" tawar bu Dira.
" Tidak bu'. Saya sama Al naik motor saja bu'. Terima kasih." tolak Nurul sambil tersenyum.
" Yakin nduk,,?"
" Iya bu',,terima kasih sekali lagi."
" Baiklah nduk,,kami pulang dulu ya. Hati-hati nanti diperjalanan!! Besok kita ketemu lagi di D**** ya sayang,," bu Dira lantas memeluk Nurul.
__ADS_1
" Iya bu',In shaa Allah." Nurul membalas pelukan bu Dira.
Bu Dira sekeluarga lalu berpamitan dan meninggalkan kediaman bu Lastri. Nurul sekeluarga masih asyik bercengkrama. Hingga hari mulai sore dan Nurul memutuskan untuk kembali ke D****. Untuk kembali ke rutinitasnya.